Tanya Jawab Iman

Saksi Yehowah di Pintu Anda

Sekitar limapuluh tahun yang lalu, jumlah saksi-saksi Yehowah di seluruh dunia tidak sampai 100.000. Namun, sekarang jumlah di Indonesia saja diperkirakan sudah melampaui angka tersebut. Penyebaran mereka terutama terjadi di kota-kota utama di pulau Jawa. Adapun di seluruh dunia jumlah para saksi Yehowah telah mencapai angka jutaan. Kebanyakan dari mereka merupakan ‘pindahan’ dari Katolik atau Protestan.

Seorang imam, teman saya, mempunyai pengalaman menarik dengan para saksi Yehowah. Ketika masih frater, pernah dua kali ia bertemu dan berdialog dengan saksi Yehowah mantan Katolik. Pertama, dengan seorang bapak yang tinggal di Depok. Bapak ini sebelumnya cukup aktif di paroki. Suatu ketika ia dikunjungi seorang saksi Yehowah. Ia tertarik mendengarkan penjelasan Kitab Suci dari orang tersebut. Setelah beberapa kali dikunjungi, ia diundang untuk menghadiri pertemuan mereka. Dari sana ia meninggalkan iman Katoliknya. Dalam percakapannya dengan imam kenalan saya, bapak ini mengatakan bahwa alasan utama ia pindah ialah kehausannya yang besar akan Firman Tuhan. Pendalaman Kitab Suci yang diadakan dalam pertemuan saksi Yehowah sangat menarik. Hal tersebut tidak ditemukannya dalam gereja Katolik.

Pertemuan kedua imam tersebut dengan saksi Yehowah terjadi di kota Bogor. Suatu hari ia dihubungi seorang bapak. Dengan sedih bapak tersebut menyatakan keprihatinannya atas istrinya. Istrinya telah lima tahun tidak ke gereja. Saat dikunjungi, ibu tersebut mengakui bahwa ia sudah menjadi saksi Yehowah. Ia pindah karena kecewa dengan gereja Katolik. Pada saat-saat susah ia tidak pernah mendapatkan perhatian dan pelayanan dari gereja Katolik. Justru waktu itu ada saksi Yehowah yang datang ke rumahnya. Ia merasa disapa. Ia bahkan ditolong untuk keluar dari permasalahannya. Itulah yang kemudian membulatkan hatinya untuk memilih jalan kepercayaan yang baru.

Dua kisah di atas hanya mewakili kisah-kisah lainnya yang semakin banyak terjadi akhir-akhir ini. Mengapa para saksi Yehowah bisa berkembang sampai sejauh ini? Siapakah mereka? Apa yang membuat mereka sangat bersemangat? (Mereka tidak segan-segan untuk mewartakan keyakinan mereka dari pintu ke pintu!). Dari mana asal mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini mulai menggelitik hati saya ketika saya sendiri terkesima mendengarkan kesaksian seorang ibu akan saudarinya yang telah menjadi saksi Yehowah (lagi-lagi dari Katolik). Ibu tersebut mengeluhkan keyakinan kakaknya yang menurutnya sangat aneh. Kakak perempuannya itu mempunyai prinsip tidak boleh menolak permintaan orang. Prinsip ini diperolehnya dari pendalaman Kitab Suci kelompoknya. Ia bahkan tidak segan-segan mencari pinjaman uang untuk membantu orang yang minta tolong darinya. Akibatnya, ia tidak pernah lepas dari lilitan hutang. Yang lebih mengherankan lagi, sekalipun demikian ia tampak gembira-gembira saja tanpa merasa terbebani oleh hutang tersebut. Bermula dari keheranan itu, saya mulai mencoba mencari tahu tentang saksi Yehowah ini.


Awal Mula Saksi Yehowah

Pendiri kelompok ini ialah seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Charles Taze Russell (1852-1916). Ia dilahirkan dan dibesarkan di Pittsburgh sebagai seorang Protestan dari aliran Kongregasionalis. Pada usia tujuh belas tahun ia mencoba mempertobatkan seorang ateis. Yang terjadi justru sebaliknya, ia yang menjadi ateis, atau lebih tepat, agnostik (aliran ini percaya akan adanya Tuhan pencipta, tetapi tidak percaya bahwa Tuhan tersebut peduli dengan manusia). Beberapa tahun kemudian, ia pergi ke suatu pertemuan dalam gereja Adventis. Mendengar khotbah dari pendetanya tentang Yesus yang akan segera datang, ia kembali tertarik pada kekristenan dan Kitab Suci.

Meskipun tidak menyelesaikan high school-nya (setingkat SMU), Russell kemudian mengangkat dirinya sebagai “pastor”. Ia mendirikan organisasi “Watch Tower” pada tahun 1879 dan semakin sering berkhotbah. Khotbahnya berhasil menarik dan mengumpulkan jemaat dengan pandangan-pandangan yang tidak lumrah. Ia mengajarkan bahwa neraka itu tidak ada. Orang baik akan masuk surga, sedangkan orang jahat dilenyapkan begitu saja. Bagi Russell, hanya ada satu Allah saja, yakni Yehowah. Yesus bukan Allah. Yesus bahkan disamakan dengan malaikat Mikael. Adapun, Roh Kudus bagi mereka bukanlah pribadi, melainkan sebentuk daya kekuatan semata yang tidak memiliki kehendak sendiri. Mengikuti semangat Adventis, Russell juga mengatakan bahwa Yesus akan segera datang. Ia bahkan bertindak jauh dengan meramalkan bahwa Yesus akan datang pada tahun 1914.

Tahun 1914 tiba dan berlalu. Yesus tidak tampak di mana pun. Russell kemudian mengubah sedikit ajarannya. Ia mengatakan bahwa sebenarnya Yesus telah datang kembali pada tahun 1914. Hanya kedatangannya itu tidak bisa dilihat mata. Yesus akan datang kembali sekali lagi dalam waktu dekat. Baru pada waktu itu kita bisa melihatnya dengan mata. Pada waktu itu Yesus akan memimpin pasukan terang dalam perang kolosal melawan bala tentara kegelapan. Perang akhir ini dikenal oleh pada saksi Yehowah sebagai perang Armageddon. Ajaran mengenai perang Armageddon ini sampai sekarang pun masih merupakan salah satu inti ajaran saksi Yehowah.

Russell meninggal pada tahun 1916. Penggantinya bernama Joseph R. Rutherford. Dialah yang pada tahun 1931 mengganti nama aliran yang ditinggalkan Russell dengan nama “Saksi Yehowah”. Dasar nama tersebut ialah Yes 43:10. Rutherford ini pula yang memulai tradisi pewartaan dari pintu ke pintu. Penggantinya, Nathan Homer Knorr melengkapi evangelisasi pintu ke pintu ini dengan pelatihan-pelatihan yang intensif. Knorr inilah yang kemudian mengupayakan penerjemahan Kitab Suci khusus untuk para saksi Yehowah. Terjemahan tersebut (New World Translation) digunakan para saksi Yehowah sebagai terjemahan resmi Kitab Suci mereka hingga saat ini.

Mengenai New World Translation (NWT) harus sejak awal dikatakan bahwa terjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa Inggris ini tidak diakui oleh para pakar Kitab Suci secara umum. Kredibilitasnya sangat diragukan sebab penerjemah-penerjemahnya terdiri dari lima orang yang kurang kompeten. Empat di antaranya tidak pernah mempelajari bahasa-bahasa biblis, seperti Ibrani dan Yunani. Orang kelima pernah mempelajari bahasa Yunani umum, bukan bahasa Yunani biblis. Itu pun hanya dalam waktu yang singkat. Padahal arti sebuah kata atau ungkapan dalam bahasa Yunani biblis sering berbeda dengan artinya dalam bahasa Yunani umum. Karena alasan-alasan ini, NWT tidak diakui dan tidak pernah dipakai oleh orang lain selain para saksi Yehowah.