User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pandangan terhadap peristiwa-peristiwa hidup

Kita mencari penyebabnya. Ada dua pandangan yang menyebabkan hal ini semua terjadi. Pertama, pandangan yang terlalu manusiawi—walaupun memang ada benarnya—tetapi pandangan ini belum mengatakan segala-galanya. Kita mendengar bahwa ada provokator, yaitu orang-orang yang sengaja menimbulkan kekacauan-kekacauan. Ketika kita mengatakan bahwa ada provokatornya, ada dalangnya, dan ada otaknya, lalu kita menudingnya demikian, kita tidak menyadari bahwa ada empat jari kita yang mengarah ke diri kita sedangkan satu jari untuk orang yang dituding itu.

Hal ini menunjukkan bahwa kita melihat hal ini dan kita menuding orang-orang yang berbuat keonaran atau kekacauan, seolah-olah menunjukkan bahwa saya tidak mau ikut-ikutan, saya tidak mau bertanggung jawab, saya tidak terseret dan tidak terlibat dalam peristiwa ini. Mungkin benar demikian, secara langsung kita tidak terlibat di dalamnya. Namun, benarkah bahwa yang salah adalah mereka semua yang di sana, sedangkan kita yang di sini semuanya benar? Benarkah kita tidak ikut bertanggung jawab? Secara manusiawi, memang yang bertanggung jawab adalah para provokator dan lain-lainnya. Namun untuk menanggapi hal ini, Yesus telah memberikan jawabannya dalam Injil Lukas:

Suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian” (Luk 13:1-2,4-5).

Sabda Tuhan ini harus juga membuat kita menjadi mawas diri. Memang, lebih mudah bagi kita untuk menuding orang lain sebab kalau kita menuding orang lain, kita tidak usah berbuat apa-apa. Namun, kalau kita mawas diri, kita akan berubah dan kita harus mengubah hidup kita.

Kedua, pandangan bahwa hal ini merupakan suatu peringatan dan tanda dari Tuhan bagi kita agar bertobat. Kita melihat kejadian-kejadian yang sangat menyayat hati, misalnya kejadian tanggal 13 Mei 1998 di Jakarta, pembantaian habis-habisan di Timor Timur, di Ambon-Maluku, di Kalimantan dan masih banyak di tempat lain. Kalau kita renungkan lebih dalam peristiwa-peristiwa itu, kita menyadari bahwa sesungguhnya ada suatu kebobrokan moral yang terjadi dalam diri banyak orang, mungkin termasuk kita juga. Bukankah ini adalah dosa-dosa yang mengerikan: pembantaian dan pembunuhan bisa terjadi di mana-mana?

Kita lihat kembali sejarah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, misalnya dalam Kitab Hakim-hakim dan Kitab Raja-raja. Dikatakan bahwa bila Israel setia kepada Allah dan sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhan dengan segenap hati, maka keadaan Israel, keadaan negara dan daerahnya menjadi aman dan damai sejahtera. Dan, bangsa Israel yang kecil dilindungi oleh Tuhan terhadap serangan negara-negara yang jauh lebih besar dibandingkan dengan bangsa Israel. Tuhan melindungi mereka dan mereka aman sentosa.

Namun, ketika bangsa Israel menyimpang dari jalan Tuhan, meninggalkan Tuhan, mulai menyembah berhala, melakukan banyak ketidakadilan, kelaliman, kekejian, dan lain-lain, maka Tuhan menghukum mereka supaya mereka sadar dan kembali kepada Tuhan. Dalam Kitab Hakim-hakim dituliskan seperti refren bahwa bangsa Israel menyimpang, maka Tuhan menyerahkan mereka kepada tangan musuh-musuh (bdk. Hak 2:14). Setelah mereka sadar dan bertobat, maka Tuhan mengutus penolong dan penyelamat, misalnya Samson, Yefta, dan Gideon.

 

berbagai macam kejahatan

Ada begitu banyak peristiwa yang kasat mata dan terlihat begitu mengerikan. Namun, ada banyak juga kejahatan yang tersembunyi, yang seolah-olah tidak terlihat, yang juga tidak kalah mengerikan. Pertama, abortus. Abortus terjadi dengan begitu merajalela. Janin-janin yang tidak berdosa dibunuh dengan kejam, dipotong-potong, dihancurkan dengan obat-obatan. Dan, itu pembunuhan yang sangat amat keji. Seandainya hal tersebut dilihat oleh mata, hal itu tidak kalah kejamnya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air kita, seperti pembantaian di Ambon dan di Timor Timur.

Banyak abortus yang dilakukan oleh kalangan-kalangan yang kita sebut “terhormat”, karena hanya keseganan dan tidak mau menambah anak, karena takut ini dan takut itu, dengan tanpa berpikir dan dengan tanpa takut bersalah atau berdosa, maka bayi-bayi yang tidak berdosa, tidak berdaya, dan tidak bersalah dibunuh hidup-hidup. Seandainya mereka bisa membela diri, pasti mereka akan lari atau berteriak-teriak minta belas kasihan.

Banyak orang dan banyak negara berbicara tentang Hak Asasi Manusia (HAM), tetapi merekalah yang menginjak-injak hak-hak anak-anak yang tidak berdaya itu. Kekejaman-kekejaman diperlakukan kepada mereka yang tidak berdaya, yang tidak bersalah, yang tidak berdosa. Bukankah darah bayi-bayi ini berseru-seru ke surga minta balasan? Darah satu orang saja—misalnya, Habel yang dibunuh oleh Kain—telah berteriak-teriak ke surga untuk menuntut balasan. Dan, berapa banyak jumlah bayi yang sudah dibunuh dan mereka berteriak-teriak minta balasan?

Di tahun 2000 saja, abortus yang terjadi rata-rata 350 juta janin per tahun. Coba Anda bayangkan bila mayat-mayat bayi itu disebarkan di jalan seluruh Pulau Jawa ini. Pasti Anda tidak akan bisa berjalan. Tiap langkah Anda akan menginjak seorang bayi. Kekejaman abortus ini tidak pernah disinggung dan ditanggulangi, bahkan dilegalisasi di banyak negara. Walaupun di Indonesia hal ini tidak dilegalisasi, tetapi begitu banyak aborsi yang dilakukan oleh ibu-ibu dan remaja-remaja putri di Indonesia.

Kedua, pornografi. Pornografi pun begitu maraknya. Film-film, video-video, media-media cetak, majalah-majalah, internet, dan lain-lain, begitu dicemari dengan pornografi. Dengan cara demikian, mereka tidak hanya menyesatkan dan membawa banyak orang kepada kehancuran, tetapi juga sekaligus memberikan pengaruh buruk kepada berjuta-juta orang.

Zaman dahulu sebelum adanya media massa ini, banyak kebobrokan terjadi, tetapi hal itu masih terlokalisasi sehingga kalau mereka tidak pergi ke teater atau bioskop, mereka tidak akan terpengaruh. Namun sekarang, pornografi menjangkau ke mana-mana, bahkan masuk ke kamar-kamar tidur. Orang-orang tidak usah pergi ke gedung bioskop, tidak usah pergi ke mana-mana. Mereka bisa mendapatkannya lewat televisi, internet, telepon genggam, yang dapat merusak iman, moral, dan akhlak mereka.

Marilah kita merenungkan betapa hati Tuhan telah disakiti oleh semuanya itu. Tuhan Yesus mengatakan: “Barang siapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). Kalau skandal terjadi melalui media-media massa, maka celakalah para produsen media tersebut karena mereka tidak hanya membawa beberapa orang saja, tetapi jutaan orang bahkan ratusan juta orang yang dirusak jiwanya dan moralnya. Lebih celaka lagi jika para produsen tersebut adalah orang Kristen atau orang Katolik.

Di tempat kerjanya, mereka memang tidak membunuh. Akan tetapi, bukankah dengan cara itu mereka membunuh lebih banyak lagi? Melalui hal itu, iman banyak anak muda dirusak dan dihancurkan. Jumlah orang yang dibunuh di Ambon—entah berapa, mungkin belum sampai satu juta—namun, jumlah orang yang dibunuh ini tidak sebanyak dengan jumlah orang yang jiwa dan moralnya dirusak.

Ketiga, narkoba. Kalau narkoba yang beredar begitu cepat ini terus merajalela demikian, maka benih-benih bangsa kita, tunas-tunas masa depan akan hancur semuanya dalam waktu yang relatif singkat, mungkin lima belas atau dua puluh tahun. Orang yang ketagihan heroin atau narkoba, yang rusak bukan hanya badannya, tetapi juga jiwanya, ingatannya, otaknya, moralnya, dan hidup rohaninya. Syukur bagi mereka yang masih bisa diselamatkan, tetapi banyak yang tidak bisa ditolong lagi.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting