SISTIM SEL KOMUNITAS
(Bagian kedua)
Rm.Yohanes Indrakusuma, O.Carm
3. Evangelisasi oikos
Dalam sistim sel paroki ini, baik di St Boniface maupun di Sant’Eustorgio, yang ditekankan ialah evangelisasi oikos. Oikos adalah kata Yunani untuk rumah tangga, seperti yang kita jumpai dalam Kis 10:2: Kornelius dan seluruh keluarganya (oikos). Oikos itu kemudian dikembangkan untuk meliputi orang-orang yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, tempat kerja, tempat hobby, dll, pendeknya tempat di mana kita sering berinteraksi dengan orang-orang tertentu.
St Boniface Church mengemukakan kelompok-kelompok yang boleh disebut oikos itu sebagai berikut:
1. anggota keluarga
2. mereka yang hidup berdekatan, para tetangga
3. mereka yang punya minat dan hobby yang sama, perkumpulan-perkumpulan olah-raga, dll.
4. panggilan atau profesi yang sama, di mana kita sering berinteraksi secara teratur, orang-orang tempat kerja kita1
Dalam kehidupan bermasyarakat kita pasti ada dalam oikos kita, orang-orang yang belum mengenal Yesus, yang tidak percaya, yang mempunyai problem, yang perlu dievangelisir. Konsep dasar dalam evangelisasi oikos ini adalah kesadaran, bahwa sebagai orang kristen kita dipanggil untuk evangelisasi, pertama-tama dalam lingkungan hidup yang sudah ada. Di situlah oang harus melibatkan diri tanpa suatu dalihpun juga. Relasi yang dihayatinya itu juga dikehendaki Allah dan sebagai murid Yesus dia tahu, bahwa dia tidak berhak untuk mengeluh, tetapi bahwa sebaliknya dia dipanggil untuk mengubah situasi dan lingkungan hidup itu, untuk menjadi terang bagi orang-orang di sekitarnya yang belum percaya, menjadi penghiburan bagi yang menderita, pengharapan dalam segala kesukaran. Setiap murid Yesus harus menerima dalam iman tiap pribadi dan tiap situasi menjadi suatu tempat berahmat.
Dilihat sepintas lalu evangelisasi oikos ini tampaknya sempit, serta kurang produktif dalam evangelisasi, karena hanya menyangkut orang-orang yang sudah kita kenal. Namun dalam kenyataannya hal itu justru menjadi lebih efektif daripada yang dapat kita duga. Mengapa? Setiap orang dapat memiliki hubungan dengan 20 sampai 50 orang per hari. Bila dalam kerangka ini seorang penginjil berusaha mencari orang yang tidak beriman, serta membawanya kepada Yesus, ia akan menemukan jumlah yang cukup banyak untuk dibawa kepada Yesus selama beberapa tahun. Jika orang yang diinjili pada gilirannya menjadi seorang penginjil, relasi itu menjadi luas sekali, karena masing-masing memiliki relasi yang tidak sama dengan orang-orang dalam oikos yang sama. Seorang anggota keluarga misalnya, dapat memiliki hubungan teratur dengan 20 orang, tetapi satu keluarga yang terdiri dari 4 orang, akan memiliki sekurang-kurangnya 60 relasi dan yang menjadi sahabat bersama biasanya tidak lebih dari 10 orang. Hal yang sama dapat dikatakan tentang suatu kelompok sahabat atau kelompok kerja. Oleh karenanya dengan cara ini harapan untuk menjangkau suatu daerah, bukanlah suatu utopia.
Mereka yang mengikuti metode evangelisasi oikos tidak perlu menjalin suatu hubungan baru dengan orang lain. Menyadari hal ini sungguh penting untuk refleksi kita. Suatu hubungan baru mempermudah tugas seorang penginjil. Dia dapat menarik keuntungan dari entusiasme yang dibangkitkannya pada diri orang yang mendengarkan dia berbicara tentang imannya, serta sukacita yang dialaminya sebagai anggota komunitas. Dengan demikian akan lebih mudah bagi dia untuk membawa orang itu kepada pertobatan kepada Allah dan kepada kehidupan kristen, sedangkan hubungan yang lebih erat dengan komunitas dapat menyusul kemudian. Namun dalam proses ini si penginjil tidak dengan sendirinya diubah.
Sebaliknya, berkarya dalam oikos itu lebih sukar dan lebih besar tuntutannya, sebab si penginjil harus sungguh menunjukkan, bahwa dia adalah saudara bagi orang yang dihubunginya, ia harus menunjukkan perhatian dan kasih persaudaraan yang baru. Bila ada suatu hubungan keluarga atau antara sahabat yang sudah lama, yang ingin diperbaharui, syaratnya ialah, bahwa kita sendiri harus diperbaharui dan bahwa hal itu dapat dilihat oleh pihak yang lain tadi. Orang yang ingin kita injili harus melihat keotentikan pertobatan kita sendiri, supaya kemudian dapat menerima kesaksian kita.
Metode ini menerangkan adanya suatu kebenaran dasar, bahwa tidak mungkinlah menutupi pertobatan si penginjil, keterlibatannya dalam doa, dalam kasih kepada sesamanya demi Yesus, pelayanannya yang murah hati dan tekun sebagai ungkapan ketaatannya kepada perintah Yesus.
Spiritualitas para penginjil ini bukanlah untuk berkata: “Belajarlah mengenal Yesus, belajarlah mewartakan Injil dan tumbuhlah dalam iman”, melainkan: “Bertobatlah kepada saudaramu, kasihilah dia dalam nama Yesus, dan lakukanlah baginya segala sesuatu yang akan dilakukan Yesus seandainya Dia berada di tempatmu, sehingga ia melihat dan menjadi kagum tentang caramu melayani dia”.
Cara pewartaan ini memang lebih sulit dan banyak tuntutannya, namun memberikan manfaat dan kebaikan yang lebih besar bagi si penginjil sendiri, sehingga mampu mengubah lingkungan hidup yang konkrit.
4. Kehidupan dan pergandaan sel
4.1. Belajar dan tumbuh dalam sel
Kehidupan sistim sel ini berkisar pada sel-sel itu. Sel itu merupakan tempat orang mengenal Yesus, mendapat pelayanan dan penyembuhan, tumbuh di dalamnya dan memperoleh semangat dan ketrampilan untuk ikut melayani. Inilah pelajaran dasar yang mereka terima dan kemudian hal itu dapat diperdalam oleh pembinaan khusus ke arah itu, sehingga profesionalitas mereka dalam hal itu menjadi semakin berkembang. Hidup bersama para saudara yang sungguh-sungguh percaya dan yang sudah mengalami kasih Yesus, akan menjadikan dia juga berkembang dalam iman dan kasih. Iman itu tidak pertama-tama diajarkan, melainkan ditularkan. Di samping itu pelajaran yang diterima dalam sel serta adanya sharing-sharing akan menguatkan imannya serta pertumbuhan hidup rohaninya. Di situ pulalah ia belajar mengenal dan mempelajari Kitab Suci serta mengenal jalan-jalan Tuhan lebih dalam. Demikian pula ia akan memperoleh semangat untuk ikut melayani dengan pelbagai macam cara, antara lain untuk ikut mewartakan Injil kepada lingkungan oikosnya.
4.2. Pergandaan sel
Sebuah sel dipimpin oleh seorang pelayan sel. Sementara itu sambil jalan, pelayan sel itu harus menunjuk seorang asisten, seorang wakil pelayan sel, yang harus dibinanya dan diikut sertakan dalam memimpin dan melayani sel. Ia ikut mempersiapkan wakil pelayan sel untuk kemudian menjadi pelayan sel. Bila kemudian sel sudah cukup besar dan siap untuk mempergandakan diri, wakil pelayan sel itu menjadi pelayan sel dalam sel yang baru itu, sedangkan pelayan sendiri tetap memimpin selnya.
Sifat sebuah sel yang hidup ialah mempergandakan diri. Kalau sel tidak menggandakan diri atau bermultiplikasi, sel itu sakit atau mati. Jadi sifat sel yang sehat harus selalu mempergandakan diri. Berapa lama sel itu dapat membelah, tergantung pada beberapa faktor, sehingga waktu pergandaan satu sel dengan yang lain tidak sama, walaupun dapat dibuat semacam target.
4.3. Metode pergandaan
Dalam sistim sel paroki ini metode pergandaan yang diikuti ialah metode pergandaan sel, bukan tiap-tiap anggota membentuk selnya sendiri, karena pada hemat saya itu yang lebih banyak segi positifnya dan yang dengan mudah dapat dimasukkan ke dalam struktur Gereja Katolik. Dari semula para anggota sel harus disadarkan, bahwa panggilan merekalah untuk melipat gandakan diri dalam suatu semangat misioner, sehingga mereka mampu menanggung sakitnya perpisahan itu.
Perpisahan yang terus-menerus itu pada hakekatnya dapat diatasi atau dikurangi sakitnya dengan mengadakan suatu perubahan sedikit. Kalau misalnya sel-sel itu dikumpulkan dalam suatu wilayah, maka pelayan wilayah beserta para pelayan sel dan wakilnya dapat membentuk sebuah sel inti. Dengan demikian hubungan mereka lebih konstan dalam jangka waktu yang lebih lama dan sementara itu mereka akan sudah lebih dewasa iman dan hidup afektifnya. Dalam sel inti itulah mereka, di samping bersekutu seperti sel-sel lainnya, dapat bersama-sama membahas persoalan yang timbul dalam sel masing-masing.
Di samping itu, secara teratur mereka juga mengadakan pertemuan wilayah yang mengumpulkan para anggota seluruh wilayah. Dengan demikian pertemuan dalam kelompok sel yang kecil diimbangi oleh pertemuan dalam kelompok yang besar, yang menyadarkan mereka, bahwa mereka itu sesungguhnya bagian dari suatu kesatuan yang lebih besar. Dalam pertemuan seperti itulah dapat diberikan pengajaran-pengajaran khusus untuk memperdalam iman mereka.
Pertemuan dari seluruh paroki diadakan dalam perayaan Ekaristi Hari Minggu yang hendaknya dibuat sedemikian rupa, sehingga sungguh-sungguh menjadi suatu perayaan, di mana umat bersama-sama memuji dan memuliakan Allah dengan hati yang gembira. Dalam paroki St Boniface yang seluruhnya bersifat karismatik, perayaan Ekaristi mingguan itu sungguh hidup sekali. Demikian pula di Sant’Eustorgio perayaan Ekaristi hari Minggu juga hidup, walaupun rupanya bukan dengan gaya karismatik a la Indonesia dengan banyak tepuk tangan.
5. Pembinaan
Suatu faktor penting, bahkan menentukan keberhasilan sel ini, ialah pembinaan. Hal itu sungguh-sungguh disadari oleh pemrakarsa sel paroki di St Boniface, Florida, demikian pula di San Eustorgio. Pembinaan ini bersifat ganda.
5.1. Pembinaan para pelayan sel.
Orang yang akan menjadi pelayan sel harus menjalani semacam training, semacam pembinaan untuk jangka waktu tertentu. Saint Boniface telah membuat suatu program pembinaan untuk para pelayan sel yang bertujuan memberikan motivasi serta ketrampilan untuk melayani. Dalam program pembinaan itu tidak dituntut kualifikasi yang tinggi untuk para calon pelayan sel. Di situ dikakatan, bahwa cukuplah, jika para pelayan sudah lebih maju selangkah daripada para anggota selnya. Untuk itu mereka membuat sebuah Training Manual yang diberi judul: St Boniface Parish Cell System. Cell Leaders’ Training Manual. Di San Eustorgio di Milano training manual itu desebut dengan istilah: Cell Leaders Training Manual. Parish Cell System of Evangelization. Training itu terdiri dari 6 session, masing-masing selama 2 jam. Di antara session-session itu ada tugas-tugas yang harus dilaksanakan para peserta.
5.2. Pembinaan para anggota sel
Pembinaan itu dilakukan lewat kaset pengajaran yang dibagikan tiap minggu kepada tiap sel. Rupanya itu berinspirasi pada praktek gerejanya Cho Yonggi, yang memberikan bahan pengajaran untuk tiap minggu. Pada awalnya Cho Yonggi membiarkan tiap pelayan sel menyusun pengajarannya sendiri, namun dengan segera ia melihat, bahwa hal itu mudah menimbulkan kekacauan, karena tiap pelayan sel tidak sama, sehingga pengajaran yang diberikanpun berbeda. Kecuali itu pengajaran yang diberikan secara demikian itu mudah menimbulkan kesesatan dan perbedaan-perbedaan yang merugikan. Berdasarkan pengalaman tersebut, Cho Yonggi menuliskan sendiri pengajaran yang harus dibahas dalam pertemuan sel. Pengajaran itu dimuat dalam majalah mereka yang tiap minggu dibagikan kepada umat, sehingga sebelumnya umat dapat mempelajarinya dan kemudian dalam pertemuan sel berikutnya, mereka dapat sharing dan berdiskusi tentang hal itu. Bila Cho sendiri berhalangan, pengajaran itu diberikan oleh asistennya. Dengan demikian terpeliharalah kesatuan dalam Gereja itu.
6. Doa dan adorasi
Seperti yang disinyalir oleh Don Pigi tentang paroki St Boniface, rupanya kekuatan mereka terdapat dalam tempat yang diberikan pada doa dan adorasi dalam kehidupan para anggota sel itu. Setiap orang diharapkan mempersembahkan waktunya minimal satu jam dalam seminggu untuk mengadakan adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus. Dengan demikian dapat diadakan adorasi abadi berantai dalam paroki itu. Hidup doa merupakan unsur pokok dan dasar dalam kehidupan umat itu dan itulah yang dapat memeliharanya untuk senantiasa bersatu dengan Tuhan Yesus.
[1]St Boniface Parish Cell System, Session I, p 4



