Apabila kita berbicara tentang “Allah” kerapkali hanya dimengerti secara intelektual belaka, bahkan sekarang ini karena pengaruh pemikiran tertentu orang menolak untuk percaya pada Allah. Akibatnya orang sulit untuk memahami kehadiran dan kuasa Allah dalam hidupnya. Padahal sebenarnya tidak cukup sekedar mengetahui “siapa itu Allah” tetapi amat penting untuk “mengalami Allah yang hidup”. Oleh sebab itu dengan memahami Allah secara benar kita akan dituntun oleh mengalami misteri kehadiran Allah yang akan menyelamatkan seluruh hidup kita.
Bila seorang beriman mau mengambil waktu sedikit untuk hening dalam dirinya, maka suatu saat ia akan menyadari bahwa di balik segala perkara yang kelihatan itu, ada suatu kehadiran misterius. Bila persepsi imannya semakin berkembang, maka ia akan tahu, bahwa di balik segala sesuatu yang ada itu, terdapat Sang Pencipta sendiri, Allah yang Mahakasih. Bagi orang yang sungguh beriman, kehadiran ini adalah kehadiran kasih yang melindungi, menjaga dan menaungi. Inilah yang dialami oleh Pemazmur seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 139 yang indah itu :
Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;
Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri,
Engkau mengetahui aku dari jauh.
Sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
Sesungguhnya semuanya telah Kauketahui, ya Tuhan.
Ke mana aku dapat pergi menjauhi rohMu,
Kemana aku dapat lari dari hadapanMu?
Jika aku mendaki ke langit,
Engkau ada di sana.
Jika aku terbang dengan sayap fajar,
Dan membuat kediaman di ujung laut,
Juga di sana tanganMu yang menuntun aku,
Dan tangan kananMu memegang aku. (a.2.4.7-10)
Pengalaman akan kehadiran Allah ini bagi orang Kristen merupakan karya Roh sendiri. Roh Kudus yang hadir dalam dirinya mengarahkan dia kepada Allah dan membawa orang kepada Allah, karena Dia datang dari Allah dan membawa orang kepada Allah. Karena itu pula Roh Kudus mengarahkan hati kepada perkara-perkara Allah (bdk. Kol. 3:1-4). Maka salah satu buah Roh adalah “haus akan Allah”. Siapa yang memiliki Roh Allah dengan sendirinya akan merindukan Allah.
Setelah orang menerima Roh Kudus, ia akan menjadi bait Roh Kudus itu dan Roh Kudus ada dalam dirinya. “Tak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam dirimu?” (1 Kor. 3:16; 6:19 ). Tetapi di mana ada Roh Kudus, di situ ada pula Bapa dan Putera. Allah hadir pada pusat ada kita, pada bagian terdalam lubuk jiwa kita.
Santa Teresia dari Avila dalam suatu penglihatan melihat jiwa manusia sebagai suatu istana kristal yang sangat indah. Istana itu dibagi menjadi tujuh ruangan utama dan tiap ruangan masih ada kamar-kamarnya lagi, di ruang tengah yang menjadi pusatnya bertahtalah Sang Raja, yaitu Allah sendiri. Kemuliaan Allah menerangi seluruh ruangan itu yang menjadi terang oleh cahaya kemuliaanNya. Di ruangan pusat semuanya terang-benderang, tetapi semakin jauh dari pusat semakin redup, kerena cahaya terhalang oleh tirai-tirai atau dinding-dinding yang menggambarkan segala bentuk kelekatan yang mengikat jiwa dan menjadikannya tidak bebas. Semakin besar kelekatannya, semakin ia menghalangi cahaya masuk. Di luar istana segalanya gelap gulita. Itulah gambaran mereka yang berada dalam keadaan dosa berat. Jalan masuk satu-satunya ke istana itu sampai ke ruang pusatnya adalah doa batin beserta segala persyaratannya, seperti pertobatan, penyangkalan diri, kelepasan dan lain-lain.
Bila anda sadar akan kehadiran Allah yang Mahamulia dalam lubuk jiwa anda, maka anda tidak akan mencari kesia-siaan dunia ini, melainkan akan mencari harta tak terperikan itu yang menunggu anda. Dahulu para pertapa mencari gua-gua di gunung-gunung atau mencari kesunyian padang gurun untuk mencari Allah. Kini anda dapat mencari Allah dalam gua hati anda dalam kesunyian kamar anda, tanpa televisi, telepon dan lain-lain. Saya mengenal beberapa orang awam yang sudah mempraktekkan hal itu : setiap hari meluangkan waktu sekurang-kurangnya satu jam untuk berjumpa dengan Allah di gua hatinya dalam kesunyian kamar. Sayang, masih banyak sekali umat dan biarawan-biarawati bahkan imam yang belum menyadari pentingnya perjumpaan dengan Allah itu. Perjumpaan dengan Allah itu memberikan kepadanya kekuatan untuk menghayati panggilannya sebagai seorang Kristen di tengah-tengah dunia.
