Print
Hits: 8365
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Paus Fransiskus yang memimpin Misa di Basilika St. Petrus pada hari Minggu Pentakosta mengatakan bahwa dunia memerlukan orang-orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus.

Di bawah ini adalah terjemahan dari homili Bapa Paus hari Minggu Pentakosta kemarin.

“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu… Terimalah Roh Kudus” (Yoh 20:21-22). Karunia Roh Kudus pada sore hari Kebangkitan terjadi lagi pada hari Pentakosta, kali ini diperkuat dengan tanda-tanda jasmaniah yang luar biasa. Pada sore hari Paskah, Yesus menampakkan diri pada para Rasul dan menghembusi mereka dengan Roh-Nya (bdk. Yoh 20:22); pada pagi hari Pentakosta, pencurahan pun terjadi dengan cara yang gemilang, seperti angin yang mengguncangkan tempat di mana mereka berada, mengisi pikiran dan hati mereka. Mereka menerima kekuatan baru yang luar biasa sehingga mereka mampu memberitakan kebangkitan Kristus dalam bahasa-bahasa lain, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka yang mengatakannya” (Kis 2:4). Bersama dengan mereka ada pula Bunda Maria, Bunda Yesus dan para rasul, serta Bunda Gereja yang baru lahir. Dengan damai dan senyumnya, ia menyertai Sang Mempelai yang berbahagia, Gereja Yesus.

Firman Allah, terutama dalam bacaan hari ini, mengungkapkan pada kita bahwa Roh Kudus bekerja dalam tiap-tiap pribadi dan masyarakat, memenuhi kita dengan Roh Kudus: Ia memimpin kita kepada seluruh kebenaran (bdk. Yoh 16:13), Ia membaharui muka bumi (Mzm 104:30), dan memberi kita buah-buah-Nya (bdk. Gal 5:22-23).

Dalam Injil, Yesus menjanjikan pada para rasulnya bahwa, ketika Ia sudah kembali pada Bapa, Roh Kudus akan datang untuk menuntun mereka kepada seluruh kebenaran (bdk. Yoh 16:13). Memang Ia menyebut Roh Kudus sebagai “Roh Kebenaran”, dan menjelaskan pada para rasul-Nya bahwa Roh Kudus akan membawa mereka untuk memahami dengan lebih jelas apa yang Ia, Sang Mesias, telah katakan dan perbuat, terutama sehubungan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Kepada para Rasul, yang tidak bisa menanggung skandal penderitaan Guru mereka, Roh Kudus memberikan pengertian yang baru tentang kebenaran dan keindahan peristiwa penyelamatan tersebut. Pada awalnya, mereka tak mampu berbuat apa-apa karena ketakutan, mengunci diri mereka dalam Ruang Atas untuk menghindari akibat dari kejadian saat Jumat Agung. Sekarang mereka tidak lagi malu menjadi pengikut Kristus; mereka tidak lagi gemetar menghadapi pengadilan manusia. ketika dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka mengerti “seluruh kebenaran”: bahwa kematian Yesus bukanlah kekalahan-Nya, melainkan merupakan penyataan terbesar dari kasih Allah, kasih yang, dalam Kebangkitan, mengalahkan kematian dan meninggikan Yesus sebagai Ia Yang Hidup, Tuhan, Penyelamat umat manusia, dalam sejarah dan dalam dunia. Kebenaran ini, di mana para Rasul menjadi saksinya, menjadi Kabar Baik, yang harus diwartakan kepada semua orang.


Karunia Roh Kudus memperbaharui dunia. Pemazmur mengatakan, “Apabila Engkau mengirim roh-Mu… dan Engkau membaharui muka bumi” (Mzm 104:30). Kejadian seputar kelahiran Gereja dalam Kisah Para Rasul secara signifikan terkait dengan Mazmur ini, yang merupakan sebuah lagu pujian yang indah pada Allah Pencipta. Roh Kudus yang diutus oleh Kristus dari Bapa, dan Roh Pencipta yang memberikan kehidupan kepada semua hal, adalah Roh yang satu dan sama. Rasa hormat terhadap ciptaan, dengan demikian, adalah sebuah syarat bagi iman kita: “taman” di mana kita hidup tidaklah dipercayakan kepada kita untuk dieksploitasi, tetapi untuk dipelihara dan dirawat dengan penuh hormat (bdk. Kej 2:15). Namun, hal ini hanyalah mungkin apabila Adam – manusia yang diciptakan dari tanah – membiarkan dirinya pada gilirannya diperbaharui oleh Roh Kudus, hanya bila ia membiarkan dirinya dibentuk kembali oleh Bapa serupa dengan Kristus, sebagai Adam Baru. Dengan cara ini, diperbaharui oleh Roh Allah, kita akan mampu untuk mengalami kebebasan anak-anak Allah, dalam suatu harmoni dengan seluruh ciptaan. Dalam setiap ciptaan, kita akan mampu melihat kemuliaan Allah tercermin di dalamnya, seperti yang diungkapkan dalam suatu nas Mazmur yang lain, “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mzm 8:2.10)

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Santo Paulus ingin menunjukkan “buah-buah” yang terwujud dalam kehidupan mereka yang hidup oleh Roh (bdk. Gal 5:22). Di satu sisi, ia memaparkan “daging”, dengan daftar cacat cela yang menyertainya: pekerjaan mereka yang egois tertutup pada Allah. Di sisi lain, adalah mereka yang dengan iman membiarkan Roh Allah masuk dalam kehidupan mereka. Di dalam diri mereka, karunia-karunia Allah berkembang, yang diringkas menjadi sembilan kebajikan yang menyenangkan, yang oleh Paulus disebut “buah-buah Roh”. Demikianlah ia menyerukan, di awal dan akhir perikop ini, sebagai sebuah program kehidupan, “Hidup oleh Roh” (Gal 5:16.25).

Dunia membutuhkan orang-orang yang tidak menutup diri, tetapi dipenuhi oleh Roh Kudus. Menutup diri dari Roh Kudus tidak hanya berarti kurangnya kebebasan; hal ini merupakan suatu dosa. Ada banyak cara seseorang menutup diri terhadap Roh Kudus: dengan keegoisan demi kepentingan diri sendiri, dengan legalisme yang kaku – yang dapat dilihat dalam tingkah laku ahli-ahli Taurat yang disebut “munafik” oleh Yesus; dengan tidak mempedulikan ajaran Yesus; dengan menghayati kehidupan Kristiani mereka bukan sebagai pelayanan terhadap sesama tetapi untuk mengejar keuntungan pribadi; dan banyak cara lain. Dunia membutuhkan keberanian, harapan, iman, dan ketekunan para pengikut Kristus. Dunia membutuhkan buah-buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Karunia-karunia Roh Kudus telah diberikan kepada Gereja dan pada setiap dari kita, supaya kita dapat menghayati iman yang asli dan tindakan amal yang aktif, supaya kita menabur benih-benih pengampunan dan perdamaian. Dikuatkan oleh Roh Kudus dan karunia-karunianya, semoga kita bisa memerangi dosa dan kejahatan, mengabdikan diri dengan ketekunan dan kesabaran demi keadilan dan perdamaian.