4. Mengapa dikatakan bahwa Paus itu kebal salah? Apakah dia tidak mungkin salah? Lalu mengapa dalam sejarah banyak Paus yang terbukti bersalah?
Banyak orang Protestan (bahkan ada juga orang-orang Katolik) yang salah paham tentang ajaran Gereja Katolik mengenai infalibilitas Paus. Mereka mengira dengan itu, Gereja Katolik mau mengatakan bahwa Paus itu suci dan tidak pernah salah dalam segala tindakannya. Bukankah setiap orang telah berdosa? (Bdk. Rm 3:23).
Benar. Gereja mengakui bahwa tidak ada orang yang tidak berdosa, kecuali Bunda Maria dan Yesus. Itu berarti Paus pasti berdosa pula. Itu jelas. Tidak pernah Gereja mengatakan bahwa Paus bebas dari dosa. Banyak Paus yang dalam masa-masa kegelapan Gereja yang memang hidup dengan keadaan tidak terpuji. Jelas, kebal salah tidak berarti tidak berdosa. Kebal salah di sini hanya berarti bahwa karena kuasa Roh Kudus, Paus tidak mungkin salah dalam mengajarkan masalah iman dan moral. Infalibilitas ini merupakan suatu konsekuensi wajar dari janji Tuhan kepada Petrus dan para penggantinya yang mewarisi kunci Kerajaan Surga. Seorang Paus tidak mungkin salah dalam memberikan patokan moral dan iman, demi Gereja. Ini karunia yang diberikan bersamaan dengan pemberian janji Tuhan kepada Petrus. Karunia ini bahkan tidak berlaku tanpa syarat-syarat khusus. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Paus hanya kebal salah ketika syarat-syarat berikut dipenuhi semua:
- Berbicara dalam kapasitas sebagai Kepala Gereja (ex cathedra), sebagai pemegang kunci yang diwarisinya dari Petrus.
- Ketika mengajarkan soal iman dan moral.
- Dalam suatu pernyataan resmi bahwa ini adalah ajaran yang harus diterima semua orang beriman.
Melihat syarat-syarat di atas bisa dilihat konsep infalibilitas ini tidak biasa. Memang itulah yang benar. Karunia infalibilitas ini hanya berlaku dalam kondisi luar biasa. Pada dua abad terakhir ini hanya tercatat dua kali Paus mengumumkan penggunaan karunia ajaran ini. Pertama untuk mengumumkan dogma Maria Dikandung tanpa Noda (Paus Pius IX, 1854) dan kedua ketika Paus Pius XII mengumumkan dogma Maria Diangkat ke Surga tahun 1950.
Kedua dogma yang terakhir diumumkan sebenarnya bukan hal yang baru. Sudah sejak lama Gereja yakin akan keadaan Maria yang tanpa noda dan diangkat ke Surga, hanya sekarang diteguhkan secara resmi saja. Dalam Gereja ada yang disebut depositum fidei, warisan iman dari zaman para rasul. Tidak semua deposit tersebut dijabarkan karena dunia tidak akan sanggup memuat semua buku yang diperlukan untuk itu (bdk. Yoh 21:25).
Sebenarnya depositum fidei inilah yang memiliki infalibilitas yang sesungguhnya. Dialah warisan iman rasuli berdasarkan pewahyuan Allah dalam diri Yesus Kristus. Deposit ini dipelihara oleh Gereja. Karena itu, Gereja sebagai Gereja kebal salah pula. Secara khusus, deposit iman ini dipelihara dan diwariskan turun-temurun oleh para uskup. Berdasarkan ini, kolegialitas para uskup yang berkumpul, berbicara, dan memutuskan sesuatu berkenaan soal iman dan moral juga memiliki karunia infalibilitas. Keputusan mereka dapat dibaca dalam dokumen-dokumen hasil Konsili. Paus kadang-kadang berbicara mewakili mereka semua (Gereja dan kolegialitas para uskup). Di sinilah ia tidak bisa salah. Dalam arti ini, sebenarnya Paus hanya meneruskan keyakinan Gereja universal.
Kedua dogma tentang Maria di atas misalnya, tidak dikeluarkan begitu saja. Ribuan angket disebarkan ke seluruh dunia, dikumpulkan kembali. Kemudian hasil angket didiskusikan oleh teolog-teolog terkemuka. Hasil diskusi mereka kemudian dibaca dan dipertimbangkan matang oleh Paus sebelum akhirnya disetujui dan diumumkan. Prosesnya sangat lama, tetapi Gereja selalu memiliki waktu untuk itu.
Infalibilitas Paus hanya soal iman dan moral. Ini jelas. Terkadang Paus bisa mengeluarkan pendapat yang keliru tentang ilmu pengetahuan. Kekeliruan yang sangat terkenal ialah ketika Tribunal Gereja (Pengadilan Tertinggi Gereja Katolik) menghukum Galileo Galilei dan menyatakan bahwa keyakinannya bahwa bumilah yang mengelilingi matahari (heliosentris) itu keliru. Peristiwa ini sering dipakai orang-orang fundamentalis untuk menyerang infalibilitas Paus. Namun, mereka salah mengerti dalam beberapa hal. Pertama, ini bukan soal iman dan moral. Ini soal pengetahuan. Kedua, bukan Paus yang memutuskan, minimal secara implisit, melainkan pengadilan Gerejalah yang bekerja. Ketiga, keputusan ini tidak pernah dinyatakan oleh Gereja sebagai keputusan infalibilis. Dalam sejarah Gereja sering minta maaf untuk kekeliruan yang pernah dilakukannya. Dalam kasus Galileo, Gereja bahkan menerbitkan edisi perangko khusus Galileo sebagai pernyataan sesal atas kekeliruannya.
