Sekali Lagi, Makna Pembaruan Karismatik Katolik

User Rating:  / 14
PoorBest 

 

1.  Pengantar

Banyak orang takut mendengar Pembaruan Karismatik Katolik. Sebagian orang lain alergi, menjauh, dan asing terhadap mereka yang mengikutinya. Tetapi, sebagian lagi semangat tapi kadang bersikap ekstrim. Apa yang harus kita lakukan? Sikap mana yang tepat? Apa yang harus kita buat? Siapa yang menjadi rujukan? Kita perlu mendapatkan pengertian yang tepat tentang Pembaruan Karismatik Katolik.

 

2.  Sejarah Singkat PKK

Pembaruan Karismatik Katolik (selanjutnya akan disingkat PKK) merupakan salah satu pembaruan rohani dalam Gereja Katolik. PKK lahir dari keprihatinan sebagaian umat Kristiani pasca Konsili Vatikan II, di satu pihak adanya kemerosotan iman, moral dan hidup rohani akibat pengaruh modernisme atau rasionalisme, dan di lain pihak kerinduan umat untuk masuk dalam pembaruan rohani, yakni hidup iman dan hidup rohani yang makin mendalam seturut ajaran dan tradisi Gereja. Itulah sebabnya, sekelompok cendekiawan sekitar 30 orang yang terdiri atas pakar teologi, dosen, dan mahasiswa mengadakan pertemuan “teologis-spiritual” di Universitas Duquesne, Pittsburgh-Amerika, pada tanggal 18-19 Februari 1967. Singkat kata, mereka ini mengalami pembaruan rohani melalui pengalaman “Pencurahan Roh Kudus”. Pembaruan ini menyebar sampai menghimpun 30.000 orang pada bulan Juni 1974 di Universitas Notredame, Amerika Serikat, bahkan hingga saat ini meliputi seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, PKK dimulai di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang tak jauh berbeda, yaitu di Malang pada tahun 1975 dan di Jakarta pada tahun 1976. Di Malang, PKK dimulai oleh Rm. Yohanes Indrakusuma O.Carm dan Rm. Mollink O.Carm melalui suatu Persekutuan Doa yang diikuti oleh 12 orang. Setelah berlangsung selama setahun dan melalui “Pencurahan Roh Kudus”, pembaruan ini menyebar ke Surabaya dan ke tempat-tempat lainnya. Sedangkan, di Jakarta dirintis oleh Mgr. Leo Soekoto SJ yang mengambil alih undangan kepada Rm. O’Brien SJ dan Rm. H. Schneider SJ. Tokoh pertama dari pembaruan ini ialah Bapak Abdisa (alm). Selanjutnya, pembaruan ini dilanjutkan oleh Rm. Sugiri SJ yang didatangkan dari Solo. Sejak saat itu, pembaruan itu terus berkembang dan menyebar ke pelbagai tempat di seluruh penjuru Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari pembaruan di dua tempat ini, diadakan Konvensi Nasional (Konvenas) I pada tahun 1981 hingga saat ini, dari 200 orang terus berkembang dan bertambah banyak hingga saat ini. Hasil dari pembaruan ini ialah hampir semua keuskupan memiliki Persekutuan Doa Karismatik Katolik. Kendati perkembangan berbeda pada setiap keuskupan, ada yang mendukung, tetapi tidak jarang orang bersikap hati-hati atas pembaruan ini. Kemudian pada tahun 1983, MAWI (sekarang KWI) menerbitkan Pedoman Pastoral untuk Pembaruan Karismatik Katolik. Isi dari pedoman pastoral itu adalah pembaruan ini berasal dari Roh Kudus, namun pembaruan ini harus dibimbing dengan baik supaya berkembang dengan baik.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting