User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

Ketiga: Mengampuni

Yesus pernah bersabda jika kita tidak mengampuni maka kita pun tidak akan diampuni. Perkataan Yesus ini sering kita dengar, namun seringkali kita mudah menghilangkannya. Seringkali seseorang tidak mau mengampuni atau tidak minta ampun karena sombong, atau karena luka batin yang terlalu dalam. Seharusnya setiap orang menyadari bahwa dosa yang tak terputuskan ini menghalangi mengalirnya cinta dan belaskasihan.

Menjadi sebuah kenyataan yang tak terelakkan adalah bahwa dosa merupakan bagian dari dunia manusia. Dalam perkawinan, dosa melukai setiap pribadi pasangannya, melukai anak-anaknya. Sebaliknya, bila menyadari akan kuasa untuk mengampuni dan menerima pengampunan, siapa pun akan merasakan dan mengalami damai dalam keluarganya. Karena itu pengampunan dan rekonsiliasi merupakan salah satu aspek yang perlu dari suatu pernikahan kristiani. Pengampunan menghantar kepada iman yang lebih mendalam, cinta yang lebih mendalam dan merupakan sebuah kesempatan yang baik untuk menolak godaan yang sama di masa yang akan datang. Siapapun yang merasa terlalu terluka untuk mengampuni, jangan menyerah! Lihatlah Yesus dan sadarilah jamahan kasih-Nya! Biarlah kasih-Nya membalut luka-lukamu sehingga bila datang waktunya, Anda akan dapat mengambil langkah-langkah untuk mengampuni.

 

Keempat: Penghargaan dan Afeksi

Pada awal sebuah pernikahan ada banyak penghargaan dan afeksi dalam diri setiap pasangan, namun hal tersebut dapat hilang dan menjadi sebuah status “koma afeksi” bagi dirinya seiring dengan tahun-tahun berlalu. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda menunjukkan afeksi kepada pasangan Anda? Apakah Anda mengatakan kepadanya bahwa Anda berterimakasih untuk apa yang dilakukan  entah di tempat pekerjaan atau di rumah? Anda mengatakan “terimakasih” ketika pasangan memasak makan malammu atau memakai waktu bebasnya untuk berada bersama di rumah? Apakah Anda menunjukkan penghargaanmu atas perawatannya ketika Anda sakit atau ketika dia melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil tanpa diminta? Temukanlah setiap kesempatan untuk mengungkapkan rasa terimakasihmu.

Setiap pasangan perlu menunjukkan afeksi mereka satu terhadap yang lain secara teratur. Suatu ciuman di pagi hari waktu selesai makan, dan pada akhir hari, pantaslah menjadi sebuah sikap yng normal. Berpegang tangan ketika berjalan bersama, duduk berdampingan ketika menonton TV, saling berpelukkan merupakan ungkapan-ungkapan kasih yang tidak hanya membangun pasanganmu, melainkan memberikan kesaksian akan kasih itu sendiri kepada anak-anak. Lebih dari itu, ungkapan-ungkapan ini sangat penting dalam menolong membangun suatu rasa memiliki di rumah. Ingatlah bahwa Allah ingin menghujankan setiap pribadi dengan cinta-Nya yang tak terbatas. Namun, Ia pun menghendaki agar setiap pasangan menghujankan kasih itu sendiri kepada pasangannya.

Selain itu, letakkanlah pengharapanmu pada Tuhan! Setiap orang menyadari bahwa tidak ada perkawinan itu yang sempurna. Meskipun demikian, Allah berkehendak untuk menabur benih-benih kehidupan dan vitalitas ke dalam setiap pernikahan sehingga setiap orang dapat membawa kemuliaan kepada-Nya dan menghasilkan buah bagi kerajaan-Nya. Menjadi tidak realistis jika mengharapkan suatu pernikahan yang bermasalah berubah dalam semalam.  Karena itu, sebuah kebenaran yang perlu selalu diingat ialah bahwa Allah ingin berada bersama kita dan memberi “hidup” kepada pernikahan kita melalui Putera-Nya. Dalam Sakramen Pernikahan Yesus hadir, Ia mengajarkan dan membantu  kita untuk memiliki suatu pernikahan yang bahagia. Ia ingin menolong dan membawa anak-anak-Nya ke dalam terang-Nya. Dengan hati penuh pengharapan marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing pernikahan dan keluarga kita sesuai dengan jalan-jalan Allah! Marilah kita berusaha untuk melakukan apa saja yang  Ia minta dari kita!

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting