Print
Category: Spiritualitas
Hits: 4456

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Seringkali kita mendengar dan melihat orang-orang yang telah lama bertekun dalam doa, bertumbuh dalam pengenalan akan Allah yang mengasihi mereka, sudah mengalami kemajuan dan perkembangan dari meditasi diskursif sampai kepada tahap doa batin, tetapi mereka tidak pernah mengalami kontemplasi. Mereka tetap melanjutkan dalam doa batin, dan “menempatkan” diri mereka dalam kehadiran Allah, mencoba untuk tetap tinggal dengan sadar dalam kehadiran Allah dan terus-menerus berada dalam kegelapan dan tidak pernah menanggapinya. Padahal mereka dapat mencapai suatu bentuk doa yang sebenarnya lebih luhur sifatnya yaitu kontemplasi. Mereka percaya pengalaman itu ada, namun mereka tidak merasakannya. Singkat kata, mereka ini tidak pernah masuk dalam kontemplasi yang mereka rindukan, pengalaman “ditangkap” oleh Allah, yang dikuasai oleh-Nya, atau menjadi satu oleh-Nya karena kerinduan jiwa adalah untuk bersatu dengan Allah. Karena mereka berusaha untuk mencapai kontemplasi itu yang tidak jarang membawa mereka keluar pada hidup doa yang selama ini telah mereka lakukan.

Perlu diketahui secara teologi mistik perbedaan antara mengalami dan masuk dalam kontemplasi tidak diakui. Alasannya, kontemplasi bukanlah alasan-alasan yang diskursif atau menyangkut pemikiran-pemikiran dan penalaran belaka. Akan tetapi, kontemplasi merupakan:

Perhatian dan kerinduan dalam kenyataannya sudah dialami; tidak secara langsung dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi bersifat spekulatif, netral, dan membahagiakan memandang kepada kebenaran itu sendiri.

Kebenaran mungkin sama sekali tidak diketahui, tetapi bermacam-macam argumen tidak menghancurkan apa yang disebut dengan “kebenaran” itu. Misalnya, dalam sebuah formula matematika mungkin “dikontemplasikan” sebagai suatu keindahan dan keanggunan. Kebenaran yang ditunjukkan sebagai kecantikan yang dapat disadari dan dilihat dari lukisan Picasso yang berjudul ‘Guernica’ dengan penuh perhatian yang disebut sebagai “pengalaman estetis.” Pengalaman estetis ini diungkapkan pengamat seni dalam sebuah keadaan terus-menerus dari kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebenaran adalah keindahan yang menimbulkan kesenangan yang sama. Untuk merasakan keindahan dan mengalaminya sendiri, kadang-kadang kita dapat meneteskan air mata bukan karena sedih tetapi lebih pada keterharuan yang melingkupi hati kita. Misalnya, kita melihat sebuah pasangan suami-istri merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-60 dan mereka saling mengungkapkan kebahagiaan mereka dengan ciuman yang mesra.

Begitu halnya dengan kontemplasi. Kontemplasi sungguh-sungguh dapat dialami dengan penuh kerinduan, ketika kebenaran wahyu Allah dapat dirasakan. Akan tetapi hal ini lebih bersifat adikodrati karena kerinduan ini tercipta dari perwujudan diri-Nya. Untuk menyebut Allah itu sebagai “Bapa” dibutuhkan karunia dari-Nya, yaitu pengangkatan menjadi anak Allah. Ketika kita merasakan Dia, kita membutuhkan iman untuk percaya kepada-Nya, harapan dari janji-janji-Nya, dan kasih yang menciptakan kita serupa dengan Dia. Karunia dan rahmat itu dicurahkan kepada kita, memenuhi seluruh keberadaan kita. Dengan demikian kita mengarahkan seluruh perhatian kita kepada Dia, kemudian mengalami dalam kehadiran-Nya yang membahagiakan dan menggembirakan. Mengalami kontemplasi masuk serta tinggal dalam kontemplasi yang menghasilkan kebajikan-kebajikan iman, harapan, dan kasih.

Masuk dalam kontemplasi dapat digambarkan sebagai berikut: “Masuk dalam kontemplasi dimulai ketika Allah membangkitkan daya-daya batin manusia, dan puncaknya sampai pada perkawinan atau persatuan rohani,” atau “Aktivitas mistik adalah karya Allah, yang mengilahikan jiwa kita sesuai dengan kehendak-Nya.” Masuk dalam kontemplasi, sesuai dengan namanya, adalah karunia yang diberikan Allah. Pada saat itu, karunia Allah yang melimpah-limpah membawa jiwa secara pasif menerima di bawah kuasa-Nya dan jiwa mengalami dibawa oleh Allah pada keadaan yang tidak pernah dialami manusia sebelumnya. Pengalaman yang sama ketika St. Paulus dibawa sampai ke “surga ketiga.” Dengan kata lain, masuk dalam kontemplasi merupakan karunia Allah semata-mata, dan tidak pernah diduga-duga sebelumnya. Doanya diubah tetapi orang yang mengalaminya tidak diubah.

Jiwa yang melatih diri untuk mengalami kontemplasi, tidak memiliki rasa dibawa oleh Allah atau ditangkap oleh-Nya atau kuasa Allah membimbing dalam doanya. Mengalami kontemplasi adalah gelap; jiwa harus sabar menunggu dalam kegelapan; perhatiannya pada kehadiran Allah, menerima dalam keadaan tidak sadar sebagai jawaban dari kehadiran Allah itu. Mengalami kontemplasi dialami pendoa karena pendoa mulai berdoa, jiwa terus-menerus berdoa. Jiwa terdorong untuk berjuang mencapai tujuan yang dicita-citakan. Seperti yang dikatakan pengarang The Cloud of Unknowing ‘kerja’ si pendoa, jiwa mengalami kontemplasi melalui pengalaman doanya. Dalam kerja itulah, jiwa adalah pekerja. Ia merasa dirinya sebagai pemeran atau aktor, bukan Allah. Sebenarnya jiwa salah mengerti karena Allahlah yang bekerja di dalamnya, yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh pendoa tersebut.

Tanda-tanda Mengalami Kontemplasi

Apa yang menjadi tanda-tanda mengalami kontemplasi? Gambaran di bawah ini dapat digunakan:

   1.Merasa dicintai oleh Allah,

Memandang Allah dengan penuh perhatian dan si pendoa berjuang keras untuk mencapainya. Akhirnya jiwa dapat memandang Allah dan mempersiapkan jiwa sampai pada tahap Beatific Vision (penglihatan yang membahagiakan). Apapun yang dilakukan si pendoa sungguh memandang dalam kegelapan bahwa Allah tersembunyi sekaligus sungguh hidup dalam dirinya. Ia sungguh-sungguh menyadari kehadiran Allah yang hidup daripada melihat dirinya sendiri.

2.Tidak adanya lagi kata-kata

Juga, tidak adanya lagi percakapan yang terjadi adalah hening antara Allah dan jiwa. Ini merupakan tanda permulaan mengalami kontemplasi. Inilah permulaan doa batin yang merupakan ciri khas dimulainya hidup doa batin yang secara bertahap yang menarik pendoa semakin dalam dan semakin hening. Meditasi telah berhasil dan sampai pada kontempasi, tujuan pendoa telah diraih dan sekarang mengalami kebahagiaan adikodrati bahwa pengalaman ini membahagiakannya. Pengarang spiritualitas terus-menerus mengingatkan bagi si pendoa yang berkembang dalam doa batin untuk tidak mencari penghiburan-penghiburan di dalam doanya dan tidak menganggap ketidakmampuan untuk bermeditasi sebagai tanda tidak lagi dapat berdoa. Ini bukan suatu kemunduran, tetapi suatu perkembangan hidup doa, untuk itu jiwa harus semakin bertekun di dalam doa batin ini.

3.Tidak ada lagi campur tangan dari kemampuan panca indera yang lain.

Hilangnya atau menurunnya kemampuan panca indera dan daya-daya batin lainnya, seperti imajinasi dan ingatan, secara bertahap dengan berhentinya meditasi karena latihan-latihan rohani seperti “komposisi suatu tempat” dan pengertian dari misteri Kristus yang direnungkan pada umumnya. Meditasi itu sendiri adalah proses masuk ke dalam diri sendiri dengan menganalisa, mengumpulkan, menyimpulkan, dan mendekati kebenaran itu sendiri. Mengalami kontemplasi dialami ketika kita tidak lagi membutuhkan keyakinan dari diri kita sendiri tentang kebenaran itu sendiri. Kita tidak membutuhkan lagi pemeriksaan atau pemikiran. Apa yang kita butuhkan hanyalah memandang Dia dengan penuh kekaguman yang telah menciptakan kita.

Dalam pujian kepada Allah juga dapat menghasilkan kontemplasi. Kenapa? Pertama-tama, karena kita menemukan dalam kontemplasi suatu kebahagiaan adikodrati yang bersifat luhur dan mampu mengubah serta mengilahikan jiwa. Tahap-tahap dalam Lectio Divina yaitu Lectio, Meditatio, Oratio, dan Contemplatio (membaca, meditasi atau merenungkan, berdoa, dan kontemplasi) membawa kepada pertumbuhan hidup rohani, ketika kita berkembang dari tingkat yang satu ke tingkat yang lain. Jika kita dipengaruhi untuk melihat pengalaman kontemplasi hanya sebagai persiapan untuk masuk dalam kontemplasi, kita mungkin melihat bentuk pengalaman ini sebagai suatu yang tidak memuaskan dan mencoba terburu-buru untuk masuk dalam kontemplasi. Mungkin, ketidakpuasan dan ketidaksabaran ini membuat kita tidak menyadari akan nilai dari pengalaman kontemplasi itu sendiri yang dapat membawa kita berkembang dalam perjalanan rohani ini. Ini mungkin menjadi sebuah tragedi bagi kita yang merindukan sekali untuk berkembang dalam tahap doa ini, namun tidak pernah mengalaminya sendiri. Mengalami kontemplasi merupakan suatu rahmat istimewa yang disediakan Tuhan bagi kita semua yang merindukannya.

Selanjutnya, untuk sampai pada tahap doa ini harus disertai pula dengan perjuangan yang keras dari doa-doa yang kering dan kadang-kadang pikiran-pikiran yang menggoda. Kita akan mencapai kebenaran itu dengan berpikir dan pengertian yang mendalam sehingga mengalami rahmat istimewa dengan melepaskan keinginan-keinginan yang lain di luar tujuan itu. Kita harus berjuang melalui jalan yang benar, kebijaksanaan, dan kerja keras. Buah dari kerja keras ini harus menjadikan jiwa semakin bertekun dalam doa. Mencapainya dengan jalan merindukannya, dan kita harus mensyukuri rahmat itu. Meditasi adalah jalan yang umumnya digunakan untuk mencapai pada suatu kontemplasi. Dan setelah kita melaluinya, kita akan dapat beristirahat dalam kegembiraan dan kepenuhan rahmat.

Nilai dari Kegelapan

Telah dikatakan bahwa mengalami kontemplasi merupakan suatu anugerah istimewa yang seringkali disalahartikan sebagai halangan atau rintangan terbesar, sebuah penghambat yang besar ketika orang baru memulainya, banyak kesusahan dan pikiran yang membuat orang tidak bisa lagi berdoa dan mereka memutuskan untuk berhenti berdoa. Ketika gangguan mulai muncul, doa mulai melantur dan timbul kembali daya-daya batin yang meminta perhatian kita. Perlu disadari bahwa semuanya itu membawa kita keluar dari anugerah istimewa itu. Apabila kita tetap setia dan tidak memperhatikan halangan atau rintangan yang membuat kita keluar dari doa maka kita akan sampai pada kontemplasi yang mengarahkan dan membebaskan kita dari kegelapan yang kita alami.

Lalu, “Apakah kegelapan itu?” Sejauh pengertiannya dalam tradisi Katolik, kegelapan disini bersifat sakramental. Pengertiannya sama ketika roti dan anggur yang dikonsakrir dalam Perayaan Ekaristi, atau air dalam Sakramen Pembaptisan, atau minyak dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan sebelum meninggal dunia. Ditandai dengan tanda salib yang merupakan tanda kemenangan kita dan menunjukkan sesuatu yang hadir yang sebelumnya tersembunyi. Seperti kabut yang menyelubungi sebuah kotak, membebaskan penghalang dari pandangan kita dan menyatakan kehadirannya atau seperti asap yang kuat yang menyelubungi api dan menunjukkan hanya apinya saja yang terlihat. Mengalami kontemplasi berarti melihat dalam kegelapan. Langkah selanjutnya tergantung dari si pendoa itu sendiri, “Apakah ia berkembang hidup doanya dalam kegelapan ini atau ia menjadi mundur?”

Orang dapat mundur dalam kegelapan ini jika berpikir kegelapan yang dialaminya adalah kesia-siaan bukan melihatnya sebagai halangan untuk melihat. Ia berjuang dengan keras, mencoba melalui dan melewatinya, mendorongnya untuk mengalami Allah yang tersembunyi dalam kegelapan. Dalam perjuangannya sehari-hari ia mungkin jatuh dalam perangkap “skenario” bahwa Allah itu melampaui semua konsep-konsep dan kata-kata; membayangkan Dia dapat dilihat dan dapat dimengerti, bahkan dengan perasaan-perasaan manusiawi, sehingga terciptalah imajinasi tentang Allah. Bagaimana pun imajinasi merupakan tindak lanjut dari suatu bentuk, dan perasaan emosional adalah buah dari kerja panca indera kita sendiri. Ini berlawanan jika kita telah sampai pada tahap kontemplasi, yaitu membiarkan diri sendiri untuk masuk dalam hadirat Allah. Penting sekali jika si pendoa memperhatikan hal ini, bahwa dalam kegelapan ia melihat penghalang-penghalang dihancurkan dan dirinya mampu kembali untuk mengalami kontemplasi yang membahagiakan dirinya.

Kehadiran Allah

Dalam kontemplasi, jangan melawan kegelapan yang dialaminya. Jika pendoa secara bijaksana melihat keluhuran atau nilai sakramental dari kegelapan ini dan memahami untuk mengungkapkan yang tersembunyi, kemudian dengan tenang tinggal dalam kontemplasi maka tidak akan dikecewakan. Bahkan akan memperoleh rahmat istimewa dari Allah karena si pendoa mengalami kepuasan walaupun tidak melihat-Nya atau bahkan mengalami Allah di dunia ini. Ia dapat menenangkan diri dan menyadari akan kehadiran Allah dan menemukan kedamaian yang tidak pernah dapat diberikan oleh dunia yang fana ini.

Kehadiran merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam hubungan kita di dunia ini. Umpamanya, seorang bayi tidur di samping kamar ibunya, ibunya mengetahui keadaan bayinya dengan jelas tanpa melihatnya. Ini disebabkan karena bayi ini memiliki sesuatu yang menyentuh hati ibunya sehingga ibunya mengetahui bahwa bayinya sedang tidur tanpa harus dilihatnya, dan ibu bayi ini sungguh-sungguh merasakannya. Bayi ini menjadikan ibunya sebagai orang tuanya, dan ini yang membedakan wanita ini sebelum menjadi ibu bayi ini. Hal ini juga harus dilakukan si pendoa yaitu menyadari kehadiran-Nya, tetap memandang-Nya, dan menyadari terus-menerus untuk mencintai Dia yang selalu menyertai kita.

Sekali lagi, “memandang” dan “menyadari kehadiran” memiliki pengertian yang berbeda. Suami dan istri dapat saling mengasihi meskipun seorang berada dalam kereta api dan yang lainnya berada dalam pesawat terbang. Kita pun dapat mengasihi Allah tanpa memandang Dia, dan bukankah dengan tidak memandang Dia justru menjadikan hidup ini berharga?

Mengalami kontemplasi juga merupakan kebahagiaan terbesar yang menghasilkan latihan rohani yang mampu bertahan dalam kegelapan, bertekun dalam doa, dan bertumbuh dalam iman yang hidup. Pendoa harus sungguh-sungguh mengalami kasih Allah. Apa yang dikehendaki-Nya adalah menyadari kehadiran Allah. Yang dikehendakinya hanyalah Allah. Jika Allah memberi penghiburan baginya, ia bersyukur kepada-Nya, tetapi ia tidak mencari hiburan-hiburan tersebut, yang dicari hanya Allah dan apa yang dikehendaki Allah baginya.

Inilah keuntungan yang diperoleh si pendoa jika ia mengalami kegelapan dalam hidup doanya. Tidak ada lagi halangan atau rintangan yang menghambatnya. Inilah jalan yang berlawanan, yang memperbaharui hidup si pendoa. Kegelapan yang seakan-akan menyembunyikan Allah, justeru menjadikan kehadirannya yang samar-samar dalam kegelapan menjamin kehadiran Allah yang sungguh-sungguh nyata dalam hidupnya seakan-akan tersembunyi dalam kegelapan. Memandang dalam kegelapan berarti memandang Allah dalam awan yang seakan-akan menyelubunginya dan menyadari kehadiran-Nya secara mendalam yang memuaskan dan memberikan kedamaian bagi jiwa. Kegelisahan akhirnya menemukan istirahatnya dan mengalami kontemplasi, dengan ketidakmampuan berkata-kata lagi (atau yang mendekatinya) mengungkapkan kegelapan, melatih diri terus-menerus bertahan dalam kegelapan dengan berjalan dalam iman, seperti yang dikatakan St. Paulus, “Tidak pernah melihat, tetapi percaya saja (bdk. 2 Kor 5:7).” Melalui iman ini kita mengalami kontemplasi yang membuahkan iman yang hidup dan inilah satu-satunya alasan bagi pendoa yang tidak menginginkan hal yang lain kecuali Allah saja.

Penutup

Bagaimana jika Allah membawa kita untuk masuk dalam kontemplasi? Ini merupakan sesuatu yang luar biasa ­– itu semua kehendak-Nya. Jika Allah menghendakinya, maka si pendoa hanya berdoa sesuai dengan kemampuannya. Kita ketahui bahwa Allah telah menyediakan suatu rahmat istimewa dan sikap pendoa yang bijaksana seharusnya tidak pernah membiarkan pikiran-pikiran melanturkannya yang akan menganggu kehadiran si pendoa di hadapan Allah. Pikiran tidak pula diganggu akan masa lalu dan masa yang akan datang karena Allah selalu hadir pada masa lalu dan masa yang akan datang. Hiduplah saat ini bersama Tuhan, masa lalu telah berlalu dan masa depan berada dalam tangan Tuhan. Jika Tuhan mendorong kita untuk melakukan sesuatu di masa yang akan datang, semuanya akan terjadi jika Allah menghendakinya dan jika kita tetap berjalan dalam iman dan taat kepada-Nya.

Mengalami kontemplasi berarti memuji Allah dengan sepenuh hati. Di sini iman mengambil peranan yang penting. Inilah kemurnian hati yang terbesar, tidak meminta sesuatu pun dalam kegelapan karena ia tahu dalam kegelapan ia melihat tanda kehadiran Allah yang hidup dalam dirinya. Allah adalah seluruh keinginannya: kehadiran-Nya saat ini, dan harapannya kelak untuk memandang Dia dari muka ke muka dengan kasih.


[1] Saduran dari In Praise Of Acquired Contemplation; Walter Paulits: Spiritual Life, Fall 1988, page 174-178