User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

Apa  yang dimaksud dengan Mendukakan Roh Kudus?

Tiga bagian penting dari kehidupan manusia adalah kehendak, pikiran dan hati. Emosi manusia dipengaruhi oleh apa yang ada dalam pikirannya, apa yang ada dalam pikirannya, dan ditentukan oleh kehendaknya. Jadi, apabila seseorang berkehendak untuk tidak mentaati Allah dan dia tidak mencintai hal-hal yang ada dalam pikiran-Nya, maka realitas itu biasanya menyebabkan perasaan-perasaan berlawanan dengan kehendak Allah. Akibatnya, perasaan-perasaan negatif untuk akan menghasilkan perbuatan yang buruk. Inilah alasannya, kita dapat mendukakan Roh Kudus melalui ketegaran hati, kemarahan dan ketakutan. Hal-hal tersebut menghambat orang untuk menjadi dewasa dalam Kristus dan hal itu akan menghalangi karya Roh Kudus dalam dirinya.

Ketegaran hati berarti tidak mau melihat kebenaran walaupun sebenarnya dia telah melihatnya. Ia menolak untuk bertobat dan dia memilih jalannya sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah. Roh Kudus adalah Roh yang sopan, manis dan lembut. Roh Kudus tidak pernah memaksa, Ia memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih. Ia menghargai dan Dia menghormati kebebasan manusia. Allah menawarkan kasih-Nya dan Allah mengharapkan manusia untuk menjawab kasih Allah itu.

Akibat kemarahan orang tidak dapat bersukacita dalam Dia. Hati yang duka dan hati yang tidak dapat bersyukur akan memadamkan Roh Kudus dalam diri kita. Sedangkan, ketakutan dapat timbul pula bila orang menghadapi keadaan yang tidak pasti dalam kehidupannya atau keadaan dunia yang kacau. Ketakutan juga timbul bila orang jatuh dalam dosa. Yesus mengatakan agar kita jangan takut dan gelisah (bdk. Mat 24:6). Ketakutan timbul karena kita kurang beriman, kita tidak percaya kepada Allah, dan kita bersandar pada kekuatan diri sendiri. Akibat ketakutan itu, kita tidak dapat bersyukur, kita kerap mengeluh terus dalam segala keadaan, sehingga kita menjadi orang Kristiani yang tidak berkembang atau pada akhirnya kita dapat kehilangan iman sebagai anugerah Allah bagi kita. Oleh sebab itu, kita diminta untuk selalu bersyukur dalam segala hal (lh. 1 Tes 5: 16-19). Hati yang berduka, luka-luka batin, kemarahan, ketakutan, kepahitan akan menyebabkan seseorang kurang bersyukur dan akhirnya hal ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam karya Roh Kudus dalam diri kita.  

 

Hidup dalam Roh Kudus

Hidup oleh Roh, dipimpin Roh Kudus berarti tidak lagi hidup menurut keinginan daging (Gal 5:16). Jika kita hidup dalam Roh, maka kita akan menghasilkan buah-buah Roh. Kita harus menghasilkan buah, apa gunanya kita berseru, “Tuhan, Tuhan” tetapi tidak melaksanakan kehendak Allah? (Mat 7:21). Kita dipanggil untuk melakukan kehendak Tuhan yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. Cinta kasih merupakan puncak kesempurnaan Kristiani (bdk. Mat 22: 37-40). Cinta kasih ini diwujudkan dalam perbuatan nyata sehari-hari. Roh Kudus adalah Roh cinta kasih Allah, Roh Kudus itu menghangatkan, Dia memberi semangat, dan Roh Allah yang membuat orang rela berkorban terus menerus demi cinta kasih, Dia menerangi hati dan budi, Dia menyebabkan orang berani menyangkal diri, Dia mengajarkan kebenaran, Dia membakar hal-hal buruk dalam diri kita, Roh Ilahi yang membawa orang-orang pada latihan-latihan askesis, Dia membuat hidup orang hidup di hadirat Allah, Dia membuat orang peka terhadap kehendak Allah, sehingga kita mengenal Allah sebagai Allah yang hidup. Roh Kudus adalah Cinta Allah sendiri. Roh ini merupakan ikatan cinta kasih antara Bapa dan Putera. Kita dipanggil untuk bersatu dengan Allah, dijiwai dan disemangati oleh Roh Allah sendiri. Bila seorang Kristen dikatakan hidup dalam iman, harapan dan cinta kasih, sebenarnya Roh Kudus itulah yang menerangi langkah hidupnya, menguatkan harapannya dalam kesusahan dan kesulitan, dan menguasainya dengan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama. Marilah kita mohon agar Roh Kudus menguasai hidup kita. Kita semua adalah bait Allah dimana Roh Kudus tinggal di dalam diri kita (bdk. 1 Kor 6:29).

Marilah kita bersama-sama merenungkan dan kita mengingat-ingat kembali semua peristiwa di mana kita mengalami kasih Allah dan kasih kepada sesama. Ingatlah juga segala tantangan yang Anda hadapi dalam usaha menanggapi bimbingan Roh Kudus dalam hidup Anda serta sejauh mana Anda menyadari pengaruh kegiatan Roh Kudus dalam diri Anda sendiri? Selamat merenungkannya.


  

Sr. Maria Yoanita P.Karm

Salah satu penulis di situs carmelia.net

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting