header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Tuhan Menjamah Rumah Tangga Kami

User Rating:  / 5
PoorBest 

Salam dalam Kasih Kristus,

Dalam kesaksian ini kami Pasutri Fajar dan Yayuk ingin mengungkapkan kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga kami. Kami menyadari akan kasih Kristus berawal pada saat kami mengikuti Misa dan doa Penyembuhan bersama Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm di Gereja St. Yakobus Kelapa Gading Jakarta 1990. Saat itu saya (Fajar) merasa terpaksa mengikuti Misa tersebut atas permintaan istri saya walaupun kehendak hati saya menolak. Satu setengah jam sebelum Misa istri saya masih lupa jikalau hari itu ada Misa dan doa penyembuhan. Di dalam hati saya saat itu muncul rasa senang, mudah-mudahan dia lupa. Akan tetapi, ternyata satu jam sebelum perayaan Ekaristi dia ingat juga. Maka kami pun berangkat ke Gereja meskipun saya merasa terpaksa.

Sesampainya di Gereja umat telah mulai memenuhi tempat yang ada. Istri saya mendapat tempat duduk di dalam Gereja karena saat itu dia juga menggendong bayi kami yang masi kecil sedang saya saat itu mengikuti Misa dengan ngumpet di kamar pengakuan dosa. Misa berlangsung sangat sakral dan saat doa-doa penyembuhan ternyata anak saya disebut dalam sabda pengetahuan “Saat ini ada seorang anak (bayi) yang sedang berada dalam pangkuan ibunya mengalami sakit mata. Tuhan saat ini menjamah dan menyembuhkannya.” Saya dengar sayup-sayup perkataan itu tetapi tidak saya gubris. Ternyata, pada kenyataannya setelah beberapa hari kemudian bisul (timbilen dalam bahasa jawa) yang hampir selalu menyerang mata kanan, kiri yang atas atau bawah secara bergantian atau berbarengan kok sembuh.

Peristiwa ini menimbulkan sukacita yang luar biasa di dalam hati saya. Saya pun mulai menceriterakan kejadian itu kepada teman-teman, saudara dan kawan-kawan saya. Ternyata seorang teman saya teringat saat itu memang ia mendengar sabda pengetahuan itu dan melirik ke putra kami. Namun, ada juga teman yang berkata “Eh, kamu kan juga obati dia. Siapa tahu anakmu sembuh karena obat, bukan jamahan Tuhan.” Nah, inilah yang membuat saya mulai bimbang sebab yang berkata begitu seorang yang sangat saya hormati di Gereja, sehingga saya ragu-ragu dan mulai melupakan mujizat tersebut.

Sekarang putra kami hampir berusia 15 tahun dan matanya tidak pernah sakit lagi mulai saat itu. Yang ada sekarang hanya tinggal bekasnya saja.Tahun 1992 kami membeli Villa di puncak dan ketika ada kesempatan, saya mengikuti Misa di Cikanyere. Saya senang dengan ketenangan dan suasana Misanya tetapi saya masih tidak mau menerima cara tepuk tangan, angkat tangan, dan semacamnya. Saya ikut Misa menurut cara saya sendiri. Saya lupa bahwa saya pernah diberi mujizat, kehidupan sehari-hari berjalan biasa sampai sekarang.

Dua minggu sebelum diadakan Retret Awal di Lembah Karmel tanggal 8-11 Mei 2003 secara iseng saya meminta adik ipar saya untuk mendaftarkan kami. Dalam hati saya paling juga penuh dan itu pun tanpa persetujuan istri, ternyata ditanggapi serius olehnya. Saya tidak menyangka retret ini membuat batin kami mengalami suatu suka cita dan makin mendekatkan diri kepada Tuhan juga menguatkan serta menambahkan iman kami yang tidak lama berselang akan menerima berita buruk.

Di awal bulan Juni saya memeriksakan kandungan istri saya ke Dokter USG biarpun sampai saat itu tidak ada keluhan sama sekali dari dirinya, jadi hanya kontrol saja. Tidak terduga ternyata hasilnya cukup mengagetkan kami berdua, yaitu ada kista dalam kandungannya sebesar 45 x 36 x 35 mm. Namun, kami tetap kuat, tabah, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan menyembuhkan istri saya. Setiap hari istri saya selalu berdoa Rosario sambil memohon penyembuhan sebab kata dokter kebidanan jangan dioperasi cukup dipantau saja dulu.

Tanggal 21-24 Agustus 2003 kami mengikuti Retret Penyembuhan Batin di Lembah Karmel. Juga dalam acara retret ini ada suatu pengalaman menarik yang tidak akan saya lupakan. Saat acara pembasuhan kaki, istri saya secara sepontan dan dengan iman membisikkan kepada saya “Pa, kesalahanmu kuampuni.” Tidak kukira ia mengatakan kata yang demikian kepadaku dan saat itu saya hanya bengong mendengarnya, tetapi kurasakan ada suatu sukacita seperti mengguyuriku sampai saat istri membisikiku lagi, “Pa, kok kamu diam saja?” Saya baru sadar, saya juga melakukan hal yang sama kepadanya, menyampaikan bahwa saya memaafkan dia dan kemudian tersenyum serta mengucapkan terima kasih kepadanya.

Keesokan harinya di Lembah Karmel juga diadakan Misa Penyembuhan. Di saat doa-doa penyembuhan dilakukan, saya mendengar bahwa ada seorang Frater dengan sabda pengetahuannya mengatakan, “Ada seorang ibu yang mempunyai kista dalam kandungannya dan saat ini Tuhan sedang menyembuhkannya. Sepulang dari sini harap kembali ke dokter Anda untuk dapat memberikan peneguhan atas penyembuhan ini.” Dan saat itu kami semakin khusuk berdoa moga-moga benar apa yang dikatakan dan istri saya jadi sembuh. Keesokannya saya belum bisa ke dokter yang prakteknya di Bandung karena saya masih harus ke Yogya dahulu mengantar putera saya yang saya ceritrakan di atas untuk bertanding tennis yang merupakan hobbinya. Sepulang dari Yogya tanggal 13 September saya mengajak istri saya ke Bandung untuk menemui Dokter USG. Ternyata sungguh Tuhan telah menyatakan kasihnya kepada istri saya, karena kista di dalam kandungannya telah hilang. Kami malam itu pulang ke puncak, sepanjang jalan kami hanya dapat bersyukur dan bersyukur, berdoa dan memuji nama Tuhan, atas rahmat dan kasihnya yang Ia nyatakan ke atas keluarga kami sehingga rumahtangga kami makin mantap dan makin mau menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Sebelum saya mengalami jamahan Tuhan, dalam berkarya dan dalam kegiatan kemasyarakatan biarpun itu untuk kegiatan sosial, bagi saya semuanya itu hanya semu belaka. Akan tetapi, dua tahun terakhir ini saya mulai ikut berkarya dalam Tuhan di lingkungan Gereja. Saya sungguh merasa ada sesuatu yang lain dan menyenangkan. Terlebih lagi ketika saya kembali mengikuti Misa di Cikanyere saya sudah bisa masuk dengan seluruh diriku untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan bertepuk tangan, mengangkat tangan untuk memuji, menyembah dan bersujud di bawah Sakramen Maha kudus. Semua itu menjadi terasa ringan dan sangat menyenangkan.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting