User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Cinta Kasih sebagai Jalan Menggapai Kebahagiaan Sejati

Bila kita mengikuti perintah Tuhan ini maka kita akan mengalami kebahagiaan. Kita semua merindukan kebahagiaan. Di mana kita menemukan kebahagiaan itu? Ada yang mencari kebahagiaan dalam berbagai macam hal. Banyak orang yang mencari kebahagiaan dalam narkoba, setelah orang mengalami fly (baca: keadaan melayang karena pengaruh narkoba), tetapi setelah itu orang akan mengalami siksaan besar dan kebinasaan. Sadar atau tidak, dia menghancurkan tubuh dan jiwanya. Bahkan di kalangan eksekutif banyak kaum elit dan artis yang terkena jerat narkoba.

Kemudian, ada orang yang mencari kebahagiaan dalam makan dan minum. Banyak orang kota sakit bukan karena kekurangan makan tetapi karena kebanyakan makan. Dalam zaman Romawi dulu, di rumah-rumah bangsawan kalau mereka sedang mengadakan pesta disediakan satu tempat khusus untuk memuntahkan makanannya kembali. Karena mereka mau makan semua jenis makanan, tapi mereka ingin tetap memiliki tubuh yang langsing dan mereka hanya memiliki satu perut, maka mereka makan lalu memuntahkannya, demikian seterusnya. Kenyataan tersebut juga terjadi dalam zaman kita, kendati caranya lebih halus, namun isinya sama saja, setelah makan orang pergi ke WC untuk memuntahkan makanannya lalu dia makan lagi sebanyak-banyak. Lalu ada orang yang mencari kenikmatan dalam bidang seks, yang kerap disebut budaya seks bebas.

Dalam kenyataannya, orang tidak akan mengalami kebahagiaan melainkan kesengsaraan. Sebab, Tuhan menciptakan manusia untuk mengalami kebahagiaan yang penuh. Kita akan mengalami kebahagiaan apabila kita sungguh-sungguh melaksanakan ajaran Tuhan ini, yaitu “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:30). Bila kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan seperti Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1Yoh 4:10), maka kita akan mengalami kebahagiaan. Kita mengasihi Tuhan dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya, khususnya perintah cinta kasih. Sebelum Yesus meninggalkan dunia ini dalam perjamuan malam terakhir, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menurut segala perintah-Ku” (bdk. Yoh 14:15).

Seluruh ajaran Tuhan Yesus dapat dirangkum menjadi satu ajaran yang mendasar dan yang paling penting, yaitu perintah Yesus kepada kita untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri (bdk. Mrk 12:30-31; lihat juga cinta kasih sebagai hukum “roh” yang baru dalam Yoh 15:9-12).  Cinta kasih sesungguhnya adalah kepenuhan seluruh hukum. Bila kita sungguh menghayati cinta kasih, maka hal itu sudah cukup. Bila kita mengasihi seseorang, maka kita tidak akan menghendaki kecelakaannya. Bila kita mengasihi orang lain, maka kita ingin orang tersebut berhasil. Apabila kita sungguh mengasihi, kita akan melakukan apa yang baik bagi orang yang kita kasihi. Tetapi kita perlu menyadari bahwa cinta kasih bukanlah usaha manusia belaka melainkan anugerah Allah.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting