Print
Hits: 10316

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Pengantar

Dewasa ini, pemahaman tentang Gereja terasa “kabur”. Arti dan makna Gereja perlu di-dekonstruksi (baca: dibaca ulang). Solusinya, dengan menelusuri sumber iman Kristiani, yaitu Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium. Dalam tulisan ini penulis hanya membahas Kisah Terjadinya Gereja menurut Perjanjian Baru dan Bapa Gereja sub-apostolik. Maka, tulisan ini akan mengalir dalam jalan pikiran: arti etimologis dan pengertian, Hakekat Pewartaan Yesus, Apakah Yesus Mendirikan Gereja? Eklesiologi umat Kristen perdana, Eklesiologi dalam Periode sub-apostolik, dan Kesimpulan.

 

Arti Etimologis dan Pengertian

Kata bahasa Indonesia “gereja” berasal dari kata bahasa portugis igereja. Dalam bahasa Latin ecclesia berasal dari kata bahasa Yunani ekklèsia yang berarti “rapat rakyat” atau “perkumpulan rakyat”. Dalam konteksnya berarti “persekutuan orang beriman”. Alkitab Aleksandria (Septuaginta, LXX), menerjemahkan kata ecclesia dari kata Ibrani qahal YHWH, yang berarti “jemaat (umat) yang dipanggil oleh firman Allah supaya keluar dari antara bangsa-bangsa dan menjadi umat Allah sendiri (bdk. Bil 16:3).

Gereja adalah umat Allah yang berasal dari Kristus dalam Roh Kudus. Dinamisme ini berpusat dalam Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam Tubuh dan Darah Kristus. Jadi, Gereja sebagai ecclesia adalah kontinuitas perjanjian dalam sejarah penyelamatan Allah dan mencapai kepenuhannya dalam misteri salib dan kebangkitan Kristus.

 

Hakekat Pewartaan Yesus

Pesan Yesus bukanlah Gereja melainkan Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Kata “Kerajaan Allah” ditemukan 122 kali dalam Perjanjian Baru, 99 kali dalam Injil Sinoptik dan 90 kali dalam perkataan Yesus. Yesus mewartakan Kerajaan merujuk pada apa yang disebut Gereja. Seluruh aktivitas Yesus mau mengatakan dimensi eskatologis umat Allah. Melalui perumpamaan-Nya, Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah karya Allah, kedatangan-Nya, kekuasaan-Nya saat ini (bdk. Mrk 1:15). Seluruh karya-Nya untuk menyatukan umat Allah yang baru (Yoh 11:52; Mat 12:30) untuk memasuki relasi dengan Allah dalam Kristus melalui persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, yaitu misteri Ekaristi.

Ketika mengumpulkan para murid, Yesus memilih 12 orang sebagai “rasul” (Luk 6:12-16),  yang kelak akan disebut “Gereja” dan “Israel baru” (Luk 12:32; 22:30). Apakah para murid Yesus ini boleh disebut “Gereja”? Jawabannya ialah Ya dan Tidak. Ya, jika paham “gereja” diartikan sebagai “umat Allah”. Para murid dipersatukan dengan Allah dalam pribadi Yesus Kristus (bdk. Mat 18:20). Tidak, jika “gereja” diartikan sebagai orang beriman yang percaya kepada Yesus yang bangkit dari alam maut sebagai Tuhan dan Kristus oleh Allah Bapa (bdk. Kis 2:36).

Maka, untuk melihat hubungan “Ya” dan “Tidak”. Murid yang mengikuti-Nya sebelum wafat-Nya disebut “permulaan Gereja”, dan “Gereja” dalam arti sepenuhnya lahir setelah Kerajaan Allah terlaksana dalam Kristus yang bangkit. Dengan kebangkitan-Nya, Kristus memperoleh dalam kepenuhan dan mencurahkan Roh Kudus kepada mereka yang percaya. Dengan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentekosta lahirlah Gereja.

 

Apakah Yesus Mendirikan Gereja?

Jawabannya “Ya” dan “Tidak”. Tidak, selain Yesus tidak secara partikular mendirikan Gereja, para murid tidak mendapat instruksi langsung dari Yesus untuk mendirikan organisasi Gereja. Buktinya ialah sesudah Paskah para murid belum mendirikan “kelompok baru” dan masih setia terhadap hukum taurat dan kebiasaan Yahudi. Yesus hanya mewartakan Kerajaan Allah (Mat 3:2; Mrk 1:15), ditolak (Mat 23:37 dsj) dan wafat di kayu salib.

Ya, Gereja sekarang ini bertolak dari hidup dan karya Yesus yang berpuncak pada sengsara dan kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, banyak orang bertobat dan para murid menyadari makna kebangkitan Kristus bagi karya keselamatan Allah. Paham Gereja perdana dalam situasi eskatologis, yaitu Dia yang bangkit (bdk. 1 Kor 15:3). Ekklèsia Gereja perdana memandang “parousia”. Namun, ia masih bagian dari dunia ini dan tidak identik dengan basilea, Kerajaan Allah.

Maka, yang mendirikan Gereja ialah tindakan penyelamatan Allah dalam Yesus, Putra Allah yang bangkit melalui Roh Kudus. Roh Kudus yang memampukan Gereja melanjutkan karya Yesus dengan cara yang baru. Dengan demikian, Allah yang bangkit selalu hadir dalam Gereja-Nya melalui Roh-Nya. Di sini nampak kontinuitas dan diskontinuitas antara para murid pra-paskah dengan gereja perdana pasca paskah. Kontinuitas, karena melanjutkan karya Yesus (Yoh 14:26). Diskontinuitas, meneruskan secara baru siapa Yesus sebenarnya dan misi-Nya (Luk 9:45; Yoh 12:16) dalam kuasa Roh Kudus (Kis 2:4; Yoh 16:13).

 


Eklesiologi Umat Kristen Perdana

Santo Paulus menyebut Gereja sebagai “Tubuh Kristus”. Ide Santo Paulus tentang Tubuh Kristus ini berakar kuat dalam tradisi kitab suci. Formula Paulus tentang Tubuh Kristus terletak dalam Ekaristi (bdk. 1 Kor 10:16 dst) karena Kristus telah memberikan diri-Nya dan membawa kita kepada-Nya untuk menjadi satu tubuh. Maka, Ekaristi menjadi sumber dan pembaharuan hidup Gereja.

Selain itu, formula “Tubuh Kristus” didasarkan atas idea pernikahan, yaitu laki-laki dan perempuan bersatu menjadi satu daging (Kej 2:24). Satu daging dalam konsep Paulus menjadi ikatan persekutuan dengan Allah dan menjadi satu Roh dengan-Nya (bdk 1 Kor 6:17). Dalam sakramen (khususnya Ekaristi) relasi cinta manusia dengan Allah terwujud dalam Gereja sebagai Tubuh Kristus. Kristus dan Gereja adalah satu tubuh, suatu persatuan yang tak terpisahkan. Relasi dan karakter pneumatologis antara Tubuh Kristus dan persatuannya menjadi dasar akan pembaharuan dalam Gereja.

Visi Gereja dalam Kisah Para Rasul menitikberatkan peran Roh Kudus sebagai jiwa Gereja. Ia memberikan kehidupan dan menggerakkan tubuh Kristus (Yoh 6:63; 1 Ptr 3:18; 1 Kor 15:45). Melalui peristiwa pentekosta, lahirlah Gereja (Kis 2; 11:15). Maka, Gereja adalah komunitas yang dijiwai Roh Kudus. Roh Kudus datang dalam pembaptisan (Kis 2:38), tinggal dalam umat-Nya (1 Ptr 4:14), memenuhinya (Ef 5:18) dan memimpin mereka (Rm 8:14). Paulus mengatakan tentang kehadiran Roh Kudus dalam komunitas (1 Kor 3:16; 6:19; Rm 8:9-11; Gal 4:6; 2 Tim 1:14). Seorang menerima Roh Kudus karena ia menjadi bagian dalam hidup komunitas.

Peranan Roh Kudus dalam hidup Gereja dalam berbagai aktivitas, yaitu pembaptisan (1 Kor 12:13; Tit 3:5), pengudusan (1 Kor 6:11; 2 Tes 2:13; 1 Ptr 1:2), pertumbuhan kristiani (Gal 5:22-23), cinta kasih (Rm 5:5; 8:9; 1 Yoh 4:16; 1 Kor 13:13), kegembiraan (1 Tes 1:6), moralitas (1 Kor 6:9-20), melayani Allah (Rm 7:6), puji dan syukur kepada Allah (Yoh 4:23-24; Flp 3:3; 1 Ptr 2:5; 1 Kor 14:15), doa (Ef 6:18; Yud 20; Gal 4:6; Rm 8:26), pewartaan (1 Tes 1:5; 1 Ptr 1:11; Ef 6:17), kepemimpinan dan pelayanan (Kis 20:28; 1 Kor 12:4; 28), memimpin kepada kebenaran (2 Tim 1:14), bertahan dalam penderitaan (1 Ptr 4:14), menciptakan kesatuan (Ef 2:14-18; 21-22; 4:3-4; 1 Kor 12), dan kekuatan rohani (Ef 3:16; 8:11.23).

Paulus berbicara juga tentang karismata, yaitu karunia bebas dari Allah. Karismata ini membawa orang kepada Bapa dan Putera dalam Roh Kudus (1 Kor 12). Karunia rohani ini digunakan untuk kepentingan jemaat (1 Kor 12:7; 14), merupakan karunia terbesar (1 Kor 12:31), menyempurnakan keutamaan teologal (1 Kor 13:13) dan bukan karunia sementara (1 Kor 13:8-12). Karunia Roh Kudus berfungsi untuk menegaskan karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang diteruskan oleh para rasul. Karya Roh ini penting dan tetap demi kepentingan umat Allah dalam Kristus bahkan hingga saat ini.

Dalam pandangan Nico Syukur Dister, tulisan Yohanes lebih mementingkan hubungan pribadi dengan Yesus daripada hubungan umat dengan Kristus. Akan tetapi, Yohanes juga menekankan unsur-unsur pokok iman Kristiani, yaitu kesatuan umat (Yoh 17) dan cinta persaudaraan (Yoh 13:55) dalam iman kepada Yesus Kristus serta ungkapannya dalam ibadat. Dapat dimengerti perhatiannya lebih diarahkan kepada rohani dan surgawi (bdk. Kitab Wahyu) karena  tulisannya ditujukan kepada umat Kristiani yang sedang mengalami penganiayaan.

 

Eklesiologi dalam Periode Sub-apostolik (65-100 M)

Ada sedikit bukti tentang Gereja sesudah era Petrus dan Paulus dalam kurun waktu 65-100. Injil Markus melukiskan jemaah dalam komunitas kecil, yang terbuka dan mewartakan dimensi eskatologis dari kedatangan Yesus yang keduakalinya. Lukas dan Kisah Para Rasul menggambarkan bermacam-macam komunitas dan kontinuitas karya penyelamatan Allah sejak zaman Israel hingga peristiwa kebangkitan Yesus sehingga dikenal sebagai umat Allah. Tiga ciri dari komunitas ini, yaitu Allah sebagai Bapa, Yesus sebagai Tuhan dan Guru serta orang Kristen Yahudi. Gereja dalam Kolose dan Efesus sebagai Tubuh Kristus dengan Kristus sebagai kepalanya dan jemaat dipanggil ke dalam persekutuan tubuh mistik Kristus. Dalam tulisan Yohanes, komunitas berpusat atas pre-eksistensi Yesus dan persatuan dengan Allah dalam Kristus serta perhatian besar terhadap sakramen, pembaptisan dan ekaristi.

Gereja dalam periode sub-apostolik ditemukan dalam 1 Clement, surat-surat Pastoral, Didache, surat Ignatius dari Antiokia. Karakter gereja berupa kesatuan, mulai berkembang sekaligus timbul permasalahan serta mulai ditemukan struktur pelayanan. 1 Clement menggambarkan situasi Gereja Korintus. Surat-surat Pastoral memastikan umat Allah dilindungi dari ajaran sesat. Didache berisi aturan-aturan hidup jemaat. Ignatius Antiokia menanggapi serangan bidaah dengan ajaran tentang uskup, para imam dan diakon. Dalam dekade pertama abad kedua gereja mengalami transisi dari vis-à-vis Yudaisme ke era kekaisaran Romawi. Gereja menjadi “seragam”, “seimbang” dan “otonom”. Perubahan ini berhubungan dengan tiga generasi pertama, yaitu tradisi Yahudi (Antiokia dan Yerusalem pada tahun 48-50), hancurnya bait Allah (terdapat dalam Injil Sinoptik) dan gereja mulai otonom (tulisan Yohanes).

 

Kesimpulan

Gereja dalam arti sepenuhnya adalah kontinuitas perjanjian dalam sejarah penyelamatan Allah yang mencapai kepenuhannya dalam misteri salib dan kebangkitan Yesus Kristus. Peristiwa pentekosta merupakan titik awal lahirnya Gereja. Meski dalam perjalanan sejarahnya, konsepsi Gereja sebagai ecclesia seakan “berubah”. Paulus menyebut Gereja sebagai Tubuh Kristus. Peran Roh Kudus sangat sentral dalam Gereja perdana. Tulisan Yohanes Rasul sangat menekankan kesatuan umat dan cinta persaudaraan dalam iman kepada Kristus yang diekspresikan dalam ibadat. Dalam periode sub-apostolik, Gereja semakin berkembang, bertambah banyak sekaligus timbul masalah dalam kesatuan seluruh Gereja. Untuk mengatasi permasalahan ini, para rasul khususnya Paulus dan para Bapa Gereja pada zaman itu memberikan kepastian dalam menanggapi perubahan zaman dan serangan bidaah. Maka, Gereja dalam perjalanan sejarah selalu mengalami tantangan, tekanan, dan serangan bidaah. Tetapi, Allah senantiasa menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman (bdk. Mat 28:20; Kis 1:8).


Serafim Maria CSE

Penulis tetap di situs carmelia.net