User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

4. Penghayatan dan Pengalaman Keheningan dalam Pelayanan.

Dengan kesetiaan dan ketekunan dalam penghayatan keheningan secara pribadi, dengan sendirinya akan mengalir dalam pelayanan kepada umat Allah. Ada perbedaan mendasar antara pentingnya unsur keheningan dalam pelayanan dengan pelayanan tanpa persiapan apapun. Saya pernah “ceroboh” sewaktu menjalani tahun pastoral, karena banyak tugas, saya lupa untuk mengadakan persiapan batin. Akibat kurangnya perhatian atas unsur keheningan ini, pelayanan saya nyaris gatot (alias gagal total). Di tengah pelayanan saya “blank” (lupa isi materi yang akan disampaikan). Akibatnya, umat menjadi bingung dan saya tidak melayani dengan baik. Amat jauh berbeda bila kita memperhitungkan aspek keheningan dalam pelayanan. Hidup doa pribadi amat menunjang karya pelayanan. Dengan persiapan materi dan pendalaman materi dalam suasana keheningan dalam “doa, meditasi dan kontemplasi”, pelayanan saya semakin berkualitas. Umat merasakan manfaatnya, khususnya hidup iman mereka makin mendalam dan hidup rohani semakin bertumbuh. Selain itu, saya pun belajar untuk bertumbuh serta peka terhadap bimbingan Roh Kudus, khususnya karunia sabda pengetahuan dan pembedaan roh. Satu hal yang menakjubkan yang tidak akan pernah saya alami bila saya melayani tanpa persiapan. Singkatnya, dari pengalaman tersebut, saya berusaha semaksimal mungkin untuk mempersiapkan materi pelayanan dan yang terpenting ialah membawa dan mendalaminya dalam suasana kontemplatif dan memohon perlindungan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Jadi, semuanya kita baktikan demi kemuliaan Allah, dan keselamatan jiwa-jiwa.

5. Peranan Keheningan dalam Perayaan Liturgis

Sebenarnya tema ini belum cukup saya dalami. Tapi satu hal yang amat menentukan ialah kiranya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya tuliskan sebelumnya. Sebab, dengan mempersiapkan diri dalam keheningan “doa, meditasi dan kontemplasi”, maka kita akan melengkapi apa yang kurang dalam persiapan materi, misalnya dalam tugas lektor, pemazmur, ataupun solis, khususnya keheningan amat penting dalam tugas seorang imam dalam membawakan homili atau khotbah dalam perayaan Ekaristi. Saya teringat dengan teladan Beato Yohanes Paulus II dan Padre Pio, bagi kedua orang kudus besar ini, perayaan liturgis khususnya Perayaan Ekaristi adalah “perayaan pertama kali dan selalu baru”. Maka, kedua orang kudus selalu mempersiapkan dalam keheningan doa dan kontemplasi sebelum mereka merayakan Ekaristi. Saya ingat sekali bagaimana Beato Yohanes Paulus II sebelum merayakan misa, ia biasa berlutut lama sekali di bawah kaki salib sebelum merayakan misa kudusnya. Tidak mengherankan ketika ia merayakan misa, “dia terasa khusuk, khidmat, dan memancarkan energi ilahi” dan umat pun mengalami buah-buah rohani yang berlimpah. Demikian juga Padre Pio yang menandakan hidupnya hingga saat uzur dengan “berdoa tak kunjung putus-putusnya”. Pagi dini hari, ia sudah bangun dan ia berdoa, bahkan misa yang berlangsung selama 3 jam tak meninggalkan kesan bosan di antara umat yang menghadirinya. Belum lagi, Padre Pio menambah ucapan syukurnya dengan berdoa, berpuasa dan ia terus berdoa “rosario” dalam pelayanan pengakuan dosa. Tak mengherankan Allah amat berkenan kepada orang-orang kudusnya, sehingga umat pun merasakan “kasih dan mukjizat Allah” dengan perantaraan doa dan pelayanan Padre Pio. Jadi, perayaan liturgi khususnya perayaan Ekaristi sungguh menjadi “sumber dan puncak” kehidupan Gereja dan umat Kristiani apabila dalam persiapan, pelaksanaan dan evaluasi dijalankan dengan penuh semangat dalam keheningan yang bermakna dalam iman, pengharapan dan kasih. Seperti kata Romo Pareira, “Memang persiapan materi itu penting, tetapi biarkan Roh berbicara secara bebas pada saatnya.” Dengan demikian, dalam keheningan Allah berbicara kepada kita, dan pada saat pelayanan Allah “menyapa umat-Nya” melalui kita, alat-alat kecil-Nya. Betapa pentingnya keheningan yang akan mengajar segala sesuatu kepada kita, bahwa segala dan seluruhnya adalah demi untuk menyenangkah hati Tuhan Yesus dan keselamatan jiwa-jiwa.

6. Langkah-langkah Praktis Penghayatan

6. dan Pengalaman Keheningan dalam Hidup Pribadi, Pelayanan dan Liturgis.

Bagian ini bukanlah penghayatan orang lain, melainkan apa yang telah saya jalankan dan terbukti “berbuah” dalam kehidupan pribadi dan pelayanan serta dalam perayaan liturgis.

Pertama, keheningan menjadi praksis hidup sehari-sehari. Bukan karena takut kepada pelayan tetapi pertama-tama karena “Takut akan Allah”. Bukankah kata orang bijak, “Takut akan Allah adalah permulaan kebijaksanaan” (bdk. Ams 1:7). Pada akhirnya, keheningan menjadi kebutuhan. Karena itu, saya menghayatinya secara khusus pada waktu silentium agung, kendati di luar waktu-waktu itu, saya tetap menjaganya kendati tidak seketat saat silentium agung.

Kedua, mempersiapkan materi pelayanan dalam suasana doa. Pengalaman hidup mengajarkan bahwa kita harus belajar dari orang bijak dan orang kudus supaya tidak jatuh dalam pengalaman yang sama (bdk. 2 Tim 3: 15-17; 1 Kor 10: 6-10). Maka, sebelum mempersiapkan, mulai mempersiapkan, dan sesudahnya, saya memohon bantuan dan kuasa Roh Kudus dalam doa dan kontemplasi.  Bahkan saya sering memperdalamnya teks-teks Kitab Suci yang bersangkutan dalam Lectio Divina.

Ketiga, sebelum pelayanan saya hening di hadapan Tuhan. Terbukti dengan mengadakan persiapan batin, khususnya doa batin selama ½ - 1 jam dan menyerahkannya dalam perlindungan Bunda Maria sebelum pelayanan, entah itu dalam adorasi, misa, dan sebagainya, saya dapat melayani dengan baik. Bahkan saya pun terbuka terhadap dorongan dan karunia Roh Kudus. Tak mengherankan pelayanan saya dan komunitas semakin berkembang, sebab dalam segala sesuatunya “Roh Kudus yang berkarya”. Maka, benar apa yang dikatakan oleh Regula Karmel, “Dalam keheningan dan pengharapan terletak kekuatan” (no. 21)  dalam melayani Allah dan umat-Nya. Tak lupa sesudah pelayanan, saya mengucap syukur dan limpah terima kasih kepada Dia yang telah mempercayakan pelayanan ini dan rahmat dan kasih-Nya yang telah saya alami dan juga dialami oleh umat-Nya.

Penutup

Memang saya akui bahwa menghayati dan mengalami keheningan memang tidak mudah. Apalagi bila tujuannya adalah untuk memuliakan Allah dan bagikeselamatan jiwa-jiwa. Belum lagi banyak godaan, pertanda bahwa si jahat tidak senang dan berusaha menghambat karya Roh dalam diri dan serikat kita. Namun, bila kita sungguh percaya pada kuasa Roh Kudus, maka dengan menghayati dan mengalami “keheningan yang bermakna”, maka kita akan memperoleh keselamatan dalam Kristus dan memenangkan banyak jiwa demi untuk menyenangkan hati-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting