User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Berteologi tentang Dosa

Dosa adalah realitas yang menjadi bagian dari iman. Orang melakukan dosa dan mengenalnya sebagai dosa hanya kalau dia memiliki iman. Hanya orang beriman yang dapat mengakui dirinya sebagai seorang pendosa dalam arti sesungguhnya. Iman tentu saja berkaitan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Maka, berbicara tentang dosa tidak bisa hanya sampai ”kata atau tindakan dosanya,” melainkan harus dikaitkan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Yesus datang untuk menyelamatkan dan membebaskan manusia dari dosa.

Dalam kaitan dengan keselamatan yang dibawakan oleh Yesus Kristus, dosa adalah tindakan manusia beriman yang tidak sesuai dengan keselamatan itu. Dengan kata lain, manusia beriman itu menantang arus keselamatan yang seharusnya diterima sebagai suatu anugerah Allah. Manusia beriman lebih tertarik dengan tindakan yang berlawanan dengan keselamatan. Manusia beriman lebih memilih ”yang bukan ilahi” daripada yang ilahi. Seperti yang dikatakan St. Agustinus, ketika ia berbicara tentang dosa. Dosa adalah tindakan ketika manusia memeluk ciptaan. Dengan memeluk ciptaan, Ia melePaskahn Penciptanya dengan tindakan keselamatan yang kerjakan-Nya atas dirinya. Ingat apa yang dikatakan Yesus, ”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan” (Luk 16:19). Ia tidak bisa sekaligus mengabdi kepada Allah dan kepada mamon. Jadi, manusia dapat memahami dosa hanya dalam kaitannya dengan iman. Tanpa iman dia tidak mengetahui perbuatannya adalah dosa.

Dosa dengan demikian adalah bagian dari realitas iman. Hal ini harus diakui. Iman tidak lain adalah jawaban ”ya” secara bebas dari manusia terhadap pewahyuan Allah yang menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dosa adalah bagian dari realitas keselamatan. Kesadaran akan dosalah yang membuat manusia sadar bahwa dirinya membutuhkan keselamatan lewat pengampunan dosa. Sejarah kedosaan manusia berarti juga menjadi suatu sejarah keselamatan (bdk. 1Yoh 3:1-10). Demikian juga sejarah keselamatan terkandung di dalam sejarah kejatuhan manusia dalam dosa. ”Oh felix culpa” ’Oh, dosa yang membahagiakan’ dapat dipahami dalam kerangka pemikiran ini. Di sini sejarah keselamatan berisi sejarah kedosaan manusia, tetapi sekaligus sejarah belaskasih Allah akan umat-Nya yang berdosa.

Berbicara tentang dosa dan keselamatan, mau tidak mau berbicara tentang Yesus Kristus sebagai pangkal keselamatan. Yesus Kristus ditempatkan dalam konteks situasi dosa manusia sebagai seorang yang tidak mengenal dosa tetapi yang menanggung akibat-akibatnya. Yesus Kristus yang tidak mengenal dosa, seolah-olah menjadi pendosa demi kita. Paulus mengatakan: ”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:21). Lebih jelas lagi hal ini kalau dihubungkan dengan Gal 3:13-14, ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ’Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

Makna hal ini adalah semua manusia berada di bawah kuasa dosa. Yesus muncul sebagai kekuatan baru, sebagai awal baru, sebagai tunas baru dari keturunan Adam. Ia muncul dan menghancurkan kuasa dosa dengan cara memasuki wilayah dosa itu, bahkan sampai terkena akibatnya, akan tetapi Ia tetap mempertahankan identitas-Nya sebagai ”Yang Kudus dari Allah”. Yesus tidak tertular atau terkontaminasi oleh kuasa dosa itu, tetapi Ia menanggung akibat-akibat dosa itu dengan mati seperti seorang pendosa dan terkutuk. Akibat-akibat dosa mestinya diterima oleh manusia yang melakukannya. Tetapi, kini Yesus datang untuk menanggung akibat-akibat itu (hanya akibat-akibatnya, bukan dosanya). Inilah yang menjadi inti kabar gembira yang dibawakan oleh Yesus. Maka, apa yang dinubuatkan oleh Deutero Yesaya digenapi dalam diri Yesus:

Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, [...]. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. [...] ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53:4-5. 12b).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting