3. Kehadiran Yang Menguduskan
Dalam Perjanjian Lama Allah hadir di tengah-tengah umat-Nya dan Ia hadir dalam tabernakel, dalam Tabut Perjanjian. Kehadiran ini dirasakan sebagai suatu kehadiran yang Kudus dan yang menguduskan. Karena itu Perintah-Nya : “Haruslah kamu Kudus sebab Aku ini Kudus” (Im. 11:44-45;19:2). Di Yerusalem kehadiran Allah dialami umat dalam Kenisah Allah tempat disimpannya Tabut Perjanjian itu. Kehadiran itu hanya bepusat pada satu tempat saja, yaitu Yerusalem.
Akan tetapi dalam Perjanjian Baru kehadiran Allah itu tidak lagi dibatasi oleh suatu tempat, seperti yang disabdakan oleh Yesus sendir : “Akan tiba saatnya, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan juga bukan si Yerusalem…Penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran” (Yoh 4:21-23). Orang akan menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran, artinya dimana saja ada Roh Allah. Yesus pun telah berjanji bahwa barang siapa mengasihi Dia akan dikasihi oleh Bapa dan Mereka, Bapa dan Yesus akan datang kepadanya dan diam dalam dirinya: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firmanKu dan Bapaku akan mengasihi Dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam di dalam dia” (Yoh 14:23).
Sekarang ini Roh Allah hidup dalam diri orang beriman sehingga ia menjadi bait Allah yang hidup: “Tak tahukah kamu, bahwa kamu adalah kenisah Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Kor 3:6;6:19). Karena menjadi bait Roh Allah, orang beriman harus menjadi kudus, karena tak ada hubugan antara kenisah Allah dan berhala (bdk. 2 Kor 6:16). Karenanya setiap bait Allah itu, yaitu manusia, harus dibersihkan supaya Roh Allah dapat tinggal di dalamnya. Maka kita pun harus menanggalkan manusia lama kita, cara hidup kita yang lama dan mengenakan manusia baru (bdk. Ef 4:22-24). Namun bila kita membiarkan diri dipenuhi oleh-Nya, kehadiran itu sendiri akan menguduskan kita. Elisabeth dari Trinitas telah menjadi kudus karena dengan sungguh-sungguh menghayati kehadiran Tritunggal itu. Setiap saat ia berusaha hidup dalam hadirat Allah. Karena itu Allah pun dengan bebas dapat mencurahkan cinta-Nya yang menguduskan dalam dirinya.
