Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

PENGANTAR

       Dalam dunia dewasa ini terdapat begitu banyak perubahan dalam berbagai bidang. Kepandaian dan kreativitas manusia membuat dunia telah mencapai dan menghasilkan begitu banyak kemajuan. Namun, sangat disayangkan, di samping kemajuan yang dihasilkan, ternyata kian hari semakin banyak hal yang menunjukkan kemerosotan moral dan krisis kehidupan yang sangat menyedihkan dan harus mendapat perhatian yang khusus serta penanganan yang serius.

Di balik semua perubahan dan kemajuan di dunia semakin nyatalah sikap egoisme, yaitu suatu keterpusatan terhadap diri sendiri; hedonisme atau hanya mencari kenikmatan dan kesenangan hidup; keserakahan dan nafsu akan uang dan segala harta benda lainnya; haus akan prestise, harga diri, prestasi atau kesuksesan, dan nama baik atau kehormatan, serta kekuasaan. Hal ini semua sungguh menunjukkan keadaan negatif yang bukan hanya dapat membawa kerugian bagi diri sendiri, tetapi juga membawa kerugian dan penderitaan bagi orang lain. Hal yang lebih mengerikan adalah melalui sikap-sikap ini, demi kepentingan dan keuntungan pribadi atau kelompok, seseorang atau orang-orang tertentu dapat menghancurkan dunia karena berbagai penyimpangan yang melawan hukum atau perintah Tuhan. Oleh karena itu, diperlukan orang yang dapat membawa kecerahan, kesegaran, kebaikan, serta kebenaran pada dunia ini.

          Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil menjadi Kristus-kristus lain di dunia ini. Seorang Kristen dipanggil untuk menjadi murid Kristus yang menampilkan Wajah, Pribadi, dan Kehidupan Kristus di dunia ini. Bagaimana caranya menunjukkan jati diri sebagai murid Kristus yang sejati di tengah keadaan dunia yang semakin kacau dan memprihatinkan? Atau dengan kata lain apa sajakah yang dapat dilakukan untuk menjadi seorang murid Kristus yang sejati? Sedikitnya ada enam hal yang menggambarkan seorang murid Kristus yang sejati, yaitu:

 

  1. Persatuan Hidup Dengan Kristus

          Pertama-tama, agar menjadi murid Kristus yang sejati maka kita harus mengenal siapakah Yesus itu, bagaimana kepribadian-Nya, dan apa saja yang diajarkan-Nya. Kita harus bertemu dengan Yesus secara pribadi agar dapat percaya kepada-Nya dan melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, serta akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia. Pertemuan pribadi dengan Yesus dapat terjadi secara mendalam bila ada kerinduan untuk bersatu dengan-Nya.     

          Dalam Yohanes 15:1-8 dengan jelas Yesus mengundang kita untuk bersatu dengan-Nya. Ayat empat mengungkapkan secara khusus, yaitu: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”. Seperti Maria yang telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya, yaitu dengan duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya (bdk. Luk. 10:39, 42), kita juga harus tinggal di hadirat Tuhan agar bisa bersatu dengan-Nya.

Bersatu dengan Kristus hanya dapat dialami bila Tuhan menjadi prioritas yang terutama dan terpenting dalam hidup dan kita menyediakan waktu untuk-Nya. Berdoa secara pribadi maupun bersama, merenungkan dan menghayati sabda Tuhan, mengikuti Perayaan Ekaristi, tinggal di hadirat Yesus dengan melakukan adorasi di hadapan Sakramen Mahakudus merupakan tindakan-tindakan nyata untuk dapat mengalami persatuan hidup dengan Kristus. Dari persatuan hidup dengan Tuhan mengalirlah kuasa kasih yang mengubah dan memperbarui hidup kita.

Persatuan ini juga membuahkan kehidupan rohani yang mendalam. Beata Teresa dari Kalkuta mengatakan pentingnya kehidupan rohani yang mendalam agar kita mampu membuka diri, keluar dari diri sendiri, dan membiarkan diri dijiwai dengan hasrat, cinta, dan kerendahan hati Yesus. Tuhan sendiri mengajarkan bahwa “Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku… Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam Dia, ia berbuah banyak…” (Yoh. 15:4-5). Dengan kata lain, persatuan hidup dengan  Allah menjadikan kita insan-insan Allah, dimana Allah sendiri yang menguasai hati dan seluruh diri kita, dan akhirnya nyatalah bahwa diri Yesus Kristuslah yang dihidupi dalam keseharian, dan yang dibawa serta diwartakan dalam karya dan pelayanan. Dengan demikian seperti St. Paulus, kita dapat mengatakan: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).

 

  1. Melaksanakan Kehendak Tuhan

Untuk menjadi murid Kristus yang kuat dan sehat secara rohani kita harus makan apa yang menjadi makanan Yesus sendiri. Yesus mengatakan, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Menurut Uskup Agung F.X. Nguyen Van Thuan dengan makanan ini kita akan hidup dan tumbuh karena kehendak Tuhan bagaikan makanan yang menguatkan dan membahagiakan. Oleh karena itu, segala kegiatan kita harus bersumber dari pelaksanaan kehendak Allah sendiri. Sebaliknya, jika kita hidup jauh dari kehendak Tuhan maka kita akan mati.

Bagaimana agar kehendak Tuhan terwujud dalam kehidupan seorang murid Kristus yang sejati? St. Paulus menunjukkan cara Yesus bertindak, yaitu melalui pengosongan diri (kenosis), “…..yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba… Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…” (Flp 2:6-8). Yesus taat sampai mati, hal ini berarti dalam seluruh hidup-Nya Yesus hanya mengikuti apa yang menjadi kehendak Bapa. Hal ini ditegaskan oleh Yesus sendiri ketika Dia memberikan penjelasan tentang diri-Nya, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; …Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30).

Bunda Maria juga dijiwai dengan semangat pengosongan diri ketika ia menerima kabar sukacita dari Malaikat Gabriel sehingga ia menyebut dirinya sebagai “hamba Tuhan” dan menjadikan kehendak Tuhan sebagai kehendaknya sendiri dengan mengatakan, ”…jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (bdk. Luk. 1:38).

Pengosongan diri ini merupakan suatu tindakan keluar dari diri sendiri; melepaskan diri dari keterikatan-keterikatan duniawi; melepaskan diri dari kepentingan, kehendak dan cinta diri yang tidak sehat; serta menyediakan diri bagi kehendak Allah dan melakukannya. Dengan demikian, kerinduan yang ada dalam hati kita hanyalah menyenangkan Tuhan dengan melaksanakan kehendak-Nya.

 

  1. Kasih adalah Dasar Segalanya

Kebutuhan dunia terbesar saat ini adalah cinta. Hanya cintalah yang dapat memuaskan kehausan dan kerinduan seluruh umat manusia di dunia ini. Cinta kasih yang sejati merupakan sumber dari ekstase (keluar dari diri sendiri = ex-stare), sumber dari semangat yang berkobar-kobar, kebaktian sejati, perhatian yang tidak ada jemu-jemunya, dan semangat berkorban yang tidak kenal menyerah. Mencintai berarti memberikan diri sendiri.

Beata Teresa dari Kalkuta menegaskan hal ini dengan mengatakan, “Cinta tidak bermakna jika tidak dibagikan. Cinta harus dinyatakan dalam perbuatan nyata. Kita harus mencintai tanpa mengharapkan imbalan, semata-mata untuk cinta itu sendiri. Jika kita mengharapkan imbalan, itu bukan cinta, karena cinta sejati adalah mencintai tanpa syarat dan imbalan. Cinta yang mendalam tidak memperhitungkan apa pun: cinta hanya memberi.

Kristus mengajarkan cara untuk mewujudkan cinta kepada-Nya: bukan dengan melakukan hal-hal yang luar biasa untuk menunjukkan cinta yang besar kepada Tuhan dan sesame, melainkan kemendalaman cinta yang dinyatakan dalam perbuatanlah yang membuat perbuatan-perbuatan itu menjadi indah di mata Tuhan. Tuhan memanggil kita bukan untuk sukses, tetapi untuk setia: setia dalam berbagi kasih dan hidup bagi sesama. Dengan mendasarkan segala sesuatu, baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan, dengan kasih, maka orang lain dapat secara nyata mengalami bahwa Tuhan itu  hidup dan penuh kasih.

 

  1. Melayani dan Bukan untuk Dilayani

Yesus mengatakan, “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Melayani adalah bukti cinta kasih Yesus yang Ia nyatakan melalui sikap berkorban, dan pemberian diri. Hal ini pula yang kita harus lakukan sebagai pengikut-Nya.

Melayani adalah buah dari kasih, yang merupakan wujud dari pemberian diri bagi sesama. Bahkan bukan hanya bagi sesama, tetapi  pelayana terutama adalah pemberian diri bagi Tuhan sendiri. Oleh karena itu sudah seharusnya kita melakukan apa yang dinasihatkan oleh St. Dominikus Savio: ”Servite Domino in laetitia, artinya: layanilah Tuhan dengan sukacita yang kudus. Bila kita melayani Tuhan dengan sukacita yang kudus maka kita pun dapat melayani sesama dengan sukacita yang kudus, karena bukankah Tuhan hadir dalam diri setiap orang yang kita jumpai dan layani?

Panggilan hidup dan pelayanan seorang murid Kristus adalah menghadirkan Kristus, terutama kasih-Nya terhadap sesama. Kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan yang nyata, bukan hanya dipikirkan atau dibicarakan. Perbuatan nyata dari kasih adalah melayani. Pelayanan yang bisa diberikan kepada sesama antara lain: memberikan senyuman yang tulus, menyapa, menghibur dan meneguhkan, mendengarkan, memperhatikan, menolong, mengajar, membimbing, mendoakan orang lain terutama orang-orang yang ada di sekitar kita, di keluarga, di komunitas, di tempat kerja atau tempat belajar, di dalam organisasi di mana kita berada ataupun di tempat lainnya dan juga orang-orang yang tinggal berjauhan dengan kita.

Jadi, apapun bentuk pelayanan kita, kita harus memberikan diri kita seutuhnya bagi orang lain bahkan kalau perlu menyerahkan nyawa kita demi kebaikan dan keselamatan sesama. Inilah sesungguhnya yang merupakan pelayanan kasih, sehingga ketika kita mendapat tantangan, kritikan, kecaman, hambatan, ancaman, dan permasalahan dalam hidup dan pelayanan kita, kita tidak lekas kecewa, menyerah, atau bahkan putus asa, namun tetap tabah dan bertahan, karena sadar bahwa sesungguhnya Yesuslah yang dilayani dan Dialah tujuan dari pelayanan kita.

 

  1. Alat di Tangan Tuhan

Panggilan sebagai murid Kristus untuk mewartakan Dia dan segala ajaran-Nya serta membawa Dia kepada orang lain, sesungguhnya adalah karya Allah sendiri. Hal ini juga berarti bahwa Tuhanlah yang melakukan segala sesuatunya. Namun karena kebaikan dan penghormatan-Nya kepada kita manusia maka Ia mau menjadikan kita rekan kerja-Nya.  Menyadari ini membawa kita kepada pengertian bahwa sebagai seorang murid sejati yang dipakai untuk mewartakan kasihNya, kita hanyalah alat di tangan Tuhan.

Beata Teresa dari Kalkuta menggambarkan dirinya sebagai sebatang pensil di tangan Tuhan. Pensil yang dipakai oleh Tuhan untuk menuliskan apa saja yang menjadi kehendak, pikiran, serta keputusan-Nya. Dengan kata lain, Tuhanlah yang berpikir, menuliskan, dan bahkan melakukan segalanya. Karena itu, dia tidak pernah mengatakan dirinya besar, melainkan menganggap dirinya alat kecil dan sederhana di tangan Tuhan, yang hanya melakukan sebagian kecil dari karya Kristus. Demikian juga St. Theresia dari Lisieux yang menyebut dirinya sebagai kuas kecil yang dipilih dan digunakan Yesus untuk melukis gambar-Nya di dalam jiwa orang-orang yang dipercayakan kepadanya. Maka, sebagai alat di tangan Tuhan, kita harus mempunyai semangat yang dimiliki Yohanes Pembaptis, yaitu sambil menyediakan jalan bagi Kristus, kita berseru, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).

Karena menyadari diri manusia yang lemah, rapuh, dan terbatas, bahkan dikatakan bahwa dari diri sendiri kita tidak mampu menciptakan pikiran yang baik; sebab segala kemampuan kita datangnya dari Allah (bdk. 2 Kor. 3:5; Flp. 2:13), dan bahwa di luar Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (bdk. Yoh. 15:5), maka kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan sehingga Ia dengan bebas memakai kita sebagai alat-alat-Nya, dan semakin percaya akan penyelenggaraan Tuhan serta semakin berani menyerahkan diri, hidup, dan pelayanan kita kepada-Nya.

 

  1. Menjadikan Orang Lain juga Murid Kristus

Seorang murid Kristus yang sejati semestinya membawa orang lain kepada Yesus, Sang Kasih yang adalah sumber dan tujuan kehidupan manusia. Sebagaimana Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku …” (Mat. 28:19), demikian juga Dia memberi perintah kepada kita yang juga adalah murid-murid-Nya.

Hal ini dapat digambarkan bahwa kita tidak hanya memberikan secangkir minuman bagi orang lain tetapi kita juga membawa orang lain kepada sumber air tersebut. Dengan kata lain kita tidak hanya membuat orang lain mengenal siapakah Tuhan itu tetapi kita juga membawa orang lain untuk semakin dekat dengan Tuhan, berjumpa dengan Tuhan secara pribadi, mengalami Tuhan yang hidup, yang mengasihi, menyembuhkan, mengubah dan menyelamatkan,  percaya kepada-Nya, dan menerima Dia sebagai Tuhan di dalam kehidupannya, serta membuat dia mau hidup dalam bimbingan Tuhan dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Dia.

Kemudian setelah orang tersebut mengalami semua pengalaman itu, kita juga mendukung  dan membantu dia untuk menjadi pewarta Kristus dan ajaran-ajaran-Nya serta pembawa Kristus bagi sesamanya; sehingga akhirnya sesamanya itu pun mau percaya dan menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan juga mewartakan Yesus bagi sesamanya lagi, dan demikian seterusnya. Dengan kata lain, kehidupan kita sebagai murid Kristus berbuah dan melahirkan murid-murid Kristus yang sejati lainnya. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan apa yang menjadi kerinduan dan harapan Yesus bagi murid-murid-Nya, seperti yang diungkapkan dalam Yohanes 15:8, “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

 

PENUTUP

Kristus telah lebih dulu mencintai kita. Dia yang memanggil setiap orang menjadi  muridNya. Jawaban yang diharapkan adalah bahwa kita semakin sungguh-sungguh menghayati panggilan kita sebagai murid Kristus yang sejati. Kesaksian hidup yang benar sebagai murid-murid-Nya, membuat Yesus semakin bebas hidup dan berkarya dalam diri kita dan juga sesame. Melalui kehidupan dan karya sebagai murid Kristus yang sejati, kita dapat membawa perubahan dan keselamatan bagi dunia ini, sehingga prarasa surgawi boleh dialami oleh lebih banyak umat manusia sejak dari dunia ini.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting