Print
Category: Karismatik
Hits: 6168

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 


Hidup kristen dalam abad ke-20 ini ditandal dengan bangkitnya kembali Pentakosta seperti pada zaman para rasul. Pembaruan ini berkembang begitu pesat dalam gereja-gereja Pentakosta selama setengah abad ini. Kemudian mulai menyebar ke dalam gereja-gereja Protestan, lalu gereja-gereja Anglikan pada tahun limapuluhan, hingga akhirnya masuk ke dalam Gereja Katolik sekitar akhir tahun enam-puluhan. Dibandingkan gereja-gereja yang lain, perkembangan pembaruan ini dalam Gereja Katolik dan gereja-gereja Pentekosta jauh lebih pesat.

Pembaruan Karismatik - begitulah gerakan ini disebut dalam Gereja Katolik - dalam Gereja Katolik mendekati Pentekosta pada zaman Gereja awali dan umat Katolik yang mengalaminya, kemudian berbicara tentang pengalaman akan Roh Kudus, sebagaimana yang dialami oleh para saudara dan Gereja Pentakosta. Mereka berbicara berdasarkan pengalaman atas kejadian penting yang mereka sebut dengan istilah dibaptis dalam Roh atau pencurahan Roh dan juga dan Semua penjelasan berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci mengenai pengalaman tersebut.

Pembaptisan dalam Roh merupakan saat terpenting yang kedua dalam pengalaman hidup kekristenan setelah pembaptisan air yang telah dilakukan selama berabad-abad. Pembaptisan air ditandai dengan pertobatan, berpaling kepada Kristus, dan regenerasi umat, tetapi tidak ditandai dengan kepenuhan hidup dalam Roh. Kepenuhan ini datang melalui pembaptisan Roh. Bukti dan penerimaannya seringkali ditandai dengan munculnya manifestasi Roh, khususnya bahasa lidah (umumnya disebut bahasa Roh).

Dalam tradisi Gereja Katolik, sekalipun dimengerti bahwa Roh Kudus telah diberikan saat pembaptisan, Sakramen Krisma selalu dihubungkan sebagai pemberian karunia yang nyata dan Roh. Beberapa contoh dalam teks Kitab Suci yang digunakan untuk menunjang Sakramen Krisma juga digunakan dalam Pembaruan Karismatik sebagai dasar pembaptisan dalam Roh. Pembaptisan dalam Roh sebagai pembaptisan yang kedua dan yang mewujudkan bukti yang paling nyata dan permulaan kepenuhan hidup Kristen.

 


Pembaptisan dalam Roh dan Peran Baptisan Air (Sakramen Baptis)

Penelitian yang paling cermat mengenai hal mi adalah penelitian oleh J.D.G. Dunn. Ia membaginya menjadi dua bagian:

  1. Pembaptisan dalam Roh merupakan elemen utama bagi seseorang yang baru bertobat agar ia dapat memasuki suatu hidup Kristen, sehingga orang tersebut disebut Kristen.
  2. Pembaptisan Air berbeda dengan Pembaptisan Roh. Baptisan Air merupakan tanda pertobatan dan pernyataan iman seseorang untuk percaya kepada Kristus, yang merupakan bagian dan manusia baru dan juga yang merupakan tanda bahwa Gereja menerima anggota baru dalam tubuhnya - dalam tesis Dunn.

 

Mengapa demikian? Marilah kita bandingkan hal in dengan Rm.8:9: “Jika seseorang tidak memiliki Roh Kristus, orang tersebut bukan milik Kristus.” Oleh karena itu, tidaklah mungkin bila ada seseorang menjadi milik Kristus, tetapi tidak memiliki Roh Kristus. Dengan tegas Paulus menyingkirkan kemungkinan adanya orang yang bukan Kristen, tetapi memiliki Roh Kristus, atau sebaliknya, orang Kristen yang tidak memiliki Roh Kristus. Hanya mereka yang menerima Kristus dan dijiwai oleh Roh Kristus saja yang disebut Kristen.

Dalam suratnya yang lain Paulus menyatakan bahwa pembaptisan Roh adalah permulaan hidup Kristen, “Barangsiapa yang disatukan dengan Tuhan akan menjadi satu Roh dengan-Nya” (1 Kor.6:17). Kemudian, “Dengan cara apakah engkau menerima Roh? Apakah melalui taurat atau melalui iman dan apa yang kamu dengar? ... Setelah memulainya dalam Roh...” (Gal. 3:2). Dan khususnya lagi dalam

1 Kor.12:13, “Dalam satu Roh, kita semua... dibaptis menjadi satu tubuh, dan semuanya meminum dan satu Roh.” Maka jelaslah bahwa dengan ayat-ayat ini sangat tidak mungkmnlah membuktikan seseorang dapat menjadi pengikut Kristus di satu pthak dan menerima karunia Roh di lain pihak. Tulisan-tulisan Paulus yang lainnya juga mendukung hal ini.

Dalam Titus 3:5dst dan Injil Yohanes 3:5 dinyatakan hubungan yang sangat erat antara baptisan air dengan baptisan Roh sehingga keduanya harus diterimakan diperbarui oleh Roh dan dilahirkan kembali dalam Roh menandakan bahwa seseorang diperbarui dan dilahirkan kembali. Namun Dunn menganggap Sakramen Baptis sebagai tidak lebih dan suatu tanda saja dan bukan merupakan unsur pokok dalam misiasi hidup Kristiani dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Perbedaan yang terdapat dalam Injil Markus 1:8 antara baptisan air dan baptisan Roh secara tidak langsung menyatakan bahwa inisiasi Kristen pada dasarnya dipersiapkan untuk baptisan mesianik dalam roh sehingga seseorang dapat memasuki masa mesianik. Ini karena kata, “...segeralah Roh Kudus,” tidak menekankan adanya hubungan antara baptisan Yohanes dengan turunnya Roh Kudus sebab Markus dalam menulis Injilnya tidak terlalu mempermasalahkan baptisan Yohanes atas diri Yesus dan kata asli dari “segeralah” hanya merupakan gaya bahasanya saja. Memang ia tidak menyangkal bahwa baptisan Yohanes atas diri Yesus di Sungai Yordan sebagai prototipe baptisan Kristen, tetapi ia menyangkal bahwa karena baptisan Yohanes tersebut Roh Kudus turun. Yohanes dalam Injilnya tidak menceritakan secara mendetail kejadian Yesus dibaptis, hanya disinggungnya pada kesaksian Yohanes Pembaptis mengenai Yesus kepada murid-muridnya (disebutkan dua kali) — Yoh. 1:29-34. Lukas juga tidak menceritakan saat pembaptisan tersebut. Ia hanya menyebutkan bahwa ketika Yesus sedang berdoa, turunlah Roh Kudus (diasumsikan bahwa pembaptisan sudah terjadi). Matius dalam Injilnya malahan menceritakan ketika Yohanes melihat Yesus, ia sendirilah yang meminta supaya Yesus membaptisnya. Jadi, jika kita melihat alasan-alasan ini, akan jelaslah bagi kita bahwa baptisan Yohanes tidak ada hubungannya dengan turunnya Roh Kudus saat Yesus dibaptis.
  2. Baptisan Roh yang dialami oleh 120 orang murid Yesus dan baptisan yang terjadi pada Kornelius dan keluarganya membuktikan bahwa baptisan air tidak ada hubungannya dengan turunnya Roh Kudus. Alasannya, karena baptisan Roh yang dialami oleh 120 orang murid Yesus menyatakan bahwa baptisan Yohanes menjadi lengkap setelah menerima Roh - sebagaimana halnya dengan Yesus - sehingga baptisan air hanya merupakan lanjutan saja dan baptisan Yohanes. Sedangkan dalam kasus Kornelius, Roh Kudus turun atas dia dan keluarga serta kenalannya ketika Petrus sedang berbicara kepada mereka, meskipun mereka belum menerima baptisan Yohanes (baptisan air).
  3. Kata baptizein tidak mempunyai konotasi baptisan air. Tetapi hanya makna kiasan saja. Lagipula dalam 1 Kor. 12:13 tidak dijelaskan sama sekali mengenai baptisan air, juga dalam Tit.3:5dst.

 

Memang dalam tesisnya, Dunn banyak protes akan afikaksi (kemujaraban/ daya) dan Sakramen Baptis. Tapi ia akan ketemu batunya bila membaca Rm.6:4: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian (inisiasi kristiani — Sakramen Baptis), supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dan antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru,” Yoh.3:5, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dan air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah,” dan Santo Petrus dalam membandingkan pembaptisan air ini dengan peristiwa air bah pada zaman Nabi Nuh mengatakan, “Juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan (1 Ptr.3:21). Lagipula dalam tesisnya, Dunn tidak mengambil referensi dan teologi sakramental Katolik zaman sekarang.

Lalu kita dapat bertanya, “Bagaimanakah dengan Sakramen Baptis dewasa mi? Mengapa orang tidak lagi mengalami kuasa Roh Kudus seperti jemaat zaman Gereja awali setelah mereka menerima sakramen tersebut? Mengapa Sakramen Baptis sekarang ini nampak hanya merupakan tanda saja? Dan apakah pembaptisan Roh merupakan “rahmat kedua” dalam hidup kristiani?

 



Kesimpulan untuk Zaman Sekarang Ini

Sumbangan besar dan karya Dunn terhetak dalam tesisnya yang pertama, yaitu perlunya menjadikan karunia Roh Kudus hal yang utama di dalam inisiasi menjadi orang Kristen. Roh Kudus dalam hal ini tidak dianggap sebagai suatu “rahmat kedua” yang istimewa atau “saat-saat kedua” dan pengalaman orang Kristen, namun sebagai hal penting yang hams ada sejak permulaan dalam inisiasi yang sesungguhnya untuk menjadi seorang Kristen.

Tidak satu teks Kitab Suci pun di dalam Perjanjian Baru, bahkan juga di dalam “Kisah Para Rasul”, yang mendukung tesis adanya dua pembaptisan berhubungan dengan pembaptisan Kristen yang sesungguhnya oleh Roh Kudus.
Hanya ada satu baptisan (Ef. 4:5), yaitu Pembaptisan dalam Roh. Tidak ada yang harus dipisahkan, bahkan kronologis dari ritual dengan air seungguhnya merupakan bagian yang menyeluruh dan pembaptisan orang Kristen, seseorang dilahirkan kembali dari air dan Roh. Namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu untuk diterima karena bagi Gereja Awali, khususnya Santo Paulus, Roh Kudus adalah suatu pengalaman.

Kemunduran dan dimensi pengalaman mi dapat dianggap berasal dan beberapa faktor:

 

 

Oleh sebab-sebab tersebut di atas, Sakramen Baptis seakan-akan semakin lama semakin meninggalkan realitasnya sebagai suatu sarana yang dapat dipercaya dan yang dapat “menjamin” kehadiran Roh Kudus secara penuh. Sehingga dapat dimengerti mengapa Gereja seakan-akan kehilangan sesuatu. Dan negeri Barat memecahkan masalah ini dengan keadaan yang sudah mapan dan pemisahan antara Sakramen Krisma dengan Sakramen Baptis, yaitu dengan menekankan nilai Sakramen Krisma sebagai suatu sakramen kedewasaan dan kelayakan akan peneguhan, tibanya suatu saat di mana mereka yang menerima sakramen mi akan memiliki pengalaman pribadi yang lebih besar akan Roh Kudus.

Tetapi harga yang harus dibayar untuk semuanya itu adalah kita kehilangan sesuatu berkenaan dengan aspek inisiasi dan keterikatan yang kuat akan pembaptisan dengan air.

Untuk menekankan hakekat pengalaman dan karunia Roh Kudus di dalam Pejanjian Baru dan menekankan perlunya bagi kita untuk menemukan kembali dimensi ini, ada dua pertanyaan yang harus dijawab:

  1. Teks-teks Kitab Suci apakah yang ada untuk menyadarkan kita akan suatu pengalaman rahmat rohaniah yang sudah diberikan itu? (Teori)
  2. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang Kristen untuk menghidupkan rahmat itu? (Tindakan praktis)

 



Jawaban I:

Kisah Para Rasul memberikan banyak contoh biblis tentang suatu pengalaman akan Roh Kudus. Namun ada pula kisah di dalam kitab itu yang menyatakan bahwa suatu penguatan atau suatu pemenuhan dengan Roh Kudus dapat terjadi lebih dari satu kali (Kis.4:31). Kejadian dalam kisah itu pun memiliki banyak persamaan dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus yang pertama (Kis.2:1-11) dan memberikan suatu dasar yang dapat diterima bagi mereka yang sudah dibaptis dan yang telah menerima Sakramen Krisma untuk mengalami suatu “pencurahan dan Roh Kudus” dalam konteks pelayanan dan komunitas doa.

Suatu teks lain, 2 Tim.1:6 menyatakan, “Karena itu kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.” Karunia Allah dalam teks itu adalah Roh Kudus sendiri. Menurut Paulus dalam teks itu, Roh Kudus sungguh perlu dikobarkan kembali; seperti api yang telah padam menjadi bara dan perlu ditiup angin agar berkobar menjadi lidah-lidah api lagi. Ini berarti: suatu karunia Allah yang telah lama diterima mungkin dapat dihidupkan kembali, biasanya dengan pengaruh atau pengalaman yang hams mempunyai sifat yang lebih kuat daripada yang diterima pertama kali, ibarat pengalaman “pertobatan kedua” yang biasanya dikatakan oleh para kudus dan mistikus.

 

Jawaban II

Rahner (seorang teolog terkemuka zaman ini, red.), membuat suatu komentar yang penting: Bila kita merefleksikan apa yang dikatakan di dalam Kisah Para Rasul tentang Sakramen Penguatan, adalah jelas bahwa Roh Kudus yang dicurahkan melalui penumpangan tangan ini selalu dianggap sebagai suatu Roh yang memanifestasikan hakekatNya secara nyata melalui karisma-karisma.

Hal itulah yang benar-benar ingin dikatakan dalam ajaran Pentakosta dan diteguhkan di dalam pengalaman akan penerimaan karisma-karisma.

Apa yang membuat perbedaan antara pengakuan iman yang murni akan Roh Kudus dalam Sakramen Baptis dan Sakramen Krisma dengan pengalaman akan Roh Kudus dalam Pencurahan Roh Kudus terletak pada keterbukaan kita terhadap karunia Allah itu. Amin.

“Oleh karena itu, marilah kita akui bahwa hidup Kristen kita harus mengambil teladan dan inspirasi dan sesuatu yang agung dan rahmat yang baru, itu adalah, karya Roh Kudus di dalam jiwa-jiwa, bersatu dengan Yesus Kristus” (Paus Paulus VI dalam sebuah suratnya)