header carmelia 01.jpgheader carmelia 02.jpg

Santa Perawan Maria, Mempelai Allah Roh Kudus

User Rating:  / 3
PoorBest 

 PERANAN MARIA 

Dalam kehidupan orang katolik, Maria memainkan peranan yang sangat penting. Sejak semula Maria telah mendapat tempat yang penting di dalam kehidupan orang-orang Katolik. Maria dihormati karena peranannya di dalam misteri keselamatan yang dinyatakan dalam misteri-misteri hidup Kristus sendiri. Sebagai Bunda Kristus, Maria ikut serta dalam peristiwa-peristiwa hidup Kristus yang membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia. Seperti yang diungkapkan dalam Konstitusi Dogmatis ‘De Ecclesia’:

Dalam mengandung, melahirkan, dan mempersembahkan Kristus kepada Bapa serta dalam menderita bersama dengan Puteranya menjelang wafat-Nya di salib, Santa Perawan Maria ikut serta secara khas sekali dalam karya Penyelamatan dengan ketaatan iman, pengharapan, dan cinta kasih yang bernyala-nyala.  

Karena itu, ekses-ekses yang salah terhadap Maria yang terjadi dewasa ini dapat melunturkan peranan Maria dalam kehidupan kita. Sehingga dirasakan betapa perlunya memiliki pandangan yang benar  mengenai peranan Bunda Maria bagi kita semua.

Peranan itu sungguh  besar dalam kehidupan kita di dunia ini. Maria adalah bunda Tuhan kita Yesus Kristus, sekaligus juga merupakan bunda Gereja dan seluruh umat beriman. Karena Maria taat kepada Allah maka Maria menjadi puteri Allah yang sangat dikasihi-Nya dan Maria merupakan karya yang terindah dari Allah. Maria adalah gambaran dari manusia yang terpenuhi dalam kebesaran Allah, ia menjadi model bagi setiap manusia yang harus dicapai sampai kepenuhannya, yang harus dicapai seluruh umat manusia karena kuasa Roh Kudus. Maria menyadari semata-mata hanya karena rahmat Roh Kudus saja ia menerima peranannya sebagai bunda dalam ketergantungan yang total kepada Allah. Karena itu dalam nyanyian Maria yang kita kenal dengan Kidung Maria dikatakan “dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk. 1:47-49).

Jelaslah, Maria menjadi model dan teladan bagi kita atas segala yang ada di dalam dirinya. Kita akan menjadi besar kalau kita menyadari, mengakui, dan menghayati ketergantungan kita dari Allah dan menyadari peranan Roh Kudus di dalam kehidupan Maria. Di dalam segala situasi Maria selalu ada mendampingi Gereja dalam peziarahan imannya sampai kepada akhir perjalanannya.

Ketika tiba waktunya, Maria, Bunda Allah yang suci dan murni dan tetap perawan, adalah mahkota perutusan Putera dan Roh Kudus. Karena Roh mempersiapkannya, Bapa dalam keputusan keselamatannya-Nya menemukan untuk pertama kalinya tempat tinggal, di mana Putera-Nya dan Roh-Nya dapat tinggal di antara manusia. Dalam arti ini tradisi Gereja mengenakan teks-teks terindah tentang kebijaksanaan pada Maria. Maria dipuji dan ditampilkan di dalam liturgi sebagai ‘takhta kebijaksanaan.’

Di dalam diri Maria, Gereja pun menemukan gambaran diri dan masa depannya, seperti yang terdapat dalam Konsili Vatican II: “Bunda Yesus telah dimuliakan di surga dengan badan dan jiwanya, dan menjadi citra serta awal Gereja yang harus mencapai kepenuhannya di masa yang akan datang” (Lumen Gentium 68).

Ungkapan ini mempertegas fungsi Maria dalam Gereja, yakni fungsi Maria sebagai citra Gereja, awal penyempurnaan Gereja di masa depan dan tanda pengharapan yang pasti bagi Gereja. Melalui hal ini Gereja mengakui sepenuhnya bahwa Yesus Kristus sendiri telah menggenapi janji-Nya yakni, ‘eschaton’ di dalam diri Maria, dan menguatkan pengharapan kita semua.


MARIA SEBAGAI MEMPELAI ALLAH ROH KUDUS

Secara umum kita dapat melihat hubungan Maria dan Roh Kudus yang diungkapkan dalam doa rosario. Pada saat berdoa rosario, kita memulainya dengan mengatakan: ‘Maria sebagai mempelai Allah Roh Kudus.’ Dalam doa rosario itu, dapat kita lihat bahwa Maria mendapat gelar-gelar yang mengungkapkan suatu:

  • Hubungannya dengan Bapa, Maria adalah putri Allah Bapa.
  • Hubungannya dengan Allah Putra, Maria adalah bunda-Nya, bukan dalam arti Maria memperanakkan keallahan Putra, melainkan karena ia menjadi ibu dan bunda Yesus.
  • Hubungannya yang terakhir adalah dengan Roh Kudus, yaitu Maria dengan Roh Kudus sebagai mempelai Allah Roh Kudus.

Sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus juga menunjuk pada peranan khas Maria dalam peristiwa penjelmaan Allah Putra ketika menjadi manusia. Pewartaan kepada Maria membuka ‘kegenapan waktu’ (Gal. 4:4): Janji-janji terpenuhi, persiapan sudah selesai. Maria dipanggil supaya mengandung Dia, yang di dalam-Nya akan tinggal “seluruh kepenuhan ke-Allah-an secara jasmaniah” (Kol. 2:9) Jawaban atas pertanyaan Maria: “Bagaimana mungkin hal itu akan terjadi karena aku belum bersuami?” (Luk. 1:34) Sebagaimana diwartakan dalam Injil ketika malaikat berkata kepada Maria: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk. 1:35) Lalu kita dapat melihat pula di dalam syahadat yang terungkap pada pernyataan iman kita, “Aku percaya akan Yesus Kristus yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa asal usul Yesus Kristus adalah dari Allah sendiri dan bahwa dalam diri Yesus Kristus Allah sendiri hadir dan tinggal bersama dan menyertai kita (bdk. Mat. 1:21,23) Gereja pun mengakui bahwa, ‘Yesus dikandung dalam rahim Perawan Maria oleh kuasa Roh Kudus’ (Sin Lateran 649, DS 503) dan para Bapa Gereja mengatakan bahwa Putera Allah datang ke dalam kodrat manusiawi yang sama dengan manusia.


HUBUNGAN MARIA DENGAN ROH KUDUS

Dalam rangka sejarah keselamatan Allah terhadap manusia, jelas sekali terlihat hubungan Maria dengan Roh Kudus yang telah ada sejak awalnya. Maria telah berhubungan secara intensif dan khas dengan Roh Kudus. Di dalam dia mulailah “karya-karya agung” Allah, yang akan diselesaikan Roh, dalam Kristus dan dalam Gereja, hal ini dapat dilihat:

  • Pada saat Maria mengandung Yesus dari Roh Kudus. Roh Kudus itu pula yang menuntun Maria untuk pergi mengunjungi Elisabeth yang akhirnya menyampaikan pujian magnifikatnya (lih. Luk. 1:39-56).
  • Roh Kudus mendampingi Maria dalam proses kelahiran Yesus di Betlehem dan segala persiapan-Nya selama di Nazareth.
  • Sesudah wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, Maria menyertai para murid dalam menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis. 1:12-14).

Roh Kudus menyiapkan Maria dengan rahmat-Nya. Sungguh pantas ibu dari Dia yang dalam-Nya “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an” (Kol. 2:9), adalah “penuh rahmat.” Semata-mata karena rahmat, sebagai makhluk yang paling rendah hati, yang paling sanggup untuk menerima karunia yang tidak terucapkan dari Yang Mahakuasa, yang dikandung tanpa dosa.

Sepanjang Perjanjian Lama, panggilan Maria sudah dipersiapkan oleh perutusan wanita-wanita saleh. Kendati ketidak-taatannya, sejak awal sudah dijanjikan kepada Hawa bahwa ia akan mendapat turunan, yang akan mengalahkan yang jahat, dan akan menjadi ibu semua orang hidup. Berdasarkan janji ini, Sara mendapat seorang putera kendati usianya sudah lanjut. Bertentangan dengan harapan manusiawi, Allah memilih apa yang bodoh dan lemah bagi dunia, supaya menunjukkan bahwa Ia setia pada janji-Nya: Hanna, ibu Samuel, Debora, Rut, Yudit dan Ester demikian pula banyak wanita yang lain lagi. Maria adalah “yang unggul di tengah umat Tuhan yang rendah dan miskin, yang penuh kepercayaan mendambakan serta menerima keselamatan dari-Nya. Akhirnya ketika muncullah ia, Puteri Sion yang mulia, sesudah pemenuhan janji lama dinanti-nantikan genaplah masanya” (Lumen Gentium 55).

Benarlah bahwa malaikat Gabriel menyalami dia –“puteri Sion”- dengan “bergembiralah.” Ketika Maria mengandung Puteranya yang abadi, ia melagukan dalam Roh Kudus madah syukur dari seluruh umat Allah dan dengan demikian juga seluruh gereja, dalam lagu pujiannya kepada Bapa. Dalam Maria, Roh Kudus melaksanakan keputusan Bapa yang Maharahim. Bersama dan oleh Roh Kudus, Perawan Maria mengandung dan melahirkan Putera Allah. Perutusan Roh Kudus selalu berhubungan dengan perutusan Putera dan diarahkan kepadanya. Roh Kudus diutus supaya menguduskan rahim perawan dan membuahinya secara ilahi; Ia, yang adalah Tuhan dan menghidupkan, menyebabkan Perawan mengandung Putera abadi Bapa, yang menerima kodrat manusiawi dari Maria. Dengan kekuatan Roh Kudus dan dengan kekuatan iman, keperawanannya menjadi subur luar biasa. Karena keperawanannya adalah tanda imannya, “yang tidak tercemar oleh keraguan sedikitpun” dan karena penyerahannya kepada kehendak Allah yang tidak terbagi. Berkat imannya ia dapat menjadi Bunda Penebus: “Maria lebih berbahagia dalam menerima  iman kepada Kristus, daripada dalam mengandung daging Kristus” (Agustinus, virg. 3).

Di dalam Maria, Roh Kudus menyatakan Putera Bapa, yang sekarang juga menjadi Putera perawan. Maria adalah semak berduri yang menyala-nyala dari teofani yang difinitif. Dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menunjukkan Sabda dalam kehinaan daging dan menyatakan kepada orang-orang miskin dan kepada wakil-wakil bangsa-bangsa kafir yang pertama. Karena itu, madah pujian Maria (dalam bahasa latin “Magnificat,” dalam bahasa Bisantin “Megalinarion”) sekaligus merupakan madah pujian Bunda Allah dan Gereja, madah pujian Puteri Sion dan Umat Allah yang baru. Ia adalah madah syukur atas kepenuhan rahmat yang diberikan dalam tata keselamatan, satu kidung “orang miskin” yang harapannya dipenuhi berlimpah ruah, karena janji-janji yang diberikan kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya dipenuhi.

Akhirnya melalui Maria, Roh Kudus mulai mengumpulkan ke dalam persekutuan dengan Kristus, manusia-manusia bagi siapa ‘cinta Allah yang berbelaskasihan” disediakan. Sehingga kita mengetahui kedudukan Maria dalam misteri Gereja bahwa “Perawan Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Allah dan Bunda Penebus yang sesungguhnya… ‘Ia memang Bunda para anggota (Kristus)… karena dengan cintakasih ia menyumbangkan kerjasamanya, supaya dalam Gereja lahirlah kaum beriman, yang menjadi anggota Kepala itu’ (Agustinus, virg. 6) “Maria, Bunda Kristus, Bunda Gereja” (Wejangan Paus Paulus VI, 21 Nopember 1964). Sepanjang sejarah Gereja, manusia-manusia yang rendah hati selalu merupakan orang-orang pertama yang menerimanya seperti para gembala, para majus, Simeon dan Anna, para pengantin di Kana dan murid-murid pertama.

Pada akhir perutusan Roh, Maria menjadi “wanita,” Hawa baru, “bunda orang-orang hidup,” bunda “Kristus paripurna.” Seperti yang dikatakan oleh St. Ireneus kemudian dikutip dalam Lumen Gentium 56: “Dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia.” Maka tidak sedikitlah para Bapa zaman kuno, yang dalam pewartaan mereka dengan rela hati menyatakan bersama Ireneus: ‘Ikatan yang disebabkan oleh ketidaktaatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh Perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh Perawan Maria karena imannya.’ Sambil membandingkan dengan Hawa, mereka menyebut Maria ‘bunda mereka yang hidup.’ Sering pula mereka nyatakan: ‘maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.’

Injil menyatakan kepada kita bahwa Maria berdoa dan menjadi perantara dalam iman: di Kana Ibu Yesus meminta apa yang dibutuhkan untuk perjamuan perkawinan. Perjamuan ini adalah tanda bagi satu perjamuan lain, yakni perjamuan perkawinan Anak Domba, di mana Kristus, atas permohonan Gereja sebagai mempelai-Nya, menyerahkan tubuh dan darah-Nya. Pada saat Perjanjian Baru, Maria didengarkan pada kaki salib. Maria bersama dengan murid-murid-Nya “sehati bertekun dalam doa” (Kis. 1:14), ketika Roh Kudus pada pagi hari Pentekosta menyatakan awal “zaman terakhir” dengan memunculkan Gereja.

Dengan demikian Maria tidak hanya menyertai saat kelahiran dan masa persiapan Yesus sebelum tampil ke orang banyak saja, tetapi Maria juga menyertai Gereja pada saat kelahiran dan masa persiapannya. Secara keseluruhan berarti bahwa Roh Kudus tidak hanya menghubungkan Maria dengan Yesus Kristus, tetapi juga dengan Gereja. Maria memiliki tempat yang khas dan unggul, baik dari sisi Kristus maupun dari sisi Gereja. “Maria dianugerahi karunia serta martabat yang amat luhur, yakni menjadi Bunda Putra Allah … ia menerima salam sebagai anggota Gereja yang serba unggul dan sangat istimewa, dan sebagai teladan yang mengagumkan dalam iman dan cintakasih” (Lumen Gentium 53).

Maka, sebutan Maria sebagai mempelai Roh Kudus bukan hanya menunjuk hubungan khas Maria dengan Roh Kudus, melainkan juga hubungan Maria dengan Kristus dan Gereja. Dalam perutusan Roh Kudus pada waktu Pentekosta yang menyatakan awal Gereja, Maria bersama Gereja sehati dan bertekun dalam doa menantikan Roh Kudus. Karena itu, patutlah kita bersyukur kepada Allah atas hal-hal agung yang diperbuat-Nya di dalam diri Maria dan Gereja yang telah memberi teladan kepada kita dalam peziarahan ini.


PENUTUP

Kita juga berdoa minta pertolongan Maria, karena jika kita menghormati Maria kita berkata kepada Maria: “Salam Maria Penuh Rahmat” dan ini menjadi doa resmi gereja. “Salam Maria Penuh Rahmat” berasal dari kata-kata malaikat Gabriel, sedangkan perkataan “Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah rahimmu, Yesus” berasal dari kata-kata Elisabeth yang penuh dengan Roh Kudus ketika ia dikunjungi Maria yang sedang mengandung pribadi Sang Sabda. Gereja menambahkan, “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa sekarang dan waktu kami mati” yang merupakan kesimpulan Gereja dari Injil sendiri. Melalui doa ini kita mohon agar Maria mendoakan kita kepada putera-Nya. Apabila kita minta doa kepada seorang imam yang hanya orang berdosa, mengapa kita tidak minta doa kepada Maria, satu-satunya yang dikandung tanpa noda dosa. Kemudian kita jumpai dalam litani Santa Maria, dalam seruan “Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus” kita menjawabnya dengan ‘kasihanilah kami’ tetapi pada seruan “Santa Maria” diakhiri dengan ‘doakanlah kami.’ Di sinilah terletak perbedaannya karena Maria bukanlah Sang Pencipta melainkan ciptaan Allah yang terbesar dari antara segala ciptaan.

Karena itu kita bisa mengatakan bahwa Maria merupakan benar-benar master piece dari Allah, karya seni Allah yang paling indah. Jika kita menghormati Maria, kita menghargai Maria seperti yang dikehendaki Allah,  dengan demikian kita menghargai dan menghormati Allah sendiri. Sebab dengan menghargai karya-Nya, kita menghargai Dia yang membuat karya itu. Inilah dasar penghormatan kita kepada Bunda Maria, sebagai orang katolik kita tidak menyembah Maria tetapi kita menghormati Maria karena dia adalah makhluk pilihan Allah yang luar biasa. Maria yang rendah hati sehingga ia ditinggikan oleh Allah, Adam karena kesombongannya jatuh ke dalam dosa membawakan kebinasaan. Maria karena kerendahan hatinya membawa kehidupan, inilah dasar kita menghormati Maria Bunda Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting