Print
Hits: 300
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 Kedua, kita perlu menolak suatu cara berpikir yang mengingkari adanya Allah, baik secara praktis maupun secara militan. Dengan sendirinya kelompok ini dengan tegas menolak intisari iman Kristiani, yaitu Yesus Kristus yang bangkit. Hal ini disebabkan karena pengaruh aliran filsafat atau teologi tertentu yang mengagungkan “Allah telah mati”. Akibat dari pemikiran ini, manusia pada zaman ini mau menentukan sendiri apa yang baik ataupun apa yang buruk bagi dirinya, tanpa merujuk lagi pada nilai-nilai keabadian yang didasarkan atas iman dan pengalaman akan Allah. Pada akhirnya, banyak orang meninggalkan iman kepada Allah dan mereka hidup dalam dosa dan kejahatan. Dewasa ini begitu maraknya terjadi kemerosotan iman, moral, dan hidup rohani. Apa yang dipandang baik akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang salah. Sebaliknya, perbuatan jahat diyakini sebagai suatu kebaikan. Inilah kesesatan besar zaman ini!

Dari kedua pandangan tersebut, kita hendaknya kembali memeriksa, mempelajari dan menghayati makna Kebangkitan Kristus dalam hidup Kristiani. Artinya, pengakuan iman kepada Yesus Kristus yang bangkit, bukan didasarkan atas ide-ide, prinsip-prinsip, program-program, norma-norma moralitas, struktur masyarakat, ataupun pandangan filsafat dan teologis tertentu. Sebaliknya, iman Kristiani tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus berdasarkan Yesus yang hidup dan berkarya di dalam dunia ini adalah Kristus yang wafat dan bangkit demi keselamatan kita secara pribadi dan keselamatan seluruh umat manusia. Tuhan kita Yesus Kristus adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. Dia adalah 100% manusia sekaligus 100% Allah. Maka, upaya merefleksikan kembali makna kebangkitan Kristus berarti kita perlu menggali kembali sumber-sumber iman, yaitu Ajaran Kitab Suci (khususnya kesaksian iman Gereja perdana), Tradisi Gereja, dan Magisterium Gereja dalam kaitannya dengan situasi jaman sekarang ini.

 

AJARAN KITAB SUCI

Dalam seluruh ajaran Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, diungkapkan bahwa janji keselamatan Allah kepada umat manusia terpenuhi dalam kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Sang Pemazmur mengungkapkan imannya dengan berkata bahwa “Allah telah menciptakan hari ini sebagai karya agung penciptaanNya yang meliputi keberadaan, kebaikan dan kemuliaan” (Mzm 118:24). Pada hari itu, “Allah menyelesaikan dan memelihara karya penciptaanNya” (Kej 2:2) dan “Dia meminta supaya manusia menguduskan hari Tuhan” (Kej 2:3; Kel 20:8-11). Kemudian, seperti “Kematian telah masuk ke dalam dunia karena ketidaktaatan manusia” (Keb 2:24; Rm 5:12.17.19), demikian pula “Allah memperbarui hari itu dengan kemenangan-Nya atas kematian” (Yes 25:8; 1Kor 15:54-55; Why 21:4). Dia “bukan Allah yang mati melainkan Allah yang hidup” (Mat 22:32). Jadi, hari Tuhan diciptakan oleh Allah, Pencipta dan Tuhan atas segala kehidupan.

Hari Tuhan merupakan hari di mana “Allah telah membuat Yesus Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36), Yesus ini adalah “hamba-Nya” (Kis 3:13). Dia adalah Yesus dari Nasaret. Dia adalah “hamba Yahwe” seperti yang dikatakan Nabi Yesaya (Yes 42:1; 49:3.6; 50:10; 52:13), karena di dalam Dia segala nubuat para nabi digenapi (Luk 24: 26-27; 1Kor 15: 3-4), khususnya seorang hamba yang “rendah hati, menderita dan wafat” (Kis 3:18). Tuhan kita Yesus Kristus telah “menanggung dan menebus dosa dan kejahatan kita” (Yes 53: 6). Namun, “pada hari ketiga Dia akan bangkit” (Yoh 2: 19-21). Dia mau mengajarkan kita bahwa manusia adalah “bait kehadiran Allah dan Roh Kudus tinggal di dalam kamu” (1Kor 3:16; 6:19). Hamba agung Yahwe ini memberikan tubuhnya “dihancurkan”, kemudian Dia “mengosongkan diri-Nya” sampai pada “kematian-Nya di atas salib” (Flp 2:7-9), sebab Dia percaya bahwa pada hari Tuhan, Allah Bapa dengan kuasa Roh-Nya akan memperbarui bait tubuh-Nya. Melalui jalan ini, Allah menyatakan kebenaran bahwa Kristus adalah “Tuhan atas segala yang hidup maupun yang mati” (Rm 14:9).

Setelah kebangkitan-Nya, Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid yang berkumpul di suatu tempat, karena mereka “takut kepada orang Yahudi dan mereka mengunci tempat itu” (Yoh 20:19). Pada waktu itu Yesus meyakinkan para murid bahwa Dia sungguh bangkit, Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku” (Luk 24:39). Namun pada saat itu, Tomas, salah seorang dari murid-murid-Nya tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Ketika para murid menyatakan bahwa Yesus Kristus yang bangkit telah menampakkan diri kepada mereka, Tomas tidak percaya, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Beberapa hari kemudian Yesus menampakkan diri kembali kepada para murid dan Tomas hadir bersama-sama dengan mereka. Kemudian Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh 20:27). Akhirnya Thomas pun mengakui imannya kepada Yesus yang bangkit dan berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!”. Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:28-29).

 

AJARAN MAGISTERIUM GEREJA

Berdasarkan ajaran Magisterium Gereja, khususnya Syahadat Para Rasul yang menyatakan, “Pada hari ketiga, Tuhan Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati”, maka kita perlu memahami kebenaran iman ini dengan baik. Dengan demikian kita dapat menghayatinya secara benar dan kita mampu merayakannya secara khidmat. Seperti kata Santo Agustinus, “Aku percaya untuk mengerti, dan aku mengerti untuk percaya lebih baik lagi”.

Misteri kebangkitan Kristus bukanlah suatu “ideologi”, “khayalan”, “kemungkinan” bahkan “isapan jempol” belaka, melainkan sebagai suatu peristiwa iman berdasarkan kesaksian Gereja Perdana yang dialami secara konkret (Katekismus Gereja Katolik, 639-644). Memang, adanya makam yang kosong tidak dapat dijadikan satu-satunya bukti kebangkitan Kristus, namun realitas tersebut merupakan langkah pertama menuju pengalaman “Yesus yang bangkit”. Penampakan Yesus yang bangkit dialami pertama-tama oleh Maria Magdala dan perempuan-perempuan yang saleh (Mat 28: 9-10; Mrk 16:1; Luk 24: 1.3.9-10.22-23; Yoh 20: 11-18), Petrus (Luk 24:12.34), Yohanes (Yoh 20: 2.5-8) dan kedua belas murid-Nya (1Kor 15:5), akhirnya kepada lebih dari 500 ratus orang (1Kor 15:4-8). Santo Paulus pun memberikan kesaksian kepada umat di Korintus sekitar tahun 56 M: “Yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1Kor 15: 3-4).

Pengalaman Gereja awali menunjukkan bahwa tubuh Yesus yang bangkit adalah sungguh-sungguh tubuh Yesus yang hidup, sengsara dan wafat di salib sekaligus tubuh tersebut memiliki sifat-sifat tubuh baru yang sudah dimuliakan (KGK, 645-646). Itulah sebabnya Yesus yang bangkit tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu, akan tetapi Dia dapat berada di manapun dan pada saat apapun sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, kebangkitan Yesus tidak sama dengan kebangkitan orang-orang mati pada umumnya yang kemudian mati kembali (Mrk 5: 22-24. 35-43; Yoh 11:1-44). Sebaliknya, tubuh Yesus yang bangkit adalah abadi, ilahi, dan surgawi (1Kor 15:35-50). Meskipun misteri kebangkitan Kristus adalah suatu peristiwa sejarah, namun sesungguhnya kebangkitan Kristus melampaui sejarah bahkan melampaui segala pengenalan manusia (KGK, 647). Misteri kebangkitan memang tidak dinyatakan kepada dunia, namun melalui pengalaman Yesus Kristus yang bangkit, para murid mewartakan-Nya kepada seluruh penjuru dunia (Mat 28: 16-20; Mrk 16: 15-20).

Kebangkitan Kristus bukanlah karya manusia ataupun rekayasa manusia, melainkan Karya Agung Allah Tritunggal yang Mahakudus (KGK, 648-650). Ketiga pribadi ilahi bekerja secara serentak, unik, dan melampaui segala pengertian manusia:Bapa “membangkitkan” Yesus Kristus, Putera TunggalNya (Kis 2:24). Putera “melaksanakan kebangkitan-Nya” berkat kekuasaan ilahinya (Mrk 8:31; 9:9-31; 10:34) dan Dia menerima “kemanusiaan dan keilahian” dalam Tritunggal Mahakudus. Roh Kudus memuliakan Yesus Kristus, Putera Allah yang wafat dan bangkit dari alam maut (Rm 1:3-4).

Dengan demikian, dasar, puncak dan intisari kebenaran iman Kristiani ialah misteri kebangkitan Kristus, yang bukan hanya suatu peristiwa sejarah, melainkan suatu misteri pewahyuan, penebusan dan karya keselamatan Allah dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus-Nya kepada manusia yang menanggapi-Nya dengan iman, pengharapan dan cinta kasih kepada Allah yang hidup (KGK, 651-653). Jadi, Rahasia Paska terdiri atas dua sisi, yaitu melalui kematian-Nya, Kristus membebaskan kita dari dosa; dan melalui kebangkitan-Nya, Kristus menganugerahkan kepada kita rahmat Allah supaya kita hidup sebagai anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kehidupan Allah (KGK , 654-655).

 

Konsekuensi “Kebangkitan” dalam Iman dan Hidup Rohani

Seperti Yesus yang telah wafat dan bangkit demi keselamatan kita, demikian juga kita telah “mengalami kasih Allah” yang melampaui segala sesuatu, dan kita semakin merindukan untuk “mengasihi Allah seperti Dia telah mengasihi kita” (1Yoh 4:10). Oleh sebab itu, kita mohon pengampunan dan belas kasihan dari Allah agar dengan bantuan rahmat-Nya kita dapat menghindari segala dosa dan kejahatan. Untuk itu kita perlu mendengarkan dan menghayati ajaran Yesus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat 16:24).

Itulah sebabnya, Santo Yohanes dari Salib mengatakan bahwa dalam keadaan itu seseorang akan mengalami “malam gelap” di mana dia akan mengosongkan diri dari segala keinginan tak teratur yang akan membawa kepada dosa dan kejahatan (Mendaki Gunung Karmel, Buku I, Bab 4, No. 1). Tidak hanya itu, dia akan mulai mengalami “permulaan doa kontemplasi” yang membawanya semakin dekat kepada Allah dan Allah mulai membebaskannya dari segala cacat cela dan ketidaksempurnaannya (Malam Gelap, Buku I, Bab 2-7). Jiwa tiada lagi menghendaki “barang-barang duniawi maupun rohani”, melainkan dia belajar semakin murni dan berkenan di hadapan Allah, “Jiwa melupakan segala sesuatu, dia memelihara batinnya, dan jiwa hanya mengarahkan hati kepada Allah dengan segenap kerinduannya dan cintanya dalam keheningan batin bersama dan di dalam Allah” (Malam Gelap, I, 10, 4).

Karena itu, orang tidak boleh berhenti apalagi mundur dalam perjalanan rohani menuju Allah ini, dia harus maju terus, jiwa harus semakin rela dibentuk oleh Allah dari saat ke saat, dan yang paling terpenting ialah jiwa semakin tabah dalam menyangkal diri, menanggung salib dengan penuh kesabaran demi cintanya kepada Allah. Apabila seseorang terus berkembang dalam iman, pengharapan, dan cinta kasih kepada Allah dan sesama, maka dia semakin mendalam hidup rohani. Pada tahap demikian, Allah akan semakin menarik jiwa masuk ke dalam diri-Nya. Artinya, jiwa akan semakin mengalami pemurnian dan penderitaan yang berat, seperti penganiayaan, fitnah, dan pencobaan-pencobaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Namun, bila jiwa semakin setia, taat, murni, dan dia senantiasa hidup berkenan di hadapan Allah, maka Allah akan menganugerahkan rahmat persatuan cinta kasih kepada-Nya (Malam Gelap, II, 7, 9-12 dan 16).

Apabila jiwa telah “mati atas segala egoisme dan dosa-dosanya” dan jiwa “menyerahkan diri seutuhnya” pada bimbingan dan kuasa Roh Kudus, maka Roh Kudus “membakar jiwa dan menyempurnakannya” agar jiwa semakin indah, berharga dan berkenan di hadapan Allah dan sesamanya. Pada saat itu, jiwa hanya menghendaki apa yang dikehendaki Allah, jiwa hanya mencintai apa yang dicintai Allah dan jiwa menjauhi apa yang tidak dikehendaki Allah. Jiwa semakin rindu agar dia bersatu “secara sempurna dengan Allah”, dia merindukan “memandang Allah dari muka ke muka” (1 Kor 13:12). Jiwa pun berkata seperti Santo Paulus, “Bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup dalam diriku” (Gal 2:20). Jiwa pun memadahkan, meluhurkan, mengagungkan pujian kepada Allah, “Oh api yang manis, Oh luka yang menyenangkan! Oh tangan yang lembut! Oh sentuhan yang lembut! Yang memberi rasa hidup kekal dan membayar setiap hutang! Dengan membunuhmu mengubah kematian ke dalam kehidupan! (Nyala Cinta yang Hidup, stanza II)

 

Penghayatan Praktis

Supaya kita dapat menghayati “makna kebangkitan Kristus” secara nyata dalam hidup sehari-hari, maka ada satu hal yang patut diperhatikan, dilatih terus menerus dan akhirnya menjadi suatu kebajikan yang indah bagi Allah dan sesama, yaitu kurban cinta kasih. Maksudnya ialah kita berusaha supaya “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor 10:31). Ini berarti, kita melakukan segala perbuatan baik demi cinta kepada Allah, untuk keselamatan kita dan jiwa-jiwa. Bila kita sadar akan kerapuhan kita, kita “mohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan kita”, dan kita mulai “mempersembahkan peristiwa ini kepada Tuhan Yesus” dengan hati yang rela dan hati yang penuh syukur dan dengan segenap cinta dan kerinduan, tanpa mengadili sesama kita. Betapa bahagia dan indahnya hidup ini jika kita setia dan bertekun dalam kurban cinta kasih, maka dari saat ke saat dan dari hari ke hari kita akan sampai pada persatuan cinta kasih dengan Allah.

 

Penutup

Untuk percaya dan mengalami kebangkitan Kristus memang tidak semudah membalikkan tangan. Sebab, kita perlu memahami secara benar bahwa “Yesus yang hidup di dalam dunia ini” adalah “Kristus yang wafat dan bangkit demi keselamatan kita”. Dia bukan “Allah yang mati, melainkan Allah yang hidup”. Kesaksian Gereja perdana meneguhkan kita bahwa “Yesus telah wafat di salib, Dia telah dimakamkan, dan Kristus bangkit pada hari yang ketiga”. Dengan demikian, seperti Kristus yang wafat dan bangkit, maka “kita pun harus mati dari dosa-dosa kita dan kita perlu memasuki hidup baru di dalam Kristus Yesus hingga kita mencapai persatuan cinta kasih dengan Allah”. Oleh sebab itu, langkah praktis mengalami dan menghayati kebangkitan-Nya melalui kesetiaan dan ketekunan dalam mempersembahkan “kurban cinta kasih”.

 

DAFTAR PUSTAKA

The Collected Works of Saint John of the Cross, trans. by Kieran Kavanaugh and Otilio Rodriguez, (Washington, D.C.: Institute of Carmelite Studies Publications, 1991).

Indrakusuma, Yohanes. Akhir Zaman sudah di Ambang Pintu (Cikanyere: Pertapaan Shanti Bhuana, 2004).

Katekismus Gereja Katolik, diterj. Herman Embuiru (Ende: KWI, 1998).

O’Collins, Gerald dan Edward G. Farrugia. Kamus Teologi, diterj. I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996).

Pedoman Praktis Carmelitae Sancti Eliae (Cikanyere: Pertapaan Shanti Bhuana, 1999).

Sutadi, Laurensius. Diktat Kristologi (Malang: STFT Widya Sasana, 2007).

Wojtyla, Carol (Beato Yohanes Paulus II). Sign of Contradiction (New York: The Seabury Press, 1979).