Semua artikel pada situs carmelia.net ini adalah adalah hak milik Tim Carmelia. Jika Anda ingin menyebarkannya, mohon hubungi Tim Carmelia dengan mengirimkan e-mail ke alamat carmelia.cse@gmail.com. Sertakan alamat situs/tempat di mana Anda akan menggunakan/mencantumkan artikel tersebut. Terima kasih, Tuhan memberkati Anda.
Setelah berita kematian Sri Paus Yohanes Paulus II pada 2 April 2005 silam, beramai-ramai orang membicarakannya sebagai tokoh yang paling banyak berjasa dalam menciptakan perdamaian dunia. Ia juga seorang tokoh yang mampu berdialog dengan agama-agama lain seperti Islam, Yahudi, Ortodoks, Budha dan merangkul mereka semua dalam menciptakan persaudaraan sejati. Selain itu, salah satu jasa beliau yang tidak pernah kita lupakan adalah dalam bidang moral. Ajaran moralnya tegas dan cenderung dinilai konservatif. Namun justeru karena ketegasannya, ia mampu membangun tatanan moral yang jelas di tengah dunia yang moralitas peradaban manusianya semakin hancur. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Yohanes Paulus II adalah seorang “navigator moral” di tengah badai yang melanda dunia ini. Dia adalah seorang “arsitek” Gereja di zaman kita.
Gairah untuk Kemuliaan Allah dan Keselamatan Jiwa-jiwa
Written by Rm. Yohanes Indrakusuma
Tuesday, 20 July 2010 00:00
Cinta kepada sesama merupakan pancaran dari cinta yang seharusnya kita miliki kepada Allah karena kasih kepada Allah harus juga dipancarkan dan dikembangkan dalam kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama bersifat ilahi dan seperti rahmat kasih merupakan partisipasi dalam hidup batin Allah. Kasih ini harus betul-betul kuat dan begitu menyala, membara dalam hidup seorang Kristen yang bersemangat sehingga dapat disebut dengan sebuah istilah Gairah. Gairah merupakan semangat besar yang sama yang menjiwai seseorang yang terarah kepada Allah, tetapi juga kepada sesama dan gairah ini harus selalu ada walaupun tidak harus selalu dapat dirasakan, bahkan di dalam kekeringan dan pencobaan.
Jika fisik kita sakit maka biasanya kita akan pergi ke dokter atau meminum obat agar penyakit itu segera hilang dan badan kita menjadi sehat kembali. Bagaimana sikap kita jika jiwa kita sakit? Seringkali kita bersikap cuek-cuek saja, padahal kesehatan jiwa itu juga penting, bahkan lebih penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan kita. Sakramen Tobat adalah sarana penyembuhan bagi jiwa yang terluka dan menderita karena dosa. Dengan menerima Sakramen ini secara rutin kita menjaga jiwa kita agar tetap sehat karena melaluinya kita menerima penyembuhan dari dosa-dosa kita dan mendapatkan kekuatan untuk tidak mudah jatuh dalam dosa.
Orang-orang Anti Katolik: Bagaimana Menghadapinya?
Written by Rm. Georgius Paulus
Wednesday, 14 July 2010 00:00
Kita seringkali merasa jengkel jika berhadapan dengan orang yang gemar memojokkan iman kita dengan berbagai pertanyaan dan tuduhan yang pada akhirnya hendak menyatakan kalau iman kita itu salah. Dengan bersikap kesal kepada mereka sebenarnya kita sudah termakan jebakan iblis yang hendak memperparah luka perpecahan Gereja. Santo Petrus meminta kita untuk siap mempertanggungjawabkan iman kita dengan lemah lembut dan penuh hormat (1 Ptr 3:15). Hal ini dapat dilakukan kalau kita mengenal iman kita dengan baik serta mengenal motivasi yang luhur dari lawan bicara kita. Artikel ini menjelaskan lebih lanjut mengenai hal-hal yang harus dilakukan kalau kita berhadapan dengan orang-orang semacam itu.
Ajaran Moral Yohanes Paulus II dalam Evangelium Vitae - “JANGAN MEMBUNUH”
Written by Rm. Elisa Maria
Tuesday, 22 June 2010 00:00
Selama memangku tugas sebagai pemimpin Gereja Katolik Roma, almarhum Paus Yohanes Paulus II sangat gigih memperjuangkan moralitas. Bahkan banyak kalangan menilai beliau sebagai navigator moral. Moralitas yang diperjuangkannya didasarkan pada Injil, Sabda Kehidupan. Salah satu perjuangannya berkaitan dengan nilai dan keluhuran hidup manusia. Artikel ini akan mengulas bagaimana pandangan Yohanes Paulus II tentang perintah Kitab Suci, “Jangan Membunuh” dalam kaitan dengan situasi dunia dewasa ini.