User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Apabila kita hidup sebagai hamba dunia, tampil dengan topeng-topeng yang menutupi diri kita, kita akan merasa diri besar. Kesombongan dan kebanggaan akan memenuhi hati kita karena segala prestasi dan kesuksesan yang telah kita raih. Sebaliknya kalau kita gagal, kita akan stress dan kecewa karena merasa diri terlalu besar untuk mengalami kegagalan ini. Bukalah mata dan lihatlah keagungan Tuhan di sekitar kita. Dia hadir lewat alam, sesama, dan dalam peristiwa hidup sehari-hari; terlebih lagi Dia hadir dan menjumpai kita dalam ekaristi dan doa. Di hadapan Allah yang mahabesar itulah, baru kita sadari kekecilan diri. Menyadari kekecilan diri ini sungguh penting, karena dapat menghantar kita untuk bergantung pada Allah. Dengan demikian, kita tidak usah lagi memakai topeng-topeng yang menunjukkan keperkasaan dan kemandirian. Menyadari kekecilan diri juga membuat kita sadar betapa berharganya kita di mata Allah, karena untuk kita yang kecil ini, Dia rela memberikan Putera-Nya wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Dengan begitu, kita juga tidak usah lagi bertopengkan kesombongan untuk menutupi rasa rendah diri kita karena kita tahu kita sangat berharga di mata Allah. Sekali pun seluruh dunia mengejek dan merendahkan kita, siapa takut? Bukankah kita sangat berharga di mata Allah? Itulah yang terpenting!

Setelah puas menikmati pemandangan di puncak gunung, kami pun segera turun pulang. Kami jalan dengan bergegas, ingin segera tiba di rumah dan beristirahat. Dalam benak kami terbayang minuman dingin dan kue yang lezat, nasi hangat dan lauknya, semua itu membuat kami menggelinding cepat menuruni gunung. Setelah di bawah, baru kami sadari bahwa kami tak sempat menikmati pemandangan Gunung Slamet dari leher gunung sampai ke bawah karena sepanjang perjalanan yang ada di mata kami hanyalah bantal dan makanan!

Dengan panjang lebar kita sudah membicarakan betapa masa lalu dapat mempengaruhi hidup kita, membuat kita tidak dapat tampil apa adanya sebagai pribadi yang unik dan utuh. Namun, ternyata tidak hanya masa lalu, tetapi masa depan pun dapat mempengaruhi kita pula. Seorang remaja SMU yang ingin menjadi aktris terkenal sangat terobsesi dengan cita-citanya itu. Akibatnya, walau ia belum menjadi aktris, ia sudah menganggap dirinya demikian. Dalam pergaulan selalu dipilihnya orang-orang yang berkelas, dalam membeli barang-barang juga dipilihnya yang bermerk tanpa peduli keuangan orang tuanya yang pas-pasan. Hampir selalu ia mengkhayalkan kehidupannya kelak sebagai seorang aktris hingga tanpa terasa ia pun lulus SMU tanpa sempat menikmati sedikit pun masa SMU-nya. Banyak sekali orang yang hidup dengan bayangan masa depan. Ketika makan yang ada di pikirannya adalah rencana-rencana yang akan dilakukannya setelah makan. Ketika bekerja yang dipikirkan adalah apa yang akan dilakukannya bila sudah pulang ke rumah nanti. Dan saat istirahat di rumah, pikirannya dipenuhi dengan apa yang akan dilakukannya saat bekerja besok. Saya jadi teringat waktu masih SD saya sering ngomel, kalau libur ingin sekolah, kalau sekolah ingin libur. Demikianlah semua ini membuat orang tidak dapat menikmati saat ini. Hidupnya dipenuhi dengan kecemasan, panik, senewen, yang seolah menutup mata hatinya untuk melihat indahnya hidup ini.

Allah menciptakan kita masing-masing dengan sungguh amat baik, dan betapa kejamnya kita jika menutupi keindahan ilahi ini. Marilah kita mohon kepada Tuhan untuk menyembuhkan luka-luka batin kita, memberanikan diri kita untuk melepaskan topeng-topeng, hidup dan tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan bebas, lepas dari belenggu kondisi lingkungan, masa lalu, dan masa depan. Biarlah seluruh keberadaan kita menjadi pujian bagi kemuliaan Allah, dan seluruh tubuh, sikap, dan gerak-gerik kita mengumandangkan mazmur pujian. Dengarkanlah jati diri Anda yang berbisik, “Biarkan aku menjadi diriku sendiri…”

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting