2. Kehadiran yang Semakin Mesra
Dalam persahabatan ada tiga unsur pokok, yaitu pengenalan, cintakasih dan kesenangan. Bila kita semakin tumbuh dalam pengenalan akan Allah dan seakin mencintai Dia, kita juga akan semakin senang dengan Allah dan senang berada dalam hadirat-Nya, bersama Dia. Dengan demikian persahabatan menjadi semakin mesra. Karena itu misteri kehadiran Allah pada hakekatnya bukan lain daripada persahabatan yang berdasar pada pengenalan dan cintakasih. Pengenalan semacam itu pada hakekatnya bukan lain daripada hidup kekal, karena seperti disabdakan Tuhan Yesus sendiri, “Inilah hidup kekal, yaitu mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Kauutus” (Yoh. 17:3).
Kiranya perlu diperhatikan, bahwa tahu tentang Allah tidak sama dengan mengenal Allah. Hanya tahu tentang Allah saja tidak dapat membuat orang berubah. Tetapi dengan mengenal Allah orang akan diperbaharui. Orang bisa saja memiliki banyak pengetahuan tentang Allah, tetapi pada hakekatnya belum mengenal Dia. Orang bisa tahu tentang Allah dengan membaca, mendengarkan pengajaran dan berpikir, tetapi orang hanya bisa mengenal Allah lewat persahabatan, cintakasih dan doa. Orang bisa tahu dan berbicara tentang Allah sebagai seorang filsuf atau teolog, tetapi orang hanya bisa mengenal Allah sebagai sahabat atau kekasih. Orang bisa mempunyai banyak pengetahuan tentang Allah, tetapi orang tidak bisa mengenal Allah kalau ia tidak memasuki hubungan yang personal, yang pribadi dengan Allah. Karena itu seringkali terjadi, bahwa ada filsuf-filsuf, teolog-teolog dan ahli-ahli Kitab Suci yang mempunyai banyak pengetahuan tentang Allah, tetapi sesungguhnya tidak mengenal Dia.
Pengenalan tentang Allah tidak dapat diperoleh hanya dengan belajar, dengan membaca buku-buku saja, melainkan melalui pertobatan dan cintakasih. Pengenalan akan Allah memang mengandung unsur-unsur intelektual juga, akan tetapi unsur yang pokok ialah intuisi yang timbul dari iman dan cintakasih. Semakin seorang bertumbuh dalam iman dan cintakasih, semakin besar pula pengenalannya akan Allah. Ia juga semakin mampu menerima pernyataan diri Allah jauh melampaui kekuatan budinya, jauh di atas segala pengertiannya.
Dan Allah hanya akan menyatakan diri bila kita dengan rendah hati membuka diri terhadap-Nya. Karena itu, orang yang sombong, walaupun banyak belajar teologi, tidak akan mengenal Allah. Sebaliknya orang yang rendah hati, walaupun dia orang yang sederhana, akan dapat memperoleh pengenalan yang lebih mendalam tentang Allah. Namun itu tidak berarti bahwa pengetahuan intelektual tidak ada nilainya. Memang, pengetahuan saja tanpa iman akan membuat orang sombong dan jauh dari Allah, tetapi pengetahuan yang tunduk pada iman, justru akan membantu perkembangan iman dan menguatkannya. Karena itu orang hanya bisa menjadi teolog yang sejati bila ia juga banyak berdoa dan memupuk hubungan pribadinya dengan Allah.
Pengetahuan tentang Allah, ide-ide bagus tentang Allah, tidak punya kuasa utnuk mengubah hidup seseorang. Sebaliknya mengenal Allah dalam terang Allah sendiri justru akan mengubah dan memperbaharui hidup seseorang. Bila anda mengenal Allah, maka Allah akan datang kepada anda sebagai Sahabat, Kekasih atau Bapa. Kehadiran-Nya membahagiakan, memperkaya, memperbarui. Kuasa dan kemanisan kehadiran semacam itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tetapi hanya mereka yang mengalaminya dapat mengerti. Kadang-kadang Allah menyatakan kehadiran-Nya sedemikian rupa, sehingga menghasilkan pengenalan akan Allah yang amat dalam. Pengenalan semacam itu melampaui segala kekuatan budi dan pengertian manusia. Karena itu, walaupun orang belajar seribu tahun lamanya, menurut ungkapan St. Teresia dari Avila, orang tetap tidak akan pernah sampai kepada-Nya.
Misteri kehadiran Allah ini akan terus tumbuh seperti halnya persahabatan, dalam pengenalan, penghargaan, cintakasih dan kesenangan. Bila anda semakin tumbuh dalam cintakasih, maka anda juga akan semakin menghargai dan senang akan kehadiran-Nya. Allah pun akan semakin senang dengan kehadiran anda dan suatu ketika anda akan mengalami seperti apa yang dialami Tuhan Yesus sendiri : “Engkaulah PuteraKu yang terkasih, kepadaMu Aku berkenan.”
