Tanya Jawab Iman

Apologetika

Jawaban yang meyakinkan, itulah maksud segala sesuatu tentang apologetika. Masalahnya, untuk dapat meyakinkan orang lain, pertama kita harus meyakinkan diri sendiri dulu. Satu-satunya cara untuk itu hanyalah belajar. Tidak bisa kita mengandaikan bahwa kita sudah mengerti segala sesuatu tentang iman kita. Tindakan iman untuk percaya kepada Kristus perlu disempurnakan dengan mendalami isi iman Gereja, orang yang satu lebih daripada orang yang lain. Hanya dengan itulah seorang bisa sampai pada kebajikan iman yang sejati.

Saya pernah merasa bahwa mempelajari isi iman Gereja itu tidak terlalu diperlukan. Akan tetapi, suatu ketika saya kaget sekali ketika membaca sebuah buku bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa kodrat manusia itu rusak akibat dosa asal. Ketika saya periksa dalam Katekismus Gereja Katolik, hal itu ternyata benar. Dalam Katekismus Gereja Katolik artikel 405, Gereja menegaskan bahwa kodrat manusiawi tidak rusak sama sekali akibat dosa asal. Setelah coba mencari tahu apa maksud pernyataan tersebut, saya semakin gelisah ketika menyadari betapa serius pernyataan ini. Paham Gereja tentang kodrat manusia ini memiliki kaitan erat dengan doktrin tentang Inkarnasi dan penebusan.

Minat saya atas apologetika semakin besar saat saya membaca buku-buku tentang pertobatan intelektual. Ternyata secara historis banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus hanya setelah melalui pergumulan intelektual. Mereka bersaksi bahwa mereka mau dibaptis setelah diyakinkan. Memang, saya tetap percaya bahwa rahmat Allahlah yang bekerja di balik itu. Akan tetapi, tidak bisa disangkal bahwa Tuhan Allah sering juga memakai orang-orang tertentu untuk mewartakan kebenaran-kebenaran secara meyakinkan. Setiap pertanggungjawaban iman yang meyakinkan dengan sendirinya ialah pewartaan juga.

Apa itu apologetika? Secara sederhana apologetika berarti mengetahui alasan rasional atas keyakinan tertentu. Dasar dari apologetika Katolik ialah 1 Ptr 3:15b-16:

“… siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

Salah satu metode yang ditawarkan dari abad ke abad untuk berapologet ialah dengan mempelajari keberatan-keberatan (antitesis) pihak lain terhadap keyakinan kita. St. Thomas dari Aquinas memakai metode ini untuk seluruh karya Summa Theologica-nya yang fenomenal. Setelah mengetahui antitesis, Thomas memberikan tanggapannya, sering dengan mengutip teks-teks yang berwibawa, entah itu dari Kitab Suci, dokumen Konsili, ataupun pandangan tokoh-tokoh besar yang pernah ada.

Metode St. Thomas adalah suatu metode yang baik. Namun, saya memlih untuk tidak mengikuti metode tersebut secara ketat dalam pekerjaan kali ini. Saya lebih suka memberikan uraian yang membutuhkan perhatian lebih dari pembacaan, tetapi sekaligus lebih ringan.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini amat tidak lengkap. Memang bukan maksud saya untuk membuat suatu buku pegangan apologetika. Cukuplah bila pertanyaan-pertanyaan di bawah ini bisa menjadi sarana untuk belajar berapologetika.