5. Mengapa harus berdoa untuk orang mati?
Tepatnya kita perlu berdoa untuk orang yang masih berada di api pemurnian atau purgatorium. Arwah-arwah di api pemurnian merupakan anggota-anggota Tubuh Kristus pula. Mereka sering disebut “Gereja yang Menderita”. Sebagai anggota Gereja, mereka sama seperti kita di dunia ini. Bedanya, mereka sudah mempunyai kepastian akan nasib mereka. Hanya belum saatnya bagi mereka untuk masuk surga.
Sebagai satu kesatuan, Gereja sejak dahulu percaya bahwa doa-doa dan silih-silih kita di dunia dapat membantu dan mempercepat mereka masuk surga (bdk. 2 Mak 12:45; Kol 1:24). Dengan doa-doa, kurban-kurban, dan tindakan-tindakan baik yang kita persembahkan kepada Allah untuk keselamatan jiwa-jiwa di api pemurnian, kita dapat memperolehkan pengampunan atas dosa maupun indulgensi (penghapusan akibat-akibat dosa) bagi mereka. Doa-doa yang terbaik bagi mereka dipanjatkan dalam Ekaristi.
6. Apa itu Api Pemurnian?
Allah kita adalah Allah yang adil sekaligus berbelaskasih. Kiranya kebenaran ini dinyatakan secara ideal oleh doktrin Katolik tentang api pemurnian atau purgatorium. Doktrin ini kerap menjadi batu sandungan bagi orang-orang Protestan di dalam usaha mereka untuk mendalami iman Katolik. Lebih daripada itu, banyak dari kalangan orang Katolik sendiri yang meragukan atau salah menafsirkannya.
Kata “purgatorium” bukanlah kata yang dapat ditemukan di dalam Kitab Suci, seperti halnya juga dengan kata “inkarnasi” atau “Tritunggal”. Meskipun demikian, gagasan tentang karya Allah yang memurnikan atau membersihkan sangatlah biblis. Artinya, di dalam banyak teks Kitab Suci, Allah dikenal sebagai Dia yang mendidik anak-anak-Nya sendiri melalui medan ujian dan pencobaan. Kalau ternyata anak-anak-Nya itu ‘lulus’ ujian, mereka akan memperoleh pengampunan dosa dan kehidupan kekal. Menurut orang Katolik, jarang sekali ada orang yang sedemikian sucinya sehingga tidak perlu lagi membayar ‘hutang-hutang’ dosanya di suatu tempat, atau lebih tepat, suatu situasi yang disebut dengan api permurnian.
Jelas di dalam api pemurnian ada aspek pengampunan dosa. Akan tetapi, purgatorium bukanlah suatu kesempatan kedua bagi seseorang untuk masuk surga. Api pemurnian bukanlah suatu sarana pasca-kematian untuk bertobat atas kesalahan-kesalahan di masa lampau. Saat seseorang meninggal, waktu untuk memilih secara bebas telah berlalu. Pilihan dasar untuk percaya kepada Tuhan, yang menentukan keselamatan, harus diambil seseorang sebelum dia meninggal. Ketika meninggal, sebenar-benarnya seseorang telah ditentukan nasibnya, kehidupan kekal di surga atau kematian abadi di neraka.
Timbul persoalan, sebagaimana telah disebutkan di atas, jarang sekali ada orang yang benar-benar bersih. Bagaimana nasib seseorang yang semasa hidupnya memiliki cinta kepada Allah dan sesama, namun di pihak lain masih mempunyai cinta-diri dan kekurangan-kekurangan lainnya? Apa yang akan terjadi pada seseorang yang semasa hidupnya berusaha menanggapi rahmat Allah, tetapi masih memiliki ikatan terhadap beberapa dosa tak terakui atau akibat-akibat dari dosa selama hidupnya? Kalau kita mengacu pada arti keadilan secara tegas, tidak ada seorang pun yang akan masuk surga. Tidak ada seorang pun, kecuali Yesus dan Bunda Maria, yang bebas dari dosa. Padahal, seorang pendosa tidak akan mampu berdiri secara langsung apalagi dalam keabadian di hadirat Allah yang Mahakudus.
Kata pemazmur: “Siapa boleh mendaki gunung Tuhan?… Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya.” (Mzm 24:3-4) Yesus menegaskan bahwa mereka yang suci hatinyalah yang akan melihat Allah (bdk. Mat 5:8). Akhirnya, Kitab Wahyu menegaskan bahwa hadirat Allah begitu murni dan sucinya sehingga “tidak ada yang tidak bersih yang boleh masuk ke dalamnya…” (Why 21:27)
Orang Katolik meyakini bahwa kerahiman Allah begitu besar. Kerinduan-Nya untuk menyelamatkan begitu kuat. Jasa tak terbilang dari wafat Kristus di salib begitu berkuasa sehingga Allah telah menyediakan tempat juga bagi mereka yang meninggal di dalam tingkatan cintakasih yang belum sempurna, namun tidak dalam dosa berat ataupun maut. Allah tidak akan langsung mengutuk dan menjerumuskan mereka ke dalam keterpisahan kekal dari-Nya. Orang Katolik percaya bahwa Allah akan menyucikan dan membersihkan dosa-dosa yang masih ada, yang belum diakukan, serta akibat-akibat dosa yang menghambat seseorang untuk memasuki persatuan penuh dengan-Nya di surga.
Referensi tradisional untuk purgatorium adalah 2 Mak 12:45 dan Mat 12:32. Orang Protestan menolak Makabe dalam kanon Kitab Suci mereka (untuk masalah ini, saya pernah memberikan pengajaran singkat kepada kelompok Kaderisasi Komunitas Tritunggal Mahakudus dengan makalah berjudul “Diskursus mengenai Deuterokanonika”). Padahal dalam Kitab yang diterima oleh Gereja Awal ini jelas sekali bisa disimpulkan pentingnya doa orang yang masih hidup untuk mereka yang telah meninggal. Dituliskan pula bahwa yang didoakan ialah mereka yang meninggal dalam keadaan dosa.
Yesus pernah mengatakan sesuatu yang sulit sekali dipahami tanpa menerima paham tentang api pemurnian: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia berkata-kata menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” (Mat 12:32) Dunia yang akan datang yang dimaksud pasti bukan surga, karena di surga orang sudah lepas sepenuhnya dari dosa. Neraka juga tidak masuk akal karena orang di neraka tidak perlu pengampunan lagi. Jadi, pasti ada ‘tempat’ ke-tiga, di mana orang masih bisa diampuni. Di sini api pemurnian menjadi kemungkinan yang logis.
Api pemurnian ialah suatu kesempatan bagi mereka yang orientasi dasar dalam hidupnya adalah Allah dan ketaatan kepada kehendak-Nya. Namun, api pemurnian bukanlah tempat bagi mereka yang terpisah dari Allah oleh pemberontakan dan dosa yang berat. Yang terakhir ini tidak akan dimurnikan lagi, melainkan akan mengalami siksaan neraka sebagai konsekuensi dari hidup dan pilihannya di dunia. Kerahiman Allah tidak dapat bertentangan dengan penghormatan-Nya atas kehendak bebas manusia. Pemurnian Allah disediakan bagi mereka yang cintakasihnya belum sempurna dan masih terikat oleh dosa dan akibat-akibatnya.
Seperti apakah api pemurnian atau purgatorium itu? Sebagaimana semua eksistensi pasca-kematian, api pemurnian pun merupakan misteri yang hanya dapat kita dekati secara memuaskan melalui iman dan pengharapan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa ungkapan-ungkapan biblis tentang pemurnian-pemurnian dari dosa sering menyebut api sebagai sarana penyucian. Dalam pada itu, Tradisi Katolik menggambarkan cintakasih dan kekudusan Allah sebagai api yang memurnikan manusia dari dosa. Api menggambarkan kuasa yang menyakitkan sehingga kita tidak akan heran jika purgatorium itu menyakitkan.
Berdasarkan pengalaman hidup di dunia ini, kita mengerti bahwa perjuangan melawan dosa dan segala akibatnya menuntut pengorbanan, memakan waktu, serta menyakitkan pula. Pertobatan, doa, dan disiplin diperlukan untuk menerima kebebasan dan penyembuhan penuh dari Allah semasa hidup di dunia. Dari sini bisa ditarik garis analogi dan hubungan kait-mengait antara pemurnian di dunia dan purgatorium. Boleh dikatakan bahwa purgatorium adalah cara Allah untuk melengkapi dan menyempurnakan proses pembebasan dan penyembuhan dari dosa dan akibat-akibatnya. Suatu proses yang bermula di sini, saat ini, di dunia ini. Tujuan karya pemurnian Allah selalu sama. Allah rindu agar setiap manusia ikut ambil bagian dalam kepenuhan kesucian hidup serta ingin agar kita bebas dari segala sesuatu yang menghalangi dan menghambat kesucian tersebut. Purgatorium menunjukkan kepada kita bahwa Allah memang menyelesaikan apa yang telah Ia mulai. Kemenangan Kristus atas dosa dan akibat-akibatnya menjadi sempurna dan penuh saat kita masuk ke dalam hadirat-Nya yang mulia di dalam surga.
Menjadi ajaran Katolik pula sejak semula, pemurnian dari dosa dan akibat-akibatnya bagi seseorang dapat dibantu oleh doa dan silih, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Menjadi lain, kalau seseorang sudah di api pemurnian. Sepenuhnya dia akan mengandalkan doa dan silih kita di dunia dan para kudus di surga. Setiap doa dan silih (perbuatan-perbuatan menyangkal diri dengan maksud ilahi) secara pribadi maupun kelompok, punya daya untuk memperolehkan indulgensi (penghapusan hukuman sementara) secara penuh ataupun sebagian bagi saudara-saudari kita di api pemurnian.
Sebagai penutup, keberadaan purgatorium hendaklah tidak menyurutkan semangat kita di dalam mengejar kekudusan. Di satu pihak, purgatorium memang merupakan sesuatu yang indah, yang mencerminkan kerahiman dan belaskasihan Tuhan. Akan tetapi, di pihak lain, jangan sampai maksud baik dan indah dari Tuhan ini kita salah gunakan. Bukankah bebas dari dosa dan segala akibatnya sejak di dunia ini jauh lebih indah daripada harus terlebih dahulu mengalami api pemurnian? Satu orang kudus di dunia jauh lebih berharga daripada seribu orang di api pemurnian.
