Hidup dalam Kasih
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yoh. 4:19) Karena Allah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita dijadikan mampu untuk mengasihi. Karena itu segala sesuatu dapat kita lakukan dalam kasih. Dengan melakukan segala sesuatu dengan kasih, kita memberi nilai baru kepada segala sesuatu yang kita lakukan. Segala perbuatan yang dilakukan dalam kasih akan mendapat nilai plus. Kasih itu umpama rempah-rempah yang menyedapkan segala masakan kita.
Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan dengan kasih, semuanya mendapatkan nilai keabadian dan berkenan kepada Allah. Santa Theresia Lisieux mengatakan, bila kita hanya memungut sebatang jarum yang jatuh saja, tetapi dengan kasih, itu sudah mendapat nilai keabadian. Lama sebelumnya Bruder Laurentius dari Kebangkitan yang telah dikarunia Tuhan rahmat yang besar, menyatakan, bahwa bila seseorang memungut sehelai jerami di tanah dengan kasih, perbuatan itu sendiri memiliki nilai keabadian. Oleh karena itu perbuatan-perbuatan kita mendapatkan nilai baru bila kita lakukan dalam dan dengan kasih.
Tiap-tiap hari begitu banyak kesempatan kita untuk mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Tuhan. Bahkan penderitaan kita, bila kita persembahkan dengan kasih kepada Tuhan, akan berubah warnanya dan memberikan damai yang mendalam. Daripada mengomel dan menggerutu tentang keadaan yang tidak menyenangkan, cobalah mempersembahkan semuanya itu dengan kasih kepada Allah dan Anda akan segera melihat perbedaannya. Tentu saja yang lain- lain juga harus dilakukan dalam kasih dan dengan kasih, maka hidup Anda dalam waktu yang singkat akan berubah. Akhirnya Anda akan dapat mengubah segala sesuatu menjadi sesuatu yang berharga.
Dalam sebuah dongeng dikatakan, bahwa suatu ketika ada seorang janda miskin yang hidup dengan seorang anak lelakinya. Karena miskin janda dan anaknya itu hidup sengsara. Suatu hari ada seorang malaekat datang kepada anak miskin itu serta memberikan tongkat wasiat dan berpesan: Apa pun yang kausentuh dengan tongkat wasiat ini, akan menjadi batu permata yang berharga sekali. Setelah malaekat itu pergi, anak itu mulai menguji kebenaran perkataan malaekat tadi. Ia menyentuh batu dengan tongkat itu dan batu itu pun menjadi permata; demikian juga benda-benda lainnya.
Tuhan juga telah memberikan kepada kita masing-masing sebuah tongkat wasiat, sehingga apa pun yang disentuh dengan tongkat wasiat itu akan berubah menjadi permata yang berkenan kepada Allah. Tongkat wasiat itu bukan lain daripada kasih illahi yang telah dicurahkan Allah ke dalam hati kita. Segala sesuatu, baik itu hal-hal yang biasa maupun luar biasa, hal-hal dari kehidupan sehari-hari maupun dari peristiwa-peristiwa khusus, baik hal yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan, asal kita sentuh dengan tongkat wasiat tadi, akan berubah menjadi permata yang berharga dan berkenan kepada Tuhan, artinya asalkan kita persembahkan kepada Tuhan dengan kasih, akan berubah menjadi permata yang indah. Silahkan mencoba sendiri!
