Print
Category: Tulisan Lepas
Hits: 5985

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Kehendak bebas manusia, kalau boleh dikatakan, inilah satu hal yang sering memusingkan dan merisaukan hati Allah. Oleh satu hal inilah Allah sering digugat, dipertanyakan bahkan dihujat oleh manusia ciptaan-Nya sendiri. Kehendak bebas ini membuat manusia bisa berpikir, bertindak, bahkan bebas memilih dan menentukan hidupnya: beragama atau atheis, mengakui Allah atau mengingkari Dia, memuji Allah atau menghujat Allah, memilih kehidupan atau maut. Sayangnya, kehendak bebas ini tidak dipergunakan seperti yang dikehendaki Allah. Banyak orang yang mewujudkan keluhuran kebebasan dengan cara yang keliru. Mereka mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan untuk berbuat apa pun sesuka hati, sehingga timbullah dosa dan kejahatan. Dari dosa dan kejahatan muncullah maut dan pelbagai sengsara dan derita di dunia.

Dengan jelas kita melihat maraknya kejahatan dan penderitaan di dunia ini. Tampaknya kejahatan dan penderitaan begitu akrab dengan kehidupan manusia. Holocaust zaman Hitler telah merenggut sekitar enam juta orang Yahudi. Peperangan yang tak kunjung henti, pembantaian etnis yang sadis beberapa tahun yang lalu di Rwanda, juga tak kalah sadisnya yang terjadi di tanah air — Maluku, Sampit — telah merenggut maut entah berapa banyak orang tak berdosa. Belum lagi praktek-praktek abortus yang marak di dunia, dipastikan telah mengeliminir lebih dari seratus juta janin setiap tahunnya. Banyak orang, terutama yang sering secara langsung melihat atau pun mengalami kejahatan dan penderitaan, bertanya-tanya — menggugat kebaikan dan eksistensi Allah: “Mengapa ada begitu banyak kejahatan dan penderitaan di dunia ini? Mengapa Allah diam saja, bukankah Dia merupakan Allah yang mahakasih dan mahakuasa? Di manakah Allah?” Akibatnya banyak orang yang mulai meragukan agama, bahkan cukup banyak yang meninggalkan Gereja dan menjadi atheis. Tak aneh, sekularisme dan atheisme praktis kini menyerap ke pelbagai bidang kehidupan.

Mungkinkah segalanya akan menjadi lain seandainya sejak semula Allah tidak memberikan anugerah kebebasan ini pada manusia? Memang ada benarnya bahwa pada kebebasan yang dikaruniakan pada manusia inilah segala jerih payah Allah dalam menyelamatkan manusia bermula. Sebab seandainya tidak ada kehendak bebas maka tidak akan ada kejahatan dan sengsara di dunia ini sehingga Allah tidak perlu pusing-pusing merancang karya penyelamatan-Nya. Maka wajarlah bila ada pendapat yang mengatakan bahwa seandainya Allah pernah menyesal, Ia pasti menyesal karena telah memberikan kehendak bebas pada manusia. Menyesalkah Allah? Untuk menjawabnya kita perlu melihat rencana Allah yang indah sejak semula terhadap kita manusia.

Mengapa kehendak bebas diberikan

Dalam Katekismus Gereja Katolik, artikel 1730, kita bisa melihat martabat luhur manusia: “Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal budi dan telah memberi kepadanya martabat seorang pribadi, yang bertindak seturut kehendaknya sendiri dan mengusai segala perbuatannya." Atas dasar apakah Allah menyerahkan manusia pada keputusannya sendiri? Akarnya adalah bahwa kita diciptakan secitra dengan diri-Nya. (Kej. 1:26-27) Kebebasan merupakan konsekuensi logis dari keluhuran martabat manusia yang diciptakan segambar dengan Allah.

Kita percaya bahwa Allah tidak lain adalah Roh, Yang berpribadi, Yang berakal budi, dan Yang berkehendak bebas. Karena kita diciptakan segambar dengan Allah maka hakekat ini pun harus terdapat pula dalam diri manusia. Ternyata Allah konsekuen dengan sabda-Nya yang mengatakan bahwa kita diciptakan secitra dengan-Nya. Ia benar-benar menjadikan kita sebagai makhluk yang berpribadi, mempunyai roh, berakal budi — bisa berpikir, dan mempunyai kehendak yang bebas. Jadi karena kita ini citra Allah dan berbudi maka kita memiliki kehendak yang bebas, seperti yang ditegaskan oleh seorang Bapa Gereja, St. Ireneus: “Manusia itu berakal budi dan karena ia citra Allah, diciptakan dalam kebebasan, ia tuan atas tingkah lakunya.”

Keluhuran kehendak bebas

Bebas, inilah gambaran diri Allah. Karena diciptakan segambar dengan-Nya maka Dia mau supaya kita juga menjadi seorang pribadi yang bebas—hidup dalam kebebasan dan kemerdekaan anak-anak Allah. Sebab seandainya rasa kebebasan ini tidak ada, manusia hanya menjadi mesin dan robot, bukan lagi makhluk yang berbudi dan berkehendak. Hanya dengan kebebasan kita bisa berkembang mengarah kepada kebaikan dan kesempurnaan hidup. Tanpa kebebasan, bagaimana manusia bisa dengan baik mengemban tugas luhurnya ketika diciptakan dahulu, bagaimana bisa berkuasa atas “ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kej. 1:26)”? Jadi kebebasan ini diberikan Allah dengan maksud dan tujuan yang luhur: 

Supaya manusia bisa menjadi rekan kerja Allah yang baik. Allah mau supaya manusia ikut bertanggung jawab atas dunia di mana dia hidup, serta menguasai dan memelihara alam beserta isinya. Kebebasan ini memungkinkan pula manusia menjadi kreatif seperti Allah, sehingga manusia bisa menjadi rekan kerja Allah yang baik . Dengan demikian Allah bisa terus mencipta melalui manusia.

Supaya manusia bisa mencintai Allah dan mencapai kebahagiaan sejati di surga. "Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya (Sirakh 15:14), supaya ia dengan rela mencari Penciptanya dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan." (Gaudium et Spes art. 17, Dok. Konsili Vatikan II)

Mengendalikan kebebasan

Nasib hidup kita di dunia ini dibangun oleh kehendak bebas kita sendiri. Kita ini ibarat pilot yang sedang mengemudikan pesawat terbang. Kendali ada di tangan kita. Dengan kehendak yang bebas kita bisa saja mengarahkan pesawat ke mana kita mau. Namun demikian kita perlu juga hati-hati mengemudikannya, keselamatan ada di tangan kita. Satu hal tidak boleh kita lupakan, biar bagaimana pun kita tetap memerlukan bantuan Menara Pengawas. agar kita bisa menuju arah yang benar dan mendarat pada tujuan dengan tepat dan selamat. Menara Pengawas dengan perlengkapan radarnya ini bisa dikatakan sebagai Roh Kudus dengan pelbagai karunia-Nya, yang diberikan Allah untuk menyertai perjalanan hidup kita agar kita tidak tersesat dan jatuh. Maka Allah pun berharap agar kita terus setia berkontak dengan Menara Pengawas ini. Bagaimana caranya?

Roh Kudus hadir di dalam hati. Maka perlu sekali bagi kita untuk sering mengadakan pemeriksaan batin. Seperti layaknya pilot yang berkontak dengan Menara Pengawas—tinggal angkat dan tekan radio komunikasi lalu berbicara, begitu pula kalau kita berkontak dengan Roh Kudus. Kita tinggal mengarahkan diri ke dalam batin kita yang terdalam untuk lalu mengungkapkan isi hati kita, sebab di sanalah Dia bersemayam. Inilah doa: saat-saat di mana kita berjumpa dengan Allah secara pribadi di dalam kemurnian hati nurani kita. 

Di dalam hati nurani, kita bisa menemukan hukum sejati yang membantu kita untuk memakai kebebasan dengan cara yang bijaksana: “Di dalam lubuk hati nuraninya manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari dirinya sendiri, tetapi harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari apa yang jahat. Bilamana perlu, suara itu menggemakan dalam lubuk hatinya: jauhkanlah ini, elakkanlah itu. Sebab dalam hatinya manusia menemukan hukum yang ditulis oleh Allah. Martabatnya ialah mematuhi hukum itu… Hati nurani ialah inti manusia yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah, yang sapaan-Nya menggema dalam batinnya.”(Gaudium et Spes, 16) Jelaslah bahwa kehendak bebas kita perlu bekerjasama dengan hati nurani. Kita perlu sering berkontak dengan Allah dalam doa. Inilah jaminan supaya kita bisa mendarat tepat pada tujuan tanah air surgawi — kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan. Hidup doa yang sejati dan hati nurani yang murni dapat dipupuk lewat seringnya kita menerima Sakramen Ekaristi dan Pengampunan Dosa. Juga baiklah kita hayati nasihat St. Ignatius Loyola: "Berusahalah seolah-olah semuanya tergantung padamu, dan berdoalah seolah-olah semuanya tergantung pada Allah." 

Selain itu, sebelum mengemudikan pesawat terlebih dahulu kita perlu belajar hal ikhwal penerbangan, dari instrumen-instrumen cockpit sampai navigasi. Kita perlu mengetahui bahaya-bahaya, peta-peta, dan mengenal sinyal-sinyal. Allah juga sesungguhnya telah memberikan sinyal dan peta kehidupan untuk kita pelajari dan taati. “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan.” (Ul. 30:19-20) Inilah contoh kehendak Allah. Sinyal dan peta itu tidak lain adalah kehendak-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja. Pendalaman ini bisa kita pupuk lewat rutin dan teraturnya kita melakukan Lectio Divina (metode doa dengan Kitab Suci), dengan harapan supaya kita pada akhirnya bisa menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah.


Allah dihambat oleh kebebasan manusia?

Kadangkala keraguan mendatangi kita apakah Allah sungguh mahakuasa dan mahakasih: Mengapa Allah diam saja terhadap semua kejahatan dan kesengsaraan di dunia ini? Dalam arti tertentu, kemahakuasaan Allah dibatasi dan dihambat oleh kehendak bebas manusia. Tampaknya Allah terikat pada kehendak bebas kita. Bayangkan, Dia yang adalah Sang Pencipta mau tunduk kepada ciptaan, mau dibatasi oleh kehendak bebas sang ciptaan! Bukankah ini luar biasa? Karena kasih-Nya, Allah tidak bisa memaksakan begitu saja kehendak-Nya pada kita. Jadi seolah-olah Dia tidak lagi mahakuasa. Konsekuensinya, Dia lebih condong untuk mengundang, mendorong, mengilhami — bukan merasuki. Kini masalahnya terletak pada kerjasama manusia, yaitu kerelaannya untuk mengikuti dorongan dan ilham-Nya.

Paus Yohanes Paulus II menegaskan perlunya kerjasama ini: “Pada akhirnya hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia, tetapi Ia mengharapkan manusia bekerja sama. Kenyataan bahwa manusia dapat bekerja sama dengan Allah menentukan kebesarannya yang sejati. Kebenaran yang dengan itu manusia dipanggil untuk bekerja sama dengan Allah dalam segala hal, dengan pandangan ke arah tujuan akhir hidupnya — keselamatan dan pengilahiannya — menemukan ungkapannya dalam tradisi Timur dalam ajaran synergisme. Bersama Allah, manusia “menciptakan” dunia; bersama Allah manusia menciptakan keselamatan pribadinya. Pengilahian manusia datang dari Allah. Tetapi dalam hal ini juga manusia harus bekerja sama dengan Allah.” (Melintasi Ambang Pintu Harapan)
Lalu apa buktinya bahwa Dia sungguh mahakasih? Penjelmaan, sengsara—wafat—kebangkitan-Nya, inilah buktinya. Demi membuktikan bahwa Dia tidak mentolerir kejahatan, dengan sukarela Dia mau menjadi korban kejahatan lewat hukuman salib. Demi menguatkan orang yang menderita, Dia sendiri sampai mau mengalami penderitaan salib yang luar biasa. Jelaslah bahwa Allah tidak diam saja. “Kekuatan Salib dan Kebangkitan Kristus lebih besar daripada semua kejahatan yang dapat atau akan ditakuti manusia.” (Paus Yohanes Paulus II, Melintasi Ambang Pintu Harapan)

Tidak disangkal bahwa bisa jadi Allah memang membiarkan kejahatan dan penderitaan menimpa kita. Akan tetapi, ini bukan berarti Dia yang menyebabkannya. Membiarkan tidak sama dengan menyebabkan. Allah kadang membiarkan hal itu terjadi demi tujuan yang lebih luhur, yang biasanya tersembunyi dan tidak bisa kita lihat sekarang. Bukankah Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi yang dikasihi-Nya? (Rm. 8:29) Bukankah penderitaan zaman ini tidak ada bandingnya dengan kemuliaan yang akan dikaruniakan kelak di surga? (Rm. 8:18) Penderitaan itu mempunyai suatu nilai tersembunyi yang luhur, yaitu bersifat penebusan. Penderitaan semacam ini bisa mengurangi atau meredam kejahatan dan dosa, asalkan dijalani dalam kerelaan, iman, dan kasih. Semuanya ini terpenuhi dalam diri orang yang menanggung penderitaannya sebagai silih dan kurban. Bayangkan apa jadinya dunia ini bila tidak ada orang yang berkurban demikian?


Perlunya ketaatan

Yesus memanggil kita untuk mempersembahkan kehendak kita kepada Allah. Ketaatan-Nya pada kehendak Bapa, itulah buktinya. Bagi Yesus kehendak Bapa adalah segala-galanya. “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yoh. 4:34) Untuk itu Dia tidak tanggung-tanggung melakukannya, dengan radikal Ia sendiri telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati — bahkan sampai mati di kayu salib. (Flp. 2:7-8)

Ketaatan merupakan nasihat Injili, suatu kebajikan yang membuat kita dapat menundukkan, mengembalikan, mengorbankan dan mempersembahkan kehendak bebas kita kepada Allah. Maka bagi orang Kristen, ketaatan merupakan hal yang essensial, lebih-lebih kaum religius yang menghayatinya lewat kaul ketaatan. Apa pun profesi atau panggilan hidup kita, ketaatan tetap perlu dihayati dengan radikal. Kebajikan ini berkaitan langsung dengan kehendak kita. Kebajikan ini mengundang kita untuk menundukkan kehendak bebas dan mengembalikannya kepada Allah. Seandainya saja manusia bisa taat, ada begitu banyak dosa dan kejahatan yang bisa dihindarkan. Dosa Adam dan Hawa pun terjadi oleh karena pelanggaran ketaatan. Dan oleh ketaatan Kristus pula kita ditebus dan memperoleh kembali kemerdekaan sebagai anak-anak Allah.

Taat kepada Tuhan banyak wujudnya. Anak-anak taat kepada orangtua, pelajar kepada guru, warga negara kepada hukum dan pemerintah, umat kepada Gereja, para imam, biarawan-biarawati kepada uskup dan pembesarnya. Menundukkan kehendak bebas kita dalam ketaatan, sungguh suatu perbuatan yang suci dan luhur. Perbuatan ini amat berkenan kepada Allah, khususnya bila kita melakukannya dengan iman dan cinta demi Allah. Orangtua, guru, hukum, uskup dan pembesar, mereka semua merupakan wakil Allah di dunia yang kepadanya kita dapat menundukkan kehendak bebas kita: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” (Mat. 10:40) Ketaatan membuahkan kesucian dan kedamaian, baik di dunia maupun di hati bagi siapa saja yang menghayatinya. Terpujilah Kristus yang telah taat sampai mati demi mewujudkan kebebasan sejati bagi manusia!