Semua artikel pada situs carmelia.net ini adalah adalah hak milik Tim Carmelia. Jika Anda ingin menyebarkannya, mohon hubungi Tim Carmelia dengan mengirimkan e-mail ke alamat carmelia.cse@gmail.com. Sertakan alamat situs/tempat di mana Anda akan menggunakan/mencantumkan artikel tersebut. Terima kasih, Tuhan memberkati Anda.
Bagaimana kita memperoleh kerendahan hati setelah kita melihat bagaimana kesombongan menghancurkan orang dan bagaimana sebetulnya kita tanpa disadari seringkali jatuh ke dalam kesombongan dan akhirnya membawa kepada kebinasaan. Kita telah melihat acedia yang merupakan penyakit yang agak umum, tetapi jika kita sadari kita coba untuk menghindarinya. Bagaimana kita dapat memperoleh kerendahan hati yang merupakan kebajikan yang sangat berkenan di hadapan Allah. Seperti yang dijelaskan pada permulaannya, dalam hidup rohani kerendahan hati adalah dasar sedangkan cintakasih itu adalah mahkotanya, maka sebuah bangunan rohani supaya dapat berdiri kokoh kuat dan tidak akan roboh harus diletakkan pada dasar kerendahan hati yang sangat kuat dan sangat dalam.
Kitab Suci menyebutkan bahwa tugas sebagai pengajar merupakan salah satu karisma dari Roh Kudus (1Kor 12:27-28). Kenyataan bahwa tugas pengajar merupakan suatu karisma dari Roh Kudus menunjukkan bahwa untuk mengajar tidak hanya diperlukan sekedar pengetahuan dan ketrampilan namun juga suatu hubungan pribadi antara si pengajar dengan Allah sendiri. Artikel ini menyampaikan suatu pemahaman yang baik mengenai pengajaran dengan memperhatikan sisi adikodratinya sebagai karisma dan juga sisi manusiawinya dalam arti pengetahuan dan ketrampilan tertentu yang hendaknya dikuasai juga oleh seorang pengajar.
Panggilan untuk menjadi kudus bukanlah suatu pilihan beberapa orang saja, melainkan kewajiban setiap orang kristen. Memiliki kemampuan yang baik bukanlah ukuran bagi setiap orang untuk menjadi kudus. Kekudusan itu diperoleh karena rahmat Allah semata-mata (1 Tes4:3). Kita adalah ciptaan Allah dan sebagai ciptaan kita harus selalu berusaha dan berjuang hari demi hari untuk menyerupai Yesus Kristus. Dengan cara apa? Berdoa, membaca Kitab Suci, dan latihan rohani lainnya. Untuk mencapai kesucian ini, dan kita dituntut relasi pribadi yang mendalam dengan Yesus, tanpa ini kekudusan itu hanya suatu impian atau angan-angan belaka. Kita pun sudah seharusnya memuliakan Yesus dalam hidup kita (berpikir, bertindak, dan gaya hidup kita). Karena Diatelah memerdekakan dan membebaskan kita dan dosa, yaitu dengan kematian-Nya di kayu salib.
Dalam Misa, Kristus hadir dalam rupa roti dan anggur untuk dipersembahkan sebagai kurban kepada Bapa, dan sebagai santapan bagi jiwa kita. Dengan ambil bagian dalam kurban-Nya kitapun ikut serta dalam pengurbanan Kristus itu. Tulisan ini membahas keluhuran kurban Kristus dan partisipasi kita didalamnya. Secara khusus disoroti mengenai partisipasi imam dalam kurban Kristus, namun juga bagi kita, para awam, dapat dipetik banyak hal yang dapat menjadi tanda partisipasi kita dalam kurban itu.
Di Tahun 2009 ini, Bapa Suci Benediktus XVI kembali menyampaikan pesan Natalnya bagi umat Katolik di seluruh dunia. Kali ini Bapa Suci menyampaikan pesan tentang Urbi Et Orbi, suatu terang yang berbeda dan istimewa, terang yang diarahkan dan berpusat kepada “kita”, yaitu Gereja, keluarga universal besar dari mereka yang percaya kepada Kristus, yang dengan penuh harapan telah menantikan kelahiran Penyelamat. Apa isi dari pesan Bapa Suci Benediktus XVI ini?