User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Penghayatan Konkret Misteri Paskah dalam Hidup Orang Beriman

Dalam pengalaman hidup para kudus di zaman ini, ada orang-orang kudus tertentu yang mengalami pencobaan yang amat besar. Misalnya, dalam hidup Santo Pio dari Pietrelcina yang dikenal dengan nama Padre Pio. Dia seorang kudus besar pada zaman ini, namun dia mengalami fitnah dan lain sebagainya, bahkan dia pernah pernah dilarang memersembahkan misa, seperti layaknya seorang pendosa besar. Namun, sanksi tersebut dicabut kembali, sebab terbukti bahwa Padre Pio tidak bersalah sama sekali. Padre Pio menerima semua pencobaan itu bukan dengan mengeluh, mengancam ataupun memberontak, tetapi Padre Pio menanggungnya dengan penuh iman, ketabahan dan sukacita.

Begitu juga dalam hidup Beata Teresia dari Kalkuta, selama puluhan tahun dia memikul beban yang sangat berat tapi dia menanggungnya dengan wajah yang tersenyum. Tidak ada seorang pun yang mengetahui penderitaannya kecuali pembimbing rohaninya. Dari teladan dan kesaksian hidup kedua orang kudus besar tersebut, ada beberapa cara konkret supaya kita bisa memanggul salib dan menjadi sumber berkat.

Pertama, kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak pernah mencobai kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Karena itu, bila kita mengalami pencobaan, Tuhan akan memberikan rahmat kekuatan supaya kita dapat menanggungnya.

Kedua, setia dalam melatih faal-faal iman atau kurban cinta kasih. Artinya, bila kita bertekun memersembahkan beban-beban dan penderitaan kita ke dalam cinta dan kerahiman Allah, demi untuk menyenangkan hati-Nya, demi untuk keselamatan kita dan demi pertobatan orang berdosa bahkan demi rahmat-rahmat yang dibutuhkan Gereja, khususnya untuk para uskup, maka kita akan mendapatkan keuntungan ganda. Pertama, kita dapat menanggung salib dengan hati penuh sukacita, seperti yang dialami Padre Pio dan Muder Teresia dari Kalkuta, yang dapat menanggung penderitaan yang amat berat seolah-olah mereka tidak pernah memanggulnya. Kedua, kurban-kurban tersebut akan mendatangkan rahmat bagi keselamatan orang-orang berdosa dan rahmat-rahmat yang dibutuhkan oleh Gereja.  

Sungguh alangkah indah dan bahagianya, bila kita memersembahkan penderitaan dan salib kepada Tuhan Yesus demi cinta kepada-Nya, demi keselamatan kita dan keselamatan jiwa-jiwa. Tidak mengherankan, bila kita sudah berada di surga kelak, maka akan ada orang atau banyak orang yang tidak kita kenal mengucapkan banyak terima kasih kepada kita karena telah memersembahkan kurban kecil bagi keselamatan hidup mereka. Dengan demikian, bersama para malaikat dan orang kudus, kita akan memuji dan mengagungkan Allah, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan di tempat yang mahatinggi” (bdk. Why 4:8). Jadi, salib bukan lagi beban atau kesia-siaan belaka, melainkan salib merupakan sumber rahmat Allah dan keselamatan kita (bdk. 1Kor 1:18).

 Seperti yang diajarkan Santo Paulus kepada kita, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan” (bdk. 1Kor 10:31). Pernah ada seorang suster berumur 80 tahun yang meminta bimbingan rohani kepada saya. Dia selalu mengeluh terus. Kemudian saya katakan kepadanya, “Suster, tidak ada gunanya mengeluh terus. Persoalanmu tidak akan berubah. Tapi, mulai sekarang hiduplah di hadirat Allah dan bersyukurlah kepada Tuhan untuk segala sesuatu yang suster terima dari Tuhan”. Kemudian kami bertemu lagi, tapi dia mengeluh lagi. Kemudian saya mengingatkan dia akan janjinya. Akhirnya dia sungguh-sungguh melaksanakan janjinya. Ia tidak mengeluh lagi. Setahun kemudian saya bertemu lagi dengan dia dengan wajah yang berseri-seri dan bersinar-sinar. Ia mengatakan kepada saya, “Saya sungguh bahagia romo”. Saya bertanya kepadanya bagaimana caranya. Ia mengatakan, “Apapun yang tidak menyenangkan, saya persembahkan kepada Tuhan. Saya berusaha melakukan apapun demi kemuliaan Tuhan.” Akhirnya, hidup suster ini pun berubah. Dia tidak lagi sedih, tetapi dia dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan.

 

Penutup

Sungguh betapa indah dan bahagianya, bila kita hidup di hadirat Allah. Sebab, kita bersyukur kepada Allah kita boleh memilih di antara: “hidup mengeluh terus” atau “hidup dalam kemuliaan Allah”. Semakin kita mengeluh, maka semakin terasa berat bebannya. Sebaliknya, bila kita melakukan segala sesuatu demi cinta kepada Allah, maka semua beban semakin ringan dan seolah-olah menjadi hilang. Kalau kita memersembahkan kepada Tuhan, apa yang dulu dirasakan beban, kini kita semakin bersyukur kepada-Nya. Sungguh benar apa yang dikatakan Santo Paulus berkata,“Aku melengkapi dalam tubuhku apa yang masih kurang dalam penderitaan Kristus” (bdk. Kol 1:24). Paulus juga pernah mengeluh tapi Yesus mengatakan, “Rahmat-Ku cukup bagimu. Justru di dalam kelemahanlah rahmat Tuhan bekerja” (bdk. 2Kor 12:9-10). Silakan mencoba!


(Ditulis kembali dari Homili Misa Minggu Paskah III tanggal 29 April 2009 oleh Sr. Maria Dominique Savio P.Karm)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting