Tanya Jawab Iman

Apa Itu Dosa?

  1. Dimensi Teologal-Kristologis

Dimensi ini menunjukkan bahwa sasaran subyek yang terkena akibat dosa kita adalah Allah sendiri yang hadir dalam Putera-Nya, Yesus Kristus. Orang Kristen yang sejati adalah orang yang memusatkan hidupnya hanya kepada Yesus atau menjadikan Yesus Kristus sebagai pusat hidupnya. Oleh karena itu segala perbuatan, pikiran dan kehendak kita haruslah sesuai dengan perbuatan, pikiran dan kehendak Kristus yang dapat kita ketahui secara jelas dalam Kitab Suci. Dengan berbuat dosa berarti manusia menolak Kristus, melakukan perlawanan terhadap Kristus dan tidak menghargai Allah dan hidup-Nya dalam Kristus. Walaupun Allah adalah Mahakudus dan tidak pernah dapat menjadi hina, tetapi manusia telah menghinanya karena perbuatan dosa itu. Siapakah kita ini sampai melakukan perbuatan seperti itu?

  1. Dimensi Sosial-Ekiesial

Setiap perbuatan manusia memiliki dimensi sosial yang artinya dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sosialnya, demikian pula suatu perbuatan dosa. Misalnya satu dosa melanggar cinta kasih kepada sesama bisa menghambat perkembangan pribadi orang lain, suasana dalam lingkungan menjadi tidak enak dan sebagainya. Kita sudah mengetahui bahwa Yesus Kristus dan Roh-Nya hadir dalam diri setiap orang, khususnya orang Kristen. Sehingga kalau dosa adalah menolak Kristus berarti dia juga menolak semua orang yang lain. Dengan kata lain, dosa kepada Allah juga melukai sesama kita. Seperti dikatakan dalam pengakuan anak yang hilang dalam Luk. 15:18, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku, dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Jadi bila seseorang berbuat dosa, dia juga melukai Gereja. Ingatlah bahwa Gereja adalah kumpulan umat Allah, bukan bangunan gereja itu. Melukai Gereja berarti melukai demikian banyak sesama, baik yang sudah kita kenal maupun yang belum kita kenal, baik yang kita benci maupun yang kita kasihi. Kalau dia belum bertobat dan mengakukan dosanya, dia hadir dalam perayaan di gereja secara fisik saja, tidak dengan hati yang tulus (bdk. LG. 14). Tentunya kita dapat menduga, kalau begitu apakah kehadirannya dalam perayaan gerejani itu ada manfaatnya kalau dia belum bertobat dan mengaku dosa?

  1. Dimensi Pribadi dan Antarpribadi

Disebut berdimensi pribadi karena dosa bersumber pada pribadi itu sendiri dan yang terkena akibatnya adalah pribadi itu juga dan pribadi orang-orang lain. Dosa merupakan perbuatan yang didasari egoisme manusia. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk religius yang berarti manusia memiliki kodrat selalu terarah kepada Allah. Dengan melakukan dosa atau melakukan perbuatan berdasarkan egoismenya dia memalingkan diri dari Tuhan, tidak menghargai hakekatnya atau kodratnya sebagai makhluk religius. Dia juga mengingkari diri terhadap sesamanya atau mengingkari dirinya sebagai mahiuk sosial, menutup diri terhadap dunia sekitarnya. Yang ada dalam pikiran hanyalah dirinya sendiri, bagaimana dia dapat menyenangkan atau memuaskan din sendiri, kepentingannya sendiri. Kalau dia melakukan dosa ini terus menerus, maka akhirnya dia akan sampai kepada keadaan yang sungguh-sungguh hanya berpusat kepada dirinya sendiri. Orang yang seperti ini dapat dikatakan orang yang menolak untuk mewujudkan jati dirinya di tengah masyarakat. Mengapa dia dikatakan menolak mewujudkan dirinya sendiri? Kodrat religius dan sosial manusia mengharuskan dia mengembangkan diri dalam hubungan dengan Allah dan sesama. Perkembangan hubungan ini dari hari ke hari makin mewujudkan jati dirinya sebagai manusia yang sejati sesuai dengan martabatnya yang tertinggi. Biasanya orang yang terus-menerus mengembangkan dirinya akan merasa damai dalam hidupnya. Bahagiá karena hubungan yang beres dengan Allah dan sesama. Jadi kalau seorang manusia tidak mau bertobat dan segala dosanya dan terus berkubang dalam dosa, berarti dia menolak untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai manusia yang utuh dalam martabatnya yang tertinggi. Memang kita harus mengakui, terkadang manusia berbuat dosa karena dipengaruhi lingkungan atau hal yang lain. Tetapi kita juga tidak bisa membebankan kesalahan pada lingkungan atau hal lain yang berpengaruh itu. Karena bagaimanapun manusia harus mempertanggung jawabkan secara pribadi perbuatannya. Walaupun dia tergoda untuk melakukan suatu dosa, kalau dia teguh dalam iman dan kasih serta harapan kepada Allah, dia akan terhindar dari dosa itu.