Tanya Jawab Iman

Saksi Yehowah di Pintu Anda


Mereka Memang Berbeda dengan Katolik

Menurut kesaksian rekan imam saya, ibu di Bogor dalam cerita di atas akhirnya kembali ke gereja Katolik. Dalam pembicaraan mereka diketahui bahwa alasan kepindahan utama ibu itu bukan soal ajaran iman. Dengan terus terang ia mengatakan bahwa beberapa ajaran saksi Yehowah tidak cocok dengan dia. Memang, dari latar belakang Russell, pencetus kelompok ini, sudah bisa dilihat adanya beberapa keunikan dibanding dengan ajaran Katolik. Dalam perkembangan selanjutnya, visi dan keyakinan kelompok ini semakin jelas dirumuskan. Dewasa ini, sudah ada beberapa prinsip ajaran yang berlaku umum bagi kelompok ini.


1. Tentang Siapa Yesus

Pertanyaan yang paling mendasar untuk setiap kelompok atau individu yang memusatkan perhatian pada Yesus ialah: siapa Yesus bagi mereka? (Bdk. Mat 16:15) Bagi orang Katolik, jelas Kristus ialah Allah sekaligus manusia. Ia ialah Pribadi Kedua dalam Allah Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi, bagi saksi Yehowah, Yesus ialah ciptaan pula. Memang, Dia itu ciptaan yang pertama. Namun, Dia bukan Allah. Ayat yang biasa mereka kutip ialah Kol 1:15: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.”

Terjemahan LAI atas ayat tersebut sebenarnya jelas menyatakan bahwa Yesus itu melebihi segala ciptaan. Berarti Dia bersifat ilahi. Dua ayat selanjutnya meneguhkan kenyataan itu: “karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol 1:16).

Masalahnya, saksi Yehowah menerjemahkan ayat tersebut secara berbeda: “He is the image of the invisible God, the first-born of all creation.” (NWT) Mereka menafsirkannya dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah ciptaan pertama (first-born of all creation). Jadi, Dia bukan Allah. Untuk mendukung argumen mereka, Why 3:14 dikutip: “The words of the Amen (Kristus), the faithful and true witness, the beginning of God’s creation.” Mereka bersikukuh bahwa ayat ini berbicara mengenai Yesus sebagai ciptaan awal. Padahal ayat ini bisa ditafsirkan secara sederhana, seperti yang dilakukan oleh para ahli Kitab Suci Kristen pada umumnya, bahwa Yesuslah yang menjadi sumber, awal penciptaan. Dengan kata lain, Dialah awal dari segala sesuatu. Itu berarti Dia tidak punya awal. Dia itu abadi. Dia itu Allah.

Demi mendukung argumen mereka tentang Yesus, saksi Yehowah bertindak jauh dengan mengubah terjemahan umum untuk Yoh 1:1. Terjemahan umum: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah; dan Firman itu adalah Allah.” Dengan membaca ayat ini, tidak bisa tidak, setiap orang akan menyadari bahwa orang Kristen meng-Allah-kan Yesus. Memang demikian, bagi orang Kristen, Yesus adalah Allah. “Firman” atau “Logos” dalam Injil Yohanes ialah Yesus Kristus. Dia adalah Allah. Namun, ayat ini kehilangan artinya yang asli ketika diterjemahkan oleh saksi Yehowah: “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was a god.” (NWT) Perhatikan frasa “was a god”. Huruf “god” dengan huruf kecil menegaskan pandangan saksi Yehowah tentang Kristus. Bagi mereka, Kristus tidak setingkat dengan Allah. Ia berada di bawah Allah. Yesus itu semacam dewa.

Bagi saksi Yehowah, Kristus bukan Allah. Dia hanya ciptaan. Mereka bahkan menyamakan Yesus dengan Malaikat Mikael dengan dasar-dasar Kitab Suci yang sulit diterima (misalnya: Dan 10:13; 12:1; Jud 9; Why 12:7-8). Karena itu, kebanyakan ahli keagamaan tidak memasukkan saksi Yehowah di bawah label “Kristiani”. Mereka bukan orang Kristen dalam arti yang sesungguhnya. Orang Kristen mengakui Yesus ialah Tuhan. Yesus ialah Allah. Salah satu Pribadi ilahi dalam kesatuan kodrat Allah Tritunggal.


2. Tentang Surga dan Neraka

Mengherankan bahwa saksi Yehowah tidak mengakui adanya neraka. Menurut gereja Katolik, neraka disediakan bagi mereka yang menolak rahmat Allah atau yang tidak mau bertobat. Bagaimana bentuk neraka itu? Tidak ada dari yang masih hidup yang tahu. Namun, neraka itu nyata dan benar-benar ada. Seperti ditulis dalam Why 14:11: “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.” Siksaan neraka menunggu mereka yang tidak mau mengakui Allah, tetapi menyembah iblis dan tawaran-tawarannya selama di dunia.

Di satu pihak, para saksi Yehowah sangat percaya akan adanya surga. Hanya pendapat mereka tentang surga mungkin agak mengherankan bagi orang lain di luar kalangan mereka. Misalnya, mereka percaya yang akan masuk ke surga hanya berjumlah 144.000 orang saja. Keyakinan mereka didasarkan pada Why 7:4. Bagi mereka, tidak sulit untuk percaya akan hal itu. Mungkin seperti orang Katolik tidak punya kesulitan untuk percaya bahwa roti dan anggur setelah konsekrasi telah berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Akan tetapi, jika jumlah mereka saja sudah jutaan, selebihnya ke mana? Mereka menjawab, berapa pun jumlah mereka, yang masuk surga hanya 144.000 orang. Berarti Tuhan akan memilih yang terbaik di antara mereka.

Di lain pihak, mereka tidak percaya akan neraka. Neraka itu tidak ada. Pertanyaannya, jika neraka itu tidak ada, ke mana jiwa orang-orang di luar bilangan 144.000 itu akan pergi setelah kematian. Jawaban mereka sederhana, jiwa orang-orang yang tidak terpilih akan lenyap. Dengan demikian, saksi Yehowah tidak mengakui imortalitas (kekekalan) setiap jiwa. Yang akan tinggal hanya 144.000 jiwa saja. Selebihnya akan berhenti ada. Untuk mendukung pandangan mereka ini, lagi-lagi mereka menerjemahkan ayat tertentu dalam Kitab Suci secara tidak lazim. Contohnya Mat 25:46. Terjemahan LAI: “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” Jelas dari ayat ini ada ‘tempat’ untuk menyiksa jiwa-jiwa dalam kekekalan. Akan tetapi, saksi Yehowah menerjemahkan demikian: “And these will depart into everlasting cutting-off, but the righteous ones into everlasting life.” (NWT) Untuk mereka yang tidak termasuk kalangan terpilih akan masuk ke dalam “everlasting cutting-off”. Artinya, penghapusan kekal. Beda sekali dengan terjemahan New Jerusalem Bible misalnya: “And they will go away to eternal punishment, and the upright to eternal life.” Kata asli “kolasin“ memang lazim diterjemahkan “hukuman”. 


3. Tentang Darah

Meskipun bukan merupakan salah satu inti ajaran mereka, pantangan makan darah dan menerima transfusi darah telah menjadi trade-mark saksi Yehowah. Di negara asalnya, Amerika Serikat, kalau seseorang memperkenalkan diri sebagai saksi Yehowah, biasanya dia akan langsung disambut kata-kata: “Oh, yang tidak menerima transfusi darah itu, ya?” Dalam kenyataannya, mereka memang lebih suka mati kehabisan darah daripada menerima transfusi darah dari orang lain. Bagi mereka, menerima darah orang lain ke dalam pembuluh darah mereka merupakan pelanggaran berat terhadap hukum Allah. Fanatisme mereka dalam hal ini mungkin bisa dibandingkan dengan fanatisme ibu dan ketujuh anaknya dalam 2 Mak 7. Mereka lebih suka dihukum mati daripada makan daging babi yang diharamkan agamanya.

Memang dalam Perjanjian Lama cukup banyak ayat yang menyatakan larangan makan darah (a.l. Kej 9:4; Im 7:26-27; 17:12; Ul 12:23). Akan tetapi, itu Perjanjian Lama. Ada larangan lain dalam Perjanjian Lama yang tidak diindahkan lagi, bahkan oleh saksi Yehowah sendiri. Misalnya, larangan untuk menyalakan api dalam rumah pada hari Sabat (Kel 35:3), sekian banyak aturan mengenai persembahan dalam Kitab Imamat, aturan mengenai perladangan (Im 19:9-10); larangan untuk melakukan kawin silang terhadap ternak, larangan untuk menaburi ladang dengan dua jenis benih, larangan untuk mengenakan pakaian dari dua jenis bahan (Im 19:19), dan masih banyak yang lain. Bahkan sebenarnya, dalam Perjanjian Lama orang Israel tidak hanya dilarang makan darah, tetapi juga lemak (Im 3:17; 7:23-25). Lalu, mengapa hanya larangan untuk makan darah yang diangkat? Lebih daripada itu, larangan-larangan yang saya sebutkan sebelumnya tidak pernah dicabut secara eksplisit dalam Perjanjian Baru. Namun, larangan-larangan mengenai makanan dan minuman serta hari Sabat rupanya tidak berlaku lagi bagi orang Kristen. Seperti ditulis oleh Paulus: “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat” (Kol 2:16). Yesus pun menandaskan, “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat 15:11; bdk. Mrk 7:15.18). Di sini Yesus mau mengatakan bahwa yang terpenting bukan aturan-aturan yang lahiriah, melainkan kasih karunia dan kebenaran (bdk. Yoh 1:17; Mrk 2:27). Lagipula pembenaran itu datang bukan karena melakukan hukum taurat, melainkan karena iman kepada Kristus (bdk. Gal 2:16).