User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

1.PENGANTAR

Tubuh manusia merupakan sebuah komunikasi. Kita bisa mengkomunikasikan diri kita dengan segala apa yang ada dalam pikiran dan hati kita justeru dengan tubuh. Tubuh berkaitan dengan siapa itu manusia. Saya bisa mengetahui si Linda, karena saya tahu bentuk wajah, pinggul, tangan, dll, seperti ini.

Dalam konteks pembicaraan kita saat ini, kita mencoba memahami tubuh kita masing-masing, dengan mengacu pada apa yang diajarkan mendiang Paus Yohanes Paulus II. Paus ini membangun ajarannya ini dengan mengajak kita kembali ke kitab suci, melihat rencana Allah pada awal mulanya kita diciptakan. Jadi pada kitab kejadian.

Untuk mengantar kita memahami tubuh kita, Paus ingin mengajak anda memikirkan apa arti hidup anda. Karena ketika kita sedikit menengok kehidupan kita dewasa ini, banyak orang apalagi di kalangan kaum muda yang tidak bisa mengerti apa arti hidupnya: siapakah aku, apa tujuan hidup aku, itu hampir tidak dipikirkan. Atau pun mereka memikirkannya, tetapi mereka menempatkan arti hidup mereka pada sesuatu yang salah. Mungkin anda bisa termasuk salahsatunya. Cobalah anda memikirkannya saat ini, apa arti hidup anda. Apakah untuk bersenang-senang, untuk seseorang atau untuk sesuatu, untuk mengejar prestasi, untuk keluarga,  tidak tahu sama sekali, atau untuk Allah?

Mengapa saya menanyakan hal ini? Ketika orang tidak memiliki arti hidup atau salah menempatkannya, orang juga tidak akan mengerti tubuhnya atau menyalahgunakan tubuhnya. Manakala orang hanya ingin bersenang-senang dalam hidup ini, maka tubuhnya juga digunakan untuk menikmati kesenangannya. Jangan heran orang menyerahkan tubuhnya hanya untuk kepuasan seks,  makanan, narkoba, dsbnya. Oleh karena itu, sangat perlu kita memiliki pemahaman yang baik akan arti dan tujuan hidup kita, dengan demikian kita juga bisa memaknai tubuh kita. Tubuh kita bukan untuk senang-senang atau untuk sesuatu yang sia-sia atau juga sesuatu yang terbatas.

Dewasa ini anda dikepung dan diserang oleh berbagai macam tantangan dengan segala macam pandangan yang menyesatkan hidup anda, terutama berkaitan dengan tubuh anda. Tantangan yang paling besar adalah dari dunia telekomunikasi seperti TV, Internet, HP, dll. Dari sana anda akan dibanjiri oleh tawaran-tawaran yang kelihatannya menarik, tetapi sebenarnya sangat menyesatkan. Belum lagi pandangan-pandangan yang diproduk oleh program-program alat komunikasi tersebut yang kebanyakannya mengaburkan arti dan tujuan hidup anda. MTV salahsatu stasiun televisi yang dengan terang-terangan mempromosikan budaya seks sebagai sebuah dewa yang membuat hidup anda nikmat. Belum lagi sebuah keksesatan besar yang kita temukan di sana bahwa MTV dengan program musiknya terkadang banyak melecehkan Allah. MTV telah mengeksposkan seks sebagai barang dan bukan sebagai sesuatu yang sakral.  Seks dan Tuhan tidak lagi ditempatkan pada tempatnya yang kudus. Seks dibuat sebagai dewa dan Tuhan dituduh sebagai pengacau kesenangan dan kebebasan manusia. Dan ini jelas disodorkan MTV bagi anda.

Ketika anda dihadapkan pada situasi seperti ini, bagaimana anda memaknai tubuh anda? Bagaimana anda bisa memaknai hidup anda. Paus Yohanes Paulus II membantu kita untuk menemukan kembali makna hidup kita. Paus menekankan bahwa Kristus mengajarkan kepada kita bahwa makna hidup kita adalah untuk saling mengasihi sama seperti Dia mengasihi kita. (Yoh 15:12). Salahsatu pengertian pokok yang ditunjukan Paus disini adalah Allah telah menuliskan panggilan ini dalam tubuh kita dengan menciptakan pria dan wanita dan dipanggilnya kita, pria dan wanita,  menjadi satu daging (Kej 2,24).  Karena kita menemukan arti hidup kita dalam saling mengasihi yang dikonkretkan dalam tubuh, maka tubuh kita juga harus digunakan untuk mencintai Allah, sesama dan diri sendiri.

2.  APA ITU AJARAN TUBUH MENURUT YOHANES PAULUS II

Ajaran Paus Yohanes Paulus II tentang tubuh ini kita kenal saat ini dengan Theology Of The Body (Teologi Tubuh). Ajarannya dikumpulkan dari rangkaian ceramahnya dalam audiensi umum dengan umat setiap hari Rabu. Ada 129 ceramah dalam kurun waktu dari  5 september 1979 sampai 28 November 1984. Rangkaian ceramah ini terpotong karena pada 13 Mei 1981 Paus mengalami pencobaan pembunuhan. Semua ceramahnya ini dikumpulkan dalam satu buku dengan judul Theology Of The Body, yang juga menjadi booming saat ini.

Dalam kesempatan ini kita melihat apa itu tubuh menurut ajaran Yohanes Paulus II atau dengan kata lain apa itu Theology Of The Body. (saya sengaja tidak menggunakan kata Theology dalam judul tulisan ini, mengingat alergi anda terhadap kata ini, pasti anda berkomentar, apalagi ini? Karena itu saya berusaha membahasakannya secara lain). Lepas dari anda alergi dan begitu asing dengan terminology Teology, tetapi saat ini kita mencoba bersama melihat makna Theology of the body ini. Teology adalah ilmu tentang Tuhan. Dalam teologi kita menemukan bahwa iman kita ini perlu mencari pengertiannya juga. Artinya iman kita ini perlu juga didasari oleh pemahaman akal budi yang sehat.

Lalu Theology Of the Body itu apa? Theology of the Body adalah ilmu tentang Tuhan dalam kaitannya dengan tubuh. Yang mau dikatakan di sini bahwa tubuh manusia itu adalah sebuah sakramen atau tanda dan sarana kehadiran Allah. Allah itu adalah realitas yang tidak kelihatan. Satu-satunya cara yang memungkinkan realitas Allah ini kelihatan adalah dalam tubuh manusia. Demikianlah tubuh manusia itu menjadi penunjuk pada realitas Allah yang tidak kelihatan itu. Dengan kata lain, dalam Theology of the body kita mempelajari Allah yang mewahyukan dirinya dalam tubuh manusia. Yohanes Paulus II mengatakan:

…tubuh sesungguhnya mampu membuat terlihat apa yang tidak kelihatan, yang spiritual dan yang ilahi. Tubuh telah diciptakan untuk menyalurkan ke dalam dunia yang kelihatan ini, misteri yang tersembunyi sejak awal dalam diri Allah…dan karena itu tubuh menjadi tanda bagi misteri itu. (TOB; 20 Februari 1980)

Yohanes Paulus II melihat tubuh begitu penting. Melalui Theology of the body, Yohanes Paulus II ingin menjelaskan apa arti tubuh sebagai sebuah tanda bagi seseorang dan panggilannya untuk saling memberikan diri dan bagaimana tubuh menjadi tempat penyataan diri Allah dan rencanaNya bagi umat manusia. Dengan demikian Yohanes Paulus II membawa suatu perubahan besar di tengah kebingungan kita memahami tubuh dan seperti yang dikatakan Rm.Deshi Ramadhani, SJ dalam bukunya Lihatlah Tubuhku bahwa Paus Yohanes Paulus II berusaha membuka mata dunia pada satu hal yang begitu parah tidak diperhatikan lagi yaitu tubuh. Ia menyerukan pada dunia agar kembali belajar mengerti apa artinya hidup sebagai manusia yang bertubuh. Dan untuk mengubah seluruh dunia, kita harus mulai dengan mencoba mengerti diri kita sendiri sebagai manusia yang bertubuh; kita harus mulai membuat perubahan dalam cara anda, cara saya dan cara kita semua memahami arti tubuh. Ia mengajak semua orang untuk melihat secara serius hal-hal yang berkaitan dengan tubuh manusia dalam hubungannnya dengan seksualitas dan keinginan-keinginan, lamunan-lamunan, dorongan-dorongan, serta khayalan-khayalan seks kita semua.

Dalam Theology Of The Body memang secara khusus membahas tentang seksualitas, tentang pria dan wanita. Paus Yohanes Paulus II merefleksikan tentang seks dan pernikahan. Dalam ajarannya ini, Paus telah membuat suatu revolusi besar tentang seks.

3.ISI POKOK

a.       SEKSUALITAS

Seksualitas menjadi tema sentral dalam Theology Of The Body. Yohanes Paulus II mengajak kita untuk melihat seks secara lain di tengah kebingungan kita saat ini mengenai tubuh dan seksualitas manusia. Mengapa seks? Karena seks bukan saja hanya soal seks. Cara kita memahami dan mengekspresikan seksualitas kita bergantung pada keyakinan kita tentang siapakah diri kita, siapakah Tuhan, apa makna cinta, masyarakat dan dunia. Seks bukan soal apa yang kita lakukan. Seks itu soal siapakah kita. Seks adalah panggilan, sarana luhur yang memungkinkan terlaksananya rencana Allah bagi manusia. Oleh karena itu Yohanes Paulus II dalam karyanya ini banyak merefleksikan seks dan pernikahan. Dan baginya dengan merefleksikan seks dan persatuan pria dan wanita, kita kembali menemukan makna hidup kita yang paling mendalam yaitu seperti yang diajarkan Kristus untuk saling mengasihi sama seperti dia mengasihi kita.

Dalam Theology Of The Body, Paus mengajak kita untuk memahami seks dengan kembali pada kitab suci, bagaimana rencana awal Allah tentang seksualitas dan tubuh kita. Allah menciptakan manusia dengan seksulitas dan tubuhnya sebagai suatu yang indah dan mulia.  Allah menciptakan kita dengan hasrat seksual adalah sesuatu yang baik, dan hasrat seksual kita tidak hanya soal hormonal saja tetapi secara mendalam sebagai yang indah. Hasrat seksual kita adalah pemberian Tuhan, dan hasrat ini Dia berikan agar kita bersatu dengan orang lain. Allah menciptakan kita pria dan wanita agar kita belajar untuk saling memberikan diri dalam cinta.

Kita melihat bagaimana rencana Allah pada mulanya berkaitan dengan tubuh dan seks manusia. Paus mengawalinya dari perdebatan antara orang farisi dengan Yesus berkaitan dengan perceraian (Mat 19). Menjawab pertanyaan, bolehkah menceraikan isteri atau tidak, Yesus mengajak orang farisi untuk melihat apa yang terjadi pada awal mula manusia diciptakan. Di sana Allah menciptakan manusia serupa gambaranNya, “…Menurut gambar Allah diciptakannya dia, lelaki dan perempuan diciptakannya mereka”(Kej 1:27). Sebelum jatuh ke dalam dosa, manusia pertama berada dalam suatu kesatuan yang indah. Mereka sungguh berpartisipasi dalam cinta ilahi Tuhan. Hal ini digambarkan dengan indah oleh Yohanes Paulus II ketika berbicara mengenai kesendirian asali. Pertama kali manusia pertama berada sendirian dan di antara binatang yang ada, dia tidak menemukan penolong yang sepadan untuknya. Pengalaman kesendirian (solitude) begitu mencekam. Manusia pertama Adam berada sendirian dan ia mendambakan sebuah tubuh yang lain, yang berbeda dengan tubuh binatang di sekitarnya. Kemudian Tuhan melihat hal ini: tidak baik kalau manusia itu sendirian, baiklah diciptakan penolong yang sepadan baginya. Maka diciptakanNya perempuan.

Dari hal ini kita bisa melihat poinnya bahwa seksualitas manusia berbeda dengan binatang, sebab kalau sama pasti manusia menemukan penolong  yang sepadan di antara binatang itu. Tetapi Adam telah memberikan nama yang berbeda pada binatang-binatang itu, dan ia sendiri seorang pribadi yang dipanggil untuk mencinta dengan tubuhnya sebagai gambaran Allah. Dan segera sesudah perempuan diciptakan ia akhirnya berseru: “ inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Akhirnya ia sebagai pribadi bisa menemukan cinta. Dari mana dia tahu hal itu? Karena keduanya telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu (naked without shame).

Dia tahu wanita itu mencintainya dan kemudian mereka bersatu dalam suatu hubungan yang begitu indah dan di sana tidak ditemukan suatu niat untuk saling memaanfaatkan tubuh masing-masing. Hanya ada cinta dan ketulusan untuk saling memberikan diri. Dalam ketelanjangan itu kita menemukan hati yang suci dan apa yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, arti nupsial tubuh yaitu makna tubuh untuk saling memberikan diri dalam perkawinan. Dalam tubuh itu juga kita temukan suatu kapasitas untuk mengekspresikan cinta. Dan cinta yang tepat adalah seseorang itu bisa memberikan diri pada orang lain. Paus menekankan di sini bahwa kalau kita sungguh memiliki kehidupan dan cara pandang yang baik terhadap seksualitas, kita akan segera menemukan makna hidup kita yang penuh. Apa itu? Tidak lain adalah perintah Yesus, “kasihilah sesamamu yang lain, seperti aku mengasihi kamu ( Yoh 15:12). Dan bagaimana Yesus mengasihi kita? Yesus katakan: “inilah tubuhku yang kuserahkan bagimu.”

Allah menciptakan hasrat seksual kita justeru untuk mencintai orang lain seperti cinta Tuhan bagi kita, dan bukan untuk memaanfaatkan orang lain. Bagi Yohanes Paulus II lawan dari cinta adalah memaanfaatkan. Manakala seks dipandang hanya sebatas nafsu (lust), di sanalah kita mulai menempatkan orang lain sebagai obyek dan pasti tidak ada cinta di sana, yang ada hanya nafsu.

 Di tengah segala krisis seksualitas saat ini, Paus memunculkan suatu terobosan baru tentang seks. Di satu sisi kita melihat bahwa ada satu pandangan yang menempatkan seks sebagai sesuatu yang kotor, rendah penghalang bagi usaha kita mengejar kesucian. Jangan heran kalau kemudian orang enggan berbicara tentang seks, apalagi membicarakannya dalam konteks pendidikan. Seks ditekan bahkan dianggap rendah. Hal ini sempat muncul dalam tradisi spiritualitas kekristenan kita, di mana mereka berpikir bahwa tubuh terutama seksualitas mereka bisa menjadi penghalang bagi kehidupan spiritual. Bagi mereka roh itu baik dan tubuh jelek. Hal ini bertumbuh cukup lama dan pandangan ini banyak juga dipengaruhi oleh pandangan manikheisme yang memandang tubuh sesbagai sesuatu yang buruk dan jahat.

Di sisi lain kita temukan juga bahwa dewasa ini banyak orang salah mengerti tentang seks. Seks hanya dilihat sebagai nafsu. Jangan heran kalau kemudian kita melihat bahwa banyak orang dijadikan obyek dari nafsu seks. Orang lain hanya dianggap sebagai barang, kalau sudah puas dibuang saja.  Dan yang lebih parah lagi, seks kemudian menjadi produk yang diperdagangkan. Banyak iklan yang menjadikan seks sebagai daya tarik utama untuk menjual barang, belum lagi film-film porno dan situs-situs porno  menjadi mesin uang yang besar saat ini. Banyak orang hidup hanya untuk seks, just for sex. Orang sulit lagi membedakan antara cinta dan nafsu. Semuanya itu akhirnya melahirkan budaya-budaya seperti seks bebas, homoseksual, lesbianisme, paedofilia, aborsi, dan lain sebagainya.

Melihat hal di atas, Paus Yohanes Paulus II dengan tegas menyerukan bahwa seks itu adalah kuasa untuk mencinta. Seks bukan hanya soal nafsu saja, tetapi berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dan gereja Khatolik tidak pernah menolak tubuh dan seksualitasnya. Allah telah menciptakan manusia bertubuh dengan hasrat seksualnya sebagai suatu yang baik dan indah.

b.        TUBUH PRIA DAN WANITA

Tubuh adalah sakramen, di mana Allah menyatakan dirinya dalam setiap tubuh kita, pria dan wanita. Inilah yang menjadi penekanan utama Yohanes Paulus II dalam ajarannya ini. Tanda kehadiran Allah di dalam tubuh manakala tubuh pria dan wanita itu bersatu menjadi satu daging. Allah menciptakan pria dan wanita, karena itu pria akan meninggalkan ayah ibunya dan pergi bersatu dengan isterinya menjadi satu daging (bdk kej 2:24).

Panggilan menjadi satu daging kita temukan secara nyata dalam kebersatuan kudus pria dan wanita dalam perkawinan. Ini suatu panggilan dasar di mana di dalam persatuan itu pria dan wanita membentuk satu communio personarum (persatuan pribadi-pribadi), di sana ada cinta dan pemberian diri. Yohanes Paulus II mengatakan: “…manusia menjadi gambar Allah  tidak hanya melalui kemanusiaannya, melainkan juga melalui persatuan pribadi-pribadi yang sejak awal mula dibentuk oleh lelaki dan perempuan…”(TOB;14 November 1979).

Sejak awal mula manusia memiliki keterarahan kepada persatuan dengan yang lain. Yohanes Paulus II menggambarkan hal ini dengan mengungkapkan apa  yang dinamakan arti nupsial tubuh. Tubuh bagi Yohanes Paulus II memiliki arti nupsial. Istilah ini secara khusus mengarah kepada perayaan pernikahan. Dalam arti ini tubuh kita secara mendasar memiliki arti yang terus terarah pada pemberian diri yang penuh dan bebas. Kita lihat hal ini pada manusia pertama bahwa yang menjadi ciri relasi mereka adalah pemberian diri yang total bagi yang lain. Gambarannya dilukiskan dengan mereka telanjang, tetapi mereka tidak malu. Setiap laki-laki dan setiap perempuan dipanggil untuk melakukan pemberian diri yang total. Inilah panggilan kita sejak awal. Ketika memberikan diri secara total dengan tubuh kita, ketika itulah kita, pria dan wanita, mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya.

Persatuan pria dan wanita oleh Yohanes Paulus II kembali ditekankan sebagai  gambaran dari persatuan Kristus dan GerejaNYa. Dan juga sebagai ikon dari persatuan Allah Tritunggal, Bapa, Putera dan Roh kudus. Kebersatuan pria dan wanita dalam perkawinan merupakan suau gambaran dari aliran cinta Allah Tritunggal. Allah menciptakan pria dan wanita untuk menjadi gambaran cintaNya dengan pemberian diri mereka satu sama lain. Di samping itu, persatuan pria dan wanita merupakan gambaran dari persatuan Kristus dan gerejaNya. (bdk.Ef 5). Kristus adalah mempelai pria dan gereja adalah mempelai wanita. Perkawinan bukan saja soal nafsu. Sebagai sakramen, perkawinan merupakan symbol dari persatuan kristus dan gerejaNya. Dalam hal ini, tubuh mempunyai makna yang mendalam untuk mengungkapkan cinta Tuhan yang bebas, total, setia dan berbuah.

4.      PENTINGNYA AJARAN INI

Ajaran Paus Yohanes Paulus II dalam Theology Of The Body memiliki kepentingan yang mendesak bagi kita dewasa ini sebab kita berada dalam zaman yang mengalami kebingungan terhadap realitas tubuh. Seperti yang dikatakan di muka, keberadaan kita sebagai manusia ditentukan oleh tubuh, bahkan oleh persetubuhan. Kita lahir dan ada di dunia karena persetubuhan bapa dan mama kita. Dan keberadaan kita di dunia ini juga menentukan keberadaan dan kehadiran orang lain. Akar dari semua ini adalah relasi suami isteri dalam keluarga. Oleh karena itu, ajaran Yohanes Paulus II berperanan penting untuk membenahi keluarga. Dan memang dalam Theology Of Body Yohanes Paulus II mempunyai perhatian yang banyak pada keluarga. Keluarga merupakan komunitas kecil yang menjadi dasar bagi kita untuk belajar nilai-nilai kehidupan dan kemudian untuk membagun masyarakat dan dunia. Relasi suami isteri menjadi dasar bagi suatu kebudayaan dan etika peradaban. Kalau keluarga rusak pasti masyarakat dan dunia rusak.

Krisis-krisis seperti seks bebas, aborsi, perselingkuhan dan perceraian, homoseksualitas, lesbiniasme, dll, secara langsung dan tidak langsung disebabkan oleh kehidupan keluarga yang tidak bisa menjadi iklim yang baik bagi anak-anak untuk mengalami cinta. Baru-baru ini surat kabar “suara pembaharuan” mengadakan poling soal aborsi. Dan yang mencengangkan adalah banyak tindakan aborsi justeru dilakukan oleh pasangan muda yang menganut tren seks bebas. Aborsi merupakan fenomena global yang harus disikapi serius, coba bayangkan bahwa setiap tahun terjadi 2 juta-2,6 juta kasus aborsi dan sepertiganya dilakukan oleh perempuan usia 15-24 tahun. Belum lagi angka perceraian yang terus meningkat. Dari hasil penelitian yang terbaru dikatakan bahwa angka perceraian di dunia mencapai 1,3 per 1000 orang. Masalah-masalah seperti ini bisa kita atasi kalau kita terlebih dahulu membenahi keluarga.

Kalau mau damai, harus dimulai dari keluarga, lebih tepat, dari persetubuhan. Seks membangun keluarga. Keluarga membentuk dan membangun masyarakat. Yohanes Paulus katakan:

Bohong kalau kita berpikir bisa membangun budaya kehidupan bila kita tidak menerima dan mengalami seksualitas, cinta, dan seluruh hidup sesuai dengan maknanya yang sebenarnya serta keterkaitan di antara mereka.

Ajaran Yohanes Paulus II menjadi penting bagi kita karena membantu kita melihat tubuh kita. Spiritualitas kristiani selalu dipraktikkan di dalam dan melalui tubuh! Manusia itu kesatuan tubuh dan roh. Bukan roh yang terperangkap dalam tubuh.! Yohanes Paulus II bersama gereja tidak pernah menolak dan merendahkan tubuh.  Bagi kita tubuh dan seksualitas di dalamnya adalah ciptaan Tuhan yang indah. Dan bagi Paulus tubuh adalah bait Roh kudus. Paulus mau mengajak kita untuk membuka tubuh kita kepada kehadiran Roh Kudus sehingga tubuhmu memuliakan Allah. Oleh karena itu, kita harus menjaga tubuh kit dari segala noda yang mau merusaknya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting