header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Jalan Menuju Hidup yang Kekal

User Rating:  / 2
PoorBest 


Pengantar

Jika kita menonton televisi, membaca surat kabar, browsing internet, kita jumpai begitu banyak tawaran menjanjikan. Semuanya itu disajikan dalam bentuk menarik, indah dan amat mengesan. Tentu saja, supaya kita tertarik dan “menikmati” produk  yang mereka sajikan. Akan tetapi, sungguhkan tawaran itu menjanjikan? Mampukan memberikan kebahagiaan? Bukankah itu semua terbatas dan bersifat sementara? Apa yang harus kita buat? Mari kita belajar dari Tuhan Yesus.

 

Ajaran tentang Hidup yang Kekal

Tuhan Yesus mengajarkan kita tentang sesuatu yang penting. Apa maksudnya pernyataan ini? Bagaimana kita mengertinya? Yesus tidak berbicara tentang makanan yang enak, minuman yang segar, atau kepuasan dalam kekayaan, jabatan, dan kekuasaan. Sebab semuanya itu hanya bersifat sementara, terbatas, dan fana. Yesus meminta kita untuk mencari, menikmati dan mengalami “makanan yang bertahan pada hidup yang kekal” (bdk. Yoh 6:27). Makanan seperti apa itu? Makanan yang tidak hanya bertahan pada hidup di dunia ini, melainkan sesudah hidup di dunia ini, yaitu hidup yang kekal. Maksudnya, bila kita menyimak doa Yesus kepada Bapa-Nya dalam perpisahan kepada murid-murid-Nya, sebelum Ia terangkat ke surga, Dia menyatakan: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh 17:3). Bila kita sungguh menyadarinya, kita berani untuk memilih sarana yang tepat demi mencapai tujuan yang benar. Artinya, barang-barang yang bersifat duniawi maupun rohani itu semua adalah sarana. Semuanya itu membantu kita mencapai tujuan yang kita cari, yaitu persatuan dengan Allah. Maka, sikap kita terhadap hal-hal tersebut hendaknya lepas bebas, tak terikat, dan kita tak mencarinya secara berlebih-lebihan. Sebaliknya, kita menggunakan itu semua demi kemuliaan Allah, bagi keselamatan kita dan keselamatan jiwa. Jika kita memiliki hal tersebut berlebihan, mari kita berbagi dengan saudara kita yang kekurangan. Dengan demikian, kita tak lagi memenuhi apa yang kita inginkan, tetapi kita cukup memenuhi apa yang kita butuhkan. Misalnya: kita makan untuk hidup, bukan sebaliknya hidup untuk makan. Dengan sendirinya hidup kita pun terarah pada saat sekarang ini, saat ini kepada Tuhan yang telah menciptakan dan menebus kita dari dosa, yaitu Yesus Kristus Sang Penyelamat.

 

Makna Iman kepada Yesus Kristus

Itulah sebabnya, kita berani percaya kepada Yesus. Apakah sekedar percaya? Tentu saja tidak. Yang jelas ialah kita sungguh percaya dalam Yesus. Artinya, kita berani untuk memasuki suatu hubungan pribadi yang mesra dengan Yesus yang telah bangkit. Ia yang telah menghapus dosa-dosa kita dan Dia yang telah menganugerahkan martabat anak-anak Allah kepada kita, sehingga kita berkat rahmat Allah mampu mendekat, menyatu, dan serupa dengan Allah. Bagaimana caranya? Sungguh sederhana dan tak perlu berpikir “sulit-sulit.”

Pertama, kita menyadari bahwa kita ini manusia yang rapuh, dengan menerima kelemahan kita, kita juga mampu bersikap toleran dan memahami kelemahan orang lain. Seperti doa S. Fransiskus Asisi, “Tuhan bantulah kami bukan untuk dipahami, tetapi untuk memahami yang lain.”

Kedua, kita mengambil komitmen untuk menjalin relasi yang mesra dengan Yesus Kristus dalam doa. Itu berarti doa tidak hanya mendaraskan rumusan tertentu, melainkan doa dihayati dalam “roh dan kebenaran.” Doa mengantar kita pada “keheningan batin dalam Allah.”

Ketiga, melalui doa kita akan didorong oleh Roh Tuhan untuk tekun membaca dan merenungkan Sabda Allah. Mohonlah kepada Yesus agar “huruf-huruf mati dalam Kitab Suci” berpindah menjadi “cinta kasih yang berkobar-kobar dalam hati kita”. Jadi, kita belajar untuk hidup dalam Sabda Allah.

Keempat, kita juga masuk dalam aliran rahmat ilahi yang dialirkan oleh Allah dalam gereja-Nya melalui Sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Terimalah secara setia Tubuh dan Darah Tuhan tidak hanya dalam Ekaristi Hari Minggu tetapi juga dalam misa harian. Selain itu, rajin-rajinlah mengaku dosa secara teratur, misalnya satu atau dua bulan sekali.

Kelima, supaya iman kita makin bertumbuh, mari kita aktif, kreatif, ambil bagian dalam hidup komunitas. Misalnya: dalam paroki, dalam kelompok kategorial, atau komunitas Kristiani yang telah disediakan Gereja bagi kita.

 

Penutup

Memang tidak mudah melakukannya. Namun, bila kita menyadari betapa pentingnya hidup iman sebagai syarat mutlak persatuan dengan Allah. Betapa bahagianya kita, bila peka dan rela menghayatinya. Dengan demikian, hidup dalam Tuhan, bukanlah soal usaha kita belaka, melainkan ketergantungan kita yang mutlak kepada bantuan dan pertolongan rahmat Allah. Semoga dengan bimbingan Roh Kudus, kita mampu melaksanakan kehendak-Nya dalam hidup kita.

 


Serafim Maria CSE

Salah satu penulis di situs carmelia.net

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting