User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Jika sejenak kita masuk dalam keheningan, diam dan tenggelam dalam tenang yang tak bertepi, jauh sekali di kedalaman lubuk hati akan kita jumpai sesuatu. Sesuatu itu adalah pribadi yang samar, namun jelas ada. Penuh dengan misteri, namun nyata kehadirannya. Sesuatu itu merupakan sebuah Pribadi yang agung dan mempesona, penuh kasih dan hangat seolah rindu untuk selalu mendekat.

Dialah Yesus yang hadir di relung-relung hati kita. Kehadiran-Nya begitu jelas ada, namun begitu tak jelas pula untuk dilihat bagaikan sketsa. Jika kita berdiri di depan cermin, adakah kita melihat Yesus di sana? Jawabannya mungkin seringkali, “Tidak!” Padahal, Bapa menciptakan kita menurut gambar-Nya. (bdk. Kej. 1:27) Dalam cermin itu, seringkali raut muka kita tidak terlalu menggambarkan Yesus. Ada goresan sedih dan kecewa di sana, raut cemas dan kuatir, hidung sombong yang terangkat tinggi, atau pandang mata penuh curiga. Bukan wajah yang memancarkan damai dan sukacita abadi, bukan wajah yang memancarkan kasih dan kelembutan surgawi.

Jika direnungkan, diri kita ini bagaikan figura dan Yesus sebagai lukisannya. Semakin buram dan gelap kaca sebuah figura, semakin tak dapat kita melihat lukisan di dalamnya. Yang terlihat hanyalah sang figura belaka. Demikianlah semakin kita kuat dengan segala kedagingan dan kelemahan kita, orang lain semakin sulit pula untuk menjumpai Yesus dalam diri kita. Yesus tinggallah sebuah sketsa kasar yang tak jelas bentuknya, yang tertutup oleh kaca gelap diri kita.

Lalu, bagaimanakah caranya agar Sang Sketsa Agung itu tidak tinggal tetap sketsa, tetapi sungguh nyata terlihat sebagai citra? Syaratnya hanyalah satu. Sang figura harus membersihkan diri, semakin murni dari hari ke hari, hingga akhirnya menjadi sebuah figura yang jernih sebening telaga. Pada saat figura telah menjadi jernih, orang bukan lagi melihat figuranya melainkan langsung kepada lukisan yang ada di dalamnya.

Demikianlah kala kita sudah berusaha untuk mati terhadap diri sendiri, Pribadi Kristus akan terpancar kuat dari dalam diri kita. Memang untuk mati terhadap diri sendiri ini bukanlah hal yang mudah, menuntut perjuangan yang tidak kecil. Akan tetapi, jika kita berhasil setia dalam perjuangan rohani ini, akan tiba saatnya kita berseru bersama Santo Paulus:

“Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal. 2:20a)

Bagaimanakah caranya untuk dapat mati terhadap diri sendiri ini? Caranya adalah melatih diri untuk melakukan penyangkalan diri kecil-kecil, yang tujuannya adalah tidak membiarkan diri kita dikuasai oleh segala hawa nafsu dan kelemahan kita. Hawa nafsu ini bisa berupa kerakusan, kemarahan, kesombongan, kekikiran, kecabulan, kemalasan, iri hati, dan sebagainya.

Setiap kali tergoda untuk marah, kita berusaha untuk sabar.

Setiap kali tergoda untuk memiliki semua barang, kita berusaha untuk murah hati.

Setiap kali harga diri tersinggung, kita berusaha untuk rendah hati.

Setiap kali kemalasan melanda diri, kita berusaha untuk bangkit dengan semangat berkobar.

“Sangkallah segala hawa nafsumu dan temukanlah apa yang menjadi kerinduan terdalam di hatimu. Tahukah engkau bahwa kerinduan hati nuranimu merupakan kerinduan Allah? Barangsiapa mati terhadap segalanya, akan hidup dalam Segalanya” (St. Yohanes dari Salib)

Demikianlah sebetulnya ada ribuan kesempatan dalam hari-hari kita, untuk melatih penyangkalan diri. Orang yang tidak pernah melakukan penyangkalan diri, berbuat sesuka hati dan semaunya, akan mendapati dirinya terdampar dalam ketidakbahagiaan. Tiba-tiba ia temukan dirinya sudah menjadi korban obat terlarang, terjerumus dalam pergaulan bebas, frustasi dengan kehidupan, dan sebagainya. Sebaliknya, anehnya mereka yang tekun berlatih dalam penyangkalan diri, akan mendapatkan adanya aliran sukacita dan damai sejati di hatinya. Ternyata penyangkalan diri justru membawa manusia kepada kebahagiaan. Tak heran, Yesus yang sangat mencintai manusia dan menginginkan kita hidup bahagia bersabda, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24).

Jika dilihat sepintas memang tampaknya seolah Yesus menghendaki kita menderita karena harus memikul salib. Namun, telah nyatalah kini bahwa setiap penyangkalan diri membawa kita kepada kebahagiaan, dan salib kehidupan yang kita pikul dengan setia akan menghantar kita kepada keselamatan. Mengapa demikian? Sebab, semakin kita mati terhadap diri sendiri, semakin kita serupa dengan Kristus, dan semakin kita bersatu dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita. Pada saat kita sudah sungguh mati terhadap diri sendiri itulah, Pribadi Yesus yang mempesona akan memancar dari dalam diri kita begitu kuatnya.

Yesus adalah hidup kita. Di dalam Yesus, Tuhan menawarkan diri-Nya sendiri kepada kita secara tanpa batas. Yesus rela menjadi bayi yang lemah dan rapuh sehingga Ia dapat merasakan juga semua kelemahan dan kerapuhan kita. Yesus pernah hidup miskin dan bekerja keras sehingga Ia dapat merasakan pula setiap kemiskinan dan keletihan kita. Yesus juga pernah sedih dan menderita sehingga Ia dapat merasakan penderitaan dan kesedihan yang sebesar apa pun yang mungkin dialami oleh manusia.

Yesus hadir sebagai manusia agar kita dapat melihat Wajah Bapa. Kehadiran-Nya sebagai manusia membuat kita dapat mendengarkan pengajaran-Nya tentang Bapa dan Kerajaan-Nya, karena Tuhan datang mengajar manusia dengan bahasa manusia pula lewat Pribadi Yesus. Dialah Sabda Allah yang hidup bagi kita semua. Yesus hadir pula sebagai manusia agar kita dapat mengikuti teladan-Nya yang lemah lembut dan rendah hati. Dan sungguh menakjubkan, bahkan sampai kini Yesus masih hadir dalam rupa Sakramen Mahakudus, agar kita dapat memandang-Nya, dan menerima Dia seutuhnya dalam diri kita lewat komuni suci.

Persembahan diri Yesus yang sehabis-habisnya untuk kita ini memberikan suatu kepenuhan dan kebahagiaan dalam hidup kita. Dalam persatuan dengan Yesus, kita menemukan kekuatan untuk merealisasikan kepenuhan hidup kita dan seluruh kapasitas serta potensi yang ada di dalam diri kita.

Dan lebih dari itu. Anugerah Allah membuka bagi kita suatu horison yang teramat besar dari seluruh potensi keberadaan kita. Kita disadarkan betapa luhurnya martabat yang Allah berikan kepada kita sebagai anak-anak-Nya. Tuhan menawarkan itu semua untuk mengundang kita beranjak dari keterbatasan kemanusiaan kita memasuki dunia ilahi. Dalam kehidupan ilahi ini kita diundang untuk meninggalkan segala sesuatu yang kita miliki dan menyandarkan diri sepenuhnya hanya kepada Dia.

Tentu saja, kehidupan yang adikodrati ini hanya bisa dijalani dengan cara yang adikodrati pula. Dan untuk dapat menapaki hidup secara adikodrati, dibutuhkan peranan Roh Kudus dalam diri kita. Contoh yang paling nyata adalah para rasul sendiri. Sebelum Pentakosta mereka begitu takut dan sembunyi di loteng. Namun, sesudah Pentakosta, dengan gagah berani mereka mewartakan Kerajaan Allah dan membawa pertobatan di mana-mana.

Oleh karena itu, langkah pertama untuk mati terhadap diri sendiri adalah membiarkan Roh Kudus bekerja dalam hidup kita.  Ini menuntut suatu langkah keterbukaan hati untuk dapat menerima karya Allah dalam Roh Kudus sehingga Yesus dapat sungguh-sungguh menjadi pusat hidup kita. Dan gerbang yang menghantar kita berjumpa dengan Roh Kudus tidak lain adalah doa.

Dalam terang doa kita mencoba untuk melangkahi kehidupan ini dengan bimbingan Roh Kudus. Roh Kuduslah yang menerangi kita, sehingga kita dengan jeli dapat mengenali setiap kelemahan diri yang menjauhkan kita dari keserupaan dengan Kristus. Roh Kudus pulalah yang akan memberikan kekuatan kepada kita untuk mati dan sekali lagi berusaha untuk mati terhadap diri sendiri.

 Setiap langkah doa hendaknya mengarah kepada doa mistik, yaitu kepada kehidupan ilahi, kepada persatuan yang mesra dengan Allah di dalam Yesus. Inilah mistik yang sejati: menghayati kehidupan Allah, hidup dalam persatuan mesra dengan Yesus, menyerahkan diri seutuhnya kepada Dia di dalam segala aspek kehidupan ini, dan menyatukan setiap kehendak pribadi dengan kehendak Allah.

Dalam hal ini, doa mistik merupakan panggilan bagi semua orang. Tuhan sangat merindukan untuk memberikan diri-Nya sendiri seutuhnya kepada semua orang, bukan hanya kepada orang-orang tertentu saja. Tuhan rindu untuk mengundang semua orang mengambil bagian dalam hidup ilahi-Nya, dalam alam ilahi-Nya. Sesungguhnyalah Tuhan menjadi manusia untuk ini, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Why. 3:20)

Oleh karena itu, bangkitlah semuanya! Bukalah pintu hati kita dan biarkan Roh Kudus masuk dan meraja di dalam hati kita. Roh Kudus akan membakar setiap kelemahan dan cacat cela kita, memurnikan kita, sehingga akhirnya kita dibawa untuk semakin serupa dengan Kristus, semakin bersatu dengan Kristus.

Dengan Pribadi Yesus yang terpancar kuat dari dalam diri, kita akan dapat semakin menghantar banyak orang untuk mengenal dan mencintai Yesus. Dengan demikian, hidup kita bukan menjadi milik kita lagi, tetapi menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya.

“Jalan menuju kesempurnaan tidak terletak pada berapa banyak kita melakukan meditasi atau latihan-latihan kebajikan, walaupun semua itu sangat perlu bagi mereka yang baru memulai hidup rohani. Akan tetapi, kesempurnaan itu tergantung pada satu hal, yaitu penyerahan diri jiwa dan raga, dengan merangkul setiap penderitaan yang datang dan mati terhadap diri sendiri dalam segala hal.” (St. Yohanes dari Salib)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting