User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Maka dari itu, mistikus memainkan peran sentral dalam kehidupan dunia. Ia menggemakan kalimat besar dari Konsili Vatikan II: ‘Sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan orang zaman ini, teristimewa mereka yang miskin dan yang tersiksa entah bagaimana caranya, ini pun adalah sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan para pengikut Kristus.’

(Gaudium et Spes, Prakata 1; Dokumen Konsili Vatikan II)

1. PANGGILAN ANAK-ANAK ALLAH KEPADA HIDUP MISTIK

Berkat kasih Allah semata-mata kita dijadikan anak-anak Allah: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1). Dengan apakah Allah menjadikan kita anak-anak-Nya? Dengan Roh Kudus-Nya yang dicurahkan ke dalam hati kita (bdk. Rm 5:5), yakni sewaktu kita dibaptis. Lalu apa konsekuensinya bagi kita agar pantas disebut anak-anak Allah? Jawabannya kita temukan pada wejangan St. Paulus, yaitu kalau kita menyerahkan hidup kita untuk dibimbing oleh Roh Kudus (bdk. Rm 8:14, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”). Dipimpin Roh Allah, inilah spiritualitas utama dari anak-anak Allah. Apakah makna di balik spiritualitas yang luhur ini?

Panggilan hidup mistik berada tersembunyi di balik spiritualitas ini. Roh Kudus ialah Roh Bapa dan Roh Putra. Roh Kudus diberikan Allah untuk bersemayam di dalam diri kita untuk membantu kita dalam mengenal Bapa dan Yesus, Sang Putra. Tujuan Roh Kudus tidak lain ialah agar kita semakin mengenal Bapa dan Putra secara mendalam dan mesra. Pengenalan tersebut terjadi tidak saja lewat akal budi, tetapi lebih secara eksperiensial (lewat pengalaman). Sebagaimana Roh Kudus sendiri berada dalam kekerabatan yang amat mendalam dan mesra dengan Bapa dan Putra, begitu pula Dia menghendaki kemesraan yang sama terdapat pula di dalam relasi kita dengan Bapa dan Putra. Singkatnya, misi utama Roh Kudus ialah agar kita mengalami pengenalan Allah yang mendalam secara pribadi dan eksperiensial.

Pengalaman akan Allah yang mendalam, inilah yang dimengerti sebagai hidup mistik dalam teologi Katolik. Hidup mistik merupakan pengalaman batin yang mendalam akan Allah. Mistik dalam teologi Katolik, bukan dimaksudkan sebagai segala perkara yang berbau gaib, klenik, magis. Bukan, melainkan suatu pengalaman akan Allah yang amat mesra dan mendalam, tidak saja lewat akal budi melainkan juga lewat pengenalan batin. Jadi, jelaslah bahwa Roh Kudus sebenarnya bermaksud membimbing kita kepada hidup mistik. Dengan demikian, anak Allah yang sejati seharusnya seorang mistikus.

Hanya dengan menjadi seorang mistikus, anak-anak Allah baru bisa menjadi citra Allah yang sempurna. Begitu luhur panggilan kita sebagai anak-anak Allah. “Hidup mistik mempunyai nilai yang tak ada bandingnya dan yang akan menuntun kepada kebenaran suci dan kebahagiaan batin,” demikianlah seru St. Teresa dari Avila, seorang mistikus dan pujangga Gereja yang besar. Coba kita bayangkan dan renungkan: Demi apakah Allah memberikan Roh-Nya sendiri ke dalam hati kita? Bukankah Roh Kudus ialah anugerah Allah yang amat berharga dan tak ternilai? Roh Kudus dianugerahkan bukan demi tujuan yang sepele, melainkan demi suatu karya ilahi yang besar. Roh Kudus dicurahkan Allah agar menjadi Guru Mistik bagi kita, yakni agar kita juga bisa menghayati dan mengalami hidup yang sama tak ternilai dan amat berharganya, yakni hidup mistik.

2. KARAKTER SEORANG MISTIKUS

Seorang mistikus bukanlah orang yang “wah”, hebat dan luar biasa secara lahiriah. Mereka bisa jadi orang yang biasa-biasa saja, namun yang memiliki cinta yang luar biasa kepada Allah dan sesama. Pengalaman mistik mereka berbeda satu dengan yang lain, ada yang amat mendalam dan ada yang biasa-biasa saja, tergantung panggilan pribadi mereka masing-masing. Dasar persamaannya ialah batin mereka yang begitu erat bersatu dengan Allah, entah dia seorang yang hidup dengan pelayanan aktif maupun seorang kontemplatif.

Pertama, kita soroti mereka yang amat mendalam pengalaman batinnya, sehingga sering mengalami gejala ekstase, levitasi (tubuh terangkat), bilokasi (menampakkan diri di dua lokasi pada saat bersamaan), visiun. Bahkan ada yang sampai pada tingkat tertinggi dari pengalaman mistik: perkawinan rohani. Masuk dalam golongan ini ialah Santa Teresa dari Avila dan St. Yohanes dari Salib (mistikus dan pujangga Gereja, seorang Karmelit dari Spanyol; mereka berdua hidup sezaman). Seorang mistikus yang sampai pada taraf perkawinan rohani sungguh bernilai bagi Gereja dan dunia. Seorang yang mencapai taraf ini jauh lebih berguna bagi Gereja dan dunia ketimbang seribu teolog brilian namun yang bukan mistikus ataupun sejuta orang sukses lainnya yang namun kafir. Sebab mereka sudah mencapai persatuan cinta yang sempurna dengan Kristus, sehingga seluruh perbuatannya merupakan gerak ilahi, yang menguduskan dan menyelaraskan dunia. Akibatnya doa dan kurban-kurban mereka pun sungguh menyenangkan hati Allah sehingga bisa menyilih dosa dunia.

Kedua, ada pula yang tidak mengalami pengalaman mistik yang hebat-hebat seperti yang dialami kedua mistikus Karmelit di atas. Misalnya, Muder Teresa dari Kalkuta (meninggal September 1997) yang merupakan the living saint yang pernah hidup pada zaman ini. Beliau bisa dikatakan seorang mistikus dalam kategori ini. Semua orang yang pernah berjumpa dengan Muder Teresa mengakui kesalehan dan kesucian hidupnya. Wajahnya memancarkan aura cinta kasih yang mendalam. Pembawaannya tenang, rendah hati dan bersahaja. Dari ceritanya kita tahu bahwa dia tidak pernah mengalami ekstase, levitasi, visiun. Namun dari “karya cinta kasihnya terhadap orang miskin”, tak seorang pun yang membantah pancaran hidup mistiknya yang mendalam. Seperti diungkapkannya sendiri, pengalaman mistik ini sebenarnya ditimba dari meditasi dan devosi yang mendalam terhadap Ekaristi. Bagi Muder Teresa, waktu setelah menyambut Tubuh Kristus dalam Komuni merupakan saat-saat kedekatan mistiknya dengan Kristus. Tak aneh, kata-kata dan tindakannya pun punya wibawa dan kuasa, sebab mengalir dari hati yang tersentuh oleh pengalaman langsung akan kasih Allah. Paus Yohanes Paulus II sebenarnya bisa pula dikatakan sebagai seorang mistikus dalam kategori ini. Beliau juga seorang yang amat saleh dan mendalam hidup doanya.

Selain kedua gambaran di atas, sebenarnya banyak mistikus lain yang hidupnya tersembunyi. Mereka ialah anak-anak Allah yang saleh, yang menghayati Injil dengan otentik dan konsekuen. Memang banyak di antara mereka tidak dikenal. Ada yang awam, ada pula kaum biarawan-biarawati. Hidup mereka banyak yang ter-sembunyi dalam kemesraan batin yang mendalam seperti yang dialami Perawan Maria di desa terpencil Nazaret. Mungkin mereka tidak mempunyai karya yang membuat nama mereka mencuat. Namun, hanya Allah yang tahu betapa hidup mereka, walaupun tersembunyi, sesungguhnya amat menggarami dan menerangi dunia, membawa kekudusan bagi dunia! Mereka adalah pendoa-pendoa, anak-anak Allah yang bersatu secara mistik dengan Allah. Apa jadinya dunia ini bila tidak ada mereka? Sebagaimana dosa mempunyai dimensi sosial − melukai kesucian Gereja dan dunia − begitu pula kesalehan dan kesucian juga menguduskan Gereja dan dunia.

Karakter kuat dari seorang mistikus ialah seorang pendoa. Akan tetapi, dia bukanlah seorang pendoa yang suka mencari waktu sendirian dalam arti tidak lagi peduli terhadap dunia, yang dengan sengaja lari dari dunia demi dirinya sendiri. Memang ada orang tertentu dengan panggilan istimewa − para pertapa atau eremit, misalnya para bapa padang gurun, yang ditarik Roh Kudus, Sang Guru Mistik, kepada hidup kesunyian yang total. Seorang mistikus tidak harus lari dari dunia. Dia bisa tetap tinggal di dalam dunia (hidup aktif) sembari batinnya terus berdoa. Prinsipnya tergantung panggilan pribadi mereka masing-masing. Walaupun demikian, seorang mistikus biasanya seorang kontemplatif. Meskipun seakan-akan menganggur dalam kesunyian hidup doa, sebenarnya mereka sedang menjalani misi rahasia dari hidup mistik seperti yang terungkap dalam refleksi Santa Klara ini: “Jika engkau seorang kontemplatif, cintamu menjangkau keluar ke seluruh dunia, dan engkau mengangkat semua kesakitan, penderitaan, dan kebingungan dunia ke dalam doa dan cintamu. Engkau merupakan bagian dari setiap orang dan segala sesuatu, dan engkau merasakan secara nyata keterikatanmu dengan semua ciptaan. Siapakah kiranya merasa sepi, di tengah begitu banyaknya hal untuk dicintai, begitu banyak hal untuk diperhatikan, begitu banyak kebutuhan untuk disampaikan kepada Bapa?”

Maka dari itu, mistikus memainkan peran sentral dalam kehidupan dunia. Ia menggemakan kalimat besar dari Konsili Vatikan II: ‘Sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan orang zaman ini, teristimewa mereka yang miskin dan yang tersiksa entah bagaimana caranya, ini pun adalah sukacita dan harapan, kesedihan dan kegelisahan para pengikut Kristus.’ (Gaudium et Spes, Prakata 1; Dokumen Konsili Vatikan II). Dan seperti kata William Johston dalam bukunya Teologi Mistik, para mistikus adalah orang-orang kreatif. Tidak semua orang mistikus itu aktif, karena beberapa di antaranya hidup dan meninggal dalam ketersendirian, tetapi semuanya kreatif.


3. ROH KUDUS GURU MISTIK

3.1. Hidup Mistik: Suatu Lorong Penuh Misteri

Hidup mistik bisa diibaratkan suatu lorong hidup batin yang penuh misteri. Membina hidup rohani yang mendalam dengan Allah berarti bahwa kita memasuki suatu lorong yang penuh misteri. Ke mana lorong misteri ini membawa kita? Tidak lain daripada kepada Allah yang adalah Mysterium tremendum et fascinosum (Misteri yang menggentarkan sekaligus mempesona, Rudolph Otto). Lalu siapa yang bisa diandalkan untuk menjadi guru bagi kita dalam meniti kemisterian lorong ini? Tak ada yang dapat mengerti tentang Allah selain Roh Allah sendiri (Bdk. 1Kor 2:11: “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah”). Hanya Roh Allah yang merupakan pewahyu sejati akan Allah Sang Misteri. Jadi, hanya Roh Kuduslah pembimbing sejati bagi orang yang berani memasuki lorong hidup batin yang penuh misteri ini.

3.2. Karakter Guru

Selain mengajar dan mendidik, guru ialah seorang yang mengilhami, menuntun, membimbing. Selain menguji, dia juga menghibur, menguatkan, menyemangati. Pengajar, inspirator, penuntun, pemurni (penguji), penghibur, inilah peran seorang guru, yang juga kita temukan dalam diri Allah Roh Kudus. Dialah Sang Penghibur yang diutus Bapa dalam nama Yesus, yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita, termasuk misteri hidup mistik (Yoh 14:26). Dialah Guru Doa yang mengajar kita bagaimana berdoa dalam segala kelemahan kita (bdk. Rm 8:26). Dialah Roh Kebenaran yang akan mengilhami hidup mistik bersama Yesus (bdk. Yoh 15:26). Sebagai penguji atau pemurni, Roh Kudus ialah Rahmat Yang Menguduskan (The Sanctifying Grace, St. Thomas Aquino), dan Api Yang Membakar (St. Yohanes dari Salib). Roh Kudus juga seorang Guru-Pendamping yang amat setia, yang selalu hadir dalam diri kita untuk menyertai kita sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20).

3.3.Roh Kudus, Guru Mistik dalam Hidup Para Kudus

Para kudus atau santa-St. merupakan contoh dan teladan ideal. Maka bergunalah apabila kita memeriksa peranan Roh Kudus sebagai Guru Mistik dalam hidup mereka. Kita tidak bisa menyoroti semuanya, namun hanya beberapa saja yang kiranya mengalami hidup mistik lebih menonjol. Di sini kita akan menyinggung Perawan Maria, tipe kontemplatif sejati; St. Agustinus, teolog dan mistikus; dua mistikus Karmel: St. Teresa dari Avila, St. Yohanes dari Salib; St. Paulus − misionaris Gereja Awali.

Seorang murid sejati dari Roh Kudus, inilah julukan yang tentunya bisa kita kenakan pada Perawan Maria. Maria sungguhlah seorang kontemplatif yang murni dan sempurna. Dia menghayati ketersembunyian desa terpencil Nazaret dalam suatu pengalaman batin yang mendalam dengan Gurunya, Roh Kudus. Dia menyimpan semua perkara dalam hatinya, meresapkannya dalam dialog batin yang amat mesra dan abadi bersama Sang Guru. Dengan bantuan Sang Guru, Perawan Maria bisa mengerti misteri Bayi Yesus yang dikandungnya. Roh Kudus juga menguatkannya untuk menanggung derita dalam kesetiaan total menemani Sang Putra sampai di kayu salib. Dan karena eratnya persatuan antara murid dan guru ini, Maria digelari sebagai Mempelai Roh Kudus.

Bagi St. Agustinus, seorang teolog dan mistikus besar dari abad ke-4 yang tulisannya terkenal dan dirujuk sampai sekarang, Roh Kudus dianggapnya Magister Internus (Guru Batin). St. Agustinus bisa dijadikan contoh seorang pendosa besar yang bertobat, yang lalu dengan bantuan Sang Magister Internus, sampai kepada pengalaman mistik yang mendalam. Roh Kudus tidak saja menuntunnya untuk bertobat, namun juga memurnikan dirinya dari ikatan kedagingan yang kuat yang sungguh membelenggu dalam kehidupan sebelumnya yang berlumuran dosa. Tidak itu saja, Sang Guru Batin akhirnya membakar api cinta di dalam hati St. Agustinus dan menyuntikkan pengenalan-pengenalan batin yang mendalam. Berkat polesan dan inspirasi dari Sang Guru Batin, dia pun menjadi seorang penulis dan pengkhotbah ulung, yang tulisan-tulisannya memberi inspirasi bagi banyak orang. Sang Guru Batin mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya ada dalam Allah. Dan Allah tidak ditemukan di luar diri, melainkan di dalam hati: “Aku tidak menemukan Dikau di luar, ya Tuhan, karena aku keliru, aku mencari Dikau di luar, padahal Dikau ada di dalam diriku.” Diresapi oleh kehadiran Sang Guru, St. Agustinus pun tidak tahan untuk tidak berseru kepada Allah: “Engkau menciptakan kami untuk diri-Mu, hati kami akan terus gelisah, sampai dia beristirahat di dalam Engkau.”

Roh Kudus, Sang Guru Mistik mengilhami St. Teresa dari Avila kepada hidup doa yang mendalam, yang terjadi lewat meditasi dan doa hening. Sang Guru menariknya memasuki lorong hidup batin yang amat dalam sampai kepada pusat jiwa tempat Allah hadir bersemayam. Pada kedalaman lubuk jiwanya St. Teresa mengalami Allah yang sungguh hadir. Roh Kudus juga lalu mendesaknya untuk menuangkan pengalaman mistiknya ini lewat Puri Batin. Selain seorang kontemplatif, St. Teresa juga seorang yang aktif. Di sela-sela hidup doanya, dia harus sibuk mengurusi pembangunan biara-biara. Sebab pada saat itu, dia bersama St. Yohanes dari Salib sedang mengadakan pembaruan dalam tubuh Ordo Karmel. Sebagai Priorin (kepala biara), dia bertanggungjawab atas kesejahteraan biara dan para susternya, yang semuanya ini sungguh menyita waktunya sendiri dengan Allah. Namun, Roh Kudus begitu sempurna menuntunnya sehingga dia bisa menggabungkan hidup aktif dan kontemplatif begitu sempurna pula. Pada akhir hidupnya, dia berhasil mendirikan sembilan belas biara pembaruan, disertai pula pengalaman mistik yang mendalam. Semuanya ini dimungkinkan oleh kerjasamanya yang sempurna dengan Roh Kudus, Guru Mistik pendampingnya yang amat setia. Bersama Sang Guru, St. Teresa juga berhasil menulis: Jalan Kesempurnaan dan Riwayat Hidup, serta menjadi pembimbing rohani yang ulung bagi para susternya.

Sezaman dan satu roh dengan St. Teresa dari Avila ialah St. Yohanes dari Salib. Dia juga mengalami pengalaman rohani yang kurang lebih sama seperti St. Teresa. Keduanya berhasil mencapai kesempurnaan hidup mistik, hingga pada taraf perkawinan rohani. Berkat didikan Roh Kudus, St. Yohanes memilih jalan askese yang radikal. Spiritualitasnya ialah kosong ... kosong ... dan kosong. Roh Kudus tidak saja mengilhami namun juga membawanya langsung pada jalan pengosongan dan pemurnian diri yang ketat dan keras. Berat juga jalan ini harus ditapakinya, sampai-sampai dia harus menanggung penderitaan bahkan dari rekan sebiaranya sendiri, yang akhirnya memenjarakannya dalam penjara di Toledo. Akan tetapi, itulah hebatnya Roh Kudus, Sang Guru Mistik, Dia tidak meninggalkan St. Yohanes sendirian. Justru di sanalah − dalam keterasingan total di penjara − Roh Kudus mengilhami suatu karya besar; St. Yohanes menghasilkan suatu karya rohani yang masterpiece: Madah Rohani (Spiritual Canticle). Sebelumnya dia juga sudah menulis Mendaki Gunung Karmel. Perjalanan hidup mistik bisa diibaratkan sebagai perjalanan mendaki Gunung Karmel ini. Dalam perjalanan itu Roh Kudus memurnikan sekaligus menguatkan, ini dijabarkannya dalam Malam Gelap (The Dark Night). Melalui pemurnian diri dan disiplin yang kuat, Roh Kudus semakin mudah membakar cinta di dalam jiwanya. Sehingga cinta dan pengenalannya pun makin sempurna dan terbakar. Selanjutnya Roh Kudus menjadi suatu Nyala Cinta yang berkobar-kobar dalam jiwa; tema ini begitu kuat dalam bukunya: The Living Flame of Love.

St. Paulus juga sebenarnya seorang mistikus besar. Banyak teks-teks mistik dalam Kitab Suci berasal dari surat-suratnya. Semuanya itu hasil pengalaman mistiknya yang mendalam dengan Kristus. Baginya hidup ialah Kristus, bukan lagi dia sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam dirinya (bdk. Gal 2:20). Bagi Paulus hidup mistik ini juga begitu tersembunyi, namun disediakan Allah bagi mereka yang mencintai-Nya: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9). Bagi Paulus, Roh Kudus sungguh hadir dalam jiwa (bdk. 1Kor 3:16). Kehadiran Roh Kudus inilah yang akan mengundang, mengilhami bahkan membuka tabir misteri hidup mistik. Walaupun sebagai misionaris yang aktif, sebenarnya Paulus sungguh seorang mistikus sejati. Inilah yang ideal dan amat berguna bagi Gereja.

4. JALAN MENUJU HIDUP MISTIK

Jalan pertama menuju hidup mistik ialah hidup doa. Sebab dalam doa terjalinlah dialog batin antara roh manusia dan roh Allah. Inilah dunia misteri, dunia batin. Lalu apa yang pokok dalam doa? Mengenai hal ini, yang terpenting ialah bukan banyak berpikir, melainkan banyak mencinta (St. Teresa dari Avila). Tak perlu kita berpikir macam-macam sebab darinya bisa timbul segala keinginan tidak teratur. Sebaliknya, mencintalah sebab cinta mendatangkan damai dan hening di hati. Seperti yang dikatakan Paulus di atas, “...untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor 2:9), inilah kebahagiaan hidup mistik yang disediakan Allah bagi kita anak-anak-Nya. Bersama Aloysius Pieris dalam karyanya Antara Bahtera Nuh dan Kapal Karam Paulus kita dapat berkata bahwa Mistisisme adalah sebuah pengetahuan yang dialami mengenai Allah yang diantarai oleh kasih.

5. RELEVANSI

Panggilan hidup mistik senantiasa bergema di dalam Gereja. Masalahnya, sedikit saja orang yang menyadarinya. Johnston menegaskan bahwa “Tugas yang dihadapi umat Kristiani sekarang ialah memperbarui hidup mistiknya. Setiap orang yang menyadari tanda-tanda zaman, tentu melihat adanya dambaan akan doa yang lebih mendalam, doa mistik di kalangan semua umat Kristen.”

Kalau kita membaca tanda-tanda zaman, khususnya dosa dan kejahatan yang makin luar biasa hebat dan canggihnya, misalnya gempuran kuasa Si Jahat lewat internet dan TV, kita pun bertanya bagaimana kita bisa meredam ini semua? Suatu kekuatan adikodrati sedang berusaha memengaruhi dunia. Maka kita pun perlu menyadari bahwa hanya kekuatan yang adikodrati pula yang dapat melawannya, yakni kekuatan Allah. Kekuatan Allah seperti ini hanya bisa ditimba dari doa. Johnston menambahkan dalam bukunya Being in Love: “Ini sungguh suatu panggilan yang nyata, suatu ajakan yang membawamu berada pada arus utama hidup modern. Bagi mereka yang peka, di mana-mana dewasa ini sedang timbul kesadaran bahwa apa yang dibutuhkan oleh manusia modern ialah doa. Hanya doa dan tindakan yang mengalir dari doa yang dapat meluputkan generasi kita yang kacau ini dari kehancuran total. Ya, hanya doa yang bisa mengguncang dunia.”

Panggilan hidup mistik ini juga diperteguh dengan bangkitnya spiritualitas pembaruan hidup dalam Roh atau gerakan pembaruan karismatik dalam Gereja. Penulis sebenarnya lebih suka memakai istilah spiritualitas ketimbang gerakan. Sebab di dalamnya terkandung suatu semangat membarui diri. Dan memang demikian yang terjadi. Lewat spiritualitas pembaruan ini banyak umat yang mengalami pertobatan dan pembaruan hidup rohani yang mendalam dan otentik. Sejak 35 tahun lalu berhembus dalam Gereja Katolik (mulai tahun 1967) terhitung jutaan orang sudah mengalami buah pembaruan dari spiritualitas ini. Spiritualitas pembaruan hidup dalam Roh ini menggemakan kembali amanat St. Paulus dalam Roma 8:14 tersebut pada awal tulisan di atas. Lewat pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus ini banyak orang yang dibawa kepada pengalaman akan Allah yang langsung dan mendalam. Buah-buahnya sungguh banyak yang otentik: pertobatan, kerinduan akan doa dan kegairahan baru akan Kitab Suci. Walaupun kadarnya masih kecil tidak seperti pengalaman mistikus besar seperti St. Teresa dan para kudus lainnya, tidak mustahil ini juga suatu pengalaman mistik yang mengubah.

6. PENUTUP

Jelaslah bahwa kita semua dipanggil kepada hidup mistik, kepada pengalaman akan Allah. Bagi mereka yang rindu mengalaminya hanya Roh Kudus yang bisa menghantar. Dialah Sang Guru yang dianugerahkan untuk menjadi pendamping setia bagi kita. Maka kebaktian dan devosi kepada-Nya amat menentukan hidup rohani kita. Persahabatan dengan Sang Guru ini bisa ditimba melalui hidup doa dan cinta kasih, yang diresapi oleh Kitab Suci dan hidup sakramental. Untuk yang terakhir kalinya saya mau mengutip kata-kata William Johnston: “Yang menentukan mistik Kristen menjadi mistik Kristen itu ialah orientasinya kepada misteri Kristus dalam kaitannya dengan Kitab Suci dan Sakramen” (Mistik Kristiani, Sang Rusa Terluka).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting