User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Kesaksian tentang Misteri Paska dalam Tradisi Gereja

Dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa para rasul ditangkap. Walaupun mereka tidak berbuat salah, mereka didera dan disesah. Mereka memanggil rasul-rasul itu, lalu menyesah (mencambuki) mereka dan melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Sesudah itu mereka dilepaskan. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus” (Kis 5:40-41).

Ini merupakan sesuatu yang amat luar biasa. Sebab, kendati para rasul diperlakukan secara tidak adil dan disiksa, mereka bukannya mengumpat tetapi mereka semakin memuji Tuhan. Demikian juga dalam kehidupan para martir, khususnya kisah para martir dari Compiegne, Perancis yaitu para suster dari Karmelites yang dibunuh demi imannya kepada Kristus. Ketika mereka satu persatu menuju guillotine (pisau yang dijatuhkan untuk memenggal kepala), suster-suster itu mengagungkan Tuhan dengan menyanyikan magnificat. Inilah kuasa Tuhan yang luar sungguh luar biasa. Di hadapan manusia mereka dihukum mati, namun para martir menerima kebahagiaan abadi di surga.

Dalam kenyataannya, seringkali banyak orang yang mengeluh mengenai salib-salibnya. Ada cerita menarik dari tradisi bapa padang gurun. Suatu saat ada seorang pemuda yang baru masuk dalam kelompok pertapa itu. Dalam cerita itu digambarkan bahwa setiap rahib memikul salibnya setiap hari. Pertapa muda ini melihat rahib-rahib tua berjalan dengan gembira dan sukacita sambil memikul salibnya. Jalannya pun ringan. Lalu ia protes kepada Tuhan Yesus, “Tuhan Yesus, Engkau tidak adil. Kenapa saya harus memanggul salib yang berat? Padahal, rahib-rahib yang lain memikul salib yang ringan sehingga mereka dapat berjalan sambil bernyanyi.” Tuhan Yesus berkata, “Ok, baiklah.”

Ketika rahib muda itu tidur, dia bermimpi bahwa Tuhan Yesus mengajaknya ke tempat penyimpanan salib. Yesus berkata, “Sekarang kamu pilih salibmu sendiri.” Kemudian pertapa itu memilih salib-salib yang ada di ruangan itu. Karena dia merasa bahwa salibnya berat, maka dia memilih sebuah salib yang paling ringan dan dia mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, saya pilih salib yang ringan ini”. Kemudian Tuhan menyuruh dia membalikkan salib tersebut dan Tuhan bertanya kepadanya, “Nama siapa yang ada di balik salib itu?” Rahib muda itu terkejut karena nama yang tertera di salib itu adalah namanya sendiri. Jadi, ternyata selama ini dia memanggul salib yang ringan, padahal dia merasa bahwa salibnya paling berat. Dia sadar bahwa selama ini dia menanggung salib bukan dengan rahmat Allah, tetapi dia hanya mengeluh dan mengeluh saja. Oleh sebab itu, betapapun beratnya salib kita, bila kita memanggul salib dengan kuasa Roh Kudus, maka salib yang berat pun menjadi beban yang ringan.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting