User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Mariam Baouardi adalah seorang anak dari keluarga yang berasal dari Damaskus, Syria. Mereka termasuk orang Katolik Melkite Yunani (Melkite adalah sebutan untuk orang Kristen yang beribadat menurut ritus Byzantine di Timur Tengah dan terbagi dua antara mereka yang berada dalam persekutuan dengan Paus [Katolik Melkite] dan yang terpisah dari Paus [Ortodoks Melkite/Antiokhia, ar-Rumi Urtuduks]. Gereja Katolik Melkite Yunani adalah satu dari 22 gereja otonom yang membentuk Gereja Katolik dengan Paus sebagai kepala persekutuan- Editor), keturunan Archeparchy (Keuskupan Agung) dari Antiokia, tempat di mana para pengikut Yesus pertama kali disebut Kristen. Keluarga Baouardi hidup di suatu negara berbukit di atas Galilea. Ayahnya, Giries (George) Baouardi, berasal dari Horfesch, Palestina sedangkan ibunya, Mariam Shahine, berasal dari Tarshiha, Palestina. Kedua desa tersebut didiami oleh orang Druse. Mereka merupakan rakyat yang sangat sederhana.

 Kelahiran Mariam 

Selama masa perkawinannya, pasangan Giries dan Mariam Shahine dikaruniai 12 anak laki-laki, namun tak seorangpun yang tetap hidup saat infansi, sehingga menimbulkan kesedihan yang besar bagi mereka. Mariam yang rajin berdevosi kepada Bunda Maria membujuk suaminya untuk pergi ke Betlehem dan memohon kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar dikaruniai seorang anak perempuan. Maka mereka pun melakukan hal itu. Di depan gua tempat Kelahiran Yesus, mereka mengutarakan permintaan mereka dalam doa. Mereka percaya bahwa Allah akan mengabulkan doa dan permohonan mereka itu. Karena iman mereka tersebut, maka pada tanggal 5 Januari 1846, pada malam Epifani, seorang bayi perempuan dilahirkan. Kelahiran bayi perempuan itu membawakan sukacita yang besar bagi pasangan Giries dan Mariam. Ketika si bayi berumur 10 hari, mereka membawanya ke sebuah Gereja lokal Melkite untuk menerima Sakramen Babtis. Bayi itu dipersembahkan di bawah perlindungan Perawan Maria dan diberi nama Mariam Baouardi. 

Dua tahun kemudian keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki, yang diberi nama Boulos (Paul). Kebahagiaan semakin mewarnai kehidupan keluarga kecil itu. Namun rupanya kebahagiaan yang mereka rasakan itu hanya berlangsung dalam waktu yang singkat. Kedua orang tua Mariam dan Paul meninggal saat mereka masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang. Sesaat sebelum meninggal dunia, Giries menatap gambar Santo Yosef dan menyerahkan anak-anaknya kepada perlindungan Santo Yosef dan Bunda Maria. Sepeninggal kedua orang tua mereka, Paul kecil lalu dibawa oleh bibi dari pihak ibu di daerah Tarshiha dan diasuh olehnya, sedangkan Mariam diadopsi oleh paman dari pihak ayah di Ibillin.

 Masa Kanak-kanak di Ibilin 

Ibillin adalah suatu daerah yang memiliki pemandangan alam yang sangat indah. Dari puncak desa terlihat seluruh bagian atas Galilea. Mariam kecil sangat menyukai pemandangan itu. Ia sering memandang alam sambil mengenang kembali kehidupannya. Dari daerah itu jika memandang ke arah utara, nampak barisan gunung yang tinggi, perbatasan Lebanon. Di Timur Laut terdapat Jebel Shaykh yang megah dan awan menutupinya sepanjang tahun. Di sebelah Timur, gelombang bukit-bukit melandai lembut ke bawah menuju Danau Galilea, yang disebut juga Tiberias; di sebelah Selatan, dataran yang kaya Esdralon membentang sampai ke Gunung Karmel. Di sebelah Barat Laut melalui bukit pasir terdapat Laut Mediterania yang biru berkilauan. 

Mariam tinggal bersama keluarga yang menyenangkan, pamannya sangat menyayangi dan memperhatikannya. Ia merasa senang tinggal bersama keluarga pamannya itu. Suatu ketika, Mariam mengalami suatu peristiwa kecil yang membawa kesan tersediri baginya. Peristiwa itu terjadi di tengah-tengah kebun buah pamannya. Di sana ia mempunyai sebuah kandang kecil yang didiami oleh burung-burung kecil, hadiah yang diberikan kepadanya. Suatu hari terdorong oleh perhatian dan kasihnya, ia berniat memandikan mereka, namun karena Mariam kecil belum mengerti cara yang tepat, maka menyebabkan burung-burung itu mati karena basah. Kematian mereka melukai hati kecil gadis kecil itu. Dengan penuh dukacita ia menguburkan mereka, dan saat itu di lubuk hatinya ia mendengar suatu suara yang jelas, “Seperti ini, betapa segala sesuatu berlalu. Jika engkau memberikan hatimu, Aku akan selalu tetap bersamamu.”

 Keteguhan Iman Marian 

Saat Mariam berumur delapan tahun pamannya meninggalkan Palestina bersama seluruh keluarga dan menetap di Alexandria, Mesir. Ia tidak lagi melihat Ibillin yang dicintainya itu. Ketika Mariam berumur 13 tahun, ia dijodohkan dengan seorang pemuda, hal ini dilakukan menurut adat istiadat mereka. Pernikahan diatur tanpa persetujuan kedua pengantin. Kebiasaan ini terjadi di kalangan orang-orang Timur Tengah. Mengetahui hal tersebut, Mariam terkejut dan hatinya menjadi sangat sedih. Pada malam sebelum acara pernikahan itu diadakan, ia tidak dapat tidur. Ia tidak siap sama sekali untuk hidup sebagai seorang wanita yang menikah. Malam itu dengan sungguh-sungguh ia berdoa memohon bimbingan dan penghiburan. Kemudian dari kedalaman hatinya ia mendengar kembali suara yang begitu meneduhkan, “Segala sesuatu berlalu! Jika engkau berharap memberikan hatimu kepada-Ku, Aku akan tetap bersamamu.” Mariam mengetahui dengan pasti bahwa ini adalah suara dari kekasih satu-satunya yang ia miliki yaitu Yesus. Malam itu ia lalui dengan doa yang mendalam di depan gambar Perawan Bunda Yesus; kemudian ia mendengar suara, “Mariam, Aku besertamu, ikuti bimbingan yang Kuberikan kepadamu. Aku akan menolongmu.” 

Keesokan harinya, ketika Mariam menyatakan keberatannya untuk menikah dan ingin tetap perawan, paman yang mengadopsinya menjadi sangat marah. Ia meledak dalam kemarahan, berteriak, memukul dan menampar Mariam, tetapi tidak ada yang dapat mengubah ketetapan hati Mariam. Maka pamannya terpaksa mempekerjakan ia sebagai pekerja domestik, memberikan tugas-tugas dapur yang paling berat dan menempatkannya pada posisi yang lebih rendah daripada pembantu lainnya. 

Mariam tenggelam dalam perasaan kesepian dan kehilangan harapan. Ia minta tolong kepada saudara laki-lakinya Paul. Ia menulis surat kepadanya dan memintanya supaya datang dan melihatnya di Alexandria. Dalam pengasingan oleh keluarga pamannya ini Mariam meminta bantuan kepada seorang pekerja agar mengirim suratnya ke Nasaret. Pemuda itu menganjurkan Mariam mengungkapkan masalah pribadinya. Namun kemudian ia malahan menyakiti hati Mariam, mempermainkan pikiran dan perasan gadis muda itu. Kata-kata dan tindakannya tertuju secara langsung atas Kekristenan Mariam. Ia mencoba merayu Mariam, namun dengan tegas ia menolak rayuan-rayuan itu dan dengan lantang ia menyatakan keyakinannya dalam Gereja Kristus. “Aku seorang putri Gereja Katolik Apostolik, dan aku berharap oleh rahmat Allah untuk bertekun sampai mati di dalam kepercayaanku. 

Atas penolakan Mariam, gadis Kristen kecil ini mengalami kekerasan. Dengan mata yang memancarkan kebencian pemuda itu kehilangan kontrol dan memukulnya hingga jatuh ke lantai. Kemudian ia mengambil pedang dan mengayunkannya ke arah leher gadis itu. Mengira bahwa Mariam sudah mati, ia membuang tubuh berdarah itu di sebuah lorong gelap. Saat itu tanggal 8 September 1858. 

Apa yang terjadi kemudian yaitu suatu peristiwa aneh dan indah. Mariam merasa ada seorang perempuan berpakaian biru membawanya ke atas dan menjahit luka di lehernya. Pengalaman ini terjadi di suatu gua. Beberapa tahun kemudain, Mariam menceritakan pengalamannya itu kepada salah seorang suster di Marseilles, katanya, “Saya merasa diri saya berada di surga bersama Perawan Terberkati, para malaikat dan para kudus. Mereka merawat saya dengan baik sekali, dengan penuh kasih. Di antara mereka ada kedua orang tua saya. Saya melihat suatu tahta cemerlang Tritunggal Maha Kudus dan Yesus Kristus dalam kemanusiaan‑Nya. Tidak ada matahari, tidak ada lampu, namun segala sesuatu bersinar terang. Seseorang berbicara kepada saya. Mereka mengatakan bahwa saya seorang perawan, namun kitab saya belum selesai. Saat luka disembuhkan saya harus meninggalkan gua dan Bunda Maria membawa saya ke Gereja St. Katharina; saya dilayani oleh rahib Fransiskan. Saya pergi untuk mengaku dosa. Ketika kembali, perempuan berpakaian biru itu telah menghilang.” 

Beberapa tahun kemudian saat dalam keadaan ekstase, pada tanggal 8 September 1874, pada hari peringatan kelahiran Bunda Maria, Mariam mengatakan, “Pada hari yang sama pada tahun 1858, saya ada bersama Bunda Maria dan mengabdikan hidup kepadanya. Seseorang telah berusaha menggorok leher saya, tetapi pada hari berikutnya Bunda Maria merawat saya.”

 Menjadi Seorang Biarawati Karmel 

Sejak hidup terpisah dari pamannya, Mariam tidak pernah lagi melihat pamannya. Ia menyokong hidupnya sendiri dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga Kristen Arab, Najjar. Selama itu kerinduan Mariam untuk mempersembahkan hidupnya pada Yesus semakin besar. Kemudian atas anjuran Bapa pengakuannya, Mariam bergabung dengan suster-suster St. Yosef. Bersama beberapa postulan dari Lebanon dan Palestina, ia tinggal bersama dengan para suster tersebut. Namun tak lama setelah itu kesehatannya menurun dan kejadian-kejadian mistik mulai dialaminya. Hal itu mengganggu kongregasi di mana ia tinggal. Mereka terkejut melihat gerakan-gerakan dan pancaran mistik yang terjadi. Berdasarkan alasan tersebut, maka Mariam tidak diperkenankan untuk memasuki masa novisiat. Kemudian oleh pembimbing novis di sana, Sr. Veronica, Mariam dimasukkan ke biara Karmel Pau. Mariam memasuki Karmel saat berumur 21 tahun sebagai seorang suster biasa. Ia mengambil nama Suster Maria dari Yesus yang Disalib.

 Pengalaman Mistik

        Suster Maria dari Yesus yang Disalib, mengucapkan kaul pertamanya pada tanggal 21 November 1871 sebagai Religius Karmel. Sebelum kejadian itu ia menderita kesengsaraan yang hebat. Salah satu yang paling mengerikan yaitu gangguan roh jahat selama 40 hari. Ia bertekun dalam kesederhanaan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Allah Putera dan Bunda-Nya yang Kudus, Maria. Penghargaan atas hal-hal itu mendatangkan hak paling istimewa bagi manusia. Ia menerima anugerah tetap stigmata dari Penyelamat yang disalib, mengalami levitasi, menerima karunia nubuat dan pengetahuan atas hati, dikuasai oleh malaikat baik, dan memiliki muka yang bercahaya. Ia berkata, “Segala sesuatu berlalu di atas bumi. Siapakah kita? Tidak lain selain debu, kehampaan, dan Allah sangat besar, sangat indah, sangat patut dicintai, namun tidak dicintai.”

Devosi Kepada Roh Kudus 

Suster Maria dari Yesus yang Disalib berdevosi rutin kepada Roh Kudus, pemilik kebenaran tanpa kesalahan dan penyimpangan. Melalui Patriark Melkite Gregorius II, ia mengirim sebuah pesan kepada Paus Pius IX yang mengatakan bahwa Gereja, bahkan seminari-seminari, mengabaikan devosi sebenarnya kepada Roh Kudus, Sang Penghibur. Doanya kepada Yang Tak Dikenal: “Roh Kudus, inspirasikan aku. Cintakasih Allah pakailah aku. Sepanjang jalan kebenaran pimpinlah aku. Maria ibuku yang baik, tengoklah aku. Bersama Yesus berkatilah aku. Dari segala yang jahat, segala ilusi, semua bahaya, lindungilah aku.” Doa sederhana dari Suster Maria ini menyebar ke seluruh dunia.

 Akhir Hidup Suster Maria 

Suatu hari dalam bulan Agustus 1878, ketika sedang melakukan pekerjaannya di biara, Suster Maria mengalami suatu rasa kesakitan yang sangat hebat. Saat itu ia berusia 33 tahun. Ganggren timbul dengan cepat dan menyebar ke bagian pernafasannya. Ia tidak pernah sembuh dari luka tersebut. Ia begitu menderita akibat sakitnya itu, namun ia menerimanya dengan tabah dan tulus hati. Pada tanggal 26 Agustus 1878, Suster Maria kembali mengalami serangan kesulitan pernafasan yang amat hebat dan mengancam hidupnya. Setelah beberapa saat penderitaan yang dialaminya itu, Suster Maria meninggal dunia. Pada saat terakhir hidupnya itu, ia berbisik dengan lirih, “Yesusku, berbelaskasihlah.” Suster Maria menyerahkan dirinya kepada Yesus yang amat dicintainya, ia meninggalkan dunia ini untuk bertemu dan bersatu dengan kekasihnya. Saat itu pukul lima lewat sepuluh menit di pagi hari. 

Ketika ia dimakamkan, pada batu nisan makamnya terukir tulisan: “Di sini dalam damai Tuhan beristirahatlah Suster Maria dari Yesus yang Disalib, profesi religius dengan kerudung putih. Suatu jiwa dengan rahmat-rahmat luar biasa. Ia dikenal karena kerendahan hatinya, ketaatannya, dan cintakasihnya. Yesus satu-satunya cinta dalam hatinya memanggil dia untuk diri-Nya dalam usia 33 tahun dan 12 tahun dari hidup religiusnya di Betlehem, 26 Agustus 1878.

 Digelarkan Kudus

Saat ini Suster Maria dari Yesus yang Disalib dikenal sebagai “Al Qiddisa” (yang kudus) di Ibillin, Palestina. Pada tanggal 13 November 1983, Paus Yohanes Paulus II memberi gelar Beata pada Suster Maria dalam perayaan yang khidmat di Kota Vatikan. Paus Fransiskus menggelarkan Santa pada tanggal 17 Mei 2015 di Vatikan.

“Gadis Arab Kecil”, suatu pelajaran kehidupan tentang kebajikan-kebajikan kerendahan hati dan cinta akan Allah, Putera-Nya Yesus dan Bunda-Nya Maria merupakan inspirasi khusus bagi mereka yang mengejar kebenaran sebagaimana kehadiran dalam Roh Kudus Allah.

Doa:

Allah, Bapa yang berbelaskasih dan mahamurah

Engkau meninggikan Maria terberkati, putri yang rendah hati dari Tanah Suci

Untuk sampai pada kontemplasi akan cinta dan sukacita Roh Kudus.

Bantulah kami melalui perantaraannya untuk merasakan penderitaan Kristus

Sehingga kami boleh bergembira dalam pernyataan kemuliaan-Nya

Kami mohon doa ini melalui Kristus, Tuhan kami. Amin.

Sumber:

  • “Carmelite Proper of the Liturgy of the Hours”, Institutum Carmelitanum, Roma:1993.
  • Doris C. Neger OCDS, dari Mineola, NY.
  • “The Little Arab”, Doris C. Neger, Volume 31, Number 1, Jan-Feb 2001.
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting