User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Betapa pentingnya kita membedakan arti “keheningan” (silence) dan “kesunyian” (solitude). Sepintas lalu keduanya nampaknya sama, padahal keduanya amat berbeda, sekaligus keduanya tak terpisahkan. Hubungan keduanya terletak pada keheningan atau silentium adalah unsur hakiki dari kesunyian. Tanpa keheningan tiada tercipta kesunyian. Demikian juga, kesunyian tidak akan tercipta tanpa keheningan. Maka, bila keheningan tercipta, terwujudlah kesunyian. Dalam kesunyian, Allah bekerja secara leluasa, dan secara total kepada jiwa. Jiwa pun secara aktif, sadar, dan kreatif dalam sikap yang pasif, terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus dan ia setia melaksanakan apa yang dikehendaki Allah. Bila seorang terbuka terhadap bimbingan Allah dalam kuasa Roh-Nya, maka ia pun akan mencapai persatuan cinta kasih dengan Allah dalam Kristus. Simaklah apa yang dikatakan S. Paulus, Anak Allah adalah semua orang yang dibimbing oleh Roh Allah (Rm 8: 14). Sejak saat itu, ia hanya “hidup tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3).

Makna keheningan dalam Hidupku

Ada beberapa hal pokok yang perlu kita perhatikan dalam penghayatan keheningan.

1. Keheningan dalam penghayatan pribadi: Keheningan itu susah-susah gampang!

Sebelum saya mensharingkan pengalaman saya tentang keheningan, kiranya pertanyaan yang patut diajukan ialah “Sudahkah saudara menghayati keheningan secara radikal, konsekuen dan kontinu?”. Tentu saja, saya mengalami keheningan, namun kalau ditanyakan kualitas keheningan, saya masih harus terus bertekun, menghayatinya dan mendalaminya. Saya sadar tidak mudah untuk menghayatinya, sebab seringkali saya jatuh bangun, apalagi saya cenderung untuk banyak omong, suka usil dan seringkali menggoda, guyon, mengejek orang, ya supaya suasana agak hidup. Mudah-mudahan tidak ada yang tersinggung. Karena itu, menurut hemat saya, untuk mengalami keheningan, saya harus belajar menghayatinya. Itulah sebabnya, pemahaman yang baik tentang keheningan, akan sangat membantu untuk menghayatinya, dengan demikian dapat pula mengalaminya dengan baik. Untuk mengalami keheningan, seseorang harus belajar menjawab pertanyaan berikut ini, “Apa itu keheningan?”.

2. Arti Keheningan dalam hidupku.

Dalam arti longgar, keheningan amat diperlukan bagi hidup religius pada umumnya, bahkan kaum awam. Dalam arti tegas, keheningan amat penting, mutlak, wajib, tidak dapat tidak ada, harus dihayati semua orang beriman yang mengaku “frater CSE”. Apalagi “unsur keheningan” hendaknya mewarnai komunitas-komunitas CSE (lh. Statuta Asosiasi Publik CSE, no. 19; bdk. Pedoman Hidup CSE, pasal 35).

Di luar itu, untuk menghindari eksterm meremehkan keheningan, “bidaah karya sosial”, yaitu segerombolan orang yang mengaku “karyaku adalah doaku”, padahal ada beda tegas antara doa dan karya. Doa adalah jiwa dari karya dan karya akan semakin kosong melompong tanpa doa yang otentik. Maka benar yang dikatakan S. Yohanes dari Salib, Pujangga Gereja dari Karmel, dalam “keheningan akan menciptakan karya kerasulan Gereja yang berlimpah-limpah, bila dibandingkan dengan segala pelayanan aktif tapi melupakan unsur keheningan yang hanya akan menghasilkan sedikit saja buah-buah rohaninya” (bdk. Madah Rohani, bait 28, no. 8).

Sebaliknya, kita juga perlu menghindari ekstrem mendiamkan orang, artinya dengan dalih menjaga keheningan, kita sengaja mendiamkan orang karena konflik batin tertentu. Hal ini patut dihindari sebab menimbulkan pertikaian dan hidup komunitas yang tak sehat serta yang paling penting melawan cinta kasih, jadi suatu dosa melawan Allah sendiri.

Oleh sebab itu, kita perlu memahami arti keheningan secara benar, seimbang, dan tepat. Ada tiga tahap keheningan (Pedoman Praktis CSE, no. 32).

Pertama, Keheningan lahir. Kendati diperlukan tiadanya lagi suara-suara di sekitar kita, tetapi yang terpenting ialah belajar untuk tutup mulut, khususnya pada waktu “silentium agung” sesudah ibadat sore hingga sesudah makan pagi. Meskipun di luar waktu itu, keheningan mesti dijaga sebab “dalam banyak bicara terkandung banyak dosa” (lh. Regula Karmel, no. 21). Demikian juga S. Yohanes dari Salib menekankan kebajikan menjaga lidah untuk menghindari “berbicara hal-hal yang baik tapi menjerumuskan orang pada siksa hukuman neraka” (lh. Nasehat-nasehat kepada Religius, no. 2 dan Nasehat untuk Berjaga-jaga, no. 8-9).

Kedua, keheningan batin. Ketekunan dan keseimbangan dalam penghayatan keheningan lahir akan membawa kepada keheningan dalam bidang budi, ingatan dan kehendak. Dalam tahap ini, tidak sekedar “jaga mulut” tapi lebih dalam lagi, yaitu pentingnya keutamaan iman, pengharapan dan cinta kasih (bdk. Marie Eugene, I Want to See God, hlm. 420-431).

Ketiga, keheningan ilahi. Inilah keheningan, ketenangan yang didamba jiwa-jiwa yang murni hatinya di hadapan Allah. Mereka telah mengalami “perjumpaan dengan Allah, Sang Keheningan Sejati” dalam lubuk jiwa yang terdalam. Inilah persatuan jiwa dengan Allah. Jadi, benar apa yang dikatakan seorang teolog hidup rohani Marie Eugene, “keheningan adalah buah kekudusan sekaligus keheningan adalah sarana untuk mencapai kesucian hidup” (Ibid., hlm. 418).

3. Penghayatan dan Pengalaman Keheningan dalam Hidupku.

Dengan pemahaman yang jelas, benar dan tepat tentang keheningan. Saya pun belajar untuk menghayatinya. Pada kenyataannya, dalam permulaan hidup membiara, karena masih semangat, saya tekun menghayatinya. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu saya agak kendor dengan praktek penghayatan keheningan. Akibatnya, hidup rohani agak kacau, penghayatan hidup komunitas semakin runyam, sampai akhirnya kurang memperhatikan hal-hal ini, saya jatuh dalam kelalaian besar, akibat kurang peka dan malas menghayatinya. Kini, belajar dari pengalaman jatuh-bangun selama hidup membiara kurang lebih 12 tahun ini, mengingat betapa pentingnya keheningan dalam hidupku, dan dalam keheningan kita terlindung dari banyak dosa dan kejahatan, maka saya mulai belajar dari saat ke saat, dari waktu ke waktu untuk menghayatinya. Selain itu, tidak kurang pentingnya ialah peran sesama saudara dan pelayan atau pembimbing rohani untuk selalu mengingatkan, sebab manusia sering lupa dan cenderung untuk meninggalkannya. Saya bersyukur, bahwa “pengalaman adalah guru yang terbaik” sehingga bersama dengan komunitas, saya mau menghayatinya dengan baik.


4. Penghayatan dan Pengalaman Keheningan dalam Pelayanan.

Dengan kesetiaan dan ketekunan dalam penghayatan keheningan secara pribadi, dengan sendirinya akan mengalir dalam pelayanan kepada umat Allah. Ada perbedaan mendasar antara pentingnya unsur keheningan dalam pelayanan dengan pelayanan tanpa persiapan apapun. Saya pernah “ceroboh” sewaktu menjalani tahun pastoral, karena banyak tugas, saya lupa untuk mengadakan persiapan batin. Akibat kurangnya perhatian atas unsur keheningan ini, pelayanan saya nyaris gatot (alias gagal total). Di tengah pelayanan saya “blank” (lupa isi materi yang akan disampaikan). Akibatnya, umat menjadi bingung dan saya tidak melayani dengan baik. Amat jauh berbeda bila kita memperhitungkan aspek keheningan dalam pelayanan. Hidup doa pribadi amat menunjang karya pelayanan. Dengan persiapan materi dan pendalaman materi dalam suasana keheningan dalam “doa, meditasi dan kontemplasi”, pelayanan saya semakin berkualitas. Umat merasakan manfaatnya, khususnya hidup iman mereka makin mendalam dan hidup rohani semakin bertumbuh. Selain itu, saya pun belajar untuk bertumbuh serta peka terhadap bimbingan Roh Kudus, khususnya karunia sabda pengetahuan dan pembedaan roh. Satu hal yang menakjubkan yang tidak akan pernah saya alami bila saya melayani tanpa persiapan. Singkatnya, dari pengalaman tersebut, saya berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan materi pelayanan dan yang terpenting ialah membawa dan mendalaminya dalam suasana kontemplatif dan memohon perlindungan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Jadi, semuanya kita baktikan demi kemuliaan Allah, dan keselamatan jiwa-jiwa.

5. Peranan Keheningan dalam Perayaan Liturgis

Sebenarnya tema ini belum cukup saya dalami. Tapi satu hal yang amat menentukan ialah kiranya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya tuliskan sebelumnya. Sebab, dengan mempersiapkan diri dalam keheningan “doa, meditasi dan kontemplasi”, maka kita akan melengkapi apa yang kurang dalam persiapan materi, misalnya dalam tugas lektor, pemazmur, ataupun solis, khususnya keheningan amat penting dalam tugas seorang imam dalam membawakan homili atau khotbah dalam perayaan Ekaristi. Saya teringat dengan teladan Beato Yohanes Paulus II dan Padre Pio, bagi kedua orang kudus besar ini, perayaan liturgis khususnya Perayaan Ekaristi adalah “perayaan pertama kali dan selalu baru”. Maka, kedua orang kudus selalu mempersiapkan dalam keheningan doa dan kontemplasi sebelum mereka merayakan Ekaristi. Saya ingat sekali bagaimana Beato Yohanes Paulus II sebelum merayakan misa, ia biasa berlutut lama sekali di bawah kaki salib sebelum merayakan misa kudusnya. Tidak mengherankan ketika ia merayakan misa, “dia terasa khusuk, khidmat, dan memancarkan energi ilahi” dan umat pun mengalami buah-buah rohani yang berlimpah. Demikian juga Padre Pio yang menandakan hidupnya hingga saat uzur dengan “berdoa tak kunjung putus-putusnya”. Pagi dini hari, ia sudah bangun dan ia berdoa, bahkan misa yang berlangsung selama 3 jam tak meninggalkan kesan bosan di antara umat yang menghadirinya. Belum lagi, Padre Pio menambah ucapan syukurnya dengan berdoa, berpuasa dan ia terus berdoa “rosario” dalam pelayanan pengakuan dosa. Tak mengherankan Allah amat berkenan kepada orang-orang kudusnya, sehingga umat pun merasakan “kasih dan mukjizat Allah” dengan perantaraan doa dan pelayanan Padre Pio. Jadi, perayaan liturgi khususnya perayaan Ekaristi sungguh menjadi “sumber dan puncak” kehidupan Gereja dan umat Kristiani apabila dalam persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dijalankan dengan penuh semangat dalam keheningan yang bermakna dalam iman, pengharapan dan kasih. Seperti kata Romo Pareira, “Memang persiapan materi itu penting, tetapi biarkan Roh berbicara secara bebas pada saatnya.” Dengan demikian, dalam keheningan Allah berbicara kepada kita, dan pada saat pelayanan Allah “menyapa umat-Nya” melalui kita, alat-alat kecil-Nya. Betapa pentingnya keheningan yang akan mengajar segala sesuatu kepada kita, bahwa segala dan seluruhnya adalah demi untuk menyenangkah hati Tuhan Yesus dan keselamatan jiwa-jiwa.

6. Langkah-langkah Praktis Penghayatan

6. dan Pengalaman Keheningan dalam Hidup Pribadi, Pelayanan dan Liturgis.

Bagian ini bukanlah penghayatan orang lain, melainkan apa yang telah saya jalankan dan terbukti “berbuah” dalam kehidupan pribadi dan pelayanan serta dalam perayaan liturgis.

Pertama, keheningan menjadi praksis hidup sehari-sehari. Bukan karena takut kepada pelayan tetapi pertama-tama karena “Takut akan Allah”. Bukankah kata orang bijak, “Takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan” (bdk. Ams 1:7). Pada akhirnya, keheningan menjadi kebutuhan. Karena itu, saya menghayatinya secara khusus pada waktu silentium agung, kendati di luar waktu-waktu itu, saya tetap menjaganya kendati tidak seketat saat silentium agung.

Kedua, mempersiapkan materi pelayanan dalam suasana doa. Pengalaman hidup mengajarkan bahwa kita harus belajar dari orang bijak dan orang kudus supaya tidak jatuh dalam pengalaman yang sama (bdk. 2 Tim 3: 15-17; 1 Kor 10: 6-10). Maka, sebelum mempersiapkan, mulai mempersiapkan, dan sesudahnya, saya memohon bantuan dan kuasa Roh Kudus dalam doa dan kontemplasi.  Bahkan saya sering memperdalamnya teks-teks Kitab Suci yang bersangkutan dalam Lectio Divina.

Ketiga, sebelum pelayanan saya hening di hadapan Tuhan. Terbukti dengan mengadakan persiapan batin, khususnya doa batin selama ½ - 1 jam dan menyerahkannya dalam perlindungan Bunda Maria sebelum pelayanan, entah itu dalam adorasi, misa, dan sebagainya, saya dapat melayani dengan baik. Bahkan saya pun terbuka terhadap dorongan dan karunia Roh Kudus. Tak mengherankan pelayanan saya dan komunitas semakin berkembang, sebab dalam segala sesuatunya “Roh Kudus yang berkarya”. Maka, benar apa yang dikatakan oleh Regula Karmel, “Dalam keheningan dan pengharapan terletak kekuatan” (no. 21)  dalam melayani Allah dan umat-Nya. Tak lupa sesudah pelayanan, saya mengucap syukur dan limpah terima kasih kepada Dia yang telah mempercayakan pelayanan ini dan rahmat dan kasih-Nya yang telah saya alami dan juga dialami oleh umat-Nya.

Penutup

Memang saya akui bahwa menghayati dan mengalami keheningan memang tidak mudah. Apalagi bila tujuannya adalah untuk memuliakan Allah dan bagikeselamatan jiwa-jiwa. Belum lagi banyak godaan, pertanda bahwa si jahat tidak senang dan berusaha menghambat karya Roh dalam diri dan serikat kita. Namun, bila kita sungguh percaya pada kuasa Roh Kudus, maka dengan menghayati dan mengalami “keheningan yang bermakna”, maka kita akan memperoleh keselamatan dalam Kristus dan memenangkan banyak jiwa demi untuk menyenangkan hati-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting