User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Maria percaya kepada sabda Tuhan, dia begitu peka terhadap sabda Allah dan ia percaya apa yang disabdakan Tuhan, walaupun tampaknya sulit. Maria tetap bertekun dan percaya kepada Tuhan dalam segala situasi hidupnya. Dalam hidupnya, Bunda Maria juga tidak bebas dari kesusahan, dia menderita bukan karena dosa-dosanya, tetapi dia menderita karena mau solider dengan umat manusia yang menderita.


Setiap tahun, pada tanggal 15 Agustus, seluruh Gereja Katolik di dunia merayakan Hari Raya Bunda Maria yang diangkat ke Surga dengan tubuh dan jiwanya. Ini merupakan sesuatu yang khusus dan istimewa. Pertama-tama mungkin timbul pertanyaan, mengapa kita merayakan perayaan ini, bahkan ada orang banyak yang bertanya mengapa orang Katolik menyembah Maria. Jika ada pertanyaan seperti itu kita harus dapat menjawabnya bahwa kita tidak menyembah Maria, karena kalau kita menyembah Maria berarti kita menyembah berhala. Orang Katolik tidak menyembah Bunda Maria, tetapi menghormatinya. Jadi, di sini ada perbedaan besar, antara "menyembah Maria" dan "menghormati Maria", sebab kalau kita menyembah Maria, kita menjadikan Maria itu setara dengan Allah, atau menjadikan Maria seperti Allah. Kita tidak menyembah Maria, tetapi kita menghormati Maria, dan memang sebagai orang-orang Katolik kita sangat menghormati Bunda Maria.

Apa dasar penghormatan ini? Dasarnya bukan lain ialah bahwa di antara semua manusia di dunia ini Maria telah dipilih oleh Allah menjadi "ibu Tuhan kita Yesus Kristus". Maka, Maria juga disebut "Bunda Allah", karena dia melahirkan Yesus Kristus yang adalah manusia dan Allah. Bunda Maria tidak hanya melahirkan tubuh Yesus saja, namun ia melahirkan seluruh Pribadi Yesus Kristus. Oleh karena itu, Bunda Maria adalah ibu dari Tuhan kita Yesus Kristus "Allah dan manusia". Karena dia Bunda Allah, maka sudah sepantasnya kita menghormati ibu Tuhan kita Yesus Kristus. Dalam Injil dikatakan "dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ’Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?’” (Luk 1:41-43). Kita perhatikan di sini bahwa Roh Kudus sendirilah yang berbicara melalui mulut Elisabet bahwa Maria adalah ibu Tuhan. Roh Kudus begitu menghargai Maria, lalu siapakah kita jika berani meremehkan Maria, apalagi menghujat Maria? Oleh karena itu, kalau orang dengan sengaja menghujat Maria, itu sama saja dengan menghujat Roh Kudus yang berkata demikian itu. Oleh karena itu, sebagai orang-orang Katolik kita teguh percaya untuk menghormati Bunda Maria, kita tidak menyembah Maria, tetapi menghormati dia sebagai bunda Tuhan.

Bunda Maria telah dipilih untuk menjadi bunda Allah, maka Tuhan memberikan hak-hak istimewa yang hanya diberikan kepada Bunda Maria dan tidak diberikan kepada kita. Bunda Maria diberi hak-hak istimewa yang tidak dimiliki oleh manusia. Apakah hak-hak istimewa yang diberikan kepada Bunda Maria? Salah satunya adalah bahwa Maria dibebaskan dari dosa sejak ia dikandung. Hal ini supaya tubuh Maria sungguh-sungguh menjadi tidak bercela karena ia harus melahirkan Yesus Kristus, Sang Penyelamat dunia yang tak bercela. Jadi karena Maria dipilih untuk melahirkan Yesus, maka ia pun menerima rahmat istimewa ini, dikandung tanpa noda dosa.

Demi kepentingan Yesus dan seluruh umat manusia, Maria dibebaskan dari segala noda dosa. Karena dia dibebaskan dari noda dosa, maka Maria sebetulnya juga tidak tunduk kepada hukum dosa karena dia tidak pernah berbuat dosa. Maka dari itu dia dibangkitkan kembali dengan tubuhnya. Inilah kepercayaan Gereja. Gereja percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam kontitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Sri Paus Pius XII (1939-1958). Dalam Kontitusi Apostolik itu, Sri Paus menyatakan:

"Kami memaklumkan, menyatakan, dan menentukannya menjadi suatu dogma wahyu ilahi: bahwa Bunda Allah yang tak Bernoda, Perawan Maria, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat dengan badan dan jiwa ke dalam kemuliaan surgawi".

Sejak semula Gereja mengimani bahwa Maria telah dipilih Allah sejak awal mula untuk menjadi Bunda Putera-Nya, Yesus Kristus. Untuk itu Allah menghindarkannya dari noda dosa asal dan mengangkatnya jauh di atas para malaikat dan orang-orang kudus.

Pada tahun 1950 Paus Pius XII menjadikan kepercayaan ini sebagai dogma. Dogma ini berarti kebenaran iman yang sudah ada sejak semula. Dalam Kitab Suci juga kita jumpai banyak kebenaran iman, karena begitu pentingnya sehingga Gereja hanya meneguhkan "inilah wahyu Allah". Gereja hanya menyampaikannya secara resmi. Sebenarnya banyak wahyu Allah yang tidak dijadikan dogma. Sehingga Gereja menyatakan dengan resmi dan tegas oleh rahmat yang diberikan Tuhan dalam Gereja untuk mengatakan dengan wibawa yang besar tanpa salah "inilah termasuk dasar wahyu Allah". Itulah dogma. Gereja Katolik dengan resmi berdasarkan wibawa dan wewenangnya berani mengatakan "ini adalah wahyu Allah". Sehingga dalam Gereja dogma-dogma itu sedikit sekali.

Bila kita meninggal, badan kita terpisah dan badan kita baru akan dibangkitkan pada akhir zaman, namun kita tidak tahu kapan hal itu terjadi. Sedangkan Bunda Maria diberi hak istimewa, ia sudah dibangkitkan sekarang ini dengan tubuh dan jiwa sekaligus, tanpa harus menunggu saat akhir zaman tiba.

Lalu sekarang mengapa Gereja Katolik menghormati Bunda Maria? Gereja Katolik menghormati Bunda Maria karena dia adalah bunda Allah, dan juga selain itu Bunda Maria mempunyai peranan-peranan yang sangat penting khususnya dewasa ini. Kita akan melihat beberapa peranan Bunda Maria.

1.      Maria adalah Teladan Iman bagi Kita

Maria percaya kepada sabda Tuhan, dia begitu peka terhadap sabda Allah dan ia percaya apa yang disabdakan Tuhan, walaupun tampaknya sulit. Maria tetap bertekun dan percaya kepada Tuhan dalam segala situasi hidupnya. Dalam hidupnya, Bunda Maria juga tidak bebas dari kesusahan, dia menderita bukan karena dosa-dosanya, tetapi dia menderita karena mau solider dengan umat manusia yang menderita. Oleh karena itu, kita melihat sejak permulaan, ketika dia diberi kabar gembira oleh malaikat Tuhan, betapa sulitnya ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus mengandung dari Roh Kudus dan bagaimana ia harus meyakinkan St. Yosef. Secara manusiawi Bunda Maria tidak bisa, dan kemudian dia serahkan semuanya kepada Allah. Allah sendiri yang kemudian campur tangan dan mengatakan kepada Santo Yosef melalui seorang malaikat bahwa anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus.

Lalu penderitaan Maria yang lain adalah saat ia bersama Yosef dan Yesus yang masih kecil harus mengungsi ke Mesir karena dikejar-kejar mau dibunuh. Baru saja melahirkan, Maria harus mengungsi ke Mesir yang sangat jauh. Saat-saat mau melahirkan pun dia tidak diterima oleh orang-orang di Betlehem, tidak ada orang mau menerima dia untuk menumpang di rumah, sehingga ia terpaksa harus melahirkan di kandang binatang. Bisa kita bayangkan penderitaan Bunda Maria saat itu pastilah sangat berat, dan walaupun ia istimewa di mata Tuhan, sebagai manusia dia hidup sebagai orang yang miskin. Suaminya, St Yosef, bekerja sebagai tukang kayu kecil, bukan juragan kayu, atau bos kayu seperti sekarang ini.

Hidup Bunda Maria sebagai manusia sangat sederhana dan begitu miskin, bersama St. Yosef, si tukang kayu, mereka tinggal di sebuah desa kecil yang bernama Nazaret. Maria adalah teladan iman, sehingga dalam hidupnya ia harus mengalami percobaan-percobaan iman, tantangan-tantangan iman, dan Bunda Maria tetap percaya kepada Tuhan. Imannya begitu besar sehingga ketika Yesus mulai tampil di muka umum, karena iman Maria maka mujizat pertama Yesus terjadi di pesta perkawinan Kana. Air berubah menjadi anggur, Yesus mengadakan mujizat-Nya karena permintaan Bunda Maria.

Kemudian pada waktu Yesus disalibkan, di mana kita melihat Bunda Maria? Bunda Maria berada di bawah salib Yesus. Bisa dibayangkan, seorang ibu yang melihat anaknya yang tidak bersalah, tidak berdosa, dimusuhi dan akhirnya ditangkap, disiksa, dihukum sewenang-wenang, dan Dia harus memikul salib sampai mati di kayu salib. Bunda Maria melihat semua itu dari dekat. Bunda Maria tidak mau menyingkir, ia tetap mengikuti Putranya sampai di bawah salib. Maria tetap setia berdiri di bawah kaki salib Yesus melihat Anaknya mati secara kejam dan tragis oleh orang-orang yang benci kepada Yesus.

Bisakah Anda bayangkan seandainya anak Anda disiksa di depan mata Anda, bagaimana perasaan Anda? Mungkin banyak di antara kita yang akan mengatakan lebih baik saya saja jangan anak saya. Saya kira akan demikian. Penderitaan Bunda Maria begitu besar, karena itu Bunda Maria juga disebut "Bunda Dukacita". Maria mengenal penderitaan para ibu yang melihat anak-anaknya tidak karuan hidupnya, karena itu pergilah kepada Bunda Maria, dia mengerti penderitaanmu, dia mengerti apa artinya sebagai seorang ibu yang anaknya tersiksa, karena Bunda Maria telah mengalami bagaimana Anaknya diperlakukan tidak adil, diperlakukan sewenang-wenang di atas kayu salib. Betapa pedihnya, sedihnya hati Bunda Maria.

Oleh karena Maria adalah teladan iman, maka dia mengamini sabda Allah dan dia percaya pada apa yang dikatakan Allah. Ini berbeda dengan Zakaria yang tidak percaya, Bunda Maria justru percaya. Oleh karena itu, ketika malaikat mengatakan kepada Zakaria, bahwa istrinya, Elisabet, akan mengandung, Zakaria dalam hatinya tertawa dan berkata, ”Mana mungkin saya dan istri saya yang sudah tua, bisa punya anak lagi?” Akan tetapi pada diri Bunda Maria berbeda, dia percaya, dan karenanya Elisabet pun berkata, "berbahagialah dia yang telah percaya" (Lk 1”45).

2.      Bunda Maria sebagai Teladan Pelaksana Kehendak Allah

Mengapa manusia sering merasa tidak bahagia, menderita di dunia ini? Hal itu karena manusia seringkali melawan kehendak Allah. Itu dilambangkan dalam "salib". Kalau kita melihat salib ada garis lurus horisontal dan vertikal. Kehendak Allah yang vertikal tidak mau sejajar dengan kehendak sendiri. Kehendak manusia seringkali melawan kehendak Allah, maka seringkali terjadi ’tabrakan’ yang kemudian terbentuklah salib itu.

Manusia mencari kehendaknya sendiri, tidak mencari kehendak Tuhan, dia hanya mau mengikuti apa yang baik bagi dirinya, apa yang menguntungkan dia, apa yang menyenangkan dia secara duniawi, tidak secara ilahi.

Karena manusia selalu berpusat pada dirinya sendiri, maka dia menjadi sengsara. Kalau keinginannya tidak dituruti, dia sudah kecewa. Kalau keinginannya ditentang orang lain, lalu menjadi marah. Kalau keinginannya diremehkan orang lain, lalu tidak bisa tidur. Hal itu semua karena dia mencari keinginannya sendiri, ingin dipuji, dihormati, dimuliakan, sehingga baru saja diremehkan sudah tidak terima dan sebagainya.

Akan tetapi, kalau orang mencari kehendak Allah, maka ia akan berbahagia. Inilah yang dilakukan oleh Bunda Maria, dia hanya mencari apa yang dikehendaki Allah, "terjadilah padaku menurut perkataan-Mu". Dalam hal ini, karena rahmat Allah, Maria mengerti bahwa yang membawa kebahagiaan bagi kita ialah melakukan kehendak Allah itu sendiri.

Kalau kita mencari Allah maka kita tak akan pernah kehilangan kebahagiaan, walaupun banyak tantangan dan penderitaan yang harus dihadapi. Hal itu juga yang dialami oleh Bunda Maria. Maria ikut menderita dan sebagainya, tetapi dalam lubuk hatinya dia tidak pernah kehilangan damainya, tidak pernah kehilangan kebahagiaannya, walaupun banyak kesukaran dan tantangan harus ia hadapi. Jadi, Bunda Maria adalah teladan pelaksana kehendak Allah yang sempurna. Dia yang paling peka. Apa yang menjadi kehendak Allah itu yang ia ingini, apa yang dikehendaki Bapa itu pula yang Bunda Maria kehendaki.

Lalu bagaimana dengan kita sendiri? Seringkali kita mempunyai kehendak sendiri, apalagi orang dewasa ini bahkan mau mencari hukumnya sendiri. Pokoknya saya senang, saya untung, akhirnya terjadilah pertentangan, peperangan yang mulai terjadi dalam keluarga. Istri mencari kehendaknya sendiri, suami mencari kehendaknya sendiri, anak-anak mencari kehendak sendiri, kalau tidak sama ya saling bertengkar, saling tabrakan. Karena istri ingin suami menyenangkan dia, suaminya minta supaya istri menyenangkan dia, akhirnya seleranya tidak sama. Seandainya di dalam keluarga, istri berusaha untuk betul-betul menyenangkan suaminya, tidak hanya menyenangkan dirinya, lalu suami sebaliknya juga berusaha menyenangkan istrinya tidak hanya menyenangkan dirinya sendiri, maka pasti tidak ada terjadi benturan, dan keluarga menjadi surga di dunia. Kalau kita sama-sama mencari apa yang menjadi kehendak Allah, maka semuanya akan harmonis, akan ada sukacita dan kedamaian, serta kebahagiaan yang sejati dari Tuhan. Itulah yang dialami Bunda Maria, karena itu kita patut meneladaninya sebagai pelaksana kehendak Allah yang sejati.

3.  Maria Sebagai ”Utusan Allah”

Pada zaman sekarang ini Maria mempunyai peranan yang sangat penting. Dalam zaman Perjanjian Lama Allah berbicara melalui para nabi seperti dikatakan dalam Ibrani, "dahulu Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui para nabi." Dan dewasa ini Allah berbicara kepada kita melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Akan tetapi sekarang dalam situasi-situasi yang sulit serta sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci sulit dimengerti orang, Allah mengutus Bunda Maria untuk mengingatkan kita kembali akan sabda Tuhan, akan keinginan Tuhan, dan akan perintah-perintah Allah. Oleh karena itu, sejak abad yang lalu secara istimewa Tuhan mengutus Bunda Maria ke dunia ini dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat; dengan demikian kita tahu bahwa melalui penampakan-penampakan yang otentik yang terjadi di dunia, Tuhan sungguh telah mengutus Bunda Maria.

Dalam sejarah Gereja, sebetulnya Bunda Maria sudah seringkali menampakkan diri, dan penampakan besar yang mempunyai pengaruh dan dampak yang begitu besar pula terjadi di Mexico. Di Mexico Bunda Maria menampakan diri kepada seorang Indian, dan penampakan itu disertai dengan mujizat. Melalui penampakan Bunda Maria itu dan tanda yang diberikan kepada orang Indian yang sederhana, banyak orang-orang Indian yang bertobat dan percaya kepada Kristus. Apa yang tidak berhasil dilakukan oleh para misionaris yang sudah berpuluh-puluh tahun berusaha mewartakan Injil kepada orang-orang Indian, Maria dengan penampakannya itu, akhirnya menarik banyak orang Indian kepada Kristus. Dan, sampai sekarang tempat itu menjadi tempat ziarah yang besar sekali di dunia. Itu terjadi pada abad XVI dan XVII. Kemudian pada abad XIX, sekitar tahun 1850, seratus tahun yang lalu Bunda Maria secara istimewa menampakkan diri kepada St. Bernadeth di Lourdes. Penampakan itu nadanya tidak berbeda dengan di Mexico, yaitu pesannya "supaya manusia bertobat", supaya manusia berpaling kepada Tuhan. Rupanya ini menjadi urgensi dewasa ini, bahwa manusia harus berpaling kepada Allah.

Dengan pesan itu banyak orang yang bertobat. Pesan yang disampaikan Bunda Maria sama dengan pesan Tuhan Yesus sendiri karena Bunda Maria turun ke dunia menampakkan diri, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena diperintahkan Tuhan, untuk mempersiapkan kedatangan Putranya yang kedua kali pada akhir zaman. Kemudian lebih urgen lagi, Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga orang anak di Fatima. Dan, di Fatima itu pesan Bunda Maria sangat mendesak supaya manusia betul-betul berpaling dan bertobat kepada Allah.

Kemudian Bunda Maria juga minta supaya dibaktikan secara khusus kepada hatinya yang berdukacita, kepada hati kudus Bunda Maria, untuk berdoa bersama dia terus-menerus dengan doa Rosario. Bunda Maria mengatakan, kalau manusia tidak bertobat maka bencana dan malapetaka akan terjadi di dunia serta Rusia akan menyebarkan kesesatan kepada dunia. Dan kita tahu selama sekian puluh tahun (± 70 tahun) Rusia menyiarkan kesesatan komunisme di mana-mana, hal yang begitu mengerikan. Akan tetapi kemudian Paus Yohanes Paulus II membaktikan Rusia dan seluruh dunia kepada hati Bunda Maria, mengajak seluruh uskup di seluruh dunia berbakti kepada hati Bunda Maria, sehingga akhirnya komunisme dijebol; mula-mula tembok Berlin dirobohkan, di Jerman, Polandia, dan di Rusia sendiri komunisme menjadi hancur karena kebaktian kepada hati kudus Maria tadi. Akan tetapi, peringatan Bunda Maria masih sangat urgen bahwa masanya sudah dekat, kita semua diharapkan betul-betul kembali dan bertobat kepada Tuhan, sebab kalau tidak bertobat suatu malapetaka besar akan menimpa dunia.

Kalau kita melihat kejahatan-kejahatan yang sedang terjadi sangat mengerikan, bermacam bentuk kejahatan telah melanda dunia termasuk di negara kita, orang-orang tidak takut lagi pada hukuman dan tidak takut kepada Allah. Pada tanggal 1 Januari 1981 Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan kepada seluruh dunia dalam pesan tahun baru itu, tentang bahaya yang mengancam dunia. Kalau terjadi perang nuklir akan dahsyat sekali dan mengerikan sebab akan menghancurkan seluruh bumi dengan segala isi bumi termasuk manusia yang akan menderita akibat radiasi nuklir tersebut, akibatnya akan sangat mengerikan.

Peringatan-peringatan Bunda Maria pada akhir-akhir abad ini terjadi di banyak tempat, di mana-mana Bunda Maria menampakkan diri untuk menyampaikan pesan supaya manusia berbalik pada Allah dan bertobat, suatu peringatan yang sebetulnya sangat keras. Kalau manusia tidak bertobat akan terjadi segala malapetaka besar. Lalu bagaimana sikap kita? Memang peringatan itu sangat ngeri, sebetulnya peringatan supaya bertobat itu disampaikan karena hati Allah yang memperingatkan kepada kita, "bertobatlah dan kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu." Oleh karena itu, pada tahun-tahun akhir ini penampakan Bunda Maria banyak sekali terjadi di mana-mana, walaupun tentu saja banyak juga penampakan-penampakan palsu yang terjadi. Untuk itu kita juga harus mengujinya, tetapi penampakan-penampakan yang otentik yang telah diselidiki oleh para ahli dengan mempelajari gejala dan tanda-tanda yang serius cukup meyakinkan, maka ini peringatan-peringatan Bunda Maria sangat penting. Bunda Maria yang diutus oleh Allah, hampir selalu dengan nadanya sedih, dengan hati yang sedih. Kesedihan Bunda Maria diungkapkan antara lain melalui patung yang menangis, patung yang mengeluarkan darah di matanya, dan sebagainya. Ini merupakan ungkapan kesedihan-kesedihan Bunda Maria atas situasi dosa manusia dewasa ini.

Kalau melihat di sekitar kita, begitu banyak dosa-dosa yang terjadi, dan dengan dosa-dosa kita sendiri juga menambah penderitaan Bunda Maria. Maka saatnyalah bagi kita sekarang untuk berbalik kepada Tuhan, bertobat dengan segenap hati. Dan pesan Bunda Maria yang sangat penting yaitu dengan bertobat, berdoa, berpuasa, dan bermatiraga, segala bentuk kejahatan dan peperangan akan dihindarkan. Seperti juga yang terjadi ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada St. Faustina, supaya berdoa dan berdoa, dan itu ia lakukan sehingga ia berdoa untuk suatu kota dan kota itu akhirnya luput dari kebinasaan atau peperangan, sedangkan di sekitar kota itu hancur lebur. Oleh sebab itu, sebenarnya kita bisa ikut menciptakan perdamaian dunia. Perdamaian dunia tidak ditentukan oleh para ahli politik, para pejabat atau pemerintah, tetapi oleh umat-umat yang berdoa, yang berkorban. Tiap-tiap korban kita, tiap-tiap doa kita, itu semua mempunyai nilai yang tak terkatakan di hadapan Allah. Bila kita berdoa, berkorban, maka pertama-tama kita menurunkan berkat atas diri kita sendiri. Kita menyelamatkan diri sendiri dan keluarga, dan kemudian juga ikut menciptakan perdamaian di dunia ini.

Perdamaian tidak diciptakan dengan kekerasan, tetapi dengan doa dan pengorbanan-pengorbanan kita. Inilah pesan Bunda Maria yang dewasa ini begitu terlihat mendesak. Mendekati Milenium III, manusia penuh pengharapan dengan apa yang akan terjadi pada Milenium nanti, suatu pengharapan yang diungkapkan oleh Paus Yohanes Paulus II, bahwa di tengah-tengah segala kejahatan dan gejolak kejahatan yang terjadi, di situlah rahmat Allah akan mengalir dan dicurahkan secara melimpah-limpah, dan itulah yang akan menyelamatkan dunia. Suatu musim semi baru akan tiba dalam Gereja dan tanda-tandanya sudah kelihatan di mana-mana. Akan tetapi, juga pesan Bunda Maria bahwa semuanya itu akan melalui pemurnian yang dahsyat dan kalau demikian tidak ada seorang pun yang bisa meluputkan diri. Kita sebagai orang beriman, kita bisa meluputkan diri dari semua itu, apa pun yang akan terjadi, kita tidak akan goyah dan takut kalau kita berpaling kepada Tuhan dengan segenap hati. Yesus yang sungguh Allah dan sungguh manusia sekarang bertahta di surga sebagai Raja yang kepada-Nya telah diserahkan segala kekuasaan baik di surga maupun di bumi yang akan melindungi kita. Dan Bunda Maria, ibu-Nya yang menyertai Dia dengan setia dalam seluruh karya-Nya di tengah-tengah manusia kini bertahta juga di surga sebagai Ratu Surgawi, yang mendoakan kita di hadapan Puteranya dan menolong kita dalam semua kedukaan kita. Di dalam Yesus dan Bunda Maria, keluhuran martabat manusia tampak dengan cemerlang. Kecemerlangan martabat manusia itu bukan terutama karena keagungan manusia di antara ciptaan lainnya, melainkan terutama karena karya penebusan Yesus Kristus, Putera Maria, dan persatuan mesra dengan-Nya.

Maka pengangkatan Maria ke surga dengan badan dan jiwa ini menunjukkan juga kepada kita betapa tingginya nilai tubuh manusia di hadapan Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting