User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Allah adalah kasih. Sejak kekal hingga kekal, kasih bersifat komunikatif, artinya meluap keluar. Itulah sebabnya Allah tak hentinya mencipta karena semua ciptaan-Nya itu berasal dari kasih-Nya yang tak berkesudahan. Semuanya diciptakan oleh Allah dan untuk Allah.

Manusia diciptakan oleh Allah dan untuk Allah. Oleh karena itu, Allah tidak henti-hentinya menarik manusia kepada diri-Nya, sehingga di dalam hati manusia terukir kerinduan akan Dia. Hanya dalam Allah manusia dapat menemukan kebenaran dan kebahagiaannya terus menerus. Kepenuhan hidupnya, keutuhan martabatnya, terletak dalam persatuannya dengan Allah. Semakin ia bersatu dengan Allah, semakin ia mencapai kepenuhan kesempurnaannya.

Sesungguhnya makna paling luhur martabat manusia terletak pada panggilannya untuk memasuki persekutuan dengan Allah. Sudah sejak asal mulanya manusia diundang untuk berwawancara dengan Allah, dan manusia tidak sepenuhnya hidup menurut kebenaran, bila ia tidak dengan sukarela mengakui cinta kasih itu, serta menyerahkan diri kepada Penciptanya. (GS 19,1)

Sayangnya hubungan yang mesra dengan Allah ini sering dilupakan manusia, atau bahkan dengan tegas manusia menolaknya. Walaupun demikian, Allah tidak pernah berhenti memanggil kembali setiap manusia, agar mereka mencari-Nya, dan karena itu hidup dan menemukan kebahagiaannya. "Biarlah bersuka hati, orang-orang yang mencari Tuhan." (Mz. 105:3b) Dalam hal ini St. Agustinus mengatakan,

"....betapa pun berdosa dan dapat mati, manusia tetap ingin memuji-Mu, karena manusia merupakan ciptaan-Mu. Untuk itu Engkau menanamkan hasrat di hati kami karena Engkau telah menciptakan kami menurut citra-Mu sendiri. Sungguh, hati kami kami belum tenang sebelum beristirahat di dalam Engkau." (S. Agustinus).

Oleh karena manusia dipanggil untuk mengenal dan mencintai Allah, ia akan menemukan jalan-jalan tertentu untuk mencapai pengenalan akan Allah, misalnya lewat alam sebagaimana yang diungkapkan oleh St. Agustinus:

Tanyakanlah keindahan bumi, tanyakanlah keindahan samudera, tanyakanlah keindahan udara yang menyebar luas, tanyakanlah keindahan langit...., tanyakanlah semua benda! Semuanya akan menjawab: Lihatlah, betapa indahnya kami. Keindahan mereka merupakan suatu pengakuan: Siapakah yang menciptakan benda-benda yang berubah (hidup), kalau bukan Yang Indah, yang tidak dapat berubah (S. Agustinus).

Selain itu manusia juga dapat mengenali Allah lewat keterbukaannya terhadap kebenaran dan keindahan. Keindahan alam semesta, kebenaran dalam berbagai perkara, mengangkat hati manusia kepada Allah, Sang Keindahan dan Kebenaran.

Pengertian manusia akan kebaikan moral juga dapat menghantarnya kepada Dia, yang Mahabaik. Ketika manusia melihat kebaikan saudara dan saudarinya, pengertiannya akan mengajak dia untuk mengenali pencipta mereka, sumber dari segala kebaikan.

Kebebasan dan suara hati nurani juga menuntun manusia untuk sampai kepada Allah. Allah yang bersemayam di kedalaman lubuk hati manusia tak pernah tinggal diam untuk terus menarik manusia kepada Diri-Nya. Dalam perjalanan hidupnya, manusia dituntun oleh suara hati nuraninya untuk berjalan di jalan yang benar, jalan yang akan membuat mereka semakin hari semakin dekat dengan Allah.

Dan pada akhirnya, jiwa yang dahaga akan Allah akan dipenuhi dengan kerinduan pada ketidakterbatasan dan kebahagiaan. Kerinduan inilah yang membimbing manusia dalam pencariannya akan Allah. Sadar atau tidak sadar, manusia merindukan Allah karena manusia diciptakan hanya untuk Allah. Santo Yohanes dari Salib mengatakan bahwa semakin besar kerinduan manusia akan Allah, semakin terbuka hatinya kepada Allah. Artinya, kerinduan menghantar manusia untuk semakin bersatu dengan Allah, karena kerinduan membuka hatinya hanya untuk Allah.

Jadi, sesungguhnya setiap manusia sanggup menemukan Allah, karena Allah sendirilah yang menanamkan kerinduan di dalam hati manusia untuk mengenali-Nya. Allah ingin setiap orang mencapai hidup kekal, dan Yesus mengajarkan, "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." (Yoh. 17:3)

Tuhan membimbing manusia melalui jalan yang berbeda-beda untuk sampai kepada pengenalan akan diri-Nya. Jalan-jalan ini menyadarkan manusia akan realitas bahwa ada sesuatu yang mutlak di saat awal dan akhir kehidupan manusia. Dan realitas ini dinamakan “Allah” oleh semua orang (Santo Thomas Aquino).

Athanasius Maria CSE

Salah satu penulis di situs carmelia.net

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting