header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

“Roh Kudus Akan Turun Atasmu…”

User Rating:  / 8
PoorBest 

Maria selalu digambarkan sebagai tokoh yang patut diteladani karena penyerahan dirinya yang total kepada Allah. Ia adalah hamba hina dan miskin yang menjadi orang paling berbahagia. Ia terberkati dari antara setiap perempuan dalam setiap zaman (Luk 1:42-45). Dia adalah Bunda Allah. Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa gelar-gelar luhur yang diberikan kepadanya adalah semata-mata karena kerjasamanya yang ia setujui dengan Allah. Suatu kerjasama yang bersifat amat pribadi namun yang buahnya dapat dialami oleh semua manusia. Inilah misteri kasih Allah pada manusia; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Keagungan Maria sebenarnya justru terletak pada kerjasamanya dengan Roh Kudus. Dengan selalu menyerahkan diri pada kuasa Roh Kudus yang terus menerus turun atasnya, Ia menjadi model bagi semua orang kristiani. Ia secara sadar bekerjasama dengan gerak Roh Kudus dalam iman dan ketaatan. Namun hubungan Maria dan Roh Kudus tidaklah terjadi melalui satu anugerah istimewa yang diterimanya semata-mata. Hubungan Maria dan Roh Kudus terletak dalam lapisan tertinggi kesadaran manusiawinya akan Allah yang berkuasa sepenuhnya dalam hidupnya.

Maria adalah seorang tokoh Kristiani karismatik yang ideal. Letak kekarismatikan Maria, bukan hanya karena Roh Kudus turun atas dirinya, melainkan juga karena Roh Kudus yang ia terima tidak di”sembunyikan” untuk dirinya sendiri tetapi disalurkan kepada orang lain. Siapa saja yang memiliki hubungan dengan Maria, akan merasakan dan menikmati juga kebersamaan dengan Roh Kudus dalam hidupnya.

Dua peristiwa besar dan menyolok yang dapat kita temukan dalam hubungan Maria dan Roh Kudus adalah peristiwa penjelamaan Allah Putera menjadi manusia dan peristiwa Pentekosta. Dua peristiwa ini sudah cukup banyak mengatakan kepada kita, hubungan yang mendalam antara Maria dan Roh Kudus. Ketika Maria bingung bagaimana dia akan memiliki anak, malaikat Gabriel mengatakan padanya, “Roh Kudus akan turun atasmu …” (Luk 1:34). Gereja dengan gembira menyatakan juga salam hormatnya pada Maria, “Salam mempelai tersuci Allah Roh Kudus.”

 

 A.“Salam hai engkau yang diberkati, Tuhan menyertai”

Ucapan salam yang unik ini, tentu bukanlah suatu ungkapan yang dapat diberikan pada setiap manusia. Hanya mereka yang sungguh-sungguh hidup menurut jalan-Nyalah yang memperoleh karunia dari berkat ini. Cermatilah Kitab Suci, maka kita akan temui bahwa dari semua perempuan Israel maupun non Israel (sejauh yang dapat kita temui dalam Perjanjian Lama) tidak pernah ada yang mendapat salam yang demikian mesranya seperti yang dialami Maria. Malahan setiap orang merasa lebih baik jika Allah atau utusan-Nya tidak menemui mereka (Kel 20:19, Hak. 13:21-22).

Gereja Katolik membawa semua umatnya untuk melihat misteri penjelamaan Allah Putera yang menjadi manusia melalui seorang perawan. Dikatakan dalam Injil Lukas bahwa “Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah yang mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah”(Luk 1:35). Sekonyong-konyong segala kebimbangan Maria hilang. Maria menerima kabar itu dengan bebas, bukan dalam keterpaksaan melainkan dalam suatu persetujuan yang bebas dari dalam dirinya. Kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia ” (Luk 1:38).

Roh Allah selalu menciptakan hati yang baru (Mzm 51:10) di dalam setiap orang yang berkehendak baik. Tidak ada seorang pun yang telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26) akan dapat melarikan diri dari Roh Allah, dari kehadiran-Nya yang penuh kasih (Mzm 139:7). Itulah yang dialami Maria. Ia telah direncanakan oleh Allah sebagai saluran kasih Allah dan air kasih Allah itu adalah Putranya.

Ketika Israel keluar dari tanah Mesir, Roh Allah melindungi dan terbang bagaikan awan di atas mereka di padang gurun, namun dalam padang gurun yang kering dan tandus itu Roh Allah terbang di atas suatu wahah yang segar oleh air kehidupan Allah. Marialah wahah yang segar itu. Sejak semula Maria, dari awal hidupnya Maria dinaungi oleh awan perlindungan Allah. Dalam dogma Maria dikandung tanpa noda, Gereja merayakan kasih Allah, yaitu Roh Kudus yang turun atas Maria sejak saat pertama dia dikandung dan memberinya pertumbuhan kesadaran yang terus menerus, bahwa seluruh keberadaannya adalah bait Allah dan bahwa Roh Kudus diam di dalam dirinya dengan cara yang istimewa sekali (1Kor 3:16)

MARIA ADALAH PADANG RUMPUT

Maria adalah padang rumput bagi Tuhan,

Marialah ladang Tuhan yang kaya dan subur

Marialah ladang yang ditanami, Yesuslah benihnya.

Yesus adalah hasil panenan

Untuk memenuhi segala keperluan kita.

Maria, jadikanlah hidupku ladang subur.

Matangkan dalam diriku biji-bijian kencana

 

Maria adalah hablur bagi Tuhan,

Marialah prisma cahaya-Nya

Marialah tembok berjendela, Yesuslah sinarnya.

Yesus adalah hujan pelangi

Untuk menghibur kita setiap hari

Maria, jadilah engkau hablurku bagi cahaya.

Buatlah Dia selalu bersinar di pandanganku.

 

Maria adalah seruling bagi Tuhan,

Marialah Nada-Nya yang murni dan tenang.

Marialah kuncinya, Yesuslah kidungnya.

Yesus adalah lagu untuk dinyanyikan semua.

Maria, jadikan kasihku nada sempurna.

Semoga hatiku bernyanyi bagi Allah melulu.

(Bill Peffley)


B.“Aku ini hamba Tuhan…. “

Sama seperti kaumnya, sebagai seorang Yahudi, Maria tentunya juga berdoa bagi kedatangan Mesias dan menanti kepenuhan dari janji itu dengan kerinduan yang mendalam. Orang Yahudi menantikan pembebasan dari Mesias bukan hanya dari kekuasaan Roma tetapi juga agar kehidupan mereka sebagai bangsa terpilih menjadi pulih kembali.

Dalam Kitab Suci, Maria digambarkan terkejut ketika mendengar salam dari Malaikat (Luk 1:29). Akan tetapi dalam keterkejutan itu, Malaikat tetap harus menyampaikan kabar tersebut. Maria diundang oleh Allah yang mahatinggi untuk ikut berpartisipasi dalam rencana keselamatan, dan undang ini bersifat sangat pribadi. Walaupun mungkin, pikiran Maria tidak sanggup menangkap wahyu ilahi yang besar ini, namun iman dan cinta pada Allah-lah yang mendorong dia untuk mengatakan “Ya”.

Mungkin tidak pernah terbanyangkan bagi orang Yahudi jawaban Maria yang amat berani itu; “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.” Mengapa? Karena konsekuensinya jelas, Maria akan hamil di luar nikah. Padahal dalam hukum Yahudi hamil di luar nikah hukumnya adalah mati dirajam. Apakah Maria memikirkan itu juga? Apakah Maria tidak takut diceraikan oleh Yusuf karena ketahuan hamil di luar nikah? Sebagai seorang Yahudi, Maria tahu akan konsekuensi ini. Namun, semua pertanyaan itu menjadi tersamar karena jauh lebih besarlah kesadarannya akan keberadan Roh Allah dalam dirinya. Hal inilah yang membuat Maria mampu menjawab, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

Bagi orang kristiani, tanda suatu hidup baru dalam dirinya adalah ketika ia menyadari dengan suatu kesadaran yang selalu baru, bahwa Roh Kudus, Roh Allah yang menguduskan, diam di dalam dirinya dan bukan di luar dirinya. Dengan kesadaran seperti itulah Maria mengucapkan “Ya” kepada Roh Allah yang Kudus. Dengan jawaban itu, Maria mendapat Kerajaan Allah yang mulia dalam hatinya. Ia meminum air kehidupan Roh yang memancarkan hidup kekal. Ia penuh rahmat dan Roh menggenangi dia, yang membuat dia menjadi suatu lembah subur. Oleh karena itu, pada saat ia mengandung Sabda Allah, Roh Kudus tidak hanya menghadirkan diri-Nya dalam Maria tetapi sekaligus mengerjakan pengilahian dalam diri Maria.

Setiap orang Kristiani harusnya menyadari bahwa dalam dirinya pun Roh Kudus hadir dan berkarya. Dalam surat pertamanya kepada jemaat di Korintus, Paulus menuliskan, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16), dan “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor 6:19). Apa yang dikatakan oleh Santo Paulus ini telah Maria ketahui dan pahami.

 

C. Aplikasi

Dalam penanggalan Liturgi, Gereja menetapkan peristiwa Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel sebagai salah satu hari raya. Hari Raya Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel merupakan hari raya kita bersama. Hari raya setiap kaum beriman yang mau membuka diri bagi Roh Allah. Dalam banyak lukisan dan gambar, Maria selalu digambarkan dalam keadaan berdoa, dia sedang terjaga. Ini menunjuk pada kesiapan dan keterbukaan Maria untuk menerima kabar gembira ini.

Maria telah menyadari akan hal kita menjadi bait Allah yang kemudian dikatakan Paulus, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Kehidupan Maria seluruhnya digerakkan dan dipimpin oleh Roh Allah. Sejak dia dalam kandungan ibunya, Roh Allah telah masuk dalam dirinya. Roh Allah telah mempersiapkan dia menjadi kediamannya yang istimewa. Di dalam dirinya yang kecil itu, Ia akan menerima Allah yang tahta-Nya adalah surga dan beralaskan bumi. Allah yang tak tertatap oleh para serafim dan kerubim.

Sukacita terbesarnya adalah menyerahkan diri seutuhnya, tubuh, jiwa, dan rohnya pada Roh Kudus yang turun atasnya. Maria mulai melangkah pada tahap baru dalam hidupnya ketika ia membuat keputusan secara bebas menjadi kenisah Roh Kudus yang tanpa noda. Kemana pun dia pergi, embun Roh Kudus Allah turun secara lembut atas semua orang. Lewat Marialah, Roh Kudus menumbuhkan benih kehidupan ilahi dalam hati orang-orang yang menjumpai dia (Luk 1:41-47; 2:20; Mat 2:10-11). Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Sudahkah kita menyiapkan tempat yang pantas baginya? Siapkah kita membiarkan Dia berkarya dalam hati kita seperti yang dilakukannya dalam Bunda Maria?

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting