User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

5.  Pembaruan Hidup Pribadi

Pencurahan Roh Kudus juga mengembalikan dimensi pokok dan hakiki dalam hidup kristiani, yaitu relasi pribadi dengan Allah dalam iman, harapan dan kasih. Akhir-akhir ini kita jumpai suatu bentuk bidaah yang boleh disebut dengan istilah "bidaah aksi". Banyak orang kristen, bahkan ada juga religius dan imam, yang mendasarkan hidupnya bukan lagi pada relasi pribadi yang mantap dengan Allah, melainkan mereka hanya menekankan pada karya-karya saja. Orang baru dipandang sebagai orang kristen, kalau dia berbuat amal, bila dia menolong orang miskin, kalau orang ikut aksi sosial macam-macam, kalau ia ikut aksi ini aksi itu. Kalau tidak ia tidak dianggap orang kristen yang baik. Tentu saja semuanya itu baik, tetapi kalau itu menggantikan tempat dan kedudukan Allah yang harus dicintai di atas segala sesuatu, semua itu menjadi berhala. Hukum pertama dan utama seperti yang diajarkan Tuhan Yesus tetap berlaku, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama" (Mat 22:37). Hukum yang terutama dan pertama tetaplah yang pertama dan terutama. Hukum yang kedua: "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39), tetaplah yang kedua. Tidak seorangpun boleh membalikkannya. Kalau tidak, ia berdosa besar terhadap Allah, karena dia meremehkan Allah.

Melalui pencurahan Roh Kudus hubungan dengan Allah dipulihkan pada tempatnya yang sesungguhnya. Karena kehadiran Roh Kudus yang berkarya di dalam dirinya, orang melihat dengan jelas, bahwa Allah, Pencipta dan Tuhan alam semesta serta segala sesuatu yang ada di dalamnya patut dicintai demi dirinya sendiri. Ia juga menyadari, bahwa sesungguhnya hidup kekal bukan lain daripada "Mengenal Allah dan Dia yang diutus-Nya, Yesus Kristus" (bdk. Yoh 17:3). Dalam bahasa Kitab Suci, mengenal berarti mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Karena itu hidup kekal itu sudah mulai sekarang ini dan akan disempurnakan dalam hidup yang akan datang.

Oleh terang Roh Kudus itu ia sadar, bahwa ia juga harus mengasihi sesamanya bukan saja seperti diri sendiri, melainkan seperti Yesus sendiri telah mengasihi dia (bdk. Yoh 15:9.12). Kasihnya kepada sesama menerima motivasi baru dan kekuatan baru. Karena ia mengasihi Yesus, ia juga berusaha mengungkapkan kasihnya itu kepada sesamanya, sesuai dengan sabda Tuhan sendiri, "Jikalau kamu mengasihi Aku, lakukanlah perintah-Ku... Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 14:15; 15:12).

Karena hubungan pribadi dengan Allah ini, maka Kitab Suci, yakni Sabda Allah, yang menurut istilah para Bapa Gereja adalah surat cinta Allah kepada manusia, menerima maknanya yang baru, yang mendalam sekali. Doa pun menjadi lebih berarti, karena doa sesungguhnya bukan lain daripada persahabatan dengan Allah. Karena hubungan yang mantap itu, segala tahyul, kepercayaan sia-sia, jimat-jimat dan benda-benda keramat serta segala bentuk perdukunan menghilang, karena ia tahu dan yakin, bahwa Allah sendirilah yang melindungi dia.

Bila ia membiarkan dirinya dibimbing dan diproses Roh Kudus, semakin hari hidupnya akan menjadi semakin berkenan kepada Allah. Ia akan terus berkembang dalam iman, harapan dan kasih, dan dengan demikian menjadi semakin serupa dengan Kristus Yesus Tuhan. Hidupnya akan semakin memancarkan damai, sukacita dan kebahagiaan yang mendalam, sebab semakin hari Yesus akan semakin hidup di dalam dirinya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting