User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

Dunia dewasa ini semakin maju. Pandangan dan gaya hidup semakin beragam. Dalam banyak hal, orang tidak mau lagi tunduk kepada hukum kodrat, apalagi hukum ilahi. Setelah ditelusuri, ternyata penyebab semua ini adalah arus pemikiran yang pada mulanya muncul di Eropa lalu berkembang ke seluruh dunia. Arus pemikiran itu adalah individualisme. Individualisme menempatkan individu sebagai realitas yang berdiri sendiri, sebagai otonomi bebas yang bergerak di luar kungkungan jerat budaya, agama, etika, hukum, dll. Dalam pandangan individualisme, kebebasan individu berada di atas segalanya.

Individualisme melahirkan materialisme yang meniadakan sesuatu yang ilahi. Pandangan ini dapat diringkas dengan ”yang ada adalah yang dapat dilihat, diraba, dirasakan oleh indra.” Pandangan ini memporak-porandakan agama atau iman yang persis memiliki fondasi ilahi. Bagi kaum individualis dan materialis, surga itu mimpi, sedangkan dosa itu manusiawi dan merupakan bagian dari kelemahan psikologis.

 

Kehilangan Kesadaran Dosa

Akibat dari individualisme dan materialisme adalah munculnya krisis kesadaran manusia modern tentang dosa. Krisis ini bisa diwakili oleh pandangan ”hari gini masih berbicara dan berpikir tentang dosa?” Ungkapan ini sebetulnya mau mengatakan bahwa dosa itu adalah istilah kuno yang sekarang tidak patut dibicarakan, tidak memiliki makna bagi orang modern. Dosa tidak relevan lagi untuk dibicarakan, alias sudah ketinggalan zaman. Krisis kesadaran akan dosa ini sebenarnya sudah dibaca oleh Paus Leo XIII ketika ia mengatakan, ”Dosa terbesar jaman ini adalah manusia kehilangan rasa berdosa.”

Krisis kesadaran ini ditandai oleh banyaknya istilah yang sebenarnya sebagai bentuk bahasa lembut dari dosa. Kecenderungan tidak menggunakan istilah ”dosa” menunjukkan keengganan manusia jaman sekarang untuk mengakui perbuatan-perbuatan tertentu sebagai sungguh-sungguh dosa pribadi yang menuntut pertobatan. Beberapa ungkapan dewasa ini yang dipakai sebagai bentuk halus dari ungkapan dosa antara lain: kesalahan, salah perhitungan, kekeliruan, kurang studi kelayakan, belum profesional, kelalaian, human error, kelemahan manusiawi, hanya perbedaan persepsi, dll.

Manusia dewasa ini sesungguhnya kehilangan rasa rohani yang sebetulnya melekat erat dalam dirinya. Dengan tidak adanya rasa rohani maka rasa dosa pun akan hilang. Kehilangan rasa dosa tidak saja pada orang-orang non Katolik, tetapi juga pada orang-orang Katolik. Akibatnya Sakramen Tobat kurang dihayati. Lihat saja pada masa Adven dan PraPaskah─yang hanya sekali setahun─hanya sedikit orang yang antri untuk menerima Sakramen Tobat (Sakramen Pengakuan Dosa) di paroki-paroki. Kalaupun ada orang yang datang pengakuan dosa pada kedua masa ini, seringkali terkesan ”terpaksa”. Kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri tidak ada lagi.

Oleh karena itu, di tengah kehilangan kesadaran manusia dewasa ini akan dosa, perlulah kembali pada teologi tentang dosa. Tentu saja refleksi ini sangat berkaitan dengan iman. Sebab tanpa kembali ke titik tolak iman, dosa tidak ada artinya.


Berteologi tentang Dosa

Dosa adalah realitas yang menjadi bagian dari iman. Orang melakukan dosa dan mengenalnya sebagai dosa hanya kalau dia memiliki iman. Hanya orang beriman yang dapat mengakui dirinya sebagai seorang pendosa dalam arti sesungguhnya. Iman tentu saja berkaitan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Maka, berbicara tentang dosa tidak bisa hanya sampai ”kata atau tindakan dosanya,” melainkan harus dikaitkan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Yesus datang untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa.

Dalam kaitan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus, dosa adalah tindakan manusia beriman yang tidak sesuai dengan keselamatan itu. Dengan kata lain, manusia beriman itu menantang arus keselamatan yang seharusnya diterima sebagai suatu anugerah Allah. Manusia beriman lebih tertarik dengan tindakan yang berlawanan dengan keselamatan. Manusia beriman lebih memilih ”yang bukan ilahi” daripada yang ilahi. Seperti yang dikatakan St. Agustinus, ketika ia berbicara tentang dosa. Dosa adalah tindakan ketika manusia memeluk ciptaan. Dengan memeluk ciptaan, Ia melePaskahn Penciptanya dengan tindakan keselamatan yang kerjakan-Nya atas dirinya. Ingat apa yang dikatakan Yesus, ”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan” (Luk 16:19). Ia tidak bisa sekaligus mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Jadi, manusia dapat memahami dosa hanya dalam kaitannya dengan iman. Tanpa iman dia tidak mengetahui perbuatannya adalah dosa.

Dosa dengan demikian adalah bagian dari realitas iman. Hal ini harus diakui. Iman tidak lain adalah jawaban ”ya” secara bebas dari manusia terhadap pewahyuan Allah yang menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dosa adalah bagian dari realitas keselamatan. Kesadaran akan dosalah yang membuat manusia sadar bahwa dirinya membutuhkan keselamatan lewat pengampunan dosa. Sejarah kedosaan manusia berarti juga menjadi suatu sejarah keselamatan (bdk. 1Yoh 3:1-10). Demikian juga sejarah keselamatan terkandung di dalam sejarah kejatuhan manusia dalam dosa. ”Oh felix culpa” ’Oh, dosa yang membahagiakan’ dapat dipahami dalam kerangka pemikiran ini. Di sini sejarah keselamatan berisi sejarah kedosaan manusia, tetapi sekaligus sejarah belaskasih Allah akan umat-Nya yang berdosa.

Berbicara tentang dosa dan keselamatan, mau tidak mau berbicara tentang Yesus Kristus sebagai pangkal keselamatan. Yesus Kristus ditempatkan dalam konteks situasi dosa manusia sebagai seorang yang tidak mengenal dosa tetapi yang menanggung akibat-akibatnya. Yesus Kristus yang tidak mengenal dosa, seolah-olah menjadi pendosa demi kita. Paulus mengatakan: ”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:21). Lebih jelas lagi hal ini kalau dihubungkan dengan Gal 3:13-14, ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ’Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

Makna hal ini adalah semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Yesus muncul sebagai kekuatan baru, sebagai awal baru, sebagai tunas baru dari keturunan Adam. Ia muncul dan menghancurkan kuasa dosa dengan cara memasuki wilayah dosa itu, bahkan sampai terkena akibatnya, akan tetapi Ia tetap mempertahankan identitas-Nya sebagai ”Yang Kudus dari Allah”. Yesus tidak tertular atau terkontaminasi oleh kuasa dosa itu, tetapi Ia menanggung akibat-akibat dosa itu dengan mati seperti seorang pendosa dan terkutuk. Akibat-akibat dosa mestinya diterima oleh manusia yang melakukannya. Tetapi, kini Yesus datang untuk menanggung akibat-akibat itu (hanya akibat-akibatnya, bukan dosanya). Inilah yang menjadi inti kabar gembira yang dibawakan oleh Yesus. Maka, apa yang dinubuatkan oleh Deutero Yesaya digenapi dalam diri Yesus:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, [...]. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. [...] ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53:4-5. 12b).


Kebutuhan Sakramen Pertobatan

Paulus mengatakan dalam suratnya kepada umat di Roma, ”di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Kasih karunia Allah itu tetap melimpah, walaupun manusia berada dalam himpitan dosa. Akan tetapi, hal itu tidak berarti manusia boleh tetap tenggelam dalam kubangan dosa dengan harapan kasih Allah pasti akan dicurahkan secara melimpah. Ini adalah harapan naif. Di sini dibutuhkan usaha dari manusia bersama dengan harapan akan rahmat Allah yang bekerja dalam dirinya.

Jaman sekarang dosa semakin melimpah. Ini mau menunjukkan rahmat Allah juga melimpah dan usaha manusia harus semakin lebih lagi untuk menghindari himpitan dosa. Maka, kebutuhan akan rekonsiliasi dengan Allah harus semakin lebih lagi. Namun, di tengah kesadaran akan kehilangan rasa dosa, maka perlu dibangun kembali suatu kesadaran baru dalam hati manusia akan sengatan dosa dan kebutuhan akan keselamatan dalam Yesus Kristus.

Oleh sebab itu, kebutuhan akan Sakramen Pertobatan menjadi sesuatu yang mendesak. Nabi Yoel dalam kitabnya mendesak umat untuk sesegera mungkin berbalik kepada Allah. Jangan ditunda-tunda, sekali lagi jangan ditunda-tunda.

”’Tetapi sekarang juga,’ demikianlah firman TUHAN, ’berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.’ Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (Yoel 2:12a.13).

Hal yang sama juga ditegaskan dalam Perjanjian Baru setelah Yohanes Pembaptis yang muncul mewartakan pertobatan ditangkap. Yesus tampil mewartakan Kerajaan Allah dan pertobatan. ”Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14). ”Waktunya telah genap”, ”saatnya telah tiba”, ”sekarang juga” kita harus berbalik kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa tindakan berbalik kepada Allah tidak boleh ditunda-tunda.

Pertobatan menjadi seruan yang harus selalu digemakan oleh orang-orang Kristiani sepanjang zaman. Bahkan, seruan ini harus semakin bergema dari saat ke saat. Gereja Katolik memiliki sarana istimewa dimana manusia yang berdosa memperoleh pengampunan dari Allah, yaitu Sakramen Pengakuan Dosa. Supaya orang-orang dewasa ini memahami sakramen ini maka perlu menekankan beberapa dimensi:

Pertama, dimensi misteri Paskah atau hubungan pertobatan dengan kebangkitan Kristus. Sakramen Pertobatan adalah perjumpaan pribadi antara manusia yang berdosa dengan Tuhan yang Maharahim. Misteri Paskah (Kristus yang telah wafat dan bangkit) menjadi landasan perjumpaan ini. Inilah spiritualitas yang mendasari sakramen ini.

Kedua, dimensi eklesial. Dosa tidak saja memiliki efek bagi pribadi seseorang tetapi, juga bagi Gereja. Dengan berdosa seorang Kristiani melukai hubungannya dengan Gereja. Maka, pertobatan adalah rekonsiliasi tidak hanya dengan Allah dan diri sendiri, tetapi juga dengan Gereja sebagai komunitas keselamatan.

Ketiga, dimensi liturgis. Liturgi adalah perayaan mewartakan sabda dan membangkitkan iman. Pelaksanaan Sakramen Pengampunan Dosa perlu mengambil bentuk-bentuk liturgi yang membantu umat mendalami makna pertobatan.

Keempat, dimensi personal. Pertabatan hendaknya menjadi titik tolak pembaruan hidup personal. Tidak cukup orang masuk ke ruang pengakuan, lalu mengakukan dosa-dosanya, tetapi harus ada niat pembaruan diri setiap hari.

Kelima, dimensi historis. Peristiwa pertobatan terjadi dalam sejarah hidup seseorang sebagai sebuah proses. Pertobatan adalah momen penting dimana seseorang berusaha melawan kuasa dosa dan mengarahkan hidupnya menuju panggilan Allah. Peristiwa pertobatan adalah peristiwa historis dimana panggilan menuju kepenuhan hidup Kristus dipenuhi.

 

Penutup

Dosa di satu pihak semakin mengerikan dewasa ini. Kehilangan rasa dosa membuat orang-orang Kristiani terjebak dalam pandangan dan bentuk hidup yang dilahirkan individualisme dan materialisme. Akan tetapi, di tengah situasi ini Yesus Kristus selalu mencurahkan kasih karunia-Nya kepada umat. Kasih karunia itu terutama disediakan Allah melalui Gereja-Nya, antara lain dalam Sakramen Pertobatan. Mari kita menanggalkan dosa-dosa kita dan mengenakan Yesus Kristus. Mari kita mati bersama Dia agar kita ikut bangkit bersama Dia pula dalam Paskah. ”Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rm 5:20). Inilah saat yang tepat bagi kita untuk dilahirkan menjadi manusia baru dalam diri Yesus Kristus.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting