Tanya Jawab Iman

Apologetika

2. Mengapa Maria disebut tetap perawan?

    Salah satu ajaran iman Gereja Katolik yang sering ditentang pihak Protestan ialah doktrin bahwa Maria tetap perawan baik sebelum, pada saat, dan sesudah melahirkan. Umumnya mereka mengemukakan keberatan-keberatan berdasarkan teks-teks Kitab Suci, khususnya ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Yesus mempunyai saudara-saudari (Mat 13:55, Mrk 3:31, Gal 1:19). Mereka menafsirkan ayat-ayat itu dan menyimpulkan bahwa Yesus mempunyai saudara-saudari kandung, sehingga dengan demikian menurut mereka, Maria tidaklah tetap perawan, sebab sesudah Yesus, Maria masih melahirkan anak-anak yang lain.

    Ajaran Gereja Katolik tentang keperawanan Maria, baik sebelum, pada waktu, dan sesudah melahirkan telah menjadi pokok ajaran iman Gereja sejak abad ketiga. Ini dapat dilihat dengan diakuinya ajaran tersebut dalam syahadat-syahadat dan secara khusus diteguhkan kembali oleh Konsili Konstantinopel II (553). Akhirnya ajaran tersebut ditegaskan kembali dalam Konsili Vatikan II yang menyatakan: “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya.”(Lumen Gentium, 57).

    Ajaran ini telah lama ada di dalam Gereja, jauh sebelum terjadi perpecahan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan. St Agustinus, uskup Hippo dan pujangga Gereja, menyatakan bahwa “Maria tetap perawan, ketika ia mengandung Puteranya, perawan ketika ia melahirkanNya, perawan ketika ia menyusuiNya. Selalu perawan.” Martin Luther sendiri, sebagai salah satu reformator Protestan, tidak pernah menolak keperawanan Maria. Ia hanya meneruskan tradisi Gereja yang sudah ada. Dalam salah satu khotbahnya pada Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah (2 Pebruari), ia berkata: “Sebagaimana Maria itu perawan sebelum ia diberi kabar oleh malaikat Tuhan dan sebelum ia melahirkan Yesus, demikian ia juga tetap perawan pada waktu ia melahirkanNya dan sesudahnya.” Calvin, salah seorang tokoh reformator Protestan bahkan pernah mencela orang yang berkata bahwa Maria mempunyai anak selain Yesus.

    Keberatan yang timbul dari beberapa umat Protestan tentang keperawanan Maria sesudah melahirkan dapat ditinjau dari ayat Kitab Suci yang berbunyi: “Yusuf mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”(Mat 1:24-25). Dalam tafsiran mereka kata “sampai” dalam ayat ini berarti sesudah melahirkan Yesus, Maria bersetubuh dengan Yusuf dan melahirkan anak-anak lain, saudara-saudari Yesus (bdk. Mat 12:46; 13:55).

    Menanggapi keberatan di atas, perlu kita kaji tujuan Matius menuliskan ayat tersebut. Matius menulis ayat itu bukan untuk menyatakan bahwa Maria tetap perawan hanya sampai melahirkan Yesus. Tujuan utama Matius menulis ayat ini untuk menekankan bahwa Yesus Kristus dilahirkan bukan dari benih laki-laki, melainkan dari kuasa Roh Kudus (bdk. Mat 1:20). Ayat tersebut mau menekankan bahwa campur tangan Yusuf sungguh-sungguh tidak ada dalam proses penjelmaan Allah menjadi manusia melalui rahim perawan Maria.

    Selain argumentasi di atas, menurut para penafsir Katolik, kata “sampai” dalam bahasa aslinya (bahasa Semit), tidak perlu selalu berarti “sesudah itu”, sehingga ayat ini tidak selalu dapat diartikan: “sesudah itu Yusuf bersetubuh dengan Maria”. Intinya, kata “sampai” dalam bahasa Semit tidak harus dipakai dalam konteks untuk membicarakan keadaan sesudahnya. Bahkan berdasarkan penggunaan tata bahasa Aram, M. Kraemer, seorang penafsir Katolik berpendapat bahwa kata “sampai” dapat berarti “lihatlah!”. Sehingga ia mengusulkan agar Mat 1:25 diterjemahkan sebagai berikut: “Meskipun Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria, lihatlah ia melahirkan Yesus.” Dari dua pendapat para penafsir Katolik ini, dapatlah dikatakan bahwa Mat 1:25 tidak menentang keperawanan Maria, baik sebelum, waktu dan sesudah melahirkan.

    Kadang-kadang orang mengajukan keberatan lain, bahwa di dalam Kitab Suci dibicarakan tentang saudara dan saudari Yesus (Bdk. Mrk 3:31-35; 6:3; 1 Kor 9:5; Gal 1:19). Gereja selalu menafsirkan teks-teks itu dalam arti, bahwa mereka bukanlah anak-anak lain dari Perawan Maria. Ini dapat dilihat dari pengertian kata “saudara” dalam bahasa asli Kitab Suci, dalam bahasa Ibrani: “akh”, maupun bahasa Yunani: “adelphos”. Kata “saudara” ini dapat berarti “saudara kandung”, “saudara tiri” atau “sanak keluarga (kerabat)”. Dengan ini, pengertian kata “saudara” dapat bermakna sempit, dapat pula bermakna luas. Jadi, “ibu dan saudara-saudara Yesus” tidak selalu berarti saudara-saudara kandung Yesus. Pengertian yang sama juga menjadi kebiasaan umum dalam kebudayaaan Timur, yang mana kata “saudara” dapat berarti saudara kandung, saudara sepupu, saudara tiri, saudara angkat, dsb. Dari pengertian ini, dapat dikatakan bahwa Yakobus dan Yosef yang disebut sebagai “saudara-saudara Yesus” (Mat 13:55), merupakan anak-anak seorang Maria (Bdk. Mat 27:56) yang adalah murid Yesus dan yang dinamakan “Maria yang lain” (Mat 28:1) atau saudara sepupu Yesus, anak saudari bunda Maria (Yoh 19:25). Sesuai dengan cara ungkapan yang dikenal dalam Perjanjian Lama (Bdk. misalnya: Kej 13:8; 14:16; 29:15), mereka itu sanak saudara Yesus yang dekat (Bdk. Katekismus Gereja Katolik, 500). Di samping itu ada, pendapat tentang “saudara-saudari Yesus” yang beredar luas dalam Gereja Yunani, bahwa mereka itu anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelumnya (saudara-saudari tiri Yesus), pendapat ini berasal dari tulisan-tulisan kuno dalam pertengahan abad II (Proto-Injil Yakobus dan karangan-karangan apokrip lainnya).

    Satu hal lain yang dapat menjadi bahan pertimbangan bahwa Maria sungguh-sungguh tetap perawan dan tidak mempunyai anak-anak lain terdapat dalam Injil Yohanes 19:26-27. Dalam ayat-ayat ini Yesus menyerahkan ibuNya dalam pemeliharaan murid yang dikasihiNya, yaitu rasul Yohanes, yang kemudian menerima bunda Maria di rumahnya. Menurut tafsiran para bapa Gereja dan penulis Kristen yang berwibawa sejak abad III, ayat-ayat ini selain mempunyai makna yang lebih dalam, tetapi juga memberikan keterangan bahwa bunda Maria tidak mempunyai anak-anak lain selain Yesus. Seandainya mempunyai anak-anak lain, mengapa Yesus menyerahkan ibunya dalam pemeliharaan rasul Yohanes? Dari sini dapat disimpulkan bahwa Maria sungguh-sungguh tidak mempunyai anak-anak lain, selain Yesus. Maria sungguh-sungguh perawan, baik sebelum, pada saat, dan setelah melahirkan Yesus.

    Ajaran Gereja tentang keperawanan Maria, baik sebelum, waktu, dan sesudah melahirkan lebih memiliki makna teologis daripada makna fisik belaka. Konsili Vatikan II menghubungkan ajaran ini dengan iman Maria, “Dalam iman dan ketaatan ia melahirkan Putra Bapa sendiri di dunia, dan itu tanpa mengenal pria, dalam naungan Roh Kudus, sebagai Hawa yang baru, karena percaya akan utusan Allah, dengan iman yang tak tercemar oleh kebimbangan.”(Lumen Gentium, 63). Iman berarti penyerahan kepada Allah dan penyerahan Maria yang total terungkap dalam keperawanannya. Dalam keperawanan Maria tampak bahwa Kristus dan kelahiranNya merupakan misteri iman. Oleh karena itu, Gereja menegaskan bahwa Maria itu “pola teladan Gereja yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih.” (LG, 53 dan LG, 63).

    Keperawanan Maria berhubungan dengan keibuanNya. Setelah ia sepenuh-penuhnya merelakan dirinya untuk menjadi hamba Tuhan dan ibu Yesus, seluruh hatinya telah menjadi milik Yesus. Di dalam Yesus ia menemukan kepenuhan, sehingga tidak mungkin Maria mempunyai anak-anak lain setelah melahirkan Dia “yang di dalamNya segala sesuatu ada”(Kol 1:17). Sebab seandainya Maria masih mempunyai anak-anak lain, ia harus membagi perhatiannya kepada anak-anak yang lain. Jika hatinya terbagi-bagi secara demikian, bagaimana mungkin ia dapat menyerahkan diri secara total kepada Allah dan Yesus? Ada pun tujuan keperawanan seperti yang dinyatakan Rasul Paulus supaya “orang memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwanya kudus”. (Bdk. 1 Kor 7:34). Dengan keperawanannya, Maria dapat menyerahkan diri secara total kepada Yesus.