Misa di Kapel Paulus dan Pertemuan Dengan Delegasi Bavaria

Suatu Perayaan Keluarga

 

Pada hari Jumat tanggal 13 April Paus Benediktus XVI kembali ke Vatikan setelah berlibur selama satu pekan di Castel Gandolfo (istana liburan musim panas para Paus). Ia kembali 48 jam lebih cepat dari yang dijadwalkan sehingga ia dapat menyambut kedatangan kakaknya yaitu Mgr. Georg Ratzinger. Mereka berdua kemudian menghabiskan beberapa hari untuk merayakan beberapa perayaan, yaitu hari ulang tahun ke-85 sang Uskup Roma pada hari senin tanggal 16 April; hari ulang tahun ke-7 terpilihnya Benediktus XVI sebagai Pengganti Petrus pada hari kamis tanggal 19 April; dan pelantikan (inagurasi) beliau sebagai Paus pada hari selasa tanggal 24 April. Pada hari senin tanggal 16 April, Bapa Suci mengawali hari tersebut dengan merayakan Misa di Kapel Paulus; ia berkonselebrasi dengan rekan-rekan dekatnya, termasuk Kardinal Bertone (sekretaris negara Vatikan) dan Kardinal Sodano (Dekan Dewan Kardinal). Pesta ini sungguh merupakan perayaan “ala Bavaria” ketika Paus Benediktus XVI menerima ucapan selamat dari sejumlah pejabat sipil dan religius beserta umat beriman yang datang dari kampung halamannya.

Tanpa banyak basa-basi, sesuatu yang khas Jerman, dan juga dalam bahasa Jerman, Paus memberikan homili yang mengesan. Ia memulai homilinya dengan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada dua orang kudus - S. Bernadette Soubirous dan S. Benediktus Joseph Labre - yang peringatan liturgisnya dirayakan oleh Gereja pada tanggal 16 April. Paus Benediktus XVI yakin bahwa Santa Bernadette Soubirous adalah tanda yang menunjukkan kita kepada air hidup di mana setiap orang Kristen dapat memurnikan dirinya sendiri. Sementara Santo Benediktus Joseph Labre, yang melakukan perjalanan ke berbagai tempat ziarah di Eropa, telah menunjukkan hal yang mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa Allah saja cukup untuk menghancurkan batas-batas penghalang rasa persaudaraan di antara manusia.

Kemudian, Paus Benediktus XVI merenungkan sejumlah kenangan pribadinya: ia mulai dengan berbicara mengenai kedua orang tuanya serta siapa saja yang telah menyertai perjalanan hidupnya dan memampukan dia untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia mengatakan bahwa suatu “kebetulan unik” akan hari pembaptisannya yang bertepatan dengan hari Sabtu Suci, telah menunjukkan kepada dirinya bahwa ada kaitan mendalam antara kelahiran dan kelahiran kembali (baca: Hidup Baru dalam Kristus). Hal ini adalah suatu realitas yang jauh lebih kuat daripada segala macam ancaman dan kesulitan, yang oleh Paus tengah ia alami secara hebat justru di masa-masa akhir hidupnya ini. Paus Benediktus XVI juga mengungkapkan bahwa ia sungguh menyadari bahwa kebaikan Allah mengatasi segala kejahatan dan membantu kita untuk berjalan dengan aman dalam perjalanan kehidupan kita.

Kemudian Paus berterima kasih kepada delegasi dari Bavaria yang ia terima di Aula Klemens. Pertama-tama ia berterima kasih kepada Presiden Menteri Seehofer atas sambutannya yang telah membuat Paus Benediktus XVI mengenang kembali tanah tempat ia tumbuh besar; Benediktus juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kardinal Reinhard Marx atas gagasan-gagasan yang diilhami oleh sambutannya yang menyinggung keindahan iman Gereja yang oleh Paus selalu dirasakan dan nampak dalam bentuknya yang konkret berkat kehadiran begitu banyak Uskup di sekelilingnya.

Selain itu, Paus juga merasakan ikatan persahabatan yang hidup dengan para perwakilan dari denominasi Kristen lainnya dan juga dengan komunitas Yahudi. Akhirnya, suatu suasana yang sangat pribadi dan akrab muncul dengan mendengarkan musik daerah Bavaria. Nada-nada yang dimainkan sangat dikenal oleh Paus Benediktus XVI dan juga ayahnya, yang dulu juga memainkan melodi yang sama “Tuhan menyapa Engkau”. Musik ini telah menemani Paus pada masa kanak-kanaknya dan juga sekarang ini, musik ini juga akan menjadi bagian dari masa depannya. (Tulisan ini diterjemahkan oleh Sdr. Daniel Pane dari ©L'Osservatore Romano - 18 April 2012).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting