Tulisan Rm. Yohanes Indrakusuma

Allah-lah Yang Lebih Dahulu Mengasihi Kita

Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan

Sebelum menemukan Tuhan, Santo Agustinus telah berusaha menemukan Tuhan di tempat-tempat lain, di luar dirinya dalam kenikmatan-kenikmatan, dalam kebahagiaan dunia ini, dalam pelbagai macam ilmu dan filsafat, tetapi ia tidak menemukan-Nya. Akhirnya Santo Agustinus menyadari, bahwa ia salah mencari Allah di luar dirinya, padahal Allah bersemayam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Memang, kita diciptakan untuk Allah, sehingga tidak ada apa-apa pun yang dapat memuaskan hati kita kecuali Allah sendiri. Hati kita telah diciptakan sedemikian besarnya, sehingga bahkan seluruh alam semesta ini tidak akan dapat memenuhinya. Seandainya pun kita memiliki seluruh dunia, semuanya itu tidak dapat mengisi hati kita, dan hati kita akan tetap kosong saja, tidak dapat terpenuhi. Kita telah diciptakan untuk yang tidak terbatas, sehingga hanya yang tidak terbatas saja yang dapat mengisi hati kita dengan sungguh-sungguh. Inilah yang dialami Santo Agustinus, sehingga ia mengungkapkannya dalam sebuah kalimat yang kemudian menjadi terkenal: “Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau”.

Kita diciptakan untuk yang baka, untuk Allah sendiri, sehingga pengenalan akan Allah saja yang akan dapat memuaskan hati kita. Santo Paulus setelah sebelumnya mengejar kemuliaan duniawi ini, setelah mengenal Kristus menganggap segala sesuatu sebagai kerugian, ya bahkan semuanya yang sebelum itu amat dihargainya, kini dipandangnya sebagai sampah belaka:

“Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku,

sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

Malahan segala sesuatu kuanggap rugi,

karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku,

lebih mulai daripada semuanya.

OLeh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu

dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kritus….

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.” (Flp. 3:7-8.10)

Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. Kita sendiri mengalami, betapa goyahnya hidup manusia di dunia ini. Kemarin ia diagung-agungkan dan disanjung orang, tetapi hari ini ia dihujat dan hidupnya pun tidak aman lagi. Kemarin ia adalah orang yang paling dihormati, tetapi hari ini bisa menjadi buron. Seperti yang dikatakan Santo Yohanes, dunia ini dengan segala keinginannya akan lenyap, sebaliknya orang yang mengasihi Allah akan tetap selama-lamanya, karena itu dia menghimbau kita, agar supaya jangan mencintai dunia ini:

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yoh. 2:15-17)

Sifat dunia yang goyah ini, yang fana, yang cepat berubah dan berlalu, justru mendorong kita untuk mencari yang tidak kena perubahan, yang baka, karena kita diciptakan justru untuk yang baka. Mengenal Allah serta mengasihi Dia di atas segala sesuatu, itulah tujuan hidup kita dan itulah satu-satunya yang dapat mengisi hati kita. Sesungguhnya, mengenal Allah dan mengasihi Dia itulah hidup yang kekal, yang sudah dimulai dalam dunia ini dan akan disempurnakan dalam hidup yang akan datang. “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh. 17:3) Dan mengenal, dalam bahasa Kitab Suci, lebih-lebih menurut Injil Yohanes, berarti memasuki persekutuan hidup yang mengalir dari Bapa kepada Putera di dalam Roh Kudus dan kembali lagi kepada Bapa dalam Roh yang sama.

Oleh karena itu, bagi kita yang terpenting sekarang ini, ialah mengenal dan mengalami kasih Allah, hidup kekal yang sudah mulai di dunia ini dan akan disempurnakan kelak. Itulah yang pokok. Segala sesuatu yang lain harus diarahkan kepada yang pokok tadi. Bila segala sesuatu diarahkan kepada yang pokok itu, sebaliknya segala sesuatu akan memberikan arti dan kepuasan yang lebih mendalam bagi kita. Kita mengasihi, karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita. Bila segala sesuatu kita lakukan dalam kasih dan demi kasih, segalanya menjadi indah, juga yang oleh orang lain dianggap sebagai penderitaan. Itulah pula sebabnya, mengapa Santo Paulus berdoa, supaya kita mengenal kasih Allah itu:

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekali pun ia melampaui segala pengetahuan.” (Ef. 3:18-19)

Segala yang lain tidak ada artinya bila dibandingkan dengan yang ini. Juga bila di dunia ini kita masih harus banyak menderita, itu pun tidak ada artinya, sebab “penderitaan zaman sekarang ini tidak ada artinya, bila dibandingkan dengan kemuliaan yang disediakan Allah bagi kita” (bdk Rom 8:18). Sebab sesungguhnya tidak dapat dibayangkan, apa yang disediakan Allah bagi kita, karena semuanya melampaui pikiran dan pengertian kita: “Tak ada mata yang melihat, tak ada telinga yang mendengar, dan tak pernah masuk dalam hati manusia, apa yang disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor. 2:9)