User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

  

Mengapa Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) belum bisa diterima oleh banyak kalangan, termasuk kalangan uskup dan imam? Mengapa ada banyak tuduhan negatif terhadap PKK? Mengapa tampaknya ada perbedaan dalam praktik PKK? Apa sebenarnya hakikat PKK? Pertanyaan-pertanyaan ini masih hangat, meskipun tidak banyak yang mau membahasnya secara frontal. Saya mengerti bahwa pembahasan ini akan mengundang polemik. Saya tidak suka polemik. Akan tetapi, tinggal diam dan tidak memberikan tanggapan juga bukan solusi. Lagipula saya sendiri, sebagai partisipan aktif dalam gerakan pembaruan karismatik perlu merefleksikan pertanyaan-pertanyaan di atas. Refleksi dan upaya pengembangan gerakan inilah yang juga ditekankan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam salah satu sambutannya kepada para pemimpin gerakan PKK dalam pertemuan ICCRO (International Catholic Charismatic Renewal Offices) pada tahun 1992:[1] 

“Berhubung buah-buah Roh Kudus diberikan untuk membangun Gereja, kamu, sebagai para pemimpin dari Pembaruan Karismatik, ditantang untuk menemukan cara-cara yang semakin efektif dengan mana kelompok-kelompok yang kamu wakili dapat menunjukkan kesatuan pikiran dan hati yang penuh dengan Takhta Apostolik dan Persekutuan Para Uskup, serta dapat bekerjasama untuk menghasilkan buah yang semakin berlimpah di dalam misi Gereja di dalam dunia.”

Reboot adalah salah satu kata yang sering dipakai dalam dunia komputer. Kata ini secara sederhana dapat diartikan sebagai tindakan mematikan komputer dan menjalankan ulang sistem operasi utama. Salah satu saat orang perlu melakukan reboot ialah ketika ada update baru untuk sistem operasinya. Fungsi update ini ada macam-macam. Misalnya, untuk memperbaiki kelemahan atau kerusakan yang ada pada sistem. Perbaikan biasanya dilakukan berdasarkan saran dan kritikan dari pengamat atau penggunanya. Update diperlukan pula untuk memperbarui sistem untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Pembaruan Karismatik Katolik telah berusia 41 tahun.[2] Di dalam perjalanannya yang relatif masih sangat singkat, PKK mendapatkan banyak masukan yang berguna. Sebagai gerakan, hakikat PKK ialah dinamis. Ia selalu berubah. Masalahnya, perubahan itu bisa baik, bisa pula buruk. Menjadi tanggung jawab setiap orang yang terlibat dalam PKK untuk mengembangkan gerakan ini ke arah yang semakin baik. Banyak saran maupun kritikan yang muncul dari partisipan maupun pengamat dari gerakan ini. Terutama pada zaman internet ini. PKK perlu memerhatikan kritikan terhadap dirinya. Tidak untuk mengambil sikap defensif atau lebih parah lagi, menyerang balik. Namun, untuk belajar dari sana dan berkembang menjadi lebih baik.

Visi Perubahan

Melalui sambutan Bapa Suci Yohanes Paulus II pada tahun 1992 PKK dapat merumuskan visi perubahannya. Menurut Bapa Suci, kekuatan sekaligus sumbangan PKK terhadap Gereja pada abad yang lampau sampai sekarang ini ialah:

  • Kesaksian pribadi atas Roh yang tinggal dalam manusia dan dengan menyatakan kehadiran-Nya melalui karya-karya kekudusan dan solidaritas.
  • Membantu mengembangkan suatu hidup rohani yang solid yang berdasar pada kuasa Roh Kudus yang nyata dalam Gereja, di dalam kekayaan Tradisinya, dan secara khusus dalam perayaan sakramen-sakramennya.

Dari pesan Paus besar ini dapat ditemukan beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pengembangan PKK.

  • Ke dalam:
  1. Pembinaan hidup rohani yang solid menuju kekudusan.
  2. Berpegang teguh pada Tradisi, secara khusus penghargaan terhadap sakramen-sakramen.

  • Ke luar:
  1. Membangkitkan semangat untuk menjadi saksi akan Allah yang hidup, khususnya akan karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup.
  2. Diwujudkan dalam hidup yang suci serta karya-karya cintakasih yang nyata.

1. Pembinaan Hidup Rohani

Saya pernah sangat antipati dengan gerakan Pembaruan Karismatik Katolik. Kontak awal saya dengan gerakan ini terjadi pada saat saya masih di tingkat SMA. Di paroki saya waktu itu suatu kelompok karismatik sedang mengadakan acara. Dari luar gedung pertemuan saya mendengar musik yang hingar-bingar dan nyanyian yang aneh (lama sesudah itu saya baru tahu bahwa mereka sedang bersenandung dalam bahasa roh). Penasaran, saya mengintip ke dalam. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk mengambil kesimpulan bahwa orang-orang di dalam itu aneh atau bahkan tidak waras lagi. Ada yang menepuk-nepuk dada; ada yang menangis tanpa malu; ada yang mengangkat tangan, menengadah ke atas lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa aneh; ada yang terbaring di lantai sambil terus meracau; ada yang histeris; sementara pemimpin di depan terus berteriak-teriak dengan mikrofon di tangannya. Terus terang saya shock.

Pengalaman di atas membuat saya mengerti mengapa sampai sekarang pun banyak orang Katolik yang berpandangan miring tentang PKK. Orang-orang karismatik pernah dan masih sering dicap aneh di dalam Gereja Katolik. Namun, dalam pengalaman selanjutnya di dalam PKK saya sadar bahwa ungkapan spontan dan emosional dalam pujian dan penyembahan hanyalah sarana dan bukan tujuan PKK. Sebagai sarana, ungkapan emosional dan manifestasi-manifestasi lainnya bukanlah tujuan hakiki PKK. Tujuan hakiki PKK, sama dengan tujuan hakiki setiap gerakan individu maupun kelompok dalam Gereja Katolik, ialah kekudusan.

Jika tujuan dari PKK ialah kekudusan, apa yang merupakan titik awal gerakan ini secara khusus? Banyak ahli yang mengatakan bahwa awal dari terlibatnya seseorang dalam PKK adalah penerimaan pencurahan Roh Kudus atau baptisan dalam Roh. Pencurahan Roh Kudus ini merupakan semacam ‘inisiasi’ ke dalam gerakan PKK, meskipun tidak setiap orang yang mengalaminya kemudian terjun aktif di dalam gerakan ini. Pencurahan Roh Kudus berarti pengaktifan karya Roh Kudus dalam diri seseorang berdasarkan doa penyerahan dirinya dalam pengharapan.[3] Untuk menerima pencurahan Roh Kudus ini umumnya orang-orang dipersiapkan melalui pengarahan-pengarahan untuk benar-benar menjadikan Yesus pusat hidup mereka dan penerimaan Sakramen Pengakuan Dosa.

Pengalaman pencurahan Roh Kudus telah terbukti sebagai pengalaman yang mengubah jutaan orang. Banyak yang mengalami pertobatan yang sejati. Banyak yang dibangkitkan kerinduannya untuk berdoa dan untuk semakin mencintai Kitab Suci. Banyak yang kemudian aktif di paroki. Banyak yang menjadi rajin ikut Misa. Banyak yang mulai mengaku dosa lagi. Tidak sedikit pula yang akhirnya memutuskan untuk menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Saya sendiri tidak ragu mengatakan bahwa panggilan saya diteguhkan justru di dalam PKK.

Dari buahnya kita mengenal pohonnya (bdk. Mat 12:33). Melihat buah-buah baik yang berlimpah dan begitu jelas dari gerakan ini, sulit sekali dikatakan bahwa PKK ini sesat. Namun, toh masih ada yang beranggapan demikian. Mengapa? Membaca tuduhan-tuduhan mereka atas PKK, saya menemukan sebabnya, yakni masih banyak penyimpangan yang terjadi dalam PKK. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebenarnya tidak akan terjadi apabila tujuan hakiki dari PKK diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang PKK sendiri. Masalahnya, sarana-sarana untuk mencapai kekudusan jarang sekali diperkenalkan di dalam pertemuan-pertemuan PKK. Alangkah baiknya seandainya diadakan seminar tentang hidup doa atau ajaran-ajaran tokoh-tokoh besar hidup rohani seperti St. Benediktus, St. Bernardus dari Siena, St. Alfonsus Maria de Liguori, St. Katarina dari Siena, St. Teresa dari Avila, St. Yohanes dari Salib, atau St. Teresia dari Lisieux. Banyak kelompok karismatik yang hanya memusatkan perhatian pada pengembangan teknik pujian-penyembahan serta mengejar karisma-karisma pelayanan. Mereka hanya berhenti pada sarana dan kehilangan tujuan. Bahkan ada yang menekankan manifestasi-manifestasi emosional sebagai unsur mutlak dalam kelompok karismatik. Inilah salah satu sebab utama mengapa terjadi banyak penyimpangan dalam PKK.

2. Setia pada Tradisi

Ada tuduhan yang sangat keras terhadap gerakan PKK berkaitan dengan status hukumnya dalam Gereja Katolik: PKK tidak pernah diakui secara legal dalam Gereja! Tuduhan ini memang benar. Gerakan PKK memang tidak pernah disahkan secara legal oleh Takhta Suci. Namun, tuduhan ini sekaligus absurd. Sebabnya ialah PKK pada hakikatnya adalah sebuah gerakan (movement). Suatu gerakan tidak mungkin dijadikan suatu badan hukum. Sama saja, kita tidak bisa melegalkan gerakan bersih desa atau gotong-royong. Gerakan tersebut bisa saja dilakukan di seluruh dunia, tetapi tentu peraturan pelaksanaan dan pelaksanaannya sendiri akan berbeda-beda menurut waktu dan tempat. Tidak mungkin mewajibkan, misalnya, semua orang harus membabat rumput karena tidak semua tempat punya rumput. Sebaliknya, organisasi seperti Green Peace mempunyai anggaran dasar yang menekankan cinta lingkungan hidup. Akan tetapi, Green Peace tidak bisa mengklaim dirinya mewakili setiap gerakan cinta lingkungan hidup di bumi ini.

PKK sebagai gerakan tidak mempunyai statuta atau anggaran dasar. Namun, itu tidak menjadikannya lepas dari hukum. Setiap orang Katolik yang sehat budi dan cukup umur, yang terlibat dalam PKK ialah subyek hukum sesuai Kitab Hukum Kanonik (KHK) kan. 11. Karena jumlah orang-orang Katolik yang terlibat dalam PKK ini sangat banyak, Takhta Suci menganggap perlu ada satu badan koordinator internasional untuk mengatur mereka supaya tetap berpegang pada hukum dan ajaran Gereja Katolik. Badan koordinator ini disebut ICCRS (International Catholic Charismatic Renewal Services) yang berpusat di Roma. Badan ini telah disahkan sebagai badan hukum publik sesuai dengan KHK kan. 116. Artinya, statuta atau anggaran dasar dari ICCRS telah dinyatakan legal oleh Takhta Suci.

Selain itu, beberapa asosiasi awam maupun kongregasi religius yang menjabarkan semangat PKK dalam statuta mereka pun telah diakui secara resmi dan legal oleh Gereja. Misalnya, the Catholic Fraternity of Covenant Communities and Fellowships, Komunitas Kkotongnae di Korea Selatan, dan Kongregasi Putri Karmel di Indonesia, dll. Peresmian dan pengakuan statuta kelompok-kelompok ini bisa diartikan sebagai penerimaan semangat PKK sebagai bagian integral dalam hidup Gereja zaman ini. Kehadiran ICCRS maupun badan hukum lainnya yang berjiwakan semangat PKK sangatlah dibutuhkan. Selain sebagai tanda pengakuan semangat PKK dalam Gereja Katolik, mereka diperlukan juga untuk terus memastikan kesatuan orang-orang yang terlibat dalam gerakan PKK ini dengan Gereja Katolik.

3. Saksi Roh Kudus

Sering ada kesalahpahaman dalam gerakan PKK bahwa tanda kehadiran Roh Kudus tergantung dari besarnya karisma-karisma yang hadir dalam suatu pertemuan atau kelompok, entah itu berupa indahnya bahasa roh atau besarnya mukjizat yang terjadi. Kesalahpahaman ini bukan hal yang baru. Dua ribuan tahun yang lalu, umat di Korintus sudah jatuh dalam hal yang sama. Sampai-sampai St. Paulus harus menegur mereka dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus. Dengan suratnya ini, St. Paulus menggiring para pembacanya sampai pada satu kesimpulan sederhana: yang paling besar adalah kasih! (bdk. 1Kor 13:13)

Jangan salah paham. Karisma-karisma Roh Kudus seperti yang disebutkan dalam Rm 12:6-8, 1Kor 12, dan Ef 4:11-12, memang sangat penting untuk perkembangan. St. Paulus mengatakan, “Usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia roh, khususnya karunia bernubuat” (1Kor 14:1). Kehadiran karisma-karisma, seperti penyembuhan, mukjizat, nubuat, bahasa roh, dan yang lainnya bisa menjadi tanda kehadiran Roh Kudus dalam suatu acara doa. Akan tetapi, itu tidak mutlak. Kadang-kadang justru karisma-karisma ini bisa menimbulkan kekacauan bahkan penyimpangan. Khususnya apabila terjadi orang-orang karismatik terlalu menekankan upaya mengejar karisma-karisma ini sampai melupakan yang utama. Nyatanya, orang bisa kehilangan kasih meskipun tetap mempunyai karisma tersebut secara berlimpah (bdk. 1Kor 13:1-3). Penekanan berlebihan terhadap karisma bisa mengakibatkan kesombongan rohani pula. Musuh kita, si iblis tidak akan segan memberikan kuasa-kuasa adikodrati, misalnya penglihatan-penglihatan, bisikan-bisikan seolah-olah nubuat, atau bahkan penyembuhan, untuk membuat para pelayan Tuhan larut dalam kesombongan.

Kalau kehadiran karisma-karisma tidak pasti menjadi tanda kehadiran Roh Kudus, kehadiran buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (bdk. Gal 5:22-23) merupakan tanda otentik kehadiran Roh Kudus dalam individu maupun kelompok. Mintalah karisma itu, tetapi kejarlah kasih! Jangan sampai terjadi sebuah acara ataupun suatu kelompok karismatik terlalu memerhatikan “hadiah-hadiah” ini sampai-sampai melupakan Sang Pemberi hadiah. Tuhan harus menjadi yang utama dan pertama. St. Yohanes dari Salib ialah guru hidup rohani yang amat baik. Dalam bukunya “Mendaki Gunung Karmel” didapatkan semboyan hidupnya: “Nada, nada, nada.” Kosong, bukan ini, bukan itu, bukan barang-barang jasmani, bukan pula barang-barang rohani (maksudnya hiburan-hiburan rohani maupun karisma-karisma) yang dapat membawa manusia kepada Tuhan. Justru kelepasan dari semua itulah yang menjadi syarat untuk mencapai Allah. Hanya dengan kelepasan seperti ini orang dapat menjadi saksi handal Roh Kudus.

4. Kesucian dan Belas Kasihan

Tidak ada orang yang bisa mengatakan dirinya mencintai Tuhan kalau masih membenci saudaranya (bdk. 1Yoh 4:20). Membenci di sini bisa dalam arti aktif maupun pasif. Aktif membenci artinya melukai atau mencelakakan. Pasif membenci artinya melalaikan, membiarkan orang lain celaka (bdk. “Apa yang tidak kau lakukan untuk…” dalam Mat 25:45 dan 1Yoh 3:17). Tanda kesucian yang otentik adalah belas kasihan kepada sesama. Betapa sering kita membaca dalam Kitab Suci bahwa Yesus tersentuh oleh belas kasihan kepada mereka yang menderita.

Salah satu kritikan terhadap PKK adalah kecenderungan untuk menjadi eksklusif, sulit membuka diri kepada orang lain di luar kelompoknya. Gaya ibadat dalam kelompok-kelompok PKK sebenarnya juga menjadi problem tersendiri karena tidak semua orang bisa menerimanya. Namun, jika hal tersebut memang tidak bisa diubah, suatu kelompok PKK perlu semakin membuka diri untuk menjangkau mereka yang membutuhkan. Tentu hal tersebut harus muncul dari kesucian hidup anggota-anggotanya dulu, bukan sekedar karena tekanan dari pihak luar, apalagi untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari orang lain.

Penutup

Masih banyak evaluasi dan perbaikan yang perlu dilakukan PKK untuk semakin berkembang sebagai insan dan saksi Roh Kudus yang efektif. Namun, hal tersebut tidak perlu dipikirkan sebagai sesuatu yang rumit dan menekan. Yang paling penting dan sederhana ialah prinsip awal PKK, keterbukaan terhadap Roh Kudus. PKK akan maju bila ia semakin bergantung pada Roh Kudus dan lepas dari mencari kepentingan diri sendiri.

 


[1] Versi lengkap dari Pesan Bapa Suci Yohanes Paulus II ini dapat dilihat diccc.garg.com/ccc/articles/John_Paul/ John_Paul_003.html

[2] Umumnya orang mengakui bahwa gerakan Pembaruan Karismatik Katolik dimulai pada Pebruari 1967 setelah sekelompok mahasiswa Duquesne University, Pittsburgh, AS, mengalami Pencurahan Roh Kudus dalam suatu retret.

[3] Pembahasan lebih lengkap mengenai Pencurahan Roh Kudus dapat dilihat dalam artikel Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE “Pencurahan Roh Kudus”: carmelia.net/index.php

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting