Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Menjelang hari raya Natal biasanya banyak dibangun gua-gua Natal. Menurut Paus Benediktus XVI gua-gua Natal ini adalah alat yang sederhana dan efektif untuk mengajarkan pesan-pesan Natal bagi kita semua, teristimewa bagi kita yang sederhana dan bagi anak-anak kecil. Banyak di antara kita senang memandang gua-gua itu dan berdoa di depannya. Gua-gua itu seolah-olah membawa kita kembali ke suasana malam Natal pertama dan meneruskan kedamaian malam Natal pertama itu kepada kita. Dalam artikel ini kita akan melihat sekilas mengenai sang inspirator gua Natal dan pesan-pesan yang dapat kita timba dari kehidupannya.

 

FRANSISKUS: INSPIRATOR GUA NATAL

Tradisi membuat gua Natal bukanlah suatu tradisi yang berasal dari Gereja perdana, dengan kata lain kebiasaan ini baru muncul pada masa yang kemudian. Menurut Santo Bonaventura kebiasaan ini dimulai oleh Santo Fransiskus dari Assisi. Peristiwa ini terjadi pada malam Natal tahun 1223 di pinggiran kota Grecio. Ketika itu, Fransiskus terpaksa memindahkan Misa Malam Natal di pertapaannya ke sebuah gua, karena kapel pertapaannya tidak mampu menampung banyaknya umat yang hadir. Di gua itu Fransiskus mendirikan sebuah Altar, mempersiapkan sebuah palungan, jerami dan seekor lembu serta keledai jantan. Dalam Misa Agung malam Natal itu, Fransiskus mengenakan pakaian Diakon, mengudungkan Injil dan berkhotbah. Ketika ia berkhotbah, ia menggendong patung bayi Yesus dan kemudian terjadilah suatu mukjizat, yaitu patung itu bersinar-sinar dan tampak hidup. Peristiwa Malam Natal ini merupakan awal dari kebiasaan membuat gua-gua Natal yang kita kenal sampai saat ini.

Siapakah Fransiskus ini? Ia adalah seorang putera pedagang kain di kota Assisi. Ia lahir di Umbria, Italia tengah pada tahun 1182. Ayahnya bernama Pietro Bernardone sementara ibunya bernama Pica seorang keturunan bangsawan Piccardia dari Perancis. Ketika ia lahir, Fransiskus dibaptis dan diberi nama Giovanni (Yohanes), namun ayahnya tidak menyukai nama itu, dan menghendaki agar anak itu dipanggil dengan nama Francesco sebagai kenangan akan ibunya yang berasal dari Perancis. Pada masa sebelum pertobatannya Fransiskus adalah seorang petualang muda yang gemar berfoya-foya. Pada usia 20 tahun ia terlibat dalam perang saudara antara kota Assisi melawan Perugia. Dalam pertempuran ini ia tertangkap dan dipenjarakan selama 1 tahun. Sepulang dari penjara ia jatuh sakit dan mulai mengalami perubahan dalam hidupnya.

Suatu waktu ia tengah berdoa di gereja San Damiano yang terletak di luar kota Assisi. Ketika ia sedang berdoa terdengarlah suara dari Salib,: “Fransiskus, perbaikilah rumahku yang hampir rubuh ini!” Mulanya Fransiskus mengartikan sabda ini sebagai permintaan untuk memperbaiki gedung gereja yang hampir rubuh. Tanpa pikir panjang Fransiskus mengambil sejumlah barang dagangan ayahnya dan menjualnya, kemudian uangnya ia serahkan kepada pastor paroki San Damiano. Tuan Pietro Bernardone marah besar mendengar ulah Fransiskus ini, ia bahkan menuntut Fransiskus mengembalikan semua barang dagangannya. Karena kekesalannya, tuan Pietro pun mendakwa Fransiskus di depan Bapa Uskup dan meminta agar Uskup memaksa Fransiskus mengembalikan semua barang dagangannya. Namun, Fransiskus dengan tenang malah melucuti semua pakaiannya dan mengatakan bahwa semua pakaiannya yang melekat di badan adalah milik ayahnya dan jika sang ayah meminta pakaian itu dikembalikan maka ia bersedia mengembalikannya. Tuan Pietro yang marah besar menolak mengakui Fransiskus sebagai anak, dan Fransiskus dengan tenang berkata bahwa sejak saat itu hanya Allah sajalah yang menjadi Bapanya.

Sejak saat itu hidup Fransiskus berubah total. Ia yang tadinya gemar hidup berfoya-foya dan hanya memuaskan keinginannya sendiri kini hidup secara miskin sehingga ia disebut sebagai Poverello (lelaki miskin). Hidupnya sehari-hari kini dihabiskan untuk berdoa, menolong sesama, mengarahkan orang kepada pertobatan, dan mengemis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Secara perlahan-lahan cara hidup Fransiskus ini mulai menarik beberapa orang. Lama-kelamaan jumlah mereka yang berkumpul di sekitar Fransiskus ini semakin banyak jumlahnya. Mereka ini kemudian dikenal dengan sebutan Ordo Saudara-saudara Dina. Kaum wanita pun tak ketinggalan ingin mengikuti cara hidup Fransiskus ini. Klara, seorang gadis dari Assisi mulai merintis kelompok wanita yang hendak menghayati cara hidup Fransiskus.

Cara hidup Fransiskus ini kemudian perlahan-lahan mulai diakui oleh Gereja. Paus Innosensius III (1198-1216) merestui cara hidup Fransiskus setelah ia bermimpi tentang seorang pengemis yang menopang gedung Basilika Penyelamat Mahakudus (Yohanes Lateran) yang hampir roboh. Kemudian pada tahun 1222 Paus Honorius III memberikan pengakuan resmi kepada komunitas religius Fransiskan beserta aturan hidupnya.

Dalam kehidupannya Fransiskus adalah seorang yang sangat menekankan kesederhanaan dan kemiskinan hidup. Selain itu ia juga sangat menekankan semangat cinta persaudaraan dan berusaha hidup damai dengan alam dengan sesama. Fransiskus sungguh-sungguh menghayati bahwa Kristus adalah Raja Damai (Yes. 9:5) dan bahwa kehadiran-Nya membawa damai bagi seluruh dunia (Luk. 2:14). Fransiskus adalah pribadi yang sungguh-sungguh berusaha menghayati pesan penulis surat kepada orang Ibrani yang mengajarkan supaya kita berusaha hidup damai dengan semua orang dan berusaha mengejar kekudusan (Ibr. 12:14).

Berdasarkan semangat itulah ia mencoba menghayati hubungan persaudaraan, bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan seluruh alam. Matahari disapanya sebagai saudara dan bulan diakuinya sebagai saudari, bahkan kematian pun disebutnya sebagai “saudari maut.” Sikap hidupnya ini menunjukkan bahwa Fransiskus adalah seorang pecinta dan sahabat alam. Ia adalah sosok manusia yang mampu hidup damai atau hidup selaras dengan alam ciptaan.

Dalam hubungannya dengan sesama manusia, ia juga berusaha membawa damai bagi semua orang. Dari sekian banyak peristiwa hidupnya, salah satu peristiwa yang paling menonjol adalah pertemuannya dengan Sultan al-Kamil dari Mesir. Pertemuan keduanya yang berlangsung dalam suasana damai merupakan pertemuan yang sungguh istimewa, karena pada saat itu sang Sultan sedang berperang melawan orang-orang Kristen dari Eropa. Memang benar bahwa tujuan Fransiskus menemui Sultan pertama-tama adalah untuk memperkenalkan Kristus, sang Raja Damai, kepada sang Sultan. Mula-mulanya Sultan agak sinis dengan tawaran ini karena justru orang-orang Kristen itulah yang telah merusak kedamaian di kerajaannya. Namun, Fransiskus dapat menjelaskan dengan baik bahwa damai yang hendak ia bawa bukanlah damai yang berasal dari dunia ini, damai ini bukan sekedar keadaan tanpa perang, melainkan suatu ketenangan dalam batin yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri. Singkat cerita, meskipun sang Sultan tetap enggan masuk agama Kristen, namun ia meminta agar Fransiskus berdoa supaya pada saat menjelang kematiannya Tuhan berkenan menunjukkan agama yang benar kepadanya. Pertemuan ini sungguh merupakan peristiwa yang bersejarah, sehingga Fransiskus dianggap sebagai salah satu tokoh perintis dialog perdamaian dan toleransi khususnya yang berkaitan dengan hubungan antar umat beragama. Kenangan akan Fransiskus sebagai seorang pembawa damai tercermin kuat dari munculnya doa “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai” (Puji Syukur no. 221) yang berasal dari masa-masa akhir Perang Dunia I namun di-atributkan kepada Santo Fransiskus.

Meskipun banyak melakukan karya besar, namun Fransiskus adalah seorang yang sungguh sederhana. Ia tidak pernah belajar Kitab Suci atau teologi. Ia juga tidak mau ditahbiskan menjadi imam. Seluruh karyanya mengalir dari hubungannya yang intim dengan Tuhan. Karena kedekatannya yang istimewa ini maka Tuhan pun berkenan memberi Fransiskus suatu kesempatan istimewa untuk ambil bagian dalam sengsara-Nya. Anugerah ini dinyatakan dalam bentuk pemberian luka-luka salib Kristus pada tubuh Fransiskus. Luka-luka ini kerap kita sebut dengan istilah stigmata. Luka-luka ini mulai muncul ketika Fransiskus sedang berdoa di bukit La Verna. Saat itu ia sudah berusia 43 tahun. Sejak peristiwa itu, luka-luka ini menjadi sumber rasa sakit dan kelemahan bagi tubuhnya. Fransiskus meninggal pada tanggal 3 Oktober 1266 pada usia 44 tahun. Dua tahun setelah wafatnya, Fransiskus dinyatakan sebagai orang kudus. Fransiskus diperingati setiap tanggal 4 Oktober.

 

KRISTUS DAMAI KITA

Di atas kita sudah melihat bahwa salah satu warisan terbesar Fransiskus bagi kita adalah kecintaannya akan perdamaian. Bagi Fransiskus kedamaian bukan sekedar keadaan tanpa konflik atau tanpa masalah. Kedamaian bukanlah suatu keadaan tenang karena kita saling cuek dan tidak perduli satu sama lain. Damai juga tidak sama dengan sikap menghindar ‘”daripada ribut lebih baik diam saja” yang kerap dianut oleh banyak orang dewasa ini. Bagi Fransiskus damai adalah suatu ketenangan batin yang lebih mendalam, dan ketenangan ini hanya bisa diperoleh kalau orang memutuskan untuk menaati kehendak Allah. Damai semacam ini tidak tergantung pada keadaan di luar diri kita, tetapi tetap dapat dialami walaupun kita sedang berhadapan dengan banyak masalah atau kesulitan.

Sesungguhnya kedamaian macam inilah yang dialami oleh tokoh-tokoh yang hadir dalam gua-gua Natal kita. Dari sudut pandang manusiawi, tokoh-tokoh yang muncul dalam gua-gua Natal kita adalah pribadi-pribadi yang penuh masalah. Maria dan Yosef adalah sepasang suami istri yang sedang khawatir akan nasib Putera mereka yang harus lahir di kandang kotor dan bau, sementara para gembala adalah masyarakat kelas bawah yang hidupnya serba tidak terjamin. Walaupun begitu, malam Natal menjelma menjadi malam yang sungguh damai bagi mereka, karena mereka membuka hati bagi kehadiran Kristus sang Raja Damai.

Pada tahun 1986 Paus Yohanes Paulus II mengundang para pemimpin berbagai agama besar di dunia untuk bersama-sama berdoa memohon perdamaian di lapangan Basilika Santo Fransiskus di Assisi. Dalam kesempatan ini Paus Yohanes Paulus II menyampaikan pesannya, yang mencerminkan pandangan Fransiskus akan Kristus sang Damai kita:

“Dalam kesempatan ini saya menyatakan kembali keyakinan saya, yang juga diyakini oleh semua orang Kristen, bahwa damai sejati hanya dapat ditemukan dalam Yesus Kristus, Juru Selamat semua orang, Dialah ‘damai bagi mereka yang jauh dan dekat’. Kelahiran-Nya disambut oleh madah para malaikat: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’ Dia mewartakan cinta kasih kepada semua orang, bahkan kepada musuh-musuh-Nya, dan Ia menyatakan berbahagialah mereka yang membawa damai dan melalui wafat dan kebangkitan-Nya Ia mendamaikan surga dan bumi. Dalam istilah Rasul Santo Paulus: ‘Dialah damai kita.’…. Dengan rendah hati saya kembali mengulangi keyakinan saya: Damai membawa nama Yesus Kristus.”

Pandangan Yohanes Paulus II ini dulu telah diungkapkan oleh Fransiskus kepada Sultan al-Kamil dari Mesir. Pada zaman kita ini, Yohanes Paulus II mengulangi pandangan itu kepada para pemimpin agama besar dunia, dan kepada siapa saja yang merindukan perdamaian. Damai tidak dapat dihasilkan semata-mata dari usaha manusiawi tetapi harus diberikan dari Allah (Yoh 14:27).

 

APAKAH KITA MEMBAWA DAMAI?

Ketika Yohanes Paulus II bertemu dengan para pemimpin agama besar dunia di Assisi, ia terpaksa membuat pengakuan bahwa seringkali orang Katolik tidak setia kepada imannya. Orang-orang Katolik seringkali tampil menjadi pembuat keributan dan bukannya pembawa kedamaian. Hal ini perlu menjadi bahan refleksi kita. Apakah kita mengalami damai dalam hidup kita sendiri? Doa “Tuhan jadikanlah aku pembawa damai” memberikan suatu pedoman sederhana, yaitu untuk lebih ingin memberi daripada menerima, lebih ingin mencintai daripada dicintai. Hati kita akan selalu gelisah, tidak pernah tenang, dan tidak akan pernah puas kalau kita selalu ingin diberi, dicintai, dan dipahami atau diperhatikan. Sikap yang sangat terarah kepada diri sendiri semacam ini hanya akan menjauhkan kita dari kedamaian dalam diri dan membuat kita mencari-cari perhatian berlebihan dengan cara-cara yang dapat menjengkelkan orang lain. Sebaliknya kalau kita mau lebih banyak memberikan diri kita untuk orang lain kita akan menemukan suatu kegembiraan dan kedamaian dalam hati kita, dan pada gilirannya kedamaian dalam batin kita ini akan membuat kita mudah hidup damai dengan sesama kita.

Maka, ada baiknya jika saat memandang gua-gua Natal kita menyempatkan diri sejenak mendoakan doa “Tuhan jadikanlah aku pembawa damai” sebagai bahan refleksi pribadi kita. Semoga saat kita memandang gua-gua Natal kita digerakkan untuk meneladan Kristus, Sang Damai kita, dan meneladan Fransiskus yang telah menghadirkan Kristus Sang Damai kita kepada banyak orang.

 

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damaiMu supaya,

Di mana ada kebencian, aku bisa membawakan cinta;

Di mana ada kesalahan, aku bisa membawakan semangat pengampunan;

Di mana ada perselisihan, aku bisa membawakan kerukunan;

Di mana ada ketidakbenaran, aku bisa membawakan kebenaran;

Di mana ada kebimbangan, aku bisa membawakan iman;

Di mana ada keputusasaan, aku bisa membawakan pengharapan;

Di mana ada kesuraman, aku bisa membawakan cahaya;

Di mana ada kesedihan, aku bisa membawakan kegembiraan;  

Tuhan, anugerahilah aku supaya lebih menghibur daripada dihibur,

Memahami daripada dipahami;

Mencintai daripada dicintai.

Karena dengan melupakan diri sendiri orang menemukan;

Dengan mengampuni, orang diampuni;

Dengan kematian orang dibangkitkan pada kehidupan abadi. 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting