header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Karunia-karunia Roh Kudus untuk Pelayanan

User Rating:  / 15
PoorBest 

Pengantar

Keselamatan umat manusia menjadi nyata karena penderitaan, wafat, dan kebangkitan Kristus. Ia sungguh-sungguh hadir di dunia sebagai manusia demi keselamatan umat manusia sendiri. Setelah Ia kembali kepada Bapa, Ia mengutus Roh Kudus untuk tetap menyertai kita. Roh Kudus adalah Roh Bapa dan Putera. Jadi, Ia tetap hadir di antara kita di dalam dunia ini.

Roh Kudus mencurahkan berbagai macam karunia-Nya supaya manusia dapat merasakan sungguh-sungguh kehadiran-Nya. Banyak orang yang menganggap bahwa karunia-karunia Roh Kudus pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi, bahwa karunia-karunia itu hanya ada pada zaman para rasul saja.

Menanggapi pernyataan dan pendapat di atas, marilah kita lihat kembali ke dalam ajaran Kitab Suci. Sampai sekarang Kitab Suci adalah buku pedoman iman kita yang utama dan ditulis oleh para rasul sendiri. Sebagai pedoman iman yang utama berarti segala apa yang tertulis di dalam Kitab Suci harus kita iman dan kita yakini dengan teguh. Demikian pula halnya dengan karunia-karunia Roh Kudus ini. Dalam Kitab Suci tertulis dengan jelas bahwa Yesus mengutus Roh-Nya untuk membarui hidup umat manusia sampai akhir zaman. Kalau misalnya seseorang mengatakan bahwa karunia-karunia Roh Kudus pada zaman sekarang sudha tidak ada lagi berarti ia sudah tidak percaya lagi pada Kitab Suci dan dia mengganggap Kitab Suci sebagai suatu kitab dongeng belaka. Sungguh menyedihkan sekali!

Seandainya saja kita mau membuka mata hati kita, kita akan dapat melihat bagaimana berbagai karunia itu sungguh dilimpahkan kepada semua manusia secara nyata dan dapat  dirasakan, seperti yang dialami oleh para jemaat awali dulu. Janganlah kita hanya memandang dan segi pikiran atau intelektual belaka. Ada bermacam-macam karunia dari Allah yang terjadinya tidak bisa kita analisa dengan pikiran manusia. Tentunya kita tahu, manusia sama sekali tidak sebanding dengan Allah. Dengan otaknya yang hanya sebesar dua genggaman tangan bagaiman mungkin manusia bisa menuntut untuk dapat memahami semua perkara di dunia ini seperti Allah?

Untuk itu para pembaca yang terkasih, marilah kita mencoba untuk menerima dan menghayati berbagai karunia-Nya yang akan mengarahkan hati, jiwa dan pikiran kita untuk mencapai tujuan hidup manusia yang tertinggi yaitu persatuan dengan-Nya. Melalui artikel ini penulis ingin membagikan sedikit pengetahuan tentang karunia-karunia Roh Kudus supaya kita semua dapat bertumbuh bersama dalam usaha mencapai tujuan tertinggi itu.

Karunia-karunia Roh Kudus

Ada dua perangkat karunia-karunia Roh Kudus. Yang pertama yang disebut “Sapta Karunia Roh Kudus” (Yes. 11:2-3) yang bersifat pribadi dan merupakan sarana untuk menyucikan seseorang. Karunia-karunia ini kita terima pada waktu kita menerima Sakramen-sakramen inisiasi (Baptis, Krisma dan Ekaristi). Yang kedua disebut ‘Karismata’ atau ‘Karunia-karunia karismatis’ yang dimaksudkan untuk kebaikan jemaat atau pelayanan kepada umat Allah dan demi kepentingan Gereja. Kita akan membahas yang kedua secara singkat. Penjelasan masing-masing karunia secara panjang lebar akan diberikan dalam edisi-edisi mendatang. Karunia-karunia karismatis merupakan manifestasi atau pernyataan kuasa dan kehadiran Tuhan yang diberikan secara cuma-cuma untuk kehormatan dan kemuliaan-Nya serta untuk pelayanan jemaat.

Pembagian Karunia-karunia Roh Kudus untuk Pelayanan

Menurut Santo Paulus dalam 1 Kor 12:8-10, karunia-karunia ini biasa dijumpai dan yang seharusnya ada dalam Gereja setempat. Karunia-karunia ini dibagi menjadi:

 
1.  Karunia Sabda (Kuasa untuk berkata-kata)

  1. Karunia berbicara dalam bahasa roh. Melalui karunia ini, orang yang menerimanya dipakai Tuhan untuk memberikan pesan-Nya dalam sebuah bahasa yang tak dikenalnya bagi jemaat yang hadir (bdk. 1 Kor. 12:10.28).
  2. Karunia tafsiran. Karunia berbicara dalam bahasa roh membutuhkan karunia lain untuk menafsirkan artinya yaitu karunia tafsiran. Tanpa tafsiran ini, karunia berbicara dalam bahasa roh itu patut dipertanyakan, apakah benar karunia itu berasal dan Allah mengingat buah karunia adalah untuk membangun jemaat. Bagaimana mungkin jemaat dapat dibangun kalau mereka tidak mengerti bimbingan apa yang disampaikan Allah pada saat itu melalui karunia berkata-kata dalam bahasa roh ini? (bdk. 1 Kor. 12:10).
  3. Karunia nubuat. Karunia nubuat adalah bimbingan atau pesan yang disampaikan dalam bahasanya sendiri oleh seseorang yang dipakai oleh Tuhan, untuk komunitas atau perseorangan yang hadir dalam suatu pertemuan. Misalnya dapat kita lihat ketika Yesus menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya dalam Luk. 18:31-34. Juga nubuat yang disampaikan kepada Abraham untuk mengorbankan Ishak (Kej 22).

2.  Karunia Tanda (Kuasa untuk bertindak)

    1. Karunia iman. Karunia mi memungkinkan seseorang pada waktu tertentu untuk menggunakan kuasa Tuhan tanpa ragu-ragu sedikit pun. Orang tersebut pada waktu itu tahu dan percaya bahwa apa yang didoakan tenjadi. Misalnya dapat kita lihat pada penstiwa Yesus membangkitkan Lazarus. Yesus begitu yakin doaNya untuk Lazarus akan didengarkan oleh Allah Bapa (bdk. Yoh 11:41-44). Demikian pula hal ini dapat kita lihat dalam iman Nabi Nuh terhadap Sabda Tuhan sehingga ia mau membangun bahtera walaupun orang banyak mengatakan dia gila (bdk. Kej 6).
    2. Karunia penyembuhan. Karunia ini memungkinkan seseorang menjadi alat Tuhan untuk kesembuhan fisik, jiwa dan roh orang lain. Misalnya ketika Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh (bdk. Kis 3:1- 10). Perlu kita ketahui bahwa pada zaman sekarang ini juga banyak orang yang dipakai Tuhan untuk menjadi saluran kuasa-Nya yang menyembuhkan.
    3. Karunia mukjizat. Karunia ini memungkinkan seseorang menjadi alat Tuhan entah dalam penyembuhan sekejab ataupun dalam manifestasi kuasa Tuhan yang hebat lainnya. Misalnya mukjizat perubahan air menjadi anggur (lh. Yoh. 2:1-11), juga mukjizat bangunnya Dorkas dan mati (lh. Kis. 9:36-43).

3.  Karunia Kebijaksanaan (Kuasa untuk mengetahui)

1. Sabda kebijaksanaan. Melalui karunia ini seseorang diberikan pengertian mengenai rencana Tuhan dalam situasi tertentu dan mengungkapkarmya dalam bentuk kata-kata nasehat atau penentuan arah. Tuhan mengilhami seseorang dalam situasi sukar untuk mengambil keputusan tepat atau memberi jawaban yang tepat (bdk. 1 Raj 3:16-28; lh. Mat 22:21).

2. Sabda pengetahuan. Ada dua tafsiran yang berbeda tentang karunia mi, yaitu yang memandangnya sebagai:

      • Karunia untuk mewartakan dan mengajar secara efektif. Menurut pandangan ini, tafsiran kedua sebenarnya lebih merupakan suatu bentuk nubuat (lh. Mat 5:1-12; Mat 19:19).
      • Karunia pernyataan di mana Allah menyatakan sesuatu yang tersembunyi, sedang terjadi atau dialami seseorang, atau sedang dikerjakan oleh Allah sendiri, dengan tujuan untuk menyembuhkan atau memperbaruinya. Tafsiran inilah yang dewasa ini lebih banyak dianut orang dan dialami sebagai suatu campur tangan Allah. Dalam pandangan ini, tafsiran pertama lebih merupakan suatu urapan roh.

Dipandang dan sudut Roh, semuanya adalah satu karena Rohlah yang mengerjakan segala sesuatu. Tetapi dilihat dan persepsi manusia, hal itu berbeda karena dampaknya dialami dalam bidang yang berbeda. Itulah sebabnya tafsiran dapat berbeda-beda. Karena kedua tafsiran masing-masing memiliki dasar yang kuat, maka keduanya akan disajikan supaya dapat saling melengkapi. Dalam kenyataannya, bagi orang yang menerima karunia ini semuanya dialami sebagai dorongan Roh yang satu dan sama, tetapi dalam situasi yang berbeda-beda.

 

3. Karunia membeda-bedakan roh. Dengan karunia ini, seseorang bisa mengenali apakah sumber suatu inspirasi atau perbuatan berasal dan Roh Kudus, rohnya sendiri atau roh jahat (bdk. Mat 16:23; Mat 9:33).

Karunia-karunia ini tunduk kepada kehendak bebas individu dalam arti bahwa seseorang bebas memilih apakah dia mau menyerah atau tidak untuk dipakai Tuhan. Akan tetapi, kadang-kadang karunia-karunia ini begitu diperlukan dalam suatu jemaat sehingga seseorang hampir dipaksa untuk menyerah. Misalnya rasa takut yang dialami nabi-nabi Perjanjian Lama ketika mereka menyampaikan pesan Tuhan. Tuhan memiliki cara unik dalam memaksa orang baru untuk menggunakan karunia-karunia ini.

Sebagai orang Kristen, kita perlu mengetahui karunia-karunia mi (1 Kor. 12:1). Dengan memiliki pengetahuan yang benar tentang karunia-karunia ini, orang bisa menggunakannya sampai ke batas yang dikehendaki Tuhan. Santo Paulus sendiri mengatakan bahwa ia ingin agar kita mengenal kebenaran mengenai karunia-karunia rohani. Pengetahuan yang rinci mengenai karunia dan pengalaman menggunakannya merupakan syarat yang diperlukan untuk bertumbuh dalam karunia-karunia Roh Kudus.

Cara Bertumbuh dalam Karunia-karunia Roh Kudus untuk Pelayanan

Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh setiap orang bila ia ingin bertumbuh dalam karunia-karunia Roh Kudus demi pelayanan umat Allah dan bagi kepentingan Gereja, yaitu:

  1. Menjalani kehidupan doa yang dalam dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
  2. Mempelajari karunia-karunia ini dan mensharingkannya secara teratur dengan orang-orang yang juga menggunakannya.
  3. Bertindak sebagai seorang anak kecil, berjalan ke mana saja Tuhan membimbing serta tidak takut membuat kesalahan-kesalahan.

Pertumbuhan suatu kelompok doa sangat tergantung pada penggunaan karunia-karunia karismatis ini. Dengan menggunakan karismata ini kita mengizinkan Roh Kudus untuk mengungkapkan diri-Nya dan membimbing kelompok ke mana Ia mau membawanya. Tuhan selalu ingin membimbing semua kelompok doa untuk memasuki kehidupan dalam Roh. Maka kita harus bertumbuh dalam karunia-karunia Roh Kudus ini.

Dalam usaha untuk bertumbuh dalam karunia-karunia Roh Kudus, kita juga perlu mengetahui beberapa bahayanya, yaitu:

  1. Orang yang memiliki satu karunia bisa saja merasa bahwa dia adalah seorang ‘pakar’ dalam bidang ini dan ia menolak untuk dinilai oleh sesamanya, karena dia berpikir bahwa orang lain tidak ahli dalam bidang tersebut.
  2. Bila orang hanya ‘ahli’ dalam menggunakan satu karunia ini berarti dia tidak berkembang dalam karunia lainnya.
  3. Orang yang mempunyai charismania dan sering menggunakan Tuhan sebagai alatnya, misalnya dengan:
    1. Mengharapkan Tuhan untuk campur tangan secara karismatik bila kuasa kodrati dianggap sudah cukup dipakai untuk mengatasi persoalannya.
    2. menolak untuk melakukan pekerjaan yang biasa, seperti belajar atau mempersiapkan sesuatu karena beranggapan bahwa Tuhan akan memberikan semuanya melalui karunia-karunia Roh.
    3. Memandang kegiatan karismatik sebagai tujuan dan bukannya suatu sarana untuk perkembangan pribadi dan jemaat.

Penutup

Karunia-karunia Roh Kudus, walaupun penuh kuasa, janganlah disamakan dengan kesucian hidup. Karunia-karunia ini berbeda dengan rahmiat pengudusan dan bukan merupakan tanda kesucian seseorang. Sebaliknya, penggunaan karunia-karunia ini bisa merupakan manifestasi nyata cinta kasih Allah yang dalam bagi jemaat. Penggunaan karunia-karunia dengan benar akan membimbing orang pada buah-buah Roh Kudus yang merupakan tanda sejati kesucian hidup.

Akhirnya, karena karunia-karunia karismatis ini diberikan kepada seseorang demi kepentingan jemaat, kasih kepada sesama merupakan satu-satunya suasana di mana karunia bisa bertumbuh. Dengan kata lain, rahasia bertumbuhnya karunia karunia Roh Kudus adalah kasih kepada Tuhan dan sesama, bukannya cinta kepada karunia ini.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting