User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index


Pecinta Orang Kecil

Sebagaimana ayahnya yang penuh perhatian pada sesama, demikian pula Nuno. Cintanya kepada Yesus dihayatinya dalam tindakan nyata, yaitu dalam cinta kepada orang-orang kecil. Ia melihat, bahwa di mana ada peperangan, di sana ada banyak korban dan pemiskinan hidup orang-orang kecil. Mereka menjadi makin miskin, lemah tak berdaya, baik dalam semangat maupun fisiknya karena lapar. Banyak pula yang merasa tertekan dan stress.

Penderitaan yang dialami oleh bangsanya telah membuka mata dan hati Nuno. Ia bukan hanya menjadi pemerhati orang-orang kecil tetapi juga menjadi pembela orang-orang kecil. Misalnya kepada mereka yang tak mempunyai pakaian, ía memberikan pakaian, dan kepada yang lapar diberinya makanan. Semua itu dilakukan semata-mata karena cintanya kepada Allah.

Semua tugasnya dalam bidang militer dan uluran tangan kasihnya kepada orang-orang kecil, dilakukannya karena dan dalam Tuhan. Seperti dikatakan oleh Rasul Paulus, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol 3:17). Nuno sudah melakukan itu.

 

Menjadi Biarawan Karmel

 Nuno adalah tipe orang yang setia, setia kepada Allah dan kepada Bunda-Nya, Maria. Dan juga dia adalah tipe seorang suami yang setia. Hal ini terbukti ketika ia baru berusia 28 tahun, dia ditinggal pergi istrinya untuk selama-lamanya. Berkali-kali dia didesak oleh teman-temannya untuk menikah lagi, tetapi semua desakan itu ditolak. Dia ingin tetap hidup seorang diri. Dan selama 30 tahun lebih, dia banyak berkecimpung dalam pembangunan gereja, kapel dan biara.

Pada tahun 1415, Beatriks putri satu-satunya menikah dengan Alfonsus dari Barcellos. Waktu itu dia sudah berusia 55 tahun. Setelah ditinggal Beatriks, dia mulai memikirkan masa depannya.

Ia memikirkan hidupnya, bukan hanya hari ini tetapi juga masa depannya. Ia ingin menikmati hari-hari tuanya bukan sebagai sesuatu yang menggelisahkan atau menakutkan melainkan sebagai hari-hari yang indah, yang harus diisi dan bermakna.

Sebagai seorang mantan militer, dia memang seorang yang gigih dalam memperjuangkan arti hidup. Sehingga setelah pensiun dan bidang militer, pada usia 63 tahun, dia memutuskan untuk masuk biara dalam Ordo Karmel. Ia tinggal dalam sebuah komunitas biara yang dibangunnya sendiri di Lisbon, dan hidup sebagai bruder yaitu Bruder Nunius dari Santa Maria.

Dalam biara, dia bertugas sebagai porter yaitu tugas membukakan pintu bila ada orang yang datang ke biara itu. Selain itu dia juga bertugas mengurusi dan melayani orang-orang miskin yang datang ke biara untuk mencari makan. Ia melaksanakan tugas tersebut dengan rendah hati dan penuh kasih sepanjang hidupnya. Sebuah kesaksian indah dari Bruder Nunius, “Di mata Allah tidak ada tugas atau pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan adalah penting dan mulia. Saya seorang biarawan yang melayani dan bekerja seperti yang dilakukan para biarawan Karmel yang lain.”

 Tahun 1431 dia mengakhiri masa hidup dan pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama dalam Ordo Karmel. Pada han Jumat Agung dia mulai sakit. Dua han kemudiaan, pada hari Minggu Paskah dia pulang ke rumah Bapa. Dia menghadap Bapa setelah menang dalam perjuangan, suatu kemenangan yang amat indah.

 
Pesan Untuk Kita

Dengan membaca dan memahami kisah hidup Beato Nonius Alvares Pereira di atas, kita dapat menarik beberapa pesan berharga. Pertama, pentingnya pembinaan dan teladan iman Katolik pada anak-anak dalam keluarga oleh orang tua. Kedua, penyadaran akan Perayaan Ekaristi sebagai kekuatan hidup orang beriman Kristiani dan pembinaan hidup devosional yang sehat. Ketiga, melakukan setiap tugas atau pekerjaan dengan rendah hati, betapa pun kecil dan sederhananya pekerjaan itu. Keempat, menghayati cara hidup kita masing-masing dengan sungguh-sungguh dan setia. Kelima, menghayati masa tua dengan penuh iman, harapan dan kasih. 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting