User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Dalam rencana kehendak-Nya, Allah mau mengikutsertakan manusia dalam karya keselamatan-Nya. Setiap orang Kristiani yang telah menerima Sakramen Pembaptisan mempunyai tugas untuk menjadi pewarta dan pengajar Sabda Allah. Pewarta Sabda atau pengajaran ini sangat penting, dan ini adalah amanat agung Yesus Kristus (bdk. Mat 28:18-20). Melalui pewartaan atau pengajaran orang dapat mengerti dan memahami apa yang menjadi rencana dan kehendak Allah bagi umat-Nya, melalui penghayatan iman dan hidup Kristiani yang dianugerahkan Allah kepada setiap orang kristiani.

Apabila seseorang sungguh-sungguh dipakai Tuhan dalam mewartakan Sabda-Nya, ia juga dituntut untuk terbuka terhadap bimbingan dan dorongan Roh Kudus, sehingga apa yang disampaikannya sangat berguna bagi keselamatan umat dan juga untuk perluasan Kerajaan Allah di dunia ini. Dalam pengajaran dan pewartaan Sabda Allah pertama-tama kita bergantung kepada rahmat dan kuasa Roh Kudus. Jikalau kita membaca Kitab Suci khususnya Kisah Para Rasul 2:3, kita jumpai bahwa Petrus berbicara dalam nama Yesus dan dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus. Orang yang mengajar karena dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus dan disertai dengan karisma akan menyentuh hati banyak orang dan juga membuat orang bisa bertobat. Akan tetapi, pengajaran yang hanya mengandalkan pengetahuan belaka saja terkadang tidak membawa orang kepada pertobatan dan seringkali para pendengar hanya mengagumi akan kemampuan dan pengetahuan dari si pengajar.

Apabila kita merenungkan apa yang di ceritakan dalam Kisah Para Rasul 2:3 kita bisa bertanya siapakah Petrus itu? Petrus bukan seorang yang pandai, bukan juga seorang yang berpendidikan tinggi. Dia adalah seorang nelayan yang sederhana, tetapi karena dikuasai Roh Kudus, Petrus dijadikan mampu dan sungguh pengajarannya penuh kuasa sehingga kita dapat melihat hasilnya bahwa banyak orang memberi diri untuk dibaptis dan menerima Yesus sebagi Tuhan dan penyelamat.

Dalam karya keselamatan pengajaran ini sangat penting, sehingga di akhir Injil Matius Yesus memerintahkan kepada para murid untuk mewartakan Injil (bdk. Mat 28:16). Khususnya pada ayat 20 “dan ajarlah mereka…” bila kita diutus untuk mengajar orang lain, yaitu untuk mewartakan Injil kita perlu percaya bahwa kita tidak pernah sendirian karena Yesus selalu menyertai kita (bdk. Mat 28:20b). Pengajaran sebagai salah satu bentuk karisma yang telah dipraktikkan sejak zaman Gereja Awali, dan karisma pengajaran dipergunakan untuk pelayanan kepada umat. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-anggotaNya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sabagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar…” (bdk. 1Kor 12:27-28).

Oleh karena itu, pengajaran sebagai tugas yang luhur, dan sebagai anggota Gereja kita tidak hidup sendirian, tetapi hidup dengan anggota jemaat yang lain. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk ikut serta membangun jemaat. Pembangunan jemaat ini merupakan kewajiban, sekaligus tugas yang luhur. Salah satu sarana untuk membangun jemaat ialah melalui pengajaran, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Putera Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus“ (bdk. Ef 4:11-13). Jadi melalui pengajaran diharapkan, kita dapat membangun Tubuh Kristus dan menanamkan apa yang menjadi iman Gereja dan menghantar orang lain untuk bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus.

Mengajar merupakan tugas yang indah, karena seorang pengajar dipanggil untuk membawa kabar baik bagi sesamanya. “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan“ (bdk. Kis 2:21). Akan tetapi, bagaimana mereka berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ditulis, “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik! “ (bdk. Rom 10:13-15). Tugas pengajar atau pewarta adalah menghadirkan Allah dan Kerajaan-Nya melalui pengajaran atau pewartaannya. Dengan mengajar para pewarta menghantar orang kepada pengalaman cintakasih Allah dan perjumpaan secara pribadi dengan Allah.

Dalam rencana kehendak-Nya, Allah mau mengikutsertakan manusia dalam karya keselamatan-Nya. Oleh karena itu, setiap orang Kristiani yang telah menerima Sakraman Pembaptisan mempunyai tugas untuk menjadi pewarta dan pengajar sabda Allah. Pewartaan dan pengajaran ini penting sebagaimana yang dikehendaki Allah sendiri dengan dasar-dasar sebagai berikut:

  1. Teladan Tuhan Yesus sendiri (bdk. Mat 4:23, 9:35, 11:1; Luk 4:43, 8:1). Dalam pewartaan-Nya, Tuhan Yesus mengajar di dalam pelbagai kesempatan, baik dalam rumah-rumah ibadat, di bukit, dan sebagainya. Dia mengajar kepada orang banyak yang berbondong-bondong datang kepada-Nya, maupun secara khusus kepada para murid-Nya. Dikatakan dalam Injil, bahwa Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan wibawa. Jadi pengajaran ini merupakan sarana penting yang dipakai Yesus untuk menyatakan apa yang menjadi kehendak Allah bagi umat-Nya.
  2. Perintah Tuhan Yesus sendiri. Sebelum Yesus naik ke surga, Tuhan Yesus telah memberikan perintah perutusan agung kepada para murid dan kepada kita, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman“ (bdk. Mat 28:18-20).
  3. Sebagai salah satu bentuk karisma yang telah dipraktikkan sejak zaman Gereja Awali. Praktik pengajaran yang sudah ada sejak zaman para rasul atau Gereja awali dan merupakan salah satu bentuk karisma atau karunia yang di berikan Tuhan untuk pelayanan kepada jemaat: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggota-anggotaNya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi dan ketiga sebagai pengajar...” (bdk. 1Kor 12:27-28).
  4. Pengajaran merupakan tugas yang luhur. Sebagai anggota Gereja, kita tidak hidup sendiri, tetapi hidup dengan anggota jemaat yang lain. Oleh karena itu kita dipanggil untuk ikut serta membangun jemaat. Pembangunan jemaat ini merupakan kewajiban, sekaligus tugas yang luhur. Salah satu sarana untuk membangun jemaat ialah melalui pengajaran: “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi- nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembalapengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Putera Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan
  5. Keindahan tugas mengajar. Pengajaran merupakan tugas yang indah, karana seorang pengajar dipanggil untuk mebawa kabar baik bagi sesamanya. “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan di selamatkan. Akan tetapi, bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatngan mereka yang membawa kabar baik“ (Rom 10:13-15).

 

Apa tugas pengajar atau pewarta?

  1. Menghadirkan Allah dan Kerajaan-Nya lewat pengajaran atau pewartaannya. Pengajar atau pewarta berusaha untuk bertumbuh dalam iman dan cinta kasih, serta menghantar dia ke dalam persatuan dengan Allah. Dengan demikian apa yang disampaikannya sungguh-sungguh berguna bagi orang lain khususnya agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dalam iman, harapan, dan cinta kasih.
  2. Menghantar orang kepada pengalaman akan cinta kasih Allah dan perjumpaan secara pribadi dengan Allah serta bertanggung jawab dalam penyucian jemaat dan dunia.
  3. Ikut serta dalam karya penyelamatan Allah.

 

Seorang pengajar atau pewarta perlu mempersiapkan diri

Persiapan yang dilakukan pengajar atau pewarta meliputi persiapan materi dan persiapan batin. Pengajar atau pewarta harus menguasai materi yang dibawakan sehingga dalam penyampaian pengajar atau pewarta dapat menyampaikannya dengan penuh keyakinan dan bukan sekedar hasil pemikiran belaka melainkan sesuatu yang timbul dari keyakinan akan kebenaran dari hal yang disampaikan. Selain persiapan materi, pengajar atau pewarta memerlukan persiapan batin. Persiapan batin ini dilakukan dengan berdoa agar dengan bimbingan Allah pengajar atau pewarta menyampaikan apa yang sungguh menjadi kehendak Allah.

Setelah selesai mempersiapkan materi, maka langkah yang paling perlu untuk menghadapi waktu pengajaran adalah dengan doa dan mohon bimbingan Roh Kudus, dengan kesadaran bahwa pengajaran atau pewartaan itu merupakan pekerjaan Tuhan, bukan karya manusia. Oleh karena itu, Pengajar atau Pewarta hendaknya juga terbuka dan peka terhadap inspirasi Roh Kudus pada waktu mengajar dan hal ini akan sangat berguna untuk menjawab kebutuhan umat. Pengetahuan itu penting tetapi pengajaran yang hanya mengandalkan pengetahuan saja itu sedikit sekali maknanya bagi pendengar. Namun, pewarta yang disertai dengan karunia pengajar itu sangat bermanfaat dan bisa membuat orang bertobat dan meningglkan cara hidup yang tidak berkenan kepada Allah. Marilah kita mengajar dengan segala kerendahan hati dan mengandalkan rahmat dan kuasa Roh kudus. Biarkan Roh Kudus yang mengajar umat-Nya melalui kita sebagai alat kecil-Nya. “ Pergilah jadikan semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman“ (bdk. Mat 28:18-20).

  


www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting